Pulang

Pulang
Season 2 #Wajah yang Suram


__ADS_3

Ponsel Araz kembali berdering. Tak lama setelah laki-laki itu mengakhiri panggilan telepon dari sang kakek. Kali ini pria tua itu menggunakan nomornya sendiri untuk menelepon sang cucu.


Wajah Araz seketika berubah suram. Dia malas memperpanjang perdebatannya dengan sang kakek. 


Dia bahkan dengan sengaja tidak mengangkat panggilan telepon tersebut. Namun, ponsel laki-laki itu terus berdering dan membuatnya semakin kesal.


Panggilan sang kakek juga yang membuatnya urung mendekati Kanya yang kini terlihat mulai bosan. Perempuan itu tampak tidak nyaman duduk di bangku taman. Meski pepohonan rindang menaunginya dari sinar matahari.


Yah, mungkin Kanya mulai bosan, akibat menunggunya yang terlalu lama sibuk membicarakan hal yang tak penting dengan sang kakek.


Laki-laki itu merasa bersalah. Terlebih ketika pembicaraan yang sedang diperdebatkan bersama kepala keluarga Lee itu, masih berkaitan dengan sang kekasih.


"Huft..."


Araz menghela napas panjang. Ingin rasanya dia mengabaikan panggilan dari pria tua itu. Tapi sepertinya, sang kakek seakan tidak mengenal kata menyerah. Pria tua itu terus menelepon sang cucu yang dianggapnya tukang membangkang.


"Ya, Hal-abeoji?" jawab Araz pada akhirnya.


Dari suara laki-laki itu, terdengar bahwa dia tidak berminat melanjutkan obrolan dengan sang kakek.


"Bocah ini, beraninya menutup telepon di saat orang tua belum selesai bicara!" bentak sang kakek di ujung telepon. Cukup keras. Sampai Araz harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Ne, Hal-abeoji. Joesonghabnida," ucap Araz mencoba merendahkan diri.


Meski laki-laki itu tidak yakin dengan pengucapan bahasa Koreanya yang amburadul. Sejak awal, Araz tidak pernah merasa memiliki kedekatan dengan keluarga dari pihak ibunya. Itu pula yang membuatnya malas mempelajari bahasa nenek moyangnya dari pihak ibu.


Terlebih lagi, hal itu dia lakukan bukan semata-mata karena malas berdebat dengan sang kakek, tapi juga tidak mau semakin dianggap tidak menghormati orang tua.


"Bagus, harusnya itu yang kamu lakukan sejak awal bicara dengan orang tua. Kamu harus meminta maaf karena sudah membuat kesalahan. Dan, bukannya membantah ucapan orang tua."


Araz menghela napas panjang. Sengaja menjauhkan ponsel dari telinga laki-laki itu agar sang kakek tidak mendengar keluhannya.


"Ne, Hal-abeoji. Arasseo. Joesonghabnida." Araz mengulang permintaan maafnya dengan tujuan agar pembicaraannya dengan sang kakek cepat usai.

__ADS_1


Nyatanya, hal itu tak mudah. Pria tua itu masih terus mengomel yang sebagian besar diucapkan dalam bahas Korea. Yang sudah sangat jelas hasilnya bahwa Araz tidak memahami pembicaraan tersebut.


Namun, dia hanya menjawab 'ne', untuk menyenangkan hati sang kakek.


Bahkan akibat murkanya pria tua itu pada sang cucu, dia lupa bahwa Araz tak memahami bahasanya.


"Jadi, apa kamu mau tetap mengajaknya ke sini?" tanya sang kakek kemudian.


"Ya?" Lelaki itu tergagap. Dia sama sekali tidak paham dengan apa yang sebelumnya diucapkan oleh sang kakek.


"Sudahlah, apa pun yang aku katakan, kamu tetap tidak mau dengar. Terserah kau saja. Kalau kamu memang mau mengajaknya menemuiku, pastikan kamu membawa calon cucu menantu yang tepat.


Jangan pernah bermimpi membawa cucu menantu yang tidak sepadan denganmu!" tegas pria tua itu sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ne," jawab Araz singkat. Dan, panggilan telepon berakhir begitu saja.


Selepas menerima panggilan suara dari sang kakek, wajah Araz tampak suram. Butuh waktu beberapa lama bagi laki-laki itu untuk menetralkan perasaannya yang sedang kacau.


Selalu, obrolannya dengan sang kakek, tidak pernah berakhir baik. Setiap kali mereka mengobrol, pasti ada saja hal yang memicu pertengkaran.


"Huft..."


Rasanya Araz ingin sekali berteriak. Dia tidak menyangka jika sang kakek akan sangat ikut campur dalam urusan pribadinya. Araz merasa tidak nyaman.


"Mana mungkin gue ngajak Kanya ke Korea kalau kayak gini? Yang ada sikap pria tua itu cuma bikin Kanya merasa nggak nyaman.


Padahal gue baru bisa merebut hati perempuan itu sepenuhnya. Sial! Semua ini gara-gara, Cassandra!"


Araz mengeluh dalam hati. Pikiran laki-laki itu mendadak penuh sesak.


Obrolan dengan sang kakek masih membekas dalam benaknya dan tak juga mau pergi.


"Sial!" umpat Araz sambil mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

__ADS_1


Pria tua itu sama sekali berbeda dengan eyang kakung dari pihak ayah. Yang selalu bisa menjadi tempat bagi sang cucu berkeluh kesah. Belajar arti kehidupan atau sekadar membicarakan hal-hal remeh yang terjadi sehari-hari.


Eyang kakung tidak pernah memandang siapa pun dari seberapa banyak harta yang dimiliki orang lain. Bahkan sebagai orang Jawa tulen, dia tidak pernah berpesan agar Araz menimbang bibit, bebet, ataupun bobot dalam mencari pasangan.


"Yang penting cuma satu, dia bisa membuat kamu nyaman. Urusan dunia, bisa kalian cari bersama. Tapi urusan hati, kamu nggak bisa memberikannya pada sembarang orang," ucap eyang kakung waktu itu.


Araz ingat betul pesan sang kakek dari pihak ayah yang sejak kecil sudah merawatnya sampai tiba waktunya dia pindah ke Jakarta mengikuti kedua orang tuanya.


Namun, hal berbeda terjadi jika Araz berbincang dengan kakek dari keluarga ibu.


Tak bisa dimungkiri, keluarga dari pihak ibunya memang cukup terpandang di Negara Gingseng. Harta yang diwariskan secara turun menurun - dan semakin bertambah setiap tahunnya - mengantarkan mereka menjadi sepuluh orang terkaya di negeri itu.


Seperti yang bisa dibayangkan, dengan melimpahnya kekayaan keluarga bermarga Lee itu, membuat mereka berada di atas angin.


Hal yang sama sekali berbeda dengan prinsip Araz yang sudah dididik keras sejak kecil.


"Huftt...."


Laki-laki itu menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggung di sandaran kursi taman. Menatap cahaya matahari yang menerobos melalui celah pepohonan.


Membiarkan matanya terpejam sesaat dan merasakan kehangatan sinar matahari pukul satu siang. Meski itu membuatnya sedikit pusing. Tapi, Araz yakin pasti, bukan sinar mataharilah yang membuatnya pusing, melainkan pembicaraannya dengan sang kakek.


Mengingat hal itu, dia kembali menghela napas panjang. Bahkan rasanya untuk bertemu dengan Kanya, laki-laki itu merasa malu.


Dari tempatnya duduk saat ini, dia memperhatikan Kanya yang masih sendiri. Perempuan itu seakan tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Dia asyik menikmati orang yang berlalu-lalang di sekitar taman.


Bahkan perempuan itu menyempatkan diri bermain dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba datang menghampiri dan memeluk lututnya.


Dengan wajah cerah dibingkai senyuman yang rekah, Kanya meladeni ajakan si anak kecil yang ingin bermain balon. Sampai ibu dari si anak kecil itu datang dengan napas terengah dan mengajaknya pergi.


Senyum tak juga pudar dari wajah Kanya.


Sementara Araz semakin merasa buruk. Ucapan sang kakek benar-benar membuatnya perasaannya berantakan.

__ADS_1


Dia tak cukup berani menunjukkan wajah muramnya di hadapan sang kekasih.


__ADS_2