
Mereka memutuskan berangkat ke kantor bersama, begitu selesai sarapan. Setelah membersihkan seluruh peralatan yang sebelumnya mereka pakai.
Araz membantu sang kekasih mencuci piring. Sementara perempuan itu menatanya di atas rak.
Begitu dirasa bersih dan rapi, baru keduanya meninggalkan unit apartemen Kanya dan menuju ke kantor MediaPena.
"Mas Araz beneran nggak perlu ganti baju dulu nih?" tanya Kanya begitu mereka masuk ke dalam mobil.
"Ya, nggak perlu, Nya. Aku masih bisa pakai ini kok," jawab Araz.
Sesungguhnya dia malas jika harus kembali ke hotel dan berganti pakaian. Bisa dipastikan, setelah peristiwa di Bandung akhir pekan lalu, tidak akan membuat Cassandra tinggal diam.
Dengan kata lain, dia tidak akan membiarkan Araz merasakan kehidupannya dengan damai. Perempuan itu pasti sudah mengatur strategi licik untuk menghancurkan hubungannya dengan Kanya.
Menyadari hal itu, membuat Araz tampak kesal seketika. Lelaki itu tak jadi menjalankan mobil dan membiarkan mesin tetap menyala.
"Loh, kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Kanya dengan kening berkerut.
Perempuan itu mengira ada barang milik Araz yang tertinggal di apartemennya. Namun, bukannya menjawab, Araz justru memegang pundak Kanya dan memutar tubuh sang kekasih untuk berhadapan dengannya.
"Eh, kenapa sih, Mas?" tanya Kanya mulai panik.
Sikap Araz yang tiba-tiba cukup membuat perempuan itu kaget dan berpikiran tentang suatu hal buruk yang terjadi.
"Kanya," panggil Araz dengan serius. Tentu saja hal itu membuat Kanya semakin tampak panik.
"Ya, kenapa, Mas? Jangan bikin aku takut dong!" imbuh si perempuan tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Ah maaf. Aku terlalu khawatir dan membuatku nggak sanggup berpikir jernih.
Jadi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Araz menjeda kalimatnya cukup lama dan menjadikan Kanya mulai tidak sabar.
"Apa yang mau Mas Araz, bicarakan?" tanya si perempuan mendesak Araz untuk segera mengatakan apa yang ingin dia ucapkan.
"Ah, aku nggak mau kamu salah paham, tapi aku juga nggak ingin kamu berpikiran buruk karena aku nggak mengatakannya padamu."
"Jadi, apa inti dari pembicaraan ini?" Kanya semakin tidak sabar.
__ADS_1
"Ini...soal, Cassandra."
Suasana mobil mendadak sunyi seketika. Tak ada yang terdengar selain bunyi napas masing-masing yang terasa berat.
Hingga pada akhirnya Kanya yang mengalah dan memecahkan kesunyian itu lebih dulu.
"Ya, jadi kenapa dengan, Cassandra?"
Araz tersentak oleh pertanyaan Kanya. Lelaki itu memperhatikan sang kekasih yang tidak terlihat marah ataupun cemburu. Namun, dia yakin pasti jika nada bicara perempuan itu berubah. Araz justru harus lebih hati-hati menghadapi situasi ini.
Bisa jadi, musuh yang tidak terbaca ekspresinya lebih berbahaya ketimbang musuh yang secara terang-terangan menghunuskan pedang.
"Ah...itu, dia bisa saja bersikap nekat demi mengacaukan hubungan kita. Aku...nggak tahu apa yang bakal dia perbuat. Tapi...kalau aku boleh minta, apa kamu...." Ucapan Araz terjeda.
Laki-laki itu memperhatikan ekspresi wajah Kanya yang tak juga menunjukkan ekspresi apa pun.
"Mampus sudah," ucapnya dalam hati. Tapi, dia tidak bisa bungkam saja.
Hal itu justru akan membuat Kanya semakin salah paham.
"Jadi, aku...? Kenapa, Mas? Mas Araz mau ngomongin soal apa sih? Mas Araz takut aku marah? Ngambek? Atau semacamnya?" tebak Kanya membuat laki-laki yang sedang berada di balik kemudi itu tersentak kaget.
"Ya. Ah...itu...aduh, gimana aku harus kasih penjelasan ya?" gumam Araz sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Iya, Mas. Aku tahu kok. Lagian, kalau cuma Cassandra aja, apa sih yang perlu dikhawatirkan?" ucap Kanya sesumbar. Padahal ia sempat merasa minder saat melihat kecantikan perempuan itu.
Namun, begitu mendapat dukungan dari banyak pihak, Kanya tak perlu lagi khawatir hanya karena Cassandra menang banyak dari segi kecantikannya. Apalagi jika soal otak, Kanya boleh diadu. Dia memiliki keyakinan jika tidak kalah cerdas dari perempuan itu.
Sementara Araz yang baru menyadari jika sang kekasih sedang menggodanya, hanya sanggup ternganga.
"Kamu sengaja godain aku ya?" tanya laki-laki itu disambut tawa oleh Kanya.
"Ya abis, Mas Araz kayak nggak percaya gitu sama aku. Ya...sekali-sekali boleh dong godain, Mas Araz," ucap Kanya di antara gelak tawanya.
Wajah Araz yang semula kaku, mencair juga setelah menyadari keisengan sang kekasih. Laki-laki itu ikut tertawa bersama Kanya.
"Bukannya nggak percaya sih, Nya. Aku cuma ingin sedikit memastikan saja, kalau Cassandra bisa melakukan apa pun buat merebut apa yang dianggap miliknya.
Dan, aku nggak pernah-pernah tahu apa yang bakal dia lakukan padamu. Itulah kenapa aku ingin membahas ini. Aku cuma ingin, kamu lebih hati-hati dengan perempuan itu."
__ADS_1
"Tentu, Mas. Aku bisa jaga diri kok," ucap Kanya dengan yakin. Senyum masih mengembang di wajah perempuan itu.
"Oke, baiklah. Aku bisa percaya kamu. Jaga diri baik-baik selama nggak bareng sama aku ya," pesan Araz sambil membelai rambut Kanya.
"Ayye, Ka'ten. Serahkan pada prajurit, Kanya."
Senyum Araz mengembang.
"Yah, semoga saja ini jadi awal yang bagus ke depannya," imbuh laki-laki itu dalam hati.
"Oke, kalau gitu kita berangkat sekarang?" tawar Araz pada sang kekasih.
"Ya, kapan lagi kalau nggak sekarang."
"Baik, Bu Bos."
Setelah menanggapi ucapan Kanya, laki-laki itu menjalankan mobil dan meninggalkan area basement apartemen sang kekasih.
***
Tak butuh waktu lama buat sampai kantor MediaPena. Setidaknya butuh waktu empat puluh lima menit dari apartemen Kanya.
Ditambah dengan jarak tempuh tiga menit untuk jalan kaki. Perempuan itu memang sengaja turun agak jauh dari kawasan kantor MediaPena dan memilih untuk jalan kaki.
Bukan apa-apa, Kanya hanya tidak ingin membuat Araz susah dengan munculnya gosip di antara mereka. Meski laki-laki itu sudah mengatakan pada Kanya, agar mereka mengumumkan pada semua orang tentang hubungan spesial di antara keduanya.
"Duh Mas, bakal jadi apa aku kalau kita bikin pengumuman kayak gitu?" tolak Kanya dengan tegas.
Padahal sebelumnya, Kanya sempat memiliki ide yang sama, akibat kesal dengan ulah teman satu timnya yang merundung perempuan itu. Namun, ketika Araz memiliki ide untuk mengumumkan hubungan mereka pada semua orang, Kanya justru menolak dengan tegas.
Jadi, beginilah mereka, harus turun dan naik jauh dari kawasan kantor agar tidak dicurigai oleh yang lain.
Lagipula, Kanya menikmati rutinitasnya itu. Setidaknya berjalan kaki selama lima menit, bisa membuatnya berolahraga ringan. Hal yang paling sulit dia lakukan. Itulah mengapa Kanya selalu memilih untuk jalan kaki setiap kali diantar atau dijemput oleh Araz.
Dan, seperti biasa, perempuan itu tampak bersemangat setiap kali berangkat ke kantor. Dalam kepalanya penuh dengan berbagai ide yang ingin segera dieksekusi. Rapat redaksi setiap pagi, selalu menjadi momen yang paling dia tunggu.
Begitu juga dengan pagi ini. Namun, semangat itu menguap seketika, saat kantor MediaPena mendadak seramai pasar malam.
Penyebabnya hanya satu, sang artis ibu kota yang seharusnya sedang dalam perjalanan tour Jawa untuk promosi album baru band mereka, justru sedang asyik berfoto dengan para fans.
__ADS_1
"Heh, Monyet! Ngapain lo pagi-pagi udah nangkring di kantor orang!" sentak Kanya dengan volume tinggi.
Seketika kehebohan terjadi begitu saja. Para fans vokalis Nada Sumbang, menatap satu arah yang sama. Pintu masuk kantor MediaPena. Tempat Kanya berdiri mematung dengan wajah suntuk.