Pulang

Pulang
Pulang ke Kotamu


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Peluncuran MediaPena berjalan sukses. Banyak yang menyambut antusias media cyber yang aku prakarsai bersama Hanung itu. Bahkan rekan-rekan kami sebelumnya mengacungi dua jempol atas langkah berani yang kita ambil. Mereka memberi selamat atas tindakan kami meninggalkan zona nyaman dan mampu berdikari.


Apalagi peluncuran tidak hanya ditandai dengan syukuran semata, tetapi juga ada diskusi publik sederhana tentang sosial politik yang mengundang tokoh-tokoh ternama mulai dari aktivis sampai pejabat pemkot. Untuk urusan ini, aku percayakan pada Hanung sepenuhnya yang lebih lama berkecimpung di dunia jurnalistik dibandingkan denganku yang lebih hobi motret dan menulis tentang budaya. Aku tak mau ambil risiko dengan mengubah tema di tengah-tengah diskusi yang sudah nyambung dan nyaman antara moderator dengan narasumber hanya karena obrolan yang membosankan.


"Hei, Raz. Nggak nyangka gue, lo akhirnya keluar dari LF dan bikin media sendiri. Direktur utama pula. Keren sih ini."


Bianca, rekan saat masih di LF menyapaku yang sedang berdiri agak jauh dari panggung khusus diskusi publik di halaman kantor MediaPena. Perempuan itu menghadiri undangan atas nama perusahaan. Kalau saja Kanya ada di sini, pasti obrolan semalam tentang perasaan cemburunya akan menatap kami dengan wajah jutek. Sebab, sejak pertama kali kenal, Bianca inilah yang paling gencar mendekatiku.


"Perlu disyukurilah. Kalau bukan karena ajakan Hanung, mana berani gue bikin perusahaan media kayak gini. Risikonya besar. Saingannya juga ketat. Kalau nggak up to date pasti bakal terlibas sama media yang lain."


"Gue sih yakin, kalau MediaPena bakal sukses ke depannya. Eh ya, lo apa kabar? Gue nggak lihat Kanya dari tadi? Gue dengar dari Sazkia katanya kalian sudah jadian ya?"


Aku tersenyum samar menanggapi pertanyaan Bianca. Meski dalam hati mengumpat kenapa Sazkia dengan embernya membuat pengumuman pada semua orang. Aku yakin, kabar itu pun pasti sudah menyebar ke seluruh LF jika si ratu gosipnya pun telah mengetahui kabar jadianku dengan Kanya. Dan jelas, maksud pertanyaan Bianca hanya untuk memastikan apakah aku masih berpacaran atau tidak dengan Kanya.


"Ya, dia harus pulang ke kotanya. Ada urusan yang nggak bisa dia tinggal."


"Kalian nggak lagi renggang kan hubungannya? Gue siap kapan pun loh Raz, kalau misalnya ... ."


"Sori, gue mesti ketemu sama tamu dulu, Bi," ucapku sebelum Bianca menyelesaikan kalimatnya. Aku hapal betul apa yang ingin diucapkan perempuan itu.


Lihat saja wajahnya, langsung kusut saat aku memutuskan pergi untuk menemui salah satu rekan yang telah mendukung finansial MediaPena. Diam-diam aku tersenyum samar. Sudah tahu aku menjaga jarak sejak awal, tetapi dia tetap saja bersikeras mendekatiku. Harusnya dia perlu tahu, jika laki-laki benci didekati dengan cara agresif seperti itu. Yah, kecuali memang si laki-laki memiliki karakter yang sama kayak Bianca.


Cukup lama aku mengobrol dengan salah satu rekan kerja MediaPena, sampai Lea mendekatiku dan mengingatkan jika sudah waktunya jadwal keberangkatan pesawatku. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Sudah hampir tengah hari. Beberapa kru yang bertugas mengatur acara juga sudah mulai sibuk dengan HT mereka. Termasuk Hanung yang masih di atas panggung mini yang kami siapkan sebelumnya untuk dialog publik.


Tanpa kuberi aba-aba, Hanung pun juga sudah mengakhiri dialog publik yang dia pandu. Acara memang kami batasi hanya sampai tengah hari, sebab aku harus terbang ke Jawa Timur demi menjemput Kanya. Bukannya aku mau bertindak egois, tetapi justru Hanung yang menyarankan agar aku cepat-cepat menjemput perempuan itu. Katanya dia tidak sabar untuk bekerja sama dengan Kanya lagi. Padahal Kanya masih belum menjawab, mau bergabung dengan MediaPena atau tidak. Namun, Hanung begitu antusias dan yakin jika Kanya mau bergabung bersama kami.

__ADS_1


"Kok lo masih di sini? Buruan berangkatlah. Sudah, gue handle sisanya. Lo berangkat saja jemput, Kanya," kata Hanung saat melihatku masih berdiri di dekat meja yang menyediakan berbagai macam makanan dan camilan.


"Iya, gue cuma pastikan, apakah dialog publik yang lo pandu bakalan sukses atau nggak."


"Sialan lo."


Aku tertawa menanggapi komentar Hanung. Sebelum akhirnya dia mendorongku menjauh saat melihat Bianca berjalan ke arah kami.


"Ada Nenek Lampir jalan ke sini. Mending lo buruan pergi sebelum ke-gep sama dia."


"Nenek Lampir? Bianca maksud lo?" tanyaku masih tak memahami kalimat Hanung.


"Iyalah, siapa lagi. Sudah buruan sana. Nggak perlu gue antar ke bandara 'kan?"


Tanpa menjawab pertanyaan Hanung, aku menepuk pundak laki-laki itu dan memasuki ruang kerjaku. Koper dan beberapa keperluan sudah aku siapkan sejak tadi pagi. Toh tak banyak yang aku bawa.


Ayah marah besar. Jelas. Tinggal aku satu-satunya harapan yang tersisa. Apalagi di usianya yang sudah tua. Ayah hanya ingin hidup damai dan ingin berkumpul dengan anak serta istrinya di rumah yang nyaman. Dengan menantu dan cucu tentu saja.


Beberapa kali dia sudah memintaku menghadiri acara perjodohan yang tentu saja kuhindari. Katanya, usiaku sudah terlalu matang untuk berumah tangga dan harus ada yang mampu mengurusku. Terlebih setelah mengetahui kondisiku sempat memburuk beberapa waktu lalu. Ayah semakin keras terhadapku dan berakhir dengan penjualan apartemen yang kubeli dengan keringatku sendiri. Sungguh, jika aku mengingatnya, ada rasa kecewa dengan sikap Ayah. Apalagi saat mengetahui fakta bahwa Putralah yang membeli apartemen itu. Sungguh ajaib bukan cara kerja semesta. Ia selalu mendekatkan hal yang justru paling kita hindari.


"Mas, sebelum pergi bisa tolong tanda tangan berkas ini sebentar?" Aku terkejut saat tiba-tiba Lea sudah berdiri di seberang meja kerjaku. Aku tidak tahu kapan perempuan itu memasuki ruangan. "Maaf, Mas. Tadi saya ketuk pintu nggak ada jawaban, jadi saya langsung masuk. Maaf Mas, sudah bikin kaget."


"Oh, iya nggak apa-apa, Le. Ada yang gue pikirin. Btw, santai sajalah kalau ngomong sama gue atau Hanung, anggap saja kita kakak. Nggak usah terlalu kaku," kataku sambil menerima berkas dari Lea dan membacanya dengan cermat sebelum membubuhkan tanda tanganku.


"Maaf, Mas. Saya nggak terbiasa pakai bahasa gaul. Panggil atasan dengan sebutan Mas saja, itu sudah lebih dari cukup."


Aku tersenyum menanggapi pernyataan perempuan itu. Usianya mungkin terpaut tiga tahun lebih muda dari Kanya. Single parent yang menghidupi seorang anak yang masih kecil. Dia bercerai dengan suaminya karena mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga. Tepat di usia pernikahan mereka yang kedua tahun.

__ADS_1


Aku dan Hanung mengenalnya dengan tidak sengaja, saat seorang teman pengacara kami menangani kasus perceraiannya. Pembawaannya yang kalem dan lugu membuat kami merasa iba. Apalagi dia terlihat memiliki potensi yang tak diragukan. Meski hanya lulusan SMK karena DO saat kuliah, Lea memiliki kecerdasan yang patut diacungi jempol. Makanya dia kami pilih sebagai manajer administrasi umum yang mengurus segala keperluan surat-menyurat MediaPena.


"Sudah, ada berkas lain yang perlu gue tanda tangani?"


"Sementara belum ada, Mas. Nanti akan saya kirim email kalau ada berkas yang perlu tanda tangan, Mas Araz."


"Oke kalau gitu, gue berangkat sekarang ya. Akur-akur loh sama Tian, selama gue nggak ada," kataku menyebut salah satu reporter MediaPena yang sering kali mengganggu Lea. Belum ada satu minggu bekerja sama, mereka sudah membuat ribut lantai dasar.


Aku tahu maksud laki-laki itu, Tian hanya ingin mencuri perhatian Lea. Sementara Lea, bukan perempuan yang mudah tergoda dengan ucapan manis laki-laki. Mungkin, pengalaman hidup membuatnya bersikap keras pada dirinya sendiri.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Salam buat Mbak Kanya."


Senyum menghiasi sudut bibirku. "Iya, nanti gue sampaikan salam lo ke Kanya."


Setelah berpamitan dengan Lea dan Hanung yang sudah berada di ruangannya, aku berangkat menuju bandara. Terbang menjemput separuh jiwaku yang masih tertinggal jauh di kampung halamannya. Dalam hati aku tertawa girang. Rasanya aku tak pernah sebahagia ini selama berpergian. Baru kali ini, aku pergi seolah tanpa beban. Meski harus meninggalkan tanggung jawab di awal pekan.


Sebelum mengemudikan mobil menuju bandara, aku mengambil gawai dari saku kemeja dan mengetik pesan pada Kanya.


Alcatraz


Hai, Kanya. Sebentar lagi kita ketemu. Tunggu aku pulang ke kotamu ya. Aku rindu dan nggak sabar ingin bertemu. Salam peluk untukmu. 🤗


Anya


Iya, Mas. Ini aku juga sudah siap-siap ke bandara jemput Mas Araz. Hati-hati di jalan ya. 💕


Balasan Kanya membuat senyum di wajahku semakin lebar.

__ADS_1


__ADS_2