
Wajah Hanung masih tampak merah, meski sudah masuk ke dalam ruangan hampir tiga puluh menit. Dia memang tidak tahan dengan sinar matahari. Berada di bawah matahari sebentar saja, sudah membuat wajahnya merah seperti kepiting rebus.
Melihat sang atasan seperti itu, membuat Kanya merasa bersalah. Tapi, jika tidak diberi pelajaran, Hanung pasti tidak akan jera dan terus mengerjai mereka.
"Gila, bisa-bisanya gue nganter kamera di bawah sinar matahari kayak gini. Mana panas lagi.
Gue nggak mau tahu, pokoknya lo harus traktir gue makan enak setelah pulang dari sini."
"Nah kan, tetap aja nggak tahu diri!" ucap Kanya dalam hati.
Padahal baru saja dia merasa iba pada sang kepala redaksinya itu. Tapi, Hanung sudah berulah.
"Dih, nggak sadar diri kalau udah bikin salah? Bisa-bisanya malah minta traktir?"
Mendengar ucapan Araz, seketika membuat Hanung berpikir. Dia melirik Kanya dan Araz bergantian.
"Maksudnya apa nih?" tanya Hanung dengan tatapan curiga.
"Otak tuh buat mikir!"
Sorot mata Hanung semakin curiga menatap sang sahabat. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kalian...nggak lagi ngerjain gue kan? Nah iya, kalau baterai kamu habis, terus ngapain itu kamera masih dibawa-bawa?" tanya Hanung tiba-tiba saat fokusnya teralihkan pada kamera yang sedang dibawa Kanya.
"Eh, udah mulai sesi wawancara tuh. Gue ke sana dulu ya, Bos," pamit Kanya sengaja menghindar.
Dia tahu betul apa yang akan dilakukan Hanung jika tahu dirinya telah dikerjain habis-habisan. Lelaki itu pasti akan mencubit siapa pun dengan gemas untuk menyalurkan kekesalan.
Sebelum hal itu terjadi pada Kanya, perempuan itu memilih untuk melarikan diri lebih dulu. Lagipula sesi wawancara memang sudah dimulai dan dia tidak mungkin melewatkannya begitu saja.
Baginya momen terpenting adalah mendapatkan berita. Bukan menjadi sasaran amukan Hanung yang sudah merasa dibohongi.
"Heh, Kanya. Jangan kabur gitu aja kamu!" teriak Hanung saat sang anak buah melarikan diri dengan cepat.
Di saat yang sama, Araz memanfaatkan momen tersebut untuk ikut melarikan diri. Ketika fokus Hanung sedang tertuju pada Kanya.
Saat menyadari hal itu, Hanung benar-benar paham jika dia baru saja dikerjai oleh Kanya dan Araz.
"Monyet! Kompak banget mereka kalau urusan kayak gini?!" umpat Hanung dengan menahan kesal.
Sementara Araz yang memperhatikan dari jauh, hanya menahan tawa.
"Mampus! Sesekali biar lo rasain gimana rasanya dikerjain!" ucapnya dengan tersenyum puas.
Begitu juga dengan Kanya yang memperhatikan Hanung untuk terakhir kali. Perempuan itu tampak menahan tawa. Lalu melayangkan flying heart saat sorot matanya bertatapan dengan Araz.
Perasaan perempuan itu jadi berbunga-bunga setelah berhasil mengerjai Hanung. Dia bahkan lupa jika sebelumnya sedang menjaga jarak dengan Araz.
***
__ADS_1
"Haha...gimana rasanya? Enak kan? Makanya jangan suka isengin orang.
Kalau udah dibales, baru tahu kan gimana rasanya kan? Enak nggak tuh?" ucap Araz begitu mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang dikendarai Pak Syarif.
Mereka baru saja selesai mengikuti acara yang diselenggarakan oleh salah satu kementerian yang sedang meluncurkan program.
"Heh, Monyet. Kita beda kasus ya. Gue ngerjain kalian biar nggak jaim-jaiman.
Ck, segitu pedulinya gue sama kalian. Tapi apa yang kalian lakuin ke gue?
Nggak tahunya kalian tega ngerjain gue sampai segininya. Jahat memang kalian tuh."
Wajah Hanung masih terlihat kesal. Tapi juga tidak betah berlama-lama diam.
Padahal sebelumnya lelaki itu menolak bicara saat diajak ngobrol dengan Araz maupun Kanya.
"Kalau nggak gitu lo nggak bakal mau sadar diri!"
"Jadi lo lebih seneng diem-dieman?" Hanung tidak mau kalah.
"Ya itu urusan kami, biar kami yang selesain dengan cara kami dong!"
"Ck, gue pengen cepet-cepet punya keponakan. Gimana ceritanya bisa cepet jadi kalau kalian nggak buru-buru action dan malah saling musuhan?"
Plak...
"Aduh!" teriak Hanung bersamaan dengan Araz memukul kepala laki-laki itu.
"Udah gila apa gimana sih lo? Suka banget nyiksa gue seharian ini?"
"Kadang-kadang otak lo memang kudu direparasi kali ya. Makin lama makin ngaco aja tuh mulut kalau ngomong!"
Hanung melotot sebal. Ditatapan Araz dengan penuh dendam.
"Berarti bukan otak gue yang butuh direparasi. Tapi mulut gue nih. Nih. Puas lo!" Hanung memukul mulutnya dua kali sambil mengungkapkan kalimat yang baru saja diucapkan.
"Dikira nggak sakit dipukul gitu!" imbuhnya masih terdengar kesal.
"Oh, belum puas gue. Sini gue yang pukul biar gue puas!" tantang Araz tidak kalah kesal dengan ulah sang sahabat.
"Mulut kau aja tuh sana pukul!"
Perdebatan dua sahabat itu masih terus berlanjut.
Sementara Pas Syarif yang tidak tahu duduk permasalahannya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Begitu juga dengan Kanya yang duduk di samping Araz.
Ini bukan pertama kalinya bagi mereka melihat keributan yang dibuat oleh Araz dan Hanung.
Sepanjang perjalanan, ada saja perbincangan yang mereka perdebatkan. Seakan tidak pernah kehabisan amunisi dan bahan.
__ADS_1
Bahkan mereka masih sibuk berdebat meski mobil yang dikendarai Pak Syarif mulai melambat saat memasuki kawasan kantor MediaPena.
Butuh waktu beberapa saat bagi pria itu mengingatkan kedua atasannya.
"Kita sudah sampai, Pak. Mau sampai kapan berantemnya?" tanya Pak Syarif begitu mereka sudah cukup lama berhenti di depan lobi MediaPena.
Sementara Kanya sudah keluar lebih dulu.
Kedua lelaki itu masih saja berdebat dan membuat Kanya keluar dari dalam mobil lebih dulu. Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Syarif.
Dia ikut kesal karena Araz lebih memilih menghabiskan waktunya berdebat dengan Hanung, ketimbang berbincang dengannya.
"Loh Kanya mana, Pak?" tanya Araz begitu menyadari perempuan di sampingnya sudah tidak ada.
"Ngambek deh kayaknya. Abis Pak Araz diam-diam aja. Malah bercanda aja sama Mas Hanung. Ya pasti kesel dong, Mbak Kanya."
"Mati gue!" keluh Araz disambut tawa oleh Hanung.
"Mampus. Itu akibat karena udah ngerjain gue!"
"Berisik lo!"
Araz bergegas turun untuk mengejar Kanya. Namun, langkah lelaki itu berhenti di lobi saat melihat Kanya sudah tergeletak di atas lantai. Tidak sadarkan diri.
Sementara tidak jauh dari tempat Kanya berbaring, Cassandra berdiri dengan angkuh dan tawa sinis membingkai wajahnya.
"Sandra?! Apa yang udah kamu lakukan sama, Kanya?"
"Apa sih Raz, lebai banget. Gue nggak ngapa-ngapain kok.
Dia aja yang lemah. Baru gue tusuk dikit aja dia udah pingsan!"
"Lo gila?! Enteng banget lo bilang gitu, setan!" murka Araz seketika. Dia tidak menyangka jika sang sepupu sudah kehilangan kewarasannya.
"Siapa suruh dia udah menghalangi dan merebut apa yang harusnya jadi milik gue!"
Araz tak lagi peduli. Dengan sigap laki-laki itu membalik tubuh Kanya dan mendapati luka berdarah yang membasahi baju perempuan itu.
Tidak lama, Hanung menyusul dan cukup terkejut saat melihat Kanya tergeletak di atas lantai.
"Ada apa, Raz?"
"Minta, Pak Syarif tetap di tempat. Kita bawa Kanya ke rumah sakit sekarang!" perintah Araz dengan tegas.
Sementara Hanung yang baru saja masuk ke lbo kembali keluar kantor dan memanggil Pak Syarif yang hendak memarkir mobil.
Sementara Araz membopong tubuh Kanya yang kian lemas.
"Kita harus bikin perhitungan setelah ini!" ucap lelaki itu pada Cassandra yang sama sekali tidak tampak menyesal.
__ADS_1