
Renjana Alcatraz
Kupikir Arez sudah gila saat memintaku menjaga seorang perempuan bernama Kanya yang bahkan belum pernah kutemui. Namun, wajar jika Kanya menjadi ketakutan terbesarnya ketika ia harus pergi. Perempuan itu, meski hanya sekadar melihat fotonya saja, membuat siapa pun ingin melindunginya. Bukan karena dia terlihat rapuh. Dia bahkan terlihat seperti sosok yang ceria, tapi di balik senyumnya, seakan ada kisah pilu yang sengaja dia sembunyikan.
"Lo boleh nolak seandainya nggak tertarik sama Kanya buat lo jadiin istri, tapi gue mohon sama lo Bang, di masa depan, pastikan lo selalu ada buat dia."
Kami sedang duduk di taman rumah sakit usai menjalani serangkaian tes, apakah kondisi tubuh kami memiliki kecocokan seandainya melakukan pencangkokan jantung. Arez mengajakku membicarakan tentang Kanya. Perempuan yang selama ini dia cintai.
Hari itu pula Arez bercerita, jika Kanyalah yang membuatnya ingin hidup lebih lama. Seandainya saja Arez tak pernah bertemu Kanya, bisa jadi lelaki itu memilih menyerah dan menolak ikut terapi jika hasil akhirnya sama-sama mati.
"Bukannya lo bilang kalau dia udah punya pacar?"
"Gue yakin aja mereka nggak mungkin bisa bertahan sampai akhir."
"Lo lama-lama kayak cenayang ya, sok mengatur masa depan."
"Dasar cinta mereka nggak kuat, Bang. Kisah mereka juga datar-datar aja. Nggak ada ujiannya sama sekali kalau nggak sifat pacarnya yang tempramen kalau cemburu dan suka sok ngatur harus ini, harus itu. Posesif kayak Kanya tuh barang yang boleh dia miliki seorang. Untung nggak suka main kasar kalau sama Kanya. Sampai dia berani lukain seujung kuku pun, bakal gue rebut Kanya dengan paksa."
"Kayak sendirinya kuat berantem aja."
"Jangankan berantem, misahin mereka pake guna-guna juga bakal gue lakuin kalau sampai ketahuan main kasar."
"Dih, serem."
Arez tak menanggapi komentarku dan memilih menekan tombol menu utama di layar gawainya. Menampilkan foto mereka di Lembah Mandalawangi sebagai wallpaper. Senyum Kanya tampak lepas difoto itu. Meski kesan misterius masih saja terlihat di wajahnya.
"Tapi gue yakin sih Bang, lo juga bakal jatuh cinta sama Kanya kalau udah ketemu. Dia memang cantik sih, sekalipun banyak yang lebih cantik. Ada hal dalam diri Kanya yang belum tentu dimiliki cewek lain. Hatinya dan pikirannya." Tunjuk Arez pada dada dan kepalanya sendiri saat mengatakan hati dan pikiran.
Aku tersenyum menanggapi pernyataan Arez. Seandainya aku juga bisa merasakan hal yang sama. Jatuh cinta pada seseorang tanpa perlu khawatir besok aku mati ataukah masih diberi kesempatan hidup.
Mungkin aku dulu juga pernah merasakan hal yang sama. Ketika masih sok jagoan di kampus dengan mengikuti pergerakan mahasiswa. Ada seorang perempuan yang membuatku tertarik tanpa harus khawatir dengan kondisi badanku yang lemah. Namun, hal itu benar-benar membuatku susah. Hanya berbicara dengannya saja, sudah membuat jantungku berdebar tak karuan.
Apa akibatnya? Aku harus rela terkurung di ruang rawat inap sampai kondisiku membaik. Hal itu sempat berulang beberapa kali. Sampai aku benar-benar menekan perasaan suka pada lawan jenis. Meski tak sedikit dari mereka yang terang-terangan ataupun diam-diam mengagumiku.
Setidaknya Arez beruntung, ia bisa merasakan jatuh cinta tanpa khawatir kondisi jantungnya yang terpicu cepat ketika berdekatan dengan orang yang ia suka.
Sejak saat itu, Arez selalu bercerita tentang Kanya selama ada kesempatan. Membuatku seolah-olah bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tak sedikitpun celah untuk membahas hal lain selain Kanya. Hingga suatu saat, Arez mengucapkan kalimat yang cukup serius. Tentang Kanya.
__ADS_1
"Bang, di masa depan, gue hanya izinin lo jatuh cinta sama Kanya. Lo harus jagain dia. Jangan sampai dia terluka, apalagi karena ulah lo! Ini kutukan. Cuma Kanya yang bisa lepas status jomlo lo di masa depan."
"Mulai deh ngarangnya. Lama-lama lo makin serem tau nggak."
"Gue cuma jaga-jaga aja. Siapa tau lo berubah pikiran."
Saat itu, aku berpikir jika pembicaraanku dengan Arez hanyalah candaan. Lelaki itu tak benar-benar mengutukku seperti kisah yang ditulis JK. Rowling atau mungkin J. R. R. Tolkien tentang segala macam sihir dipelajari. Namun aku benar-benar tak bisa jatuh cinta dengan perempuan lain. Meskipun aku juga tidak jatuh cinta pada Kanya. Ya, siapa yang akan jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah ditemui. Bukankah itu justru aneh?
Jauh setelah peristiwa itu terjadi, di bulan April tahun 2019. Aku bertemu dengan Kanya untuk pertama kalinya.
Ting...
Suara lift terbuka sesaat setelah aku menekan angka lima dan hampir menutup. Seorang perempuan berambut pendek sebahu berpotongan model bob memasuki lift dengan napas tak teratur. Peluh membasahi kulit wajahnya yang bersih meski tak tampak putih seperti kebanyakan perempuan metropolitan. Cenderung kuning langsat. Pakaian yang digunakan pun standar kebanyakan pekerja di gedung ini. Celana jeans dan kemeja polos yang dilapisi rompi berwarna navy. Meski begitu wajahnya tampak menarik jika diperhatikan. Sekalipun tanpa make up berlebih dan lipstik yang dipoles tipis-tipis.
Deg...deg...deg...
Sejak perempuan itu memasuki lift, jantungku berdetak cepat. Bahkan ujung-ujung bibirku seakan tertarik dengan sendirinya dan melengkungkan senyuman. Tidak biasanya aku bersikap demikian. Kawan-kawanku sering menjulukiku sebagai manusia es karena tak mudah disentuh oleh perempuan mana pun. Namun hanya berada satu ruangan bersama perempuan itu seakan memicu organ dalam tubuhku untuk bertindak sesuai kemauannya sendiri. Bukan atas perintah otakku.
Mungkinkah pemilik jantung sebelumnya merasakan kehadiran seseorang yang ia sayangi di masa lalu? Mungkinkah Arez menyadari dan membuat jantungnya berdetak di luar batas nalarku?
"Duh, lelet banget sih. Bisa ngamuk nih Mas Hanung kalau gue telat."
Aku menahan diri agar tidak berkomentar ketika perempuan itu menggerutu. Gerak-geriknya menggemaskan ketika ia panik dan berharap lift cepat sampai tujuan. Padahal lift ini bergerak sesuai kecepatannya dan tidak lambat seperti yang dia tuduhkan. Bahkan perempuan itu menggigit ujung kukunya dengan tidak sabar. Sementara aku hanya memperhatikannya dengan mulut tertutup tangan menahan senyum. Di dalam lift ini hanya ada kami berdua dan aku tak ingin dia tersinggung karena menertawakannya.
Ting...
Lift terbuka di lantai dua. Segerombolan orang masuk dan menggeser posisi perempuan yang semula berdiri tepat di tengah menjadi berada di sampingku. Tubuh kurusnya terjepit gelombang manusia yang memenuhi lift. Ia bahkan sempat menginjak kakiku saat terdorong ke belakang. Saat menyadari kakinya menginjak sepatuku, perempuan itu menolah dan meminta maaf. Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Entah mengapa, semakin dekat dengannya membuat jantungku berdetak tak teratur. Padahal sebelumnya aku tak pernah setertarik ini pada perempuan.
Apalagi saat aku memutuskan menerima donor jantung dari Arez dengan beribu paksaan. Ini pertama kalinya jantung milik Arez yang tertanam di badanku bereaksi saat melihat seorang perempuan yang tak pernah kukenal sebelumnya.
"Akhirnya, sampai juga gue. Permisi Mbak, Mas, gue keluar dulu ya," kata perempuan itu sambil membelah gerombolan manusia di dalam lift. Namun tubuhnya justru terdorong seorang lelaki tambun saat bergeser memberinya ruang hingga membuat perempuan itu jatuh ke lantai.
Refleks aku meraih tangannya dan membantu perempuan itu berdiri. Sebelum ia semakin malu karena diperhatikan banyak orang, aku menyibak kerumunan dan menariknya keluar lift.
"Makasih loh Mas, udah nolongin. Saya duluan, sudah ditunggu bos," ucapnya saat kami berada di lorong menuju divisi surat kabar harian sebelum ia berlari meninggalkanku tanpa berkesempatan bertanya siapa namanya.
__ADS_1
Namun aku memiliki firasat, dia adalah Kanya. Perempuan yang telah dipilihkan Arez untukku.
***
"Senyum-senyum mulu lo dari tadi, Bro. Angin apa nih yang buat lo bahagia?" tanya lelaki berkacamata persegi itu, menyambutku dengan hangat saat tiba di ruangannya. Ia baru saja memimpin rapat redaksi untuk materi peliputan hari ini. "Ketemu cewek cantik lo?"
"Bawahan lo, ada yang bikin gue tertarik," jawabku sambil duduk berhadapan dengannya.
"Wait, bawahan gue? Siapa nih? Tumben-tumbenan juga lo tertarik sama cewek. Gimana ciri-cirinya?"
Tawa Hanung hanya kutanggapi dengan senyuman salah tingkah. Aku pun tak tahu apa penyebabnya mengapa bisa tertarik dengan perempuan itu. Hanya naluriku saja yang mengatakan bahwa ia Kanya. Perempuan yang telah dipilihkan Arez untukku. Perempuan yang konon bisa menghapuskan kutukan yang telah diucapkan lelaki itu.
"Dia lumayan tinggi, 173-an mungkin. Badannya nggak kurus-kurus amat, nggak gemuk juga. Imbanglah sama tinggi badannya. Rambutnya dipotong model bob sebahu."
"Hem, Kanya nih pasti. Yakin gue itu pasti Kanya. Wajar sih kalau lo tertarik sama dia. Dia itu nggak cuma cantik, dari wajahnya juga udah keliatan kalau dia cerdas dan pekerja keras. Ulet juga. Kalau gue belum punya istri udah gue gebet juga tuh cewek. Mata lo awas juga sama yang berkualitas."
"Ya daripada lo pacarin, 'kan mending gue ngomong dulu sama lo. Kenalin gih."
"Beneran lo suka sama dia?"
"Elah, gue sebelumnya memang nggak pernah jatuh cinta, tapi hati gue nggak sebeku Kutub Utara juga kali."
Hanung tertawa mendengar celotehku. Imbuhnya,"Iya, nanti gue kenalin deh. Lagi sibuk-sibuknya pemilu nih. Ganggu kerjaan ntar. 'Kan beda deadline sama lo."
"Sialan, gitu juga perlu waktu segala."
"Iyalah, biar nggak ditolak dengan mudah. Percaya sama gue."
Ya, dia memang Kanya. Kanya Gayatri. Perempuan yang dipilihkan Arez agar aku menjaganya di masa depan. Semesta mempertemukan kami dengan cara yang tak terduga. Membuatku semakin yakin jika kutukan Arez di masa lalu telah mempengaruhi bawah sadarku dan menjadikan itu sebagai ambisi untuk menemukan Kanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Haii... masih sepi aja nih. 😁
Dukung author dengan like tiap bab, komen, rate, and vote ya. Siapa tahu ada juga yang ninggalin mau tip buat author.
Share novel ini agar semakin banyak yang baca! Terima kasih! ☺
__ADS_1