
Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 5 sore. Ojek online yang aku tumpangi pun berhenti dan aku memberikan bayaran sesuai yang tertera di aplikasi. Di sinilah aku sekarang. Di depan kantor yang tercinta ini dan harus lembur. Padahal aku ingin sekali menonton drama korea kesayanganku malam ini. Aku penasaran sekali tentang siapa Luna sebenarnya. Aku juga ingin melihat wajah Lee Min Ho oppa. So sad.
Setelah surprise yang diberikan Dokter Fani, aku membantu beliau dan Kak Mona di dapur. Aku tahu diri jugalah untuk bantu bersih-bersih. Setidaknya mencuci piring. Pukul 2 siang, aku mulai mewawancarai Dokter Fani. Mau main tebak-tebakan tidak? Wawancaranya selesai cepat atau lama?
Surprisingly, wawancaranya selesai dalam waktu satu jam yang biasanya memakan waktu 2 sampai 3 jam. Katanya karena aku lagi ulang tahun jadi cerewetnya ditunda dulu. Ya sudahlah. Orang tua juga. Tidak boleh dilawan,kan? Mudah-mudahan saja tidak akan ada wawancara dengan Dokter Fani bulan-bulan ke depan.
Wawancaranya memang selesai lebih cepat, tetapi cerita Dokter Fani tentang anak-anak dan cucunya tidak selesai sampai Ashar. Yang paling sering dibicarakan sih Bintang. Anak kesayangan kayaknya. Kata beliau Bintang tinggal di London sejak lulus SMA. Dia mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas terkenal di sana sampai ia mendapat gelar dokter spesialis. Dia tidak ada niat untuk tinggal dan bekerja di Indonesia, tetapi Dokter Fani membujuknya untuk bekerja di sini. Sebenarnya sudah dibujuk dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi baru berhasil kali ini. Aku tidak bertanya cara membujuknya. Lagipula bukan urusan aku juga. Takut dibilang kepo dan ikut campur.
Bintang juga ternyata lebih tua dari aku. Dia sudah 31 tahun dan belum menikah. Dokter Fani selalu mengingatkan dia untuk serius mencari pendamping, tetapi sering diabaikan. Padahal masih ada Mas Fadlan yang umurnya 33 tahun dan belum menikah. Harusnya Mas Fadlan dulu dong yang dipikirin? Iya, bukan? Bintang awalnya tidak ingin menjadi dokter dan paling anti jadi dokter, tetapi waktu SMA tiba-tiba ingin jadi dokter. Sampai sekarang Dokter Fani tidak tahu alasannya. Bintang suka nasi goreng dan bakso. Ia bahkan bisa membuat bakso sendiri. Warna kesukaan Bintang adalah warna hitam. Dia tidak suka warna-warna yang cerah seperti warna merah. Dia suka olahraga, khususnya sepakbola. Dia juga sering bermain futsal bersama temannya di akhir pekan. Bintang awalnya saja yang keliatan cuek, tidak ramah, dan pendiam. Kalau sudah kenal aslinya akan sama cerewetnya dengan Dokter Fani. Bintang sangat suka anak-anak. Itulah informasi yang aku peroleh dari Dokter Fani. Itu hanya rangkumannya saja. Yang lainnya aku lupa. Dokter Fani lebih banyak membicarakan Bintang daripada menjelaskan pertanyaan wawancaraku hari ini. Aku tersenyum kecil mengingat betapa senangnya Dokter Fani membicarakan Bintang. Beliau sangat menyayangi putranya itu. Lagipula mana ada orang tua yang tidak sayang anaknya?
Tetapi, wait...., Dokter Fani tidak berniat menjodohkan aku dengan Bintang, kan? Atau dengan salah satu anaknya gitu? Aku merenungkan sikap Dokter Fani selama ini kepadaku dan saat di rumah tadi. Aku menampar pelan pipiku. Stop, Ra! Halunya sama oppa saja, jangan sama yang bisa diajak berbicara langsung. Aihh Dokter Fani kan memang begitu dari dulu, Ra. Suka curhatin apa saja. Beliau sudah lama nggak ketemu Bintang, makanya dicurhatin. Baperan banget lu!
*****
Aku sedang menulis artikel hasil wawancara dengan dokter Fani tadi. Aku meregangkan ototku sebentar. Rasanya mata lelah sekali melihat komputer terus. Pundak juga rasanya berat. Aku merasa lelah sekali hari ini padahal aku kerjanya tidak banyak. Aku hanya menulis 3 artikel tadi pagi dan melakukan wawancara dengan Dokter Fani.
Sebuah pesan menghentikan peregangan ototku. Suasana kantor masih sedikit ramai. Ternyata banyak yang lembur juga. Aku membuka pesan tersebut.
*May:
Lagi apaa? Vcall, yuk!
Aku:
Lagi di kantor iniii. Lembuur, maaan. Kalau chatting bisa.
May:
Dollar terus yang dikejar. Jodoh kapan?
Aku:
Itu mah urusannya sama Tuhan. Lagian jodoh nggak dikejar ya tapi datang sendiri. Huuu.
May:
Aku:
Aaamiin. Nggak sendiri juga ya. Kan ada Ami dan suaminya. Hahaha
May:
Kan itu Ami sama suaminya. Lah kau?
Aku:
Berbagi dulu nggak apa-apalah. Di pesta itu aja. Wkwkwk.
May:
Lebaran pasti pulang, kan? Aku sengaja nih nikahannya habis seminggu lebaran. Awas aja kalau nggak pulang ya!
Aku:
Iyaa. Insya Allah.
May:
Good!!! I am happy.
Aku:
Nggak nyangka ya. Kau udah mau nikah aja. Padahal dulu kau suka banget sama Fahri, Yudi, dan Umar. Hahaha. Malah dulu udah serius sama si Umar.
May:
Astagaa. Semuanya aja sebutin tuh mantan. Nggak sama Putra sekalian.
Aku:
Ah iya.... Putra... Tapi kan dia bukan mantan. Dia gebetan hehe. Tapi tetep aja ya. Kau suka banget sama dia dulu.
May:
Iya. Dan kau yang jadi mak comblang. Padahal udah jelas dia nggak suka aku.
Aku:
Nggak suka apanya? Kalian kan dekat dulu. Dia lebih dekat ke kau daripada aku. Dari ceritamu selama ini, dia itu suka kau.
May:
Masih lebih dekat ke Ami lah. Tau nggak kenapa dia dekat samaku?
Aku:
Karena dia suka. Apa lagi?
May:
__ADS_1
Karena........ dia ingin tahu tentang kau*.
Aku menghentikan ketikanku ketika membaca pesan dari May. Ini benar-benar tidak lucu. Apa maksudnya Putra ingin tahu tentang aku. Sudah jelas Putra suka May waktu SMA. Dia membawakan May roti bakar, martabak, kadang mengantar May pulang ke rumahnya juga. Anak ini pasti sedang bercanda.
*Aku:
It’s not funny at all, May. Ngarang aja kau.
May:
That’s the fact. Waktu aku bilang Putra suka cewek lain, itu nggak bohong. Waktu aku bilang Putra suka sama kamu, itu fakta sebenarnya*.
Aku semakin sakit kepala membaca isi pesan May. Yang benar saja.
Aku:
Tapi waktu itu kau bilang bercanda. Kau bilang karena aku sering menjodohkan-jodohkan kalian makanya kau bilang Putra suka sama aku.
May:
Sebenarnya bukan bercanda. Waktu itu aku berjanji padanya untuk nggak bilang padamu. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku menyukainya. Dan dia menyukaimu. Aku ingin kau berhenti menjodoh-jodohkan kami tapi aku nggak tahu harus gimana bilangnya. I’m so sorry. He loves you. That’s the fact.
Aku memijit kepalaku yang tiba-tiba pusing. Aku juga merasa mual. Aku sudah tidak ingin melanjutkan tulisanku. Aku hanya ingin menenangkan diri saat ini. Kenapa May baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Kenapa aku harus tahu? Kenapa tidak disimpan saja? Bukannya aku memang penasaran? Siapa wanita yang disukai Putra? Aku ingin mengetahuinya. setelah aku mengetahuinya, kenapa terasa sakit sekali? Harusnya aku merasa senang, tetapi aku hanya ingin menangis.
*Aku sedang menulis artikel hasil wawancara dengan dokter Fani tadi. Aku meregangkan ototku sebentar. Rasanya mata lelah sekali melihat komputer terus. Pundak juga rasanya berat. Aku merasa lelah sekali hari ini padahal aku kerjanya tidak banyak. Aku hanya menulis 3 artikel tadi pagi dan melakukan wawancara dengan Dokter Fani.
Sebuah pesan menghentikan peregangan ototku. Suasana kantor masih sedikit ramai. Ternyata banyak yang lembur juga. Aku membuka pesan tersebut.
May:
Lagi apaa? Vcall, yuk!
Aku:
Lagi di kantor iniii. Lembuur, maaan. Kalau chatting bisa.
May:
Dollar terus yang dikejar. Jodoh kapan?
Aku:
Itu mah urusannya sama Tuhan. Lagian jodoh nggak dikejar ya tapi datang sendiri. Huuu.
May:
Aku:
Aaamiin. Nggak sendiri juga ya. Kan ada Ami dan suaminya. Hahaha
May:
Kan itu Ami sama suaminya. Lah kau?
Aku:
Berbagi dulu nggak apa-apalah. Di pesta itu aja. Wkwkwk.
May:
Lebaran pasti pulang, kan? Aku sengaja nih nikahannya habis seminggu lebaran. Awas aja kalau nggak pulang ya!
Aku:
Iyaa. Insya Allah.
May:
Good!!! I am happy.
Aku:
Nggak nyangka ya. Kau udah mau nikah aja. Padahal dulu kau suka banget sama Fahri, Yudi, dan Umar. Hahaha. Malah dulu udah serius sama si Umar.
May:
Astagaa. Semuanya aja sebutin tuh mantan. Nggak sama Putra sekalian.
Aku:
Ah iya.... Putra... Tapi kan dia bukan mantan. Dia gebetan hehe. Tapi tetep aja ya. Kau suka banget sama dia dulu.
May:
Iya. Dan kau yang jadi mak comblang. Padahal udah jelas dia nggak suka aku.
__ADS_1
Aku:
Nggak suka apanya? Kalian kan dekat dulu. Dia lebih dekat ke kau daripada aku. Dari ceritamu selama ini, dia itu suka kau.
May:
Masih lebih dekat ke Ami lah. Tau nggak kenapa dia dekat samaku?
Aku:
Karena dia suka. Apa lagi?
May:
Karena........ dia ingin tahu tentang kau.
Aku menghentikan ketikanku ketika membaca pesan dari May. Ini benar-benar tidak lucu. Apa maksudnya Putra ingin tahu tentang aku. Sudah jelas Putra suka May waktu SMA. Dia membawakan May roti bakar, martabak, kadang mengantar May pulang ke rumahnya juga. Anak ini pasti sedang bercanda.
Aku:
It’s not funny at all, May. Ngarang aja kau.
May:
That’s the fact. Waktu aku bilang Putra suka cewek lain, itu nggak bohong. Waktu aku bilang Putra suka sama kamu, itu fakta sebenarnya.
Aku semakin sakit kepala membaca isi pesan May. Yang benar saja.
Aku:
Tapi waktu itu kau bilang bercanda. Kau bilang karena aku sering menjodohkan-jodohkan kalian makanya kau bilang Putra suka sama aku.
May:
Sebenarnya bukan bercanda. Waktu itu aku berjanji padanya untuk nggak bilang padamu. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku menyukainya. Dan dia menyukaimu. Aku ingin kau berhenti menjodoh-jodohkan kami tapi aku nggak tahu harus gimana bilangnya. I’m so sorry. He loves you. That’s the fact.
Aku memijit kepalaku yang tiba-tiba pusing. Aku juga merasa mual. Aku sudah tidak ingin melanjutkan tulisanku. Aku hanya ingin menenangkan diri saat ini. Kenapa May baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Kenapa aku harus tahu? Kenapa tidak disimpan saja?Bukannya aku memang penasaran? Siapa wanita yang disukai Putra? Aku ingin mengetahuinya. setelah aku mengetahuinya, kenapa terasa sakit sekali? Harusnya aku merasa senang, tetapi aku hanya ingin menangis.
Aku:
Kenapa baru cerita sekarang?
May:
Karena aku tahu kau akan baik-baik saja jika aku cerita sekarang. Itu sudah 10 tahun yang lalu. Sudah saatnya aku kasih tahu.
Aku:
Iya. Aku baik-baik saja. Thanks sudah membagi rahasianya. Sudah tidak bisa diubah juga, kan?
Aku tidak baik-baik saja. Aku ingin menyalahkan sesuatu, tetapi aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan. May kah? Ami? Putra? Atau takdir? Semesta memang tidak suka dengan rencana-rencanaku sedari dulu. Harusnya tahun ini aku ingin melupakan segalanya dan memulai hidup yang baru, tetapi aku menjadi terjebak lagi di masa lalu. Untuk keluar pun susah. Aku harus bagaimana sekarang?
Aku membereskan mejaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Aku harus pulang. Aku meraih tas yang berada di laci meja dan pergi meninggalkan kantor. Aku berjalan menuju jembatan penyebrangan yang ada di depan kantor sambil menahan air mataku.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku berhenti dan menangis di tengah-tengah jembatan penyebrangan. Untung saja sedang tidak ada orang. Aku menepi ke pinggir jembatan dan menangis. Tidak ada suara tangis. Hanya air mata yang tidak bisa berhenti. Jalanan malam ini tidak ramai. Hanya beberapa kenderaan roda empat dan roda dua di sana. Langit juga tidak cerah. Tidak ada bintang dan bulan. Padahal aku sangat ingin melihatnya. Aku memandang lampu-lampu jalan dan kenderaan yang menurutku indah, seperti batu-batu warna warni di wadah tak berwarna. Aku berusaha menghentikan tangisku dengan memandang lampu-lampu tersebut. Dalam hati aku berkata:
Itulah mengapa ada beberapa rahasia yang tidak harus diceritakan. Karena jika kita tahu, kita akan sakit dan bingung. Haah aku ingin kembali ke masa lalu.
Angin malam menyentuh rambutku yang panjanganya sebahu. Aku tidak tahu apakah ia ingin menenangkanku, menghiburku, atau menyuruhku pulang. Apapun alasannya, aku menerimanya untuk mengeringkan air mataku yang tidak bisa berhenti mengalir.
Ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. Ternyata pesan dari May. Aku buka pesannya.
May:
And I know.... you love him too. So much. I’m sorry. I’m really sorry.
Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan pergi dari jembatan ini. Aku butuh tidur saat ini. Kepalaku menjadi tambah pusing.
Bisakah aku kembali lagi ke masa lalu, Tuhan? Aku... merindukannya. Setiap hari. Aku... mohon*.
Aku tidak baik-baik saja. Aku ingin menyalahkan sesuatu, tetapi aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan. May kah? Ami? Putra? Atau takdir? Semesta memang tidak suka dengan rencana-rencanaku sedari dulu. Harusnya tahun ini aku ingin melupakan segalanya dan memulai hidup yang baru, tetapi aku menjadi terjebak lagi di masa lalu. Untuk keluar pun susah. Aku harus bagaimana sekarang?
Aku membereskan mejaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Aku harus pulang. Aku meraih tas yang berada di laci meja dan pergi meninggalkan kantor. Aku berjalan menuju jembatan penyebrangan yang ada di depan kantor sambil menahan air mataku.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku berhenti dan menangis di tengah-tengah jembatan penyebrangan. Untung saja sedang tidak ada orang. Aku menepi ke pinggir jembatan dan menangis. Tidak ada suara tangis. Hanya air mata yang tidak bisa berhenti. Jalanan malam ini tidak ramai. Hanya beberapa kenderaan roda empat dan roda dua di sana. Langit juga tidak cerah. Tidak ada bintang dan bulan. Padahal aku sangat ingin melihatnya. Aku memandang lampu-lampu jalan dan kenderaan yang menurutku indah, seperti batu-batu warna warni di wadah tak berwarna. Aku berusaha menghentikan tangisku dengan memandang lampu-lampu tersebut. Dalam hati aku berkata:
Itulah mengapa ada beberapa rahasia yang tidak harus diceritakan. Karena jika kita tahu, kita akan sakit dan bingung. Haah aku ingin kembali ke masa lalu.
Angin malam menyentuh rambutku yang panjanganya sebahu. Aku tidak tahu apakah ia ingin menenangkanku, menghiburku, atau menyuruhku pulang. Apapun alasannya, aku menerimanya untuk mengeringkan air mataku yang tidak bisa berhenti mengalir.
Ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. Ternyata pesan dari May. Aku buka pesannya.
May:
And I know.... you love him too. So much. I’m sorry. I’m really sorry.
Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan pergi dari jembatan ini. Aku butuh tidur saat ini. Kepalaku menjadi tambah pusing.
Bisakah aku kembali lagi ke masa lalu, Tuhan? Aku... merindukannya. Setiap hari. Aku... mohon.
__ADS_1