
Putra tersentak saat mendengar teriakan Kanya. Suaranya yang cukup keras dan nyaring, membuat Putra terkejut. Meski begitu, lelaki itu tetap tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya.
Vokalis Nada Sumbang itu melambaikan tangan dan mendorong sedikit orang-orang yang sedang bergerombol di dekatnya.
Namun, hal itu tak semudah yang dipikirkan oleh Putra.
Sikap laki-laki itu justru membuat para fans semakin mendesaknya dan tidak membiarkan perhatian sang artis teralihkan.
"Permisi, aku harus ketemu dia dulu," ucap Putra mencoba sesopan mungkin. Tapi, tetap saja mereka tidak membiarkan laki-laki itu menemui Kanya begitu saja.
"Nggak bisa gitu dong. Kita kan yang lebih dulu. Kalau dia mau ketemu kamu, harus antre dong."
"Iya nih. Lagian apa spesialnya dia sih, sampai kamu mesti nemuin dia?"
"Lah iya. Harusnya kan dia yang nyamperin lu, Put."
Suara para fans yang memprotes sikap Putra semakin keras. Mereka tak lagi kondusif.
Bahkan beberapa di antaranya saling dorong. Alhasil, laki-laki itu mendapatkan cakaran karena terdesak di tengah-tengah para fans.
"Duh, maaf banget nih. Tapi...saya harus ketemu sama dia," ucap Putra sampai menggunakan bahasa formal untuk meminta perhatian para fansnya.
Hingga akhirnya para perempuan itu memberikan ruang dan membiarkan Putra menemui Kanya.
"Ck, apa hebatnya si perempuan rendahan itu sih?"
"Iya nih, sampai seorang Putra Mahameru yang diminta buat menghampiri dia?"
Suara-suara sumbang yang menyudutkan Kanya kembali terdengar.
Namun, Putra mencoba untuk tidak peduli. Dia masih bisa menahan gejolak dalam hatinya dan membalas ucapan itu dengan senyuman.
Dia lebih fokus pada Kanya dan menghampiri perempuan itu.
Dengan langkah cepat diiringi tatapan sinis para fans, Putra berjalan ke arah Kanya yang masih mematung di pintu masuk.
"Lo ngapain sih di sini?" protes Kanya dengan galak ketika jarak di antara mereka sudah dekat.
"Lo nggak mikir gimana akibatnya kalau tiba-tiba muncul kayak gini?" imbuhnya dengan kalimat penuh penekanan.
Sementara, semua orang yang berada di lobi MediaPena tak satu pun yang luput memperhatikan mereka.
__ADS_1
"So, apa masalahnya? Aku ke sini kan buat ketemu sama adikku. Memang salah?" balas Putra sambil mengacak-acak rambut Kanya yang sudah tertata rapi.
"Eits, tangan!" tegas Kanya memberikan peringatan.
"Ups, sori. Kebiasaan yang susah ilang."
"Ck. Masalahnya, nggak ada satu pun orang di MediaPena yang tahu kalau kita sodaraan, Monyet. Lo mau bikin headline news dengan muncul di sini dan bikin semua orang ngeliat kita?" tandas Kanya dengan kesal.
Bahkan kini dia menyadari kebodohannya. Kalau saja dia masuk secara diam-diam dan tak perlu memanggil laki-laki itu dengan suara lantang, mungkin akan beda cerita.
Dengan begitu, Putra akan tetap dikelilingi oleh para fans yang mengajaknya foto bersama.
Sekarang, alhasil mereka lah yang menjadi sorotan para fans dengan sorot mata tajam.
"Ck, kan Araz tahu kalau kita adik kakak, Kanya."
Mata perempuan itu melotot seketika. "Masalahnya semua orang juga nggak tahu kalau kami sedekat itu, Nyet. Ck, bikin kacau aja sih lo!" ucap Kanya tak juga sanggup meredakan kekesalannya.
"Dih, pacaran gaya apaan tuh? Massa zaman gini masih aja backstreet?" hina Putra semakin menyulut amarah perempuan itu.
"Ish. Ngeselin banget sih lo! Jadi tujuan lo ke sini sebenarnya apa?"
"Kan udah bilang kalau aku mau ketemu sama adikku yang paling cantik ini." Putra tak bisa berhenti bercanda dan membuat Kanya semakin kesal.
Di saat bersamaan, seorang perempuan yang semula berada di antara gerombolan para fans, mendekati mereka dengan wajah sebal.
Kanya tidak kenal siapa perempuan itu dan dari divisi mana. Dia masih belum mengenal semua pegawai yang bahkan jumlah karyawannya tidak ada tiga puluh orang. Namun, tetap saja Kanya tak bisa mengenal mereka dengan baik.
Apalagi setelah muncul gosip dirinya yang terlibat skandal dengan Hanung. Semakin malas sajalah Kanya jika harus berurusan dengan orang-orang kantor.
Kini ditambah dengan kemunculan Putra yang menghebohkan semua orang.
"Lo Kanya dari bagian pemberitaan kan? Ngefans juga sama Putra?
Kalau memang iya, sadar diri dong. Antre kalau mau foto atau minta tanda tangan. Jangan asal teriak kayak lagi ngejar maling!" ucap perempuan itu sarkas.
Kanya sampai ternganga ketika mendengar pernyataan perempuan berambut panjang itu. Dia menoleh ke arah sang kakak sambung dengan harapan meminta pembelaan.
Naasnya, laki-laki itu justru tertawa saat melihat perdebatan kedua perempuan di depannya.
"Bisa-bisanya ya lo malah ketawa!" protes Kanya membuat perempuan yang baru saja mendekati mereka tampak syok.
__ADS_1
"Lancang banget lo ngomong gitu sama, Putra. Sadar diri dong! Caper banget sih jadi cewek!" ucap perempuan itu semakin semena-mena.
Sementara Kanya kian menganga mendengar ucapan si perempuan.
"Heh, Mbak," tegur Kanya dengan tegas. "Kita ini nggak saling kenal kan? Apa pantes lo ngomong kayak gitu sama gue? Gue nggak ada ngusik hidup lo ya dari awal."
"Heh, cewek murahan! Lo tuh harusnya sadar diri. Pakai cara kampungan buat narik perhatian Putra. Udah gitu tukang rebut suami orang pula."
"Apa?" tanya Putra dengan nada bicara meninggi.
"Iya, dia ini cewek murahan. Tukang rebut suami orang! Bisa-bisanya kamu malah deketin fans kayak dia?!" ucap perempuan itu semakin menjadi.
"Minta maaf!" tegas Putra pada perempuan itu.
"Apa?"
"Minta maaf sekarang juga pada, Kanya!" tegas Putra sekali lagi.
Namun, perempuan itu justru tersenyum sinis dan tak memedulikan ucapan sang bintang.
"Dih, najis banget minta maaf sama cewek gatel!"
Ucapan perempuan itu hampir saja membuat Putra kehilangan kendali.
Kalau saja tidak ditahan oleh Kanya, pukulan Putra sudah pasti mengenai pipi perempuan itu.
"Lo gila ya? Mau bikin ulah di situasi kayak gini? Lo tuh lagi promo album!"
"Tapi aku nggak terima kalau ada orang yang ngatain kamu cewek murahan!" sentak Putra sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Kanya.
Peristiwa itu terjadi cukup cepat dan membuat si perempuan tampak syok dengan sikap Putra yang tiba-tiba berubah tempramen. Bahkan dia tidak peduli jika yang sedang dihadapi adalah seorang perempuan.
"Ya biar gitu, beda cerita kalau urusannya sama lo, Nyet!" bentak Kanya dengan keras.
"Dan lo perlu tahu, dia itu kakak gue! Jadi, terserah gue mau antre kek, nggak kek. Orang dia ke sini juga buat ketemu gue," tandas Kanya tak kalah sarkas.
Baru kali ini dia mengucapkan dengan bangga pada orang lain jika Putra adalah kakaknya. Meski dia tidak mengungkapkan fakta bahwa hubungan mereka hanyalah kakak-adik sambung.
"Harusnya lo yang lebih tahu diri, Mbak," bisik Kanya dengan suara rendah.
Dia sengaja berbisik di telinga perempuan itu agar tidak didengar oleh orang lain.
__ADS_1
Seketika, wajah si perempuan merah padam. Dengan langkah cepat, perempuan itu meninggalkan lobi MediaPena. Entah ke mana.
Satu hal yang pasti, dia tak sanggup menahan malu atas perbuatannya sendiri.