
Rumah tanpa dinding yang hanya disangga tiang dari pohon jati itu tampak sepi. Meski begitu, tetap terlihat bersih dan terawat, meskipun kelopak kembang kamboja terserak di lantainya yang beku. Di sana terlihat satu-satunya makam yang tampak begitu dingin. Sebelum kembali ke Jakarta, Araz menyempatkan mengunjungi makam Adhyaksa dan ingin menyapa adiknya yang telah lama tiada. Sekaligus mengenalkannya pada Kanya.
"Hai Sa, apa kabar?" sapa Araz dengan suara bergetar. Laki-laki itu selalu dihantam penyesalan jika berkunjung ke makam adiknya. Dia berusaha menahan air mata agar tidak menangis di hadapan Kanya. "Lihat, aku bawa calon kakak ipar kamu. Namanya Kanya. Cantik 'kan?"
Senyum getir menghiasi wajah Araz. Pintu penyesalan yang selama ini dia kunci rapat-rapat, terbuka dengan paksa. Mendera ngilu dalam dadanya. Turut menjalar dalam aliran darah serta setiap hembusan napasnya.
Senyum getir itu masih melekat di bibir Araz. Seandainya Aksa masih hidup, mungkin kini Araz tidak mengenalkan Kanya sebagai kakak ipar. Bisa saja mereka saling berhadapan dan bertaruh memperebutkan Kanya. Mereka sering bertaruh tentang segala hal. Bahkan urusan sepele hingga hal yang sulit di luar jangkauan. Terlebih urusan hati, Aksa tidak pernah mau mengalah pada sang kakak. Begitu pula sebaliknya. Apalagi saat Aksa tahu tentang Kanya. Tentu adik semata wayangnya itu tidak akan tinggal diam.
Sekarang siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Kanya? Perempuan itu memiliki definisi sempurna untuk membuat siapa saja terpikat kepadanya. Sorot tajam matanya, garis tegas rahangnya, bibir tipisnya, sepasang alis yang menaungi kedua matanya, senyumnya, juga tentang semua hal yang tersembunyi di dalam tempurung kepalanya. Sempurna.
Araz yakin betul, kalau saja Aksa masih hidup, pasti saat ini dia sudah tumbuh menjadi sosok pria yang tampan dan cukup membuat Kanya tertarik padanya. Aksa begitu bertalenta. Hampir semua bidang dia kuasai dengan sempurna. Musik, seni, berhitung, bahkan hingga bahasa tak ada yang tidak bisa dia kuasai. Apalagi usianya tidak jauh berbeda dengan Kanya. Mungkin hanya terpaut beberapa bulan lebih tua.
Itu pula yang dulu membuat Araz cepat akrab dengan Arez. Sebab, ketika melihat sosok Arez, dia selalu teringat oleh Adhyaksa yang tidak pernah bisa lagi untuk disentuhnya. Apalagi diajaknya mendebatkan sesuatu yang tak penting atau sekadar membicarakan persoalan remeh khas lak-laki.
Adhyaksa menghembuskan napas terakhir akibat penyakit yang sama dengan yang diderita oleh Araz. Mereka mendapatkan pengobatan juga perawatan yang sama. Hanya saja, kondisi fisik Aksa lebih lemah jika dibandingkan dengan Araz. Jika Araz masih bisa beraktivitas selayaknya orang normal setelah menjalani pengobatan dan perawatan, Aksa hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit hingga kondisinya membaik. Jika Araz bisa bertahan lebih lama tanpa bergantung pada jenis obat tertentu, maka Aksa hampir selalu dibantu pernapasannya dengan tabung oksigen.
Itulah mengapa akhirnya Bagaskara memboyong keluarganya pindah ke Bandung dan memilih membangun rumah di perbukitan. Sebab, Aksa membutuhkan udara segar demi membuatnya tetap sehat. Meski demi hal itu Bagaskara membayarnya dengan harga yang tidak murah. Bagaskara harus rela melepaskan posisi tertingginya selama ia menjabat sebagai kepala polisi di Ibu Kota. Laki-laki itu hanya ingin, kedua anaknya tumbuh sehat tanpa kurang suatu apa pun.
__ADS_1
Namun, di masa-masa sulit yang dihadapi Bagaskara serta istri dan anak bungsunya, Araz justru pergi meninggalkan rumah dan memilih memuaskan keegoisannya. Dia memiliki mimpi yang besar dan tak bisa dibendung keinginannya. Anak sulung Bagaskara itu tidak pernah memedulikan Aksa yang menginginkan kakaknya tetap berada di sampingnya. Aksa membutuhkan Araz untuk memberikan kekuatan, tetapi sang kakak tidak pernah mau peduli dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Batin Alcatraz terasa nyeri saat mengingat keegoisan dirinya di masa lalu. Bagaimana dia begitu tega menolak permintaan adiknya untuk pulang, padahal Araz tahu persis adiknya sedang berusaha sekuat tenaga untuk melawan masa kritisnya. Bagaimana Araz lebih memilih berlari menjauh hanya karena hubungannya yang tidak baik dengan sang Ayah. Padahal laki-laki yang telah mewariskan seluruh sifatnya pada Araz itu, tidak pernah benar-benar bisa marah kepadanya. Bagi Bagaskara, Araz maupun Aksa sama-sama buah permata titipan Tuhan yang harus dia jaga sepenuhnya. Bagaskara hanya menginginkan hal yang terbaik untuk mereka. Namun, bagi Araz, sikap Bagaskara justru dianggap memasung kedua kakinya.
Setelah bertahun kematian Aksa, mungkin kini Araz baru memahami, mengapa sang ayah bersikap keras padanya. Terlebih sejak kematian adiknya. Araz tahu betul, Bagaskara tidak ingin merasakan kehilangan sekali lagi. Dan, Araz kini baru benar-benar memahami, jika kehilangan seseorang yang disayangi lebih menyakitkan dari sebuah jenis rasa sakit yang ada di bumi. Araz hampir merasakan semua kesakitan itu, tetapi kehilangan Aksa adalah hal menyakitkan yang tak pernah bisa disembuhkan. Apalagi rasa sakit itu berbalut penyesalan yang tak bisa dengan mudah disembuhkan.
Air mata Araz jatuh berlahan. Laki-laki itu ingat betul saat Aksa memintanya pulang, sebelum adiknya itu tidak sadarkan diri dan meninggalkan dunia ini selamanya.
Mas, hari ini aku pengen banget ketemu kamu. Mas Araz pulang ya.
Mas Araz hari ini pulang 'kan? Pulang ya, Mas. Aksa pengen ketemu Mas Araz.
Mas Araz, pulang!
Ayolah, pulang ya Mas!
Mas Araz. Pulang!
__ADS_1
Pesan kedua, ketiga hingga seterusnya menyusul pesan pertama yang dikirim oleh Aksa dan belum mendapat jawaban. Adik semata wayangnya itu juga melakukan beberapa panggilan yang membuat Araz terganggu. Konsentrasi laki-laki itu terbagi. Dengan kesal, dia mematikan ponsel dan fokus pada pemotretan produk yang sedang dia kerjakan. Kali ini, dia tidak boleh gagal setelah hari sebelumnya schedule-nya berantakan akibat peristiwa yang tidak bisa dia hindarkan.
Hingga menjelang tengah malam, saat Araz mengaktifkan ponselnya, sebuah pesan dari sang ibu meruntuhkan segala ego yang tumbuh membesar dalam diri laki-laki itu.
Aksa menghembuskan napas terakhir menjelang magrib. Sebelumnya dia sempat kehilangan kesadaran. Pulang ya, Nak. Kita makamkan Aksa malam ini juga.
Araz seperti kehilangan arah. Raganya melemah. Ibarat kompas, ia tidak bisa lagi menemukan arah utara. Jantungnya terasa nyeri. Dadanya sesak. Rasanya begitu sakit sampai dia tidak sanggup bernapas dengan teratur. Araz seakan merasakan kematian yang juga telah menjemput Aksa.
Seperti orang kesetanan, Araz melajukan mobilnya ugal-ugalan menuju Bandung. Dia tidak lagi peduli jika harus menyusul Aksa dengan cara yang berbeda. Justru dalam hati Araz berpikir, seandainya dirinya mati malam itu pun, dia ingin Bagaskara merasakan kesakitan yang lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Itu semua demi membalaskan sakit hati Araz kepada sang ayah.
"Maafkan Mas Araz, Sa. Sampai sekarang pun, Mas Araz belum bisa menjadi kakak yang baik buat kamu. Bahkan mengunjungi kamu pun, jarang Mas Araz lakukan." Araz tersenyum getir. "Jangankan kamu, Mas Araz masih aja suka berantem sama Ayah dan jadi malas pulang ke rumah. Betapa egoisnya Mas Araz bukan? Rasanya Mas Araz malu mengunjungi kamu, tapi tiada hari yang terlewat tanpa merindukan kamu. Salam yang diam-diam Mas Araz titipkan pada para malaikat penjaga, sampai kepadamu 'kan?"
Araz tak sanggup lagi menahan air matanya. Dalam pelukan Kanya, dia menangis seperti anak kecil. Dia merasa berdosa, akibat tidak pernah menghiraukan permintaan Aksa. Bahkan di saat terakhir adiknya berada di dunia ini. Araz merasa begitu kejam. Hal itu pula yang dulu membuatnya menolak permintaan Arez yang ingin mendonorkan jantung kepadanya. Araz teringat Aksa. Seandainya Aksa yang beruntung mendapatkan pertolongan itu, mungkin rasa penyesalan Araz tidak akan sedalam ini.
"Tuhan tetap pembuat skenario terbaik, Mas. Bagaimanapun kita mencoba menantang ataupun menolak yang sudah digariskan."
"Dia masih begitu muda, Nya. Dan aku bukanlah kakak yang baik buat dia. Di saat terakhir pun aku memilih hanyut dalam duniaku dan mengabaikan panggilan Aksa. Kalau saja ... " ucapan Araz terputus. Dia tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Sebab kini, tidak ada gunanya dia mengandaikan seribu kali pun. Karena masa lalu tidak akan bisa diubah.
__ADS_1