Pulang

Pulang
I Love You, Mom


__ADS_3

Renjana Kanya


Kondisi Mama belum pulih sepenuhnya. Efek tidur panjang membuatnya pusing juga mual berlebih. Sesekali dia juga masih mengeluhkan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Namun, bibirnya selalu tersenyum setiap kali melihatku. Bahkan wanita itu memelukku begitu lama sesaat setelah dokter memeriksa keadaannya. Kami menangis sambil berpelukan.


Dokter bilang, keadaan Mama cukup baik. Kondisi kesehatannya juga stabil. Hanya saja wanita itu membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk tetap dirawat di rumah sakit, agar dokter bisa dengan mudah memantau keadaan Mama sampai akhirnya diizinkan pulang.


"Makasih ya, Kanya sudah mau pulang. Merawat Mama, menemani Mama setiap saat. Kamu tahu betapa takutnya Mama setiap kali ... ."


Mama tidak melanjutkan kalimatnya. Ujung mata wanita itu kembali berair. Isak lembut terdengar dari bibirnya yang perlahan tak lagi tampak pucat.


"Mama takut kamu membenci Mama selamanya, Kanya. Mama takut kamu nggak pernah mau benar-benar pulang. Mama takut tiap kali memikirkan hal itu."


Mama semakin terisak. Matanya sembab akibat kebanyakan menangis. Kubelai punggung tangannya yang masih terkulai lemah di samping tempat tidur.


"Ma, sudah ya. Jangan memikirkan hal yang berat-berat. Yang penting sekarang Mama harus sehat. Mama harus segera pulih. Setelah itu, apa pun yang akan Mama katakan, Kanya pasti akan mendengarkan. Termasuk jika Mama ingin marah sekalipun sama Kanya, pasti akan Kanya dengarkan. Ya, Ma."


Air bening jatuh semakin deras membasahi pipi Mama. Aku menghapusnya sambil berusaha tetap tersenyum, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menangis dan bersimpuh dalam pangkuan Mama. Memohonkan ampunan atas segala kesalahan yang sudah kuperbuat selama ini.


"Maafin Kanya, Ma. Kanya sudah bersikap egois selama ini. Maaf karena Kanya sudah merepotkan Mama. Membuat Mama sakit, marah, kecewa, bahkan rasanya seribu kali pun Kanya minta maaf nggak akan sanggup membayar lunas sikap Kanya selama ini ke Mama."


"Kanya nggak boleh ngomong gitu. Bagaimanapun Mama juga punya andil kesalahan atas semua yang terjadi. Maafin Mama karena sudah bersikap egois ya, Sayang."


Aku tersenyum. Meski dengan air mata yang pada akhirnya tidak bisa aku tahan. Sedangkan wanita itu menggenggam tanganku erat. Menciumi telapak tanganku dan memintaku agar mendekat kepadanya. Dengan hangat Mama juga menciumi keningku dan berderai air mata.


"Kanya tetap jadi putri kebanggaan, Mama. Bagaimanapun, Kanya tetap kesayangan, Mama."


"Ma ... ."

__ADS_1


Suaraku tertelan tangis. Tak ada kata yang sanggup kuucapkan. Kami hanya saling diam sambil berpelukan dan berbagi tangis paling pilu yang pernah kurasakan. Bahkan saat Mama belum siuman pun, rasanya tangisku tak sepilu ini. Namun, saat Mama sudah sadar dan kami berbagi peluk, tangisku justru terasa begitu pilu hingga menyesakkan dada.


"Cup ... cup ... anak Mama yang paling cantik, jangan nangis lagi ya," kata Mama membuatku semakin tak bisa menahan air mata. "Sudah dong, kalau Kanya mau Mama nggak nangis, Kanya juga jangan nangis ya."


Giliran Mama yang menghapus air mata di pipiku. Wanita itu mencoba tersenyum. Senyum di wajahnya membuat ujung bibirku tertarik ke atas. Membentuk lengkung bulan sabit.


"Mama, lekas sembuh ya. Kanya sayang banget sama Mama."


"Iya, Sayang. Selama kamu menemani Mama, Mama pasti akan segera pulih. Oh iya, mana laki-laki yang katanya mau kamu kenalin sama Mama?"


"Mama, dengar waktu Kanya ajak ngomong?" tanyaku ragu-ragu.


"Ya, tentu saja Mama dengar. Bahkan Mama ingat, apa saja yang Anya bicarakan saat Mama belum sadar."


"Serius?"


"Iya. Semua cerita Anya, Mama dengarkan. Nggak ada yang terlewat. Mulai bagaimana sedihnya Anya saat tahu Mama nggak sadar-sadar. Sampai Anya memiliki harapan dan keyakinan kalau Mama bakal sembuh dan membuka mata. Termasuk cerita Anya bagaimana saat berbaikan sama Ayah Eka. Rasanya, setiap kali Anya bercerita, saat itu juga Mama ingin secepatnya bangun. Namun, kenyataannya nggak semudah itu membuka mata. Mama selalu memohon agar sanggup melewati ini semua. Mama cuma mau ketemu, Anya. Mama ingin memeluk kesayangan Mama. Mama ingin kita semua berkumpul dan menjadi keluarga yang bahagia. Makanya Mama selalu berusaha untuk nggak mematahkan harapan Anya."


"Mama, benar dengar semua yang Anya ceritakan?"


"Iya, Sayang. Mama dengar semua cerita kamu. Makanya Mama penasaran, siapa laki-laki beruntung yang mendapatkan kesayangan Mama ini?"


Wajahku memerah saat Mama mengajukan pertanyaan itu. Aku tidak menyangka jika Mama benar-benar mendengarku selama tertidur cukup lama. Memang, aku pernah membaca sebuah artikel jika orang yang sedang koma harusnya sering diajak berbicara, agar organ-organ tubuhnya tetap merespon keadaan sekitar. Namun, aku tidak pernah menyangka jika efeknya cukup kuat bagi Mama. Bahkan wanita itu sanggup mendengar suaraku dan menyimpannya dengan rapi dalam ingatannya.


"Wah, Mama curang sih ini. Gimana bisa Mama dengar semua cerita Kanya. Jangan-jangan Mama ngerjain Kanya, ya?"


Senyum Mama mengembang. Dibelainya ujung rambutku yang mulai memanjang melebihi pundak.

__ADS_1


"Kalau saja tidur panjang bikin Mama bisa mendengar semua cerita, bahkan keluh kesah Anya, kayaknya Mama rela lebih lama deh tidurnya."


"Ma ... ." Aku merajuk mendengar ucapan Mama. Enam hari menantinya untuk segara bangun saja rasanya sudah seperti menunggu berabad-abad. Bagaimana bisa wanita itu justru mengharapkan tidur lebih panjang lagi.


"Iya makanya, cerita dong. Siapa laki-laki itu? Di mana dia sekarang?"


Ragu-ragu aku menatap wajah Mama. Berat rasanya menceritakan tentang Araz di saat laki-laki itu justru menghilang tiga hari tanpa kabar sedikit pun, setelah mengantarku pulang.


"Kenapa? Kamu ada masalah lah ya sama dia? Siapa sih namanya? Araz? Kayaknya dia juga pernah jenguk Mama dan ajak Mama ngobrol. Cukup banyak yang dia obrolkan. Cuma Mama lupa juga apa yang diobrolkan laki-laki itu."


Aku tersenyum menanggapi pernyataan Mama. Seperti yang Mama bilang, Araz memang pernah menjenguk Mama saat aku dirawat sehari akibat kekurangan cairan. Laki-laki itu menyempatkan menjenguk Mama. Mengucapkan salam kenal dan sampai bertemu lagi dalam waktu dekat saat Mama sudah benar-benar sehat. Hanya saja aku tak mengira jika Araz juga mengajak Mama berbicara.


"Jadi, kenapa sekarang justru nggak mau cerita?" tanya Mama terlihat antusias sekaligus penasaran dengan sosok Araz.


"Kanya hanya merasa nggak pantas sama dia, Ma."


"Kenapa? Anya pintar, cerdas malah, cantik, ramah, pekerja keras, apalagi ya? Anya kan paket komplit. Kenapa merasa nggak pantas buat Araz?"


"Klise sih, Ma. Araz hanya terlalu begitu sempurna buat Kanya. Dia itu manusia serba bisa. Sangat berbanding terbalik sama Kanya. Dan ... ."


Kalimatku terjeda. Aku tak tega mengungkapkan perasaanku sesungguhnya tentang Putra dengan gamblang kepada Mama. Dia baru saja merasakan bahagia. Mana mungkin aku sanggup mengatakannya bukan?


"Kanya, dengar Mama. Kita mencari pasangan itu justru untuk melengkapi kekurangan kita. Kalau mencari yang sama, apa bedanya dengan kita yang sendirian? Ya kalau dia serba bisa, kan berarti melengkapi sikap kamu yang harus diajari ini itu dulu. Kan?"


Senyumku mengembang. Aku peluk tubuh lemah wanita itu sambil berbisik di telinganya. "I love you, Mom. Anya pasti bakal cerita tentang Araz kalau kondisi Mama sudah makin membaik. Ya?"


"Dih, alasannya makin licin saja sekarang. Ya sudahlah. Mama bakal tungguin cerita kamu selanjutnya tentang Araz. Oke, janji kan?"

__ADS_1


"Iya, Ma. Bakal Anya tepati kok. Pasti. Jangan khawatir."


Senyuman Mama begitu cerah. Entah karen mendengar ucapanku atau karena ketukan di pintu ruangan dan Ayah Eka muncul tak lama kemudian. Senyum mereka sama-sama cerah.


__ADS_2