
Renjana Kanya
Setelah obrolan yang cukup panjang dengan Mas Altar dan Mbak Senjani - dengan membawa pulang dua lukisan Mas Altar sebagai oleh-oleh, kami memutuskan segera berangkat ke Bandara Juanda. Sebelum menuju terminal satu keberangkatan domestik, Araz mengajakku mengobrol di salah satu kafe sambil menunggu jadwal penerbangan yang masih satu jam lagi.
Wajah laki-laki itu masih saja tertekuk meski kami sudah membicarakan banyak hal selama perjalanan menuju bandara. Termasuk tentang rencananya saat pulang ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Dia mengatakan jika akan fokus mengurus pendirian perusahaan media online yang digagas bersama Hanung dan akan menjemputku setelah urusan di Jakarta tuntas.
Kubilang, dia tidak perlu bolak-balik Jakarta - Tuban hanya untuk menjemputku. Aku bisa balik sendiri saat kondisi Mama sudah makin membaik. Namun, Araz tetap memaksakan kehendaknya jika ingin menjemputku. Katanya, biar aku tidak bosan selama perjalanan. Lantas, bagaimana dengannya yang melakukan perjalanan sendirian kali ini? Atau mungkin saat-saat dia melakukan perjalanan untuk mengisi blog pribadinya yang tentang travelling itu. Apakah dia juga merasa bosan saat melakukan perjalanan sendirian?
Meski sebenarnya penasaran, aku tak kuasa menanyakan hal itu pada Araz. Melihat wajahnya yang biasa ramah mendadak jutek saja, membuatku kehilangan nyali untuk mengajaknya berbicara. Apalagi harus mengajukan pertanyaan yang aku pun tidak bisa menebak akan bagaimana kira-kira respon laki-laki itu.
Hingga jarum jam menunjukkan jadwal keberangkatan pesawat yang memaksa Araz harus segera check in jika tidak ingin ketinggalan penerbangan.
Laki-laki itu menatapku serius. Bibirnya terkunci. Tak hendak bicara. Namun, mata yang menyorot tajam itu, seolah berbicara banyak kepadaku. Tentang perpisahan yang tidak diinginkan. Tentang rindu yang diam-diam sudah menggumpal di matanya. Juga ada sorot ketidakrelaan meninggalkanku, sementara dia harus pergi bermil-mil jauhnya. Atau justru sorot ketidaknyamanan membiarkan aku tetap tinggal di mana Putra masih berada di tempat yang sama denganku.
"Nya, bukannya aku nggak percaya sama kamu. Hanya saja aku lebih nggak percaya sama setan yang nggak mungkin nggak bisa menggoda Putra saat kalian sedang berduaan. Jadi aku mohon, sebesar apa pun godaan di antara kalian, selalu ingat aku ya. Ingat aku yang mencintaimu."
Suara Araz pelan saat mengucapkan kalimat itu. Berbanding terbalik dengan sorot mata tajam miliknya. Dan, kalimatnya barusan benar-benar menamparku. Sebab, setan lebih dulu bisa menggodaku sebelum Araz berpesan untuk mengingat jika ada hati yang telah dititipkannya padaku.
Senyumku palsu. Aku tak bisa membohonginya jika baik-baik saja. Namun, tak lantas sanggup mengungkapkan kebenaran jika telah terjadi sesuatu di antara aku dan Putra. Aku tidak sanggup menghadapi kemarahannya. Atau mungkin justru sikapnya yang selalu memaklumi segala sifat dan ulahku? Apa pun itu, mungkin sebaiknya aku menyimpannya dalam hati saja.
"Kanya?" panggil Araz saat aku membisu. Terlalu lama. Hingga menciptakan kesunyian di antara kami, meski lalu-lalang penumpang maupun pengantar di bandara tak pernah sepi.
"Ya, Mas."
Senyum Araz kaku. Namun, dia amat berusaha melenturkan wajahnya saat menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Apa pun yang mengganggu pikiran kamu, jika itu tentang Putra, kumohon, berhentilah memikirkannya sejenak. Aku memang mengatakannya jika sanggup menunggu, jika sanggup menerima bagaimanapun keadaan kamu, tapi ... ." Kalimat Araz terjeda. Dia menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan di atas meja. "Tetap saja aku cemburu sekalipun sudah berusaha semua baik-baik saja. Maafkan aku, Kanya. Maafkan aku yang begitu mencintaimu sampai sedalam ini."
Darahku berdesir saat mendengar pengakuan Araz. Tanpa sadar aku menguatkan tanganku dalam genggaman laki-laki itu.
"Maafkan aku, Mas. Maaf sudah menyiksa Mas Araz sampai seperti ini," ucapku menyesal. Benar-benar menyesal. Mengapa aku tidak bisa sepenuhnya mencintai laki-laki ini saja. Menghapus perasaan laknat pada Putra yang sudah jelas tidak akan pasti ujungnya.
"Aku sendiri yang membuatnya menyiksa, Kanya. Aku nggak seharusnya minta maaf. Maafkan aku. Padahal aku bisa bilang jika kamulah pemilik mutlak setiap kenangan juga perasaan pada Putra, tapi kenyataan justru aku sendiri yang seperti ini."
Lagi-lagi aku kehilangan kata. Tidak sanggup menanggapi pernyataan Araz yang membuat dadaku terasa sesak.
Tuhan, biarkan aku jatuh cinta dengan orang ini saja. Jangan yang lain! Biarkan aku menyembuhkan luka yang kusebabkan.
Air mata pelan membasahi pipiku. Araz masih dengan posisinya semula. Menyembunyikan wajah di lipatan lengan yang ia letakkan di atas meja. Mungkinkah dia juga menyembunyikan air mata?
Aku mengusap pelan rambut laki-laki itu dengan tanganku yang bebas. Sementara tangan kananku masih dalam genggamannya. Gerakanku membuat Araz bereaksi. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajahnya yang kuyu.
"Nggak, asal denganmu, aku pasti segera membaik. Maka jangan halangi aku kalau memaksa menjemputmu jika semua urusanku di Jakarta sudah selesai. Ya?"
"Iya, Mas. Akan aku tunggu." Aku tulus saat mengatakan akan menunggunya. Meski tetap saja, ada kebimbangan yang semakin menebal. "Ayo, sudah waktunya check in, Mas Araz bisa ketinggalan pesawat kalau nggak segera masuk."
"Rasanya berat banget bayangin nggak bakal ada kamu di Jakarta. Semoga saja hujan nggak sering turun mewakilkan kesedihanku."
"Mas Araz ... ." Aku menghela napas panjang. Berat rasanya berpisah dengan makhluk ajaib yang mendadak membuat hatiku terasa kosong hanya dengan memikirkan melewati hari-hari tanpa dia. "Segera selesaikan pekerjaan, Mas Araz. Lalu, jemput aku pulang. Kelak, aku bakal kenalin Mas Araz sama Mama. Sebagai ... ."
"Calon suami," jawab Araz cepat memotong kalimatku. Senyum jenaka menghiasi wajahnya yang kini sudah kembali cerah. Senyumku terpancing. Lebih lega dari sebelumnya.
__ADS_1
"Itu sih harus lewat persetujuan Mama dulu. Mana bisa seenaknya bilang kalau Mas Araz calon suami."
"Nggak apa-apa. Namanya juga calon 'kan. Sudah, aku harus masuk beneran kali ini. Aku mesti bangun seribu candi buat nafkahin kamu."
"Mas ... ."
Tawa Araz berderai saat melihatku tersipu. Laki-laki itu berdiri dari kursinya dan berjalan menujuku. Lantas membawaku dalam pelukannya.
"Rasanya berat banget mesti berpisah sama kamu, tapi kalau aku nggak berangkat, bakal susah juga ke depannya buat kita. Jadi, jaga diri baik-baik selama aku nggak di samping kamu ya. Pulangnya mesti hati-hati. Harusnya tadi kamu nggak nolak permintaan Om Eka buat ngantar kita. Gimana kalau kamu kecapekan? Padahal kamu kan baru sembuh juga."
"Aku yang mau nyetir sendiri kok. Sudah biasa, Mas. Dulu, pertama kali bisa nyetir dan dapat SIM juga langsung nganterin Ayah tugas ke Malang. Nggak jarang juga gantiin tugas sopir pribadinya kalau lagi libur kuliah. Sudah biasa aku tuh. Malah kangen nggak pernah perjalanan jauh bawa mobil sendiri. Mas Araz, tenang saja, oke?"
Laki-laki itu menepuk puncak kepalaku. Sebelum akhirnya mengecupnya dengan lembut. Tubuhnya yang jangkung masih memelukku.
"Iya, asal kamu juga bikin aku tenang dan nggak khawatir terus."
Aku tersenyum dalam pelukan laki-laki itu.
Sungguh Tuhan, aku mau jatuh cinta pada laki-laki ini saja. Tidak yang lainnya. Kumohon, biarkan kami tetap bersama. Hapus semua rasa yang tidak pada tempatnya.
"Ya sudah, Mas Araz baruan masuk."
"Iya, kamu jaga diri baik-baik."
"Iya, Mas Araz. Selamat jalan, selamat berjumpa lagi."
__ADS_1
Punggung Araz menjauh sesaat setelah aku mengucapkan selamat jalan dan dia mengecup bibirku. Lelaki itu memang selalu begitu. Tidak peduli tempat di mana pun dia berada. Namun, sikapnya membuatku bisa bernapas lega.