
Renjana Kanya
Cukup lama kami duduk di taman dalam diam. Benakku terlalu penuh memikirkan apa yang membuat Putra rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Vika. Aku yakin, itu semua pasti ulah Vika yang meminta bantuan Putra. Beberapa kali bertemu dengan Putra, lelaki itu tak pernah menceritakan padaku jika Vika adalah sosok spesial yang ingin dilindunginya. Dengan mengorbankan nyawa sekalipun.
Aku tahu tipikal Putra bukanlah orang yang mudah merahasiakan perasaannya. Dia pasti akan segera ketahuan jika menyukai seseorang. Dan sepertinya, dia memang belum memiliki perasaan suka pada siapa pun.
Dia justru selalu mengatakan padaku, jika ingin melindungiku apa pun yang terjadi. Dia juga mengatakan padaku akan memasang badan paling depan jika ada orang yang melukaiku. Sebab, aku kini menjadi tanggung jawabnya sebagai saudara tertua. Juga bagi adiknya yang lain, yang kini masih dalam perut … Mama.
Hah, aku bahkan memiliki tanggung jawab untuk melaporkan keadaan Putra pada … Om Eka – aku masih belum bisa memanggilnya Papa, sebagaimana Putra memanggilnya. Sekalipun aku yakin dia sudah bercerita pada ayahnya jika kami sudah berbaikan. Sebab beberapa hari setelah kami memutuskan berdamai, pria itu mengirimiku pesan agar kami selalu rukun.
Bahkan lagi-lagi aku menerima SMS pemberitahuan transfer sejumlah nominal ke akun bank milikku, pasca berbaikan dengan Putra. Meski aku sudah memintanya berhenti mengirimiku uang, tetap saja pria itu tak mau dengar. Percuma, aku tak akan menggunakan uangnya sepeser pun.
Perasaanku semakin bergejolak. Memikirkan keadaan Putra, juga bagaimana aku mengatakan pada mereka jika kakak tiriku itu mengalami kekerasan fisik. Bahkan aku yakin, ketika dia sadar bukan hanya fisiknya yang sakit. Kondisi psikis Putra pasti tak akan baik-baik saja.
Tanpa bisa kubendung, air mata mengalir membasahi pipiku. Kuabaikan tawaran Araz yang mengulurkan air mineral maupun saputangan. Aku hanya ingin menangis. Membiarkan perasaan yang menyesaki dadaku menguap.
"Nya, kalau terlalu berat ditanggung sendirian, aku siap jadi pendengar kamu. Tempat kamu berbagi. Aku sering bilang begitu 'kan?"
Pada akhirnya Araz bersuara setelah mengimbangiku yang membisu. Demi menghormatinya yang telah menemaniku sejak tadi malam, aku menghapus air mataku dan menatapnya dengan wajah sembab. Entah bagaimana wajahku saat ini, aku tak lagi peduli. Kupaksakan tersenyum untuk membuatnya yakin jika aku baik-baik saja, meskipun dia tak akan percaya.
"Jangan bilang nggak apa-apa, plis. Kamu juga perlu mengakui kalau kamu emang nggak baik-baik aja. Oke?"
"Makasih, Mas. Aku emang nggak baik-baik aja. Aku udah janji sama diri aku sendiri jika nggak akan membuat Putra merasa tersakiti atau apa pun itu yang membuatnya nggak nyaman. Putra punya trauma yang bisa membuat keadaannya semakin buruk. Mungkin yang terlihat sakit cuma fisiknya, tapi batin lelaki itu begitu rapuh.
Apalagi jika menyangkut kekerasan. Bisa saja hal yang dia lihat ataupun ngalamin langsung, membangkitkan rasa sakit yang selama ini nggak pernah benar-benar sembuh. Makanya, aku syok banget saat tahu kenyataan kalau dia babak belur karena dipukuli orang."
Tanpa bisa kucegah, aku menceritakan tentang perasaanku pada Putra. Mungkin memang sekarang saat yang tepat untuk bercerita pada Araz tentang kami. Sementara Araz tak banyak berkomentar. Lelaki itu hanya mengelus punggungku untuk memberi kekuatan serta rasa nyaman. Mungkin dia tak tahu harus bereaksi bagaimana setelah mendengar ceritaku tentang Putra.
“Jadi … kalian sudah ….” Araz tak melanjutkan kalimatnya. Dia menatapku cukup lama sebelum akhirnya menggeleng dan tersenyum samar.
__ADS_1
“Berdamai maksud, Mas Araz?” tanyaku membuatnya mengangguk. “Inget waktu Maz Araz sakit, tapi nggak bilang sama aku? Aku sempat pergi ke Bandung buat meliput kegiatan presiden. Waktu itu aku berniat mencari alamat Arez, tapi Mas Hanung malah ngira kalau aku bakal nemuin Mas Araz.”
“Iya, Hanung juga sempat cerita sama aku, tapi dia nggak pernah nyangka kalau kamu juga kenal sama Arez dan orang yang sama yang dimaksud Arez. Hanung dulu juga cukup dekat sama Arez. Dia juga menyesal karena aku yang lebih dulu tahu tentang kamu, dibandingkan dia yang setiap hari ketemu.”
Sudut bibirku mengembang. Beban yang menyesaki pikiran serta juga hatiku, sedikit lebih baik.
“Kami nggak sengaja ketemu. Aku dan Putra. Mereka dari perjalanan shooting music video. Mungkin jika hari itu tidak hujan, kami nggak mungkin ketemu. Akibat hujan mereka selesai lebih cepat dan kembali ke penginapan. Seolah semua itu emang udah rencana semesta.”
“Jadi, gimana kalian berbaikan?”
“Terjadi begitu aja. Saat itu aku menyadari satu hal, jika sudah nggak ada perasaan apa pun pada Putra. Bahkan aku udah nggak ngerasain debar-debar aneh saat ketemu sama dia. Mungkin, sebelumnya aku mengira jika masih memiliki perasaan pada Putra, tapi aku salah. Detak jantungku tak karuan bukan karena aku masih suka. Mungkin lebih pada perasaan marah atau merasa tersakiti. Tanpa pernah mikir kalau Putra juga mengalami hal yang sama.”
Araz merangkulku dalam pelukannya. Dia sengaja memelukku erat seolah sedang menunjukkan sesuatu yang berdetak tak berirama. Bisa kurasakan detak jantung Arz di balik tulang rusuknya. Begitu cepat dan tak beraturan.
“Apa irama jantungku sekarang sama dengan detak jantungmu ketika bertemu Putra saat itu?” tanya Araz sambil tetap memelukku. Aku hanya mengangguk. Tahu jika diam lelaki itu benar-benar menahan amarah di balik gemuruh dadanya. “Maaf Kanya, harusnya aku bisa menahan diri, tapi aku nggak bisa membodohi perasaanku kalau aku ….”
Tak ada kalimat yang terucap dari bibir Araz selanjutnya. Lelaki itu kembali diam. Meski begitu, aku tahu jika dia sedang cemburu. Tanpa sepengetahuannya, aku tersenyum. Entah mengapa, rasanya justru begitu menggemaskan saat tahu jika lelaki itu cemburu pada Putra.
Araz melepas pelukannya dan menatapku tajam dengan mata sipitnya yang semakin menyipit. Wajahnya yang begitu serius justru memancing senyumku. Sungguh dia begitu menggemaskan ketika sedang menahan amarah.
“Apa aku harus menjawab iya untuk sesuatu yang udah jelas, Kanya? Kenapa kamu malah senyum-senyum sih?”
“Maaf, abis Mas Araz lucu kalau lagi cemburu. Sori,” kataku tetap tak bisa menahan senyum. Membuat Araz gemas dan mencubit ujung hidungku. Dia bahkan mengacak-acak rambutku sebelum akhirnya kembali memelukku. “Mas, udah. Malu tau diliatin banyak orang.”
“Biarin, siapa suruh kamu gemesin.”
“Ish, emang aku anak kucing?”
“Emang cuma anak kucing yang bisa bikin gemes? Oh iya, kalau boleh tahu siapa cowok yang kontaknya kamu kasih nama My Destiny? Udah gitu ada symbol love-nya pula. Spesial banget ya?” tanya Araz sambil melepas pelukannya. Wajahnya terlihat menekuk seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
__ADS_1
“Itu nomornya Arlan. Kan Mas Araz tadi juga udah ngobrol sama dia,” jawabku.
“Kenapa namanya gitu banget sih?”
Senyumku lagi-lagi mengembang di ujung bibirku. “Nanti aku ganti deh, uwu banget sih kalau lagi cemburu.” Godaku membuat Araz semakin menekuk wajahnya.
“Nya, jangan godain gitu deh.”
Tawaku lepas. “Dia yang dulu kasih nama Mas. Sebagai bentuk servis idol ke penggemarnya.”
Bola mata Araz membulat mendengar jawabanku. “Serius? Bukannya kamu ngefans sama, Putra?”
“Dih, kesimpulan dari mana itu? Kalau boleh jujur, suara Putra emang merdu. Bahkan banyak yang bilang kalau mirip Duta SO7, tapi Arlan juga suaranya nggak kalah sama Putra. Lebih nyaman didengerin sama telingaku. Apalagi kalau bawain lagu-lagu yang mellow gitu."
"Oh ... jadi gitu?"
"Ya iya Mas, mau gimana lagi?"
"Ya udah deh, nggak usah ganti kalau gitu, tapi kenapa namanya My Destiny sih?"
"Karena dia anggap pertemuan kita tuh kayak takdir. Kalau hari taruhan Putra sama Arlan dulu aku nggak datang, mungkin dia sekarang nggak akan mengembangkan diri sampai ke titik ini."
"Taruhan?"
"Iya, akalan Putra aja biar Arlan mau gabung sama Nada Sumbang."
"Oh ... jadi gitu."
"Kalau Mas Araz keberatan, beneran aku bisa ganti nama kontaknya."
__ADS_1
"Nggak perlu, aku nggak masalah kok kalau udah tahu alasannya," jawab Araz menanggapi pernyataanku. Meski senyum itu masih terlihat dipaksakan.