
Renjana Kanya
Dahulu kala, di Kerajaan Langit Biru, tinggal lah Putri Hujan yang berparas sangat cantik. Setiap hari bersama teman baiknya - si Awan Kelabu - Putri Hujan selalu berkeliling istana. Mereka yang mengatur kapan langit cerah, kapan awan-awan putih berarak, sampai kapan awan-awan putih yang selembut kapas itu harus menjadi gumpalan awan gelap yang akhirnya menjadi hujan.
Ia pula yang mengantar awan-awan gelap itu menjadi ribuan rintik air yang jatuh ke bumi. Putri Hujan lah yang memastikan jika tidak ada satu pun anak-anak hujan yang akhirnya merugikan seluruh umat di dunia.
Putri Hujan selalu dengan senang hati melaksanakan tugasnya. Tak sedikit pun ia mengeluh meski harus bekerja siang dan malam. Hanya demi mengatur kapan awan-awan gelap yang menyimpan berton-ton air itu, harus menjadi rinai hujan yang sangat dinantikan manusia bumi.
Putri Kerajaan Langit Biru itu selalu senang apabila manusia-manusia bumi bersorak menyambut kedatangannya. Bahkan tak jarang anak-anak kecil berlarian di bawah selendangnya yang berwarna putih kebiruan. Ia akan akan tertawa bersama wajah ceria bocah-bocah yang menanti kehadirannya.
Terlebih ketika ia harus kembali ke Kerajaan Langit Biru dan meninggalkan jejak merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Bocah-bocah itu pasti akan bersorak semakin riuh. Tak jarang pula, orang-orang dewasa menatap takjub ke arah landasan yang ia gunakan untuk kembali ke tempatnya berasal.
Suatu ketika, saat sang Putri melaksanakan tugasnya mengatur awan-awan putih di sekitar kerajaan, ia tergelincir dan jatuh ke bumi. Tubuhnya terhempas di tepi telaga yang sunyi. Tak ada si Awan Kelabu, teman yang bisa membawanya kembali.
Putri Hujan sangat sedih. Hatinya bingung. Ia tak tahu pada siapa harus mengadu. Sedang tempatnya kembali begitu jauh. Tak mungkin ia bisa kembali jika awan-awan putih itu masih menggumpal di sekitar kerajaan. Ia membutuhkan awan kelabu untuk menjadikan hujan. Sebab hanya ketika hujan lah ia bisa kembali pulang.
Lantas siapa yang bisa membuat hujan turun, jika itu adalah tugasnya. Tidak ada sosok lain yang bisa menurunkan hujan kecuali sang putri itu sendiri. Kalaupun bisa, itu hanya lah ayah sang putri, penguasa Kerajaan Langit Biru. Namun harus menunggu berapa lama sampai ayahnya sadar jika sang putri telah menghilang.
Ketika terisak itulah, seorang ksatria yang gagah rupawan menemukan sang putri di tepi telaga. Di mata sang ksatria, wujud putri terlihat begitu menawan berbalut gaunnya yang sebening air tapi tampak biru berkilauan. Paras sang putri membuat ksatria iba dan ingin menolongnya.
"Apa yang engkau lakukan di sini wahai putri tak bernama? Mengapa wajahmu begitu sendu oleh air mata?" tanya sang ksatria membuat putri menghapus air matanya. Tumbuh harapan putri untuk pulang ke Kerajaan Langit Biru.
Putri Hujan menatap lekat wajah sang ksatria. Ia memohon pada sang ksatria agar menolongnya untuk bisa kembali pulang.
"Aku terjatuh Tuan, dan aku tak bisa pulang. Bisakah engkau mengantarku pulang?"
"Di mana rumahmu, Putri? Bagaimana cara hamba mengantar Tuan Putri kembali ke istana?"
Tuan Putri tampak bingung menjawab pertanyaan sang Ksatria. Bagaimana caranya membuat Ksatria percaya jika ia berasal dari negeri jauh di atas awan? Namun sang Putri tak akan tahu jika ia belum mencoba, maka dengan hati yang bimbang Putri Hujan berkata Ksatria.
"Aku berasal dari negeri di mana awan-awan putih itu sangat dekat. Bahkan engkau bisa merasakan bagaimana lembutnya hanya dengan ujung jemarimu. Bisakah kau mengantarku ke sana, Tuan?"
Sang Ksatria tampak lama berpikir. Dalam benaknya ia masih bertanya-tanya, di manakah kiranya letak negeri yang sedekat dengan awan-awan putih yang membentang seluas cakrawala? Pun ia tak sanggup menolak permintaan Putri yang kini semakin sendu wajahnya.
"Baiklah, hamba akan mengantarmu pulang Putri. Namun sebelumnya kita harus ke kota untuk membawa bekal selama di perjalanan."
Wajah sang Putri berubah cerah saat mendengar ucapan Ksatria. Mereka meninggalkan tepi telaga tempat Putri Hujan terjatuh dan berjalan menuju kota.
Setelah semua perbekalan telah siap, Ksatria dan Putri Hujan memulai perjalanan mencari negeri di mana awan begitu dekat, hingga bisa disentuh dengan ujung jari. Meski sebenarnya Ksatria tak yakin harus ke mana mencarinya. Namun demi membuat sang Putri tersenyum, Ksatria muda itu mengiyakan permintaannya.
Sudah berhari-hari mereka berjalan ke arah utara. Terkadang mereka juga ke arah barat maupun selatan. Banyak negeri telah mereka singgahi, tapi tak satu pun negeri yang mendekatkan mereka dengan awan-awan putih yang berarak di angkasa.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kota kecil yang sudah lama tak pernah diberkahi hujan. Setiap penduduk di sana berlama-lama bersujud dalam kuil, hanya demi memohon agar hujan segera turun.
Putri Hujan pun merasa iba melihat penderitaan mereka. Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Sudah berapa musimkah yang terlewati hingga membuat tanah di kota itu begitu tandus dan kering. Sungai-sungai menjadi dangkal, ladang pun kurang air. Hewan ternak mereka tinggal lah tulang tanpa daging.
"Aneh, sudah beberapa lama kita berjalan, tapi hujan tak pernah turun sekalipun. Padahal seharusnya ini masih musim penghujan. Dan kota ini begitu kering. Sudah berapa lama hujan tak pernah singgah," kata sang Ksatria saat memperhatikan keadaan penduduk yang memprihatinkan.
"Entahlah, harusnya ada alasan mengapa hujan tak turun."
"Itu karena sang Putri Hujan telah melalaikan tugasnya dan membuat manusia tersiksa. Jika saja Putri Hujan tak lalai, pasti kota ini hijau seperti dulu. Dan ternak-ternak tak kelaparan maupun kehausan."
Tiba-tiba seorang lelaki muncul di depan mereka. Tubuhnya kurus seperti kebanyakan penduduk kota itu. Di matanya terpancar jelas kebencian pada Putri Hujan.
Saat menyadari kalimat salah satu penduduk itu, hati Putri Hujan sangat sakit. Ia tak pernah melalaikan tugasnya sekalipun. Bahkan ketika sang raja memanggil Pangeran Petir, kakak tertuanya, Putri Hujan masih setia bekerja. Meski kenyataannya Tuan Putri sangat takut dengan suara menggelar sang kakak. Tak pernah Putri Hujan mangkir dari tugasnya.
Namun saat ia jatuh dan terasing di dunia yang tak mengenal siapa pun, justru ada orang yang mencela tugasnya. Putri Hujan sangat sakit hati. Ia berlari meninggalkan sang Ksatria ke arah bukit di sebelah utara. Dalam hati ia memanggil sang ayah. Meski tahu risiko jika Raja Agung Kerajaan Langit Biru mendengar suara anaknya tidak berasal dari dalam istana, maka artinya bencanalah yang akan terjadi.
Benar saja. Awan-awan hitam yang beberapa hari tak pernah singgah, kini bergemuruh di angkasa. Bahkan kakak tertuanya ikut membelah langit dengan suaranya yang menggelegar. Raja Agung Kerajaan Langit Biru mengutus awan kelabu untuk mencari keberadaan sang putri dan menurunkan hujan lebat.
Sang Ksatria yang menyadari kemarahan raja Kerajaan Langit Biru, segera mengajak Putri Hujan untuk berlindung. Namun sang Putri menolaknya. Ia harus pulang, agar tak ada lagi manusia yang menganggapnya melalaikan tugas.
Bertepatan dengan itu, Pangeran Petir turun ke bumi untuk menjemput sang Putri. Saat itulah sang Ksatria menyadari siapa putri cantik jelita yang telah ditolongnya. Meski berat hati, sang Ksatria merelakan Putri Hujan kembali ke tempat asalnya. Setelah sebelumnya meminta Ksatria untuk meninggalkan kota itu.
Saat telah kembali ke Istana Langit Biru, Putri Hujan masih menyimpan dendam. Berhari-hari Putri Hujan menghukum manusia sombong di kota itu agar tidak menyepelekan tugasnya. Hingga akhirnya ia melihat lebih banyak manusia yang berputus asa di tengah banjir akibat ulahnya.
Di langit ia juga melukis pelangi untuk menghibur manusia yang gundah hatinya. Tak lupa ia meminta bantuan sang Awan Kelabu temannya, untuk mengarak awan-awan putih agar sesekali manusia merasakan teduh dari sinar matahari. Senyum Putri Hujan mengembang saat Putri Angin, kakak keduanya, datang membawa kabar dari sang Ksatria.
"Terima kasih telah menghentikan hujan dan menggantinya dengan tanah basah serta tanaman yang kembali rindang. Selanjutnya, aku akan menantimu di tepi telaga tempat pertama kali kita bertemu. Datanglah dengan gaunmu yang indah berkilauan biru yang serupa kristal air."
Maka setiap kali Putri Hujan mengantar anak-anak hujan ke bumi, ia pasti singgah di tepi telaga tempatnya bertemu Ksatria. Kali ini ia selalu memastikan agar bisa kembali ke Kerajaan Langit Biru tanpa menyusahkan manusia. Meski sesekali ia lupa waktu dan memaksa ayahnya untuk menjemputnya yang sudah pasti akan datang dengan bencana alam. Namun, Putri Hujan tak pernah lupa untuk memperbaiki semua ulah merusak sang ayah. Sebab bagaimanapun ia tetap mencintai manusia.
***
Wajah polos bocah-bocah itu tak berkedip saat mendengarku membacakan dongeng yang kutulis semalam. Bahkan ketika aku selesai membacanya pun, mereka memintaku untuk membacakan kisah yang lain. Mereka begitu antusias menyodorkan buku cerita yang memang sengaja disumbangkan.
"Kak, bacakan cerita yang lain dong," kata Vani, siswa kelas 3, yang kabur saat mengikuti kelas yang diajarkan Dimas. Kami sempat berkenalan saat Dimas memintanya memanggilku dan Mbak Sazkia.
Selain Vani, anak-anak yang lain pun melakukan hal sama. Mereka melarikan diri dari guru masing-masing saat mendengarku membacakan dongeng. Bahkan para relawan yang seharusnya mengajar pun, justru ikut bergerombol dengan anak-anak yang lain.
"Tapi 'kan kalian masih harus belajar," kataku merasa bersalah karena sudah merebut job disk para relawan yang lain.
"Dengerin dongeng juga belajar kok, Kak," kelit Agus yang berbadan gempal. Harusnya ia belajar dengan Mbak Sazkia yang dimandati mengajar anak kelas 6.
__ADS_1
"Duh, gimana ya? Gini aja deh, gimana kalau kalian belajar dulu. Kakak bakal tungguin deh. Baru setelah itu Kak Anya mendongeng lagi untuk kalian."
"Yaahhh... kami maunya denger Kak Anya mendongeng," koor kecewa membuatku semakin serba salah. Belum lagi saat melihat relawan lain menatapku dengan sebal. Kecuali Mbak Sazkia yang seneng-seneng aja karena tugasnya jadi ringan. Dan juga Dimas yang ikut antusias mendengarku mendongeng.
"Gini deh, Kak Anya bakal minta bantuan kakak-kakak yang lain. Kita bikin tebak-tebak. Siapa yang bisa jawab paling banyak, nanti Kak Anya kasih kesempatan milih cerita mana yang mau dibacakan. Gimana setuju nggak?"
"Setujuuu... tapi tebakannya jangan hitung-hitungan ya?" Celetukan koor terdengar lagi.
"Ya nggak bisa gitu dong, pertanyaannya terserah Kakak-kakak mau kasih apa," kataku tak mau mengalah.
Jujur ini memalukan. Masa iya aku berdebat dengan anak kecil? Namun demi menghalau tatapan sinis, aku memilih menebalkan muka. Mbak Sazkia bahkan tertawa melihat ekspresi ngototku saat mendebat permintaan mereka.
Setelah perdebatan sengit, akhirnya mereka setuju dan mengiyakan ideku untuk menerima tantangan dari para relawan yang lain. Dengan syarat, siapa yang paling banyak menjawab akan memilih judul cerita yang akan kubacakan. Dan itu berlaku untuk juara satu, dua, dan tiga.
"Minum dulu, pasti haus habis mendongeng segitu panjang." Araz mengulurkan air mineral saat aku beristirahat sebentar melepas lelah.
"Makasih. Nggak nyangka mereka bakal antusias banget sama dongeng aku. Padahal lama nggak mendongeng," keluhku setelah meneguk hingga tandas air mineral yang diulurkan Araz.
"Dongeng kamu emang magis kok, wajar kalau anak-anak suka. Secara nggak langsung kamu udah mengajarkan pada mereka tentang berkah hujan dan banjir." Araz tersenyum menatapku dan menepuk puncak kepalaku. "Nggak salah aku jadiin kamu asistenku. Nanti malam aku traktir makan deh."
"Ya kan itu udah janji Mas Araz," ucapku mencoba menyembunyikan salah tingkah saat Araz menepuk puncak kepalaku. Sebelum reaksi tubuhku semakin berlebihan, aku memutuskan untuk membantu relawan yang lain. "Aku bantu yang lain dulu deh Mas."
"Nggak pengen bantu aku ambil gambar? Yang lain udah pada balik duluan nih!" seru Araz tak kupedulikan. Aku tak mau ia melihatku salah tingkah di depannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya bisa juga terus melanjutkan novel PULANG meski tergiur untuk menulis ini dan itu. Semangat merampungkan bab selanjutnya. 🔥🔥🔥
Boleh kunjungi ceritaku yang lain nih.
Altar Dandelion
Midori High School
Oneiroi
Felis Demons
Tinggalkan like, comment, and rate star agar aku semangat menulis! 😍😍
Find me guys :
__ADS_1