
Ketukan di pintu kamar membangunkan Kanya yang masih tertidur pulas di balik selimut. Sebenarnya, dia sudah bangun saat mendengar azan Subuh dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Hanya saja, hawa yang begitu dingin membuat perempuan itu kembali tidur sesaat setelah salat Subuh. Sementara Jenna masih tertidur nyenyak, bahkan saat Kanya terbangun untuk salat Subuh sekalipun.
Sebenarnya, Kanya berniat keluar kamar saat mendengar lantunan lagu rohani dari ruangan tidak jauh dari letak kamar tamu. Namun, dia masih terlalu kikuk harus bertemu dengan orang tua Araz. Kesan pertama mereka memang baik, tetapi Kanya masih belum terbiasa di antara mereka yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Keramahan merekalah yang justru membuat Kanya semakin canggung. Padahal sebenarnya, dia cukup penasaran mengapa ada lantunan lagu rohani yang sering didengarnya di acara mimbar agama Kristen di radio dalam rumah ini. Sebab setahu Kanya, Araz termasuk pemeluk Islam yang taat. Meski begitu, Kanya tidak ambil pusing memikirkannya dan memilih kembali tidur. Apalagi udara dingin cukup membuatnya tertidur nyenyak. Kanya tidak mau melewatkan momen itu.
Tok ... tok ...
Suara ketukan di pintu terdengar lagi. Masih lembut, tetapi dengan tempo yang agak lebih cepat. Mau tidak mau, Kanya bergegas bangun dan membuka pintu kamar tamu. Dilihatnya Araz sedang berdiri di balik pintu. Masih lengkap dengan apron yang dia gunakan untuk berkebun tadi. Noda bekas tanah bahkan masih menempel di beberapa bagian tubuh juga wajah laki-laki itu.
"Wajah Mas Araz kotor," kata Kanya sambil memperhatikan wajah kekasihnya. Tanpa sadar, tangan Kanya bergerak menghapus noda tanah di wajah laki-laki itu.
"Eh, iya. Aku habis bantu Ayah berkebun. Ada beberapa tanaman baru yang butuh perhatian ekstra. Jadi, Ayah minta bantuan aku. Gimana, kamu tertarik buat ikut berkebun juga?" tawar Araz kemudian sambil menggenggam tangan kekasihnya.
Mata Kanya yang masih setengah terpejam hanya mengerjap. Kesadarannya masih belum terkumpul sempurna dan otaknya tidak mampu menangkap kalimat Araz dengan baik. Jika tidak begitu, mana mungkin dia memegang wajah Araz di rumah laki-laki itu tanpa khawatir bakal ketahuan ibu atau mungkin ayah kekasihnya.
"Wah, pagi-pagi udah lihat adegan romantis aja nih."
Celetuk seorang perempuan yang tampak cantik dibalut dress warna hitam selutut dipadu dengan sepatu boot sebatas betis warna senada yang membuatnya semakin seksi. Wajahnya dipoles make up tipis yang membuatnya semakin terlihat cantik. Bahkan di mata Kanya yang seorang perempuan sekalipun. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya memakai piyama bergambar Mickey Mouse dan rambut serta wajah yang masih berantakan. Itu pun baju yang dipinjamkan Jenna kepadanya. Kanya benar-benar tidak membawa persiapan apa pun saat menuju Bandung.
"Cassandra?" Araz tampak terkejut saat perempuan itu tiba-tiba muncul dari ruang tamu.
__ADS_1
Sial, kenapa dia muncul sepagi ini sih. Batin Araz meronta. Padahal dia baru saja melewatkan momen manis bersama Kanya. Kemunculan perempuan itu hanya akan membuatnya risih karena pasti akan menempel padanya seperti kutu di tubuh kucing.
"Hai Babe, kaget amat sih kelihatannya."
"Pagi amat kamu udah di sini, Ndra? Eomma ada di kebun kalau kamu mau menyapanya. Aku masih ada urusan. Oh ya, kenalkan dia pacar aku, namanya Kanya," sapa Araz sambil menggeser tubuhnya untuk berdiri di samping kanan Kanya dan mengenalkan kekasihnya pada Cassandra. Laki-laki itu hanya tidak ingin sepupunya berbuat nekat pada Kanya. Entah mengapa, jika itu tentang Cassandra, Araz tidak pernah bisa berpikiran positif.
Sementara Kanya menatap laki-laki itu heran. Baru kali ini dia melihat Araz menyebut orang lain "kamu" selain dirinya. Apakah perempuan itu yang disebutkan Jenna? Tentang nenek lampir yang terobsesi pada Araz? Jika memang iya, mengapa Araz memakai aku-kamu untuk menyebutnya? Apakah hubungan mereka sedekat itu? Bahkan dengan Jenna dan Eros sekalipun, Araz masih menyebut gue-elo, walaupun hubungan mereka terlihat begitu erat dan akrab.
"Kesayangan aku ulang tahun masa iya aku nggak kasih ucapan selamat sih," kata perempuan itu sambil bergelayut manja di lengan Araz yang bebas. Tanpa basa-basi, Araz menepis tangan Cassandra dan membuat perempuan itu tampak menahan amarah. Meski begitu, dia tetap mempertahankan senyum di wajahnya.
"Kenapa, kamu takut pacar kamu salah paham sama hubungan kita?" imbuh Cassandra. Senyum licik terpahat di wajah perempuan itu. Sementara Kanya yang berdiri di antara mereka, kini menatap dengan penuh tanda tanya.
"Sepupu yang seharusnya jadi calon istri maksud kamu? Ngomong yang jelas dong. Kalau nggak, dia makin salah paham sama hubungan kita."
Demi mendengar istilah "calon istri" yang diucapkan Cassandra, degup jantung Kanya menjadi lebih cepat dari seharusnya. Jenna memang bercerita kalau saudara sepupu perempuan dari anak tertua keluarga Lee begitu terobsesi pada Araz. Namun, Jenna tidak mengatakan soal calon istri atau apa pun itu yang disebutkan oleh Cassandra dan hal itu membuat Kanya cukup syok. Sedangkan Araz tidak pernah mengatakan apa pun soal sepupunya itu.
"Jangan sembarangan kamu ya!" kata Araz menahan amarah.
Setelah meminta Kanya mengganti pakaian yang telah disiapkan oleh ibunya, Araz meninggalkan kamar tamu diikuti Cassandra yang tersenyum licik. Degup jantung Kanya semakin tidak menentu. Entah mengapa, terlihat jelas dari tatapan Cassandra jika perempuan itu tidak menyukai Kanya. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu dan Kanya sudah mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari sepupu Araz.
__ADS_1
Mungkin benar yang diucapkan Jenna, Cassandra terlalu terobsesi pada Araz hingga membuatmu perempuan itu bertindak lebih dari luar nalar. Termasuk menatap sinis pada orang lain yang dekat dengan Araz. Meski begitu, tetap saja ucapan Cassandra tentang "calon istri" tetap tidak bisa dienyahkan dari pikiran Kanya. Dia berniat menanyakan itu pada Jenna sampai gadis manis yang lebih muda darinya itu bangun tidur.
"Kenapa wajah Kak Kanya suntuk gitu?" sapa Jenna saat ia membuka mata. Kanya hanya tersenyum seperlunya dan menunggu sampai Jenna benar-benar membuka mata.
"Hemmm ... aku nunggu kamu sampai pengen balik tidur lagi rasanya."
Jenna tertawa. Seperti Araz, mata gadis itu terpejam ketika ia menarik ujung-ujung bibirnya.
"Kenapa Kakak nggak keluar aja dulu? Kakak nggak mau ketemu sama Kak Araz atau ngobrol sama Bibi gitu?"
"Nggak deh. Aku di sini aja."
Jawaban singkat Kanya membuat Jenna menatapnya curiga.
"Jangan bilang, nenek lampir itu udah ada di sini? Sekarang?"
Kanya hanya terdiam. Perasaannya seakan tidak menentu. Ragu-ragu, dia bertanya pada Jenna,"Apa sebelumnya mereka pernah merencanakan pernikahan?"
Mata Jenna melotot. Dia segera bangun dari ranjang dan menghampiri Kanya yang duduk di sofa pendek yang diletakkan di bawah tempat tidur. Ditatapnya mata Kanya dengan serius dan berucap,"Apa pun yang dikatakan nenek lampir itu, tolong jangan dipercaya, Kak. Tapi, aku juga nggak bisa jawab soal pertanyaan Kakak. Itu, lebih baik Kakak tanyakan aja sama Kak Araz."
__ADS_1
Kanya menelan saliva mendengar jawaban Jenna. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kenyataan apa yang akan dia hadapi, Kanya tetap mencoba menarik kedua ujung bibirnya. Benar ucapan Jenna, dia harus mencari tahu jawabannya tentang Cassandra langsung pada Araz.