Pulang

Pulang
Dia Perempuanku


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Sungguh tidak mudah melihat orang yang kita cintai, justru memuluk orang lain demi alasan menyembuhkan sekalipun. Setelah Kanya bercerita kepadaku tentang kondisi psikis Putra dan bagaimana mereka berbaikan, kami segera kembali ke tempat lelaki itu dirawat. Arlan menelepon Kanya, meminta perempuan itu segera ke ruang rawat Putra. Katanya Putra sudah siuman dan benturan di belakang kepalanya membuat lelaki itu mengalami syok yang cukup berat. Kondisinya yang sedang tidak baik, membangkitkan kenangan buruk lelaki itu akan masa yang mungkin sangat sulit ia lalui.


Adegan selanjutnya, benar-benar mendobrak sisi pertahananku sebagai laki-laki. Harga diriku seolah terkoyak saat melihat Kanya dengan telatan merawat Putra yang segera membaik saat perempuan itu memeluknya. Separuh hatiku bergejolak. Aku tak sanggup melihat keakraban mereka yang begitu intim.


Tanpa berpamitan, aku memilih keluar dari kamar inap dan menuju lantai teratas gedung rumah sakit. Dari sana aku menuju puncak gedung yang difungsikan sebagai tempat bersantai para tenaga medis dan pasien dari ruang VIP. Selain berfungsi sebagai helipad, ruang terbuka itu telah disulap menjadi taman mungil di sudut gedung dengan beberapa gazebo yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.


Sedangkan di sisi lainnya berderet bangku-bangku kayu yang bisa dimanfaatkan untuk berjemur para pasien. Letak rumah sakit yang strategis memang menjadikannya memiliki banyak keuntungan. Termasuk pencahayaan sinar matahari yang cukup.


Arez yang dulu mengusulkannya pada sang kakek saat ia mulai bosan dengan kondisi rumah sakit yang menyebalkan. Dia pula yang mendesain tempat itu hingga jadi seperti sekarang. Baginya yang menyukai ketinggian, sangat disayangkan jika puncak gedung hanya berfungsi sebagai helipad. Toh bangunan rumah sakit ini sangat luas jika hanya digunakan untuk landasan helikopter saja.


Meski angin cukup kencang, tetap saja aku masih merasa kepanasan. Padahal di puncak gedung ini sudah didesain sedemikian rupa hingga menjadikannya terasa nyaman saat digunakan bersantai sekalipun siang hari. Bunga-bunga berbatang tinggi dan rimbun sengaja ditaman agar menghalau sinar matahari. Bagian yang dekat dengan pintu penghubung ruangan pun telah dipasang kanopi. Namun, tetap saja tak mampu meredam api yang diam-diam membakar dalam hati.


Huufftt...


Aku mengehela napas panjang. Setelah memutuskan duduk di tempat yang lumayan sepi, aku menyandarkan kepala pada tiang gazebo dan sejenak memejamkan mata. Mencoba menikmati hembusan angin yang membuatku merasa mengantuk.


Namun, lagi-lagi rasanya aku baru saja memejamkan mata saat mendengar dering gawai dari saku celanaku. Nama Kanya muncul di layar gawai, tetapi sebelum aku sempat mengangkatnya seseorang telah merebutnya lebih dulu.


"Oh, kalian udah ketemu rupanya?" komentar sosok itu sambil mencondongkan tubuhnya di depanku. Senyuman manis yang tak pernah luntur dan sangat menenangkan pasien itu, tercetak di wajahnya yang ayu. "Sejauh apa hubungan kalian?"


"Dok, Anda terlalu ingin tahu privasi saya," jawabku sok bertingkah formal. Tawa perempuan itu semakin lebar.


"Wah, Araz semakin dewasa. Rasanya baru kemarin ketemu anak SMA yang seolah nggak semangat buat lanjutin idup, eh... sekarang udah punya pacar aja," goda Dokter Bella semakin menjadi.


Dia selalu saja menganggapku anak kecil yang bisa dengan mudah ia jadikan mainan akibat menggemaskan di matanya. Itulah mengapa sempat beredar rumor jika telah terjadi skandal antara dokter dan pasiennya yang menyeret namaku. Meski tak sepenuhnya keliru bahwa aku pernah menyukai Dokter Bella yang segara ditolaknya saat menyatakan cinta, tetapi kami tak pernah berciuman seperti yang dituduhkan Arez. Kanya yang pertama bagiku. Di usia yang sudah lebih dari kepala tiga.


"Dok..."

__ADS_1


"Eh, dia telepon lagi. Aku yang angkat ya? Bilang kalau aku pacar kamu."


"Dokter Bella, stop. Saya bukan lagi anak SMA, dan lagi... saya lebih tinggi dari Dokter sekarang," kataku sambil berdiri dari gazebo dan merebut gawai dari tangannya. Namun, tak semudah itu dia mengembalikan gawai milikku. Dengan sengaja, Dokter Bella justru mengantongkan gawai di saku jas snellinya.


"Udah, aman sekarang. Jadi, ngapain kamu ke sini? Bukannya nggak ada jadwal kontrol ataupun konsultasi ya?"


"Dok, kasih dulu HP-nya."


"Ya jawab dulu dong. Udah sejauh mana hubungan kalian?"


Aku menghela napas panjang. Bertemu Dokter Bella saat ini bisa jadi keberuntungan sekaligus kesialan yang bersamaan.


"Iya, oke. Dia, perempuanku. Kami udah pacaran."


"Cepet banget. Bukannya kalian juga sempat nggak saling kasih kabar salama tiga minggu waktu kamu dirawat?"


"Ya kan sebelumnya kami juga udah deket, Dok. Gimana sih Dokter. Udah balikin sini HP saya."


Aku menatap bentangan awan di langit luas. Tak lagi heboh atau memikirkan tentang gawai yang masih saja disita perempuan yang juga menjadi dokter yang menanganiku sejak SMA itu.


"Rasanya lebih bervariasi. Saya nggak cuma ngerasain senengnya jatuh cinta aja. Bahkan saya juga ngerasain detak berbeda ketika cemburu. Ngerasa nggak terima kalau dia juga dekat atau bercanda dengan lelaki lain. Namun, saya bersyukur debar yang kurasakan, meski sangat kencang sekalipun, nggak membuat saya merasakan sakit yang menyiksa. Nyeri itu masih ada, tapi juga menimbulkan sensasi aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya."


"Aku juga benar-benar berharap jantung Arez nggak bermasalah denganmu, Raz. Kalau saja kamu tahu gimana kondisi kamu selama tiga minggu kemarin, rasanya aku pengen menyerah aja. Namun, liat kamu sungguh-sungguh mau sembuh dan hidup lebih lama, juga membangkitkan semangat yang sebelumnya hampir pudar."


Dokter Bella menepuk-nepuk kepalaku saat mengucapkan kalimat penghiburan itu. Di matanya aku benar-benar dianggap sebagai anak kecil yang tak juga bertumbub dewasa.


"Dok, sungguh, saya bukan anak SMA lagi. Udah sini, serahkan HP saya."


Tawa Dokter Bella berderai. Perempuan itu mengambil gawai dari saku jas snellinya dan menyerahkannya padaku. Di saat yang bersamaan, Kanya kembali meneleponku.

__ADS_1


"Ya, Nya."


"Mas Araz, di mana? Aku cari tiba-tiba ngilang gitu aja."


"Aku..."


"Sayang, siapa sih yang telepon?" Dokter Bella tiba-tiba berdiri di sampingku dan berteriak dengan suara lantang. Sungguh, perempuan itu benar-benar menyebalkan jika sudah waktunya istirahat.


"Mas Araz lagi di mana?"


"Sayang..."


"Dok, plis deh. Jangan ganggu rumah tangga saya!" teriakku kesal. Namun, perempuan itu tetap saja mengembangkan senyumnya dan mengacak-acak rambutku sebelum pergi.


"Bye, Sayang," godanya sambil melambai serta berteriak lantang. Sungguh, bisa-bisanya aku bertemu dengan perempuan itu di saat seperti ini.


"Mas Araz lagi sama siapa sih?" Nada suara Kanya terdengar marah dari seberang telepon. Sial. Memang Dokter Bella sialan.


"Aku lagi di puncak gedung. Nggak sengaja ketemu sama kenalan dokter. Sebentar lagi balik ke kamar, Putra."


"Nggak usah deh. Sana aja sama dokter kenalan Mas Araz itu," kata Kanya sinis sebelum mengakhiri panggilan.


"Nya... Arghh... Sial, kenapa hari ini nggak ada yang berjalan lancar sih!"


Ini semua gara-gara Dokter Bella, sialan!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hei, terima kasih sudah mengikuti kisah Kanya dan Araz sampai sejauh ini.

__ADS_1


Tetap dukung Yoru dengan meninggalkan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya ya. Bagikan juga pada teman, kenalan, kerabat biar semakin banyak yang membaca "Pulang".


Terima kasih.


__ADS_2