Pulang

Pulang
Sahabat Lama


__ADS_3

Renjana Kanya


"Hei Ta, sudah lama nunggu lo?" sapaku pada seorang perempuan yang sedang asik memainkan gawai saat aku tiba di D'Caffe. Kami memang sengaja bertemu di kafe milik Tante Sari - mama Damar, sekaligus reuni kecil-kecilan bersama laki-laki itu dan Almira.


Renata. Perempuan itu tersenyum saat melihatku. Gayanya masih saja nyentrik seperti dulu. Dress motif abstrak selututnya dipadu dengan jaket jeans. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai dan dihiasi bandana agar tidak menutup mata. Yang tidak pernah tertinggal, sederetan gelang di tangan kirinya dan sepatu ankle boots yang menjadikan penampilan perempuan itu semakin nyentrik. Benar-benar penganut bohemian style sejati.


"Anya, kangen gue sama lo!"


Dia berteriak histeris saat melihatku berdiri di sampingnya. Perempuan itu refleks memeluk tubuhku seolah lama tidak bertemu. Ya, kalau dipikir-pikir memang kami lama tidak bertemu. Terakhir kali aku bertemu dengannya sekitar empat bulan lalu saat aku mewawancarai seorang narasumber di sebuah kafe di Kuningan. Dia kebetulan berada di sekitar sana dan mengajak bertemu. Itu pun tidak lama, sebab aku harus segera pergi mengingat deadline yang begitu sesak.


Setalah hari itu, kami tidak pernah bertemu sama sekali meski sama-sama tinggal di Jakarta. Kesibukan Renata, pun denganku, membuat kami jarang bertemu. Kalaupun membuat janji bertemu, pasti ada saja hal yang membuat kami membatalkan rencana menjelang pertemuan. Tidak sekali dua kali, tetapi sering kali terjadi.


"Gue juga kangen kali sama lo. Gagal mulu tiap kali bikin janji. Tinggal satu kota, tapi berasa tinggal di lain benua. Susah banget mau ketemu."


"Yang ada lo tuh, selalu berkejaran sama peristiwa."


Tawaku mengembang. Kubalas pelukan Renata yang masih erat mengunciku. Tepat di saat yang bersamaan, Damar dan Almira memasuki kafe dan melambai ke arah kami yang masih berpelukan. Laki-laki itu tersenyum lebar dan ikut membentuk lingkaran pelukan bersama kami. Sedangkan Almira hanya menggelengkan kepala.


"Sumpah, Ta, gue kangen banget sama lo. Gila, lama banget kita nggak ketemu tahu." Damar antusias sambil masih memeluk aku dan Renata.


Dulu saat SMA, kami memang terkenal dengan sebutan Trio Racun. Tak terpisahkan dan selalu bersama ke mana pun kami pergi. Apalagi kami tergabung dalam organisasi yang sama dan menduduki jabatan penting. Aku sebagai ketua OSIS, Damar wakilnya dan Renata berperan sebagai sekretaris.


Namun, itu sebelum Damar jadian sama Almira dan aku memutuskan berpacaran dengan Putra. Setelahnya Renata hanya sesekali nongkrong bersama aku dan Damar di luar sekolah. Meskipun jika di lingkungan sekolah, tetap kami penguasa wilayah yang disegani adik kelas maupun kakak kelas.


"Gue juga kangen sama lo, Dam. Astaga. Almira sudah hamil gede aja. Bentar lagi bakal jadi Ayah lo. Nggak nyangka gue, kalau justru lo duluan yang nikah di antara kita."


"Wah, iya ya. Padahal dulu 'kan lo yang ingin banget nikah duluan di antara kita."

__ADS_1


Tawa kami pecah. Cerita-cerita masa SMA mengalir hangat. Mengembalikan kenangan manis yang kami lalui bersama. Kekonyolan masa remaja terkuak satu per satu seperti susunan puzzle secara acak dan kami kembali menjadikannya utuh. Renata yang paling banyak bercerita. Karena memang sifat perempuan itu yang paling periang di antara kami. Dan, ingatannya yang paling kuat.


"Ingat lo, jadi kompor satu kelas buat bolos waktu pelajaran biologi. Sumpah waktu itu gokil banget tahu. Bu Erna sampai nggak mau ngajar dua minggu gara-gara ulah kalian. Kalau saja kalian tahu gimana cemberutnya wajah Bu Erna."


Tawaku berderai. Meski dalam hati menyesal atas perlakuanku pada saat itu. Aku dan Damar mengompori teman sekelas agar bolos di mata pelajaran biologi gara-gara Bu Erna tidak bisa menjelaskan dengan baik materi yang disampaikan. Lebih dari teman sekelas mengikuti jejak kami bolos pelajaran. Hanya tersisa lima orang anak dan Renata salah satunya. Itu pun karena dia keburu ketahuan Bu Erna saat akan melarikan diri.


Dari Renatalah kami tahu jika Bu Erna ngambek dan tidak mau mengajar selama dua minggu. Beliau baru mau mengajar saat kami meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama.


"Gue sekarang merasa berdosa sama Bu Erna," ucap Damar melankolis. Wajahnya terlihat sendu yang dibuat-buat. Sedangkan saat melihat ulah suaminya, Almira melemparkan kulit kacang ke muka laki-laki itu.


"Berdosa nggak gitu juga kali mukanya," omel Almira memancing tawa kami lebih lebar.


"Kalian juga masih sering berantem kayak gini?" tanya Renata penasaran.


"Jangan tanya. Gue males di antara mereka kalau sudah mulai berdebat. Nggak mungkin ada habisnya. Sampai bosan gue," curhatku mengingat bagaimana tersiksanya di antara mereka selama menjadi teman serumah selama kuliah. Untung aku hanya membutuhkan tiga setengah tahun melewati siksaan itu. Kalau saja aku tidak lulus lebih cepat, jelas siksaan batinku semakin meningkat. "Bahkan nih, sehari sebelum nikah, ada saja hal yang mereka debatkan," imbuhku membuat Almira mencibir. Renata tertawa.


Damar tertawa keras. Guyonan Renata yang merujuk pada obrolan dewasa membuat Damar antusias. Di mana pun, jika laki-laki diajak membicarakan perkara guyonan dewasa pastilah langsung semangat. Tidak terkecuali Damar.


"Ini tumbenan sih lo pada, pulang barengan gini," kata Damar masih kegirangan. Dia bahkan mengabaikan Almira yang masih menatap kami dengan pandangan heran. Seolah mengatakan, "pada nggak tahu malu kalian" lewat tatapan matanya.


"Iya, gue mesti ngurus Om Lukman. Dia masuk rumah sakit."


"Eh, Om Lukman sakit apa?" tanyaku prihatin.


Om Lukman itu, adik ibu Renata yang merawat perempuan itu sejak kecil, karena ibu dan ayah Renata sudah meninggal saat dia masih kecil. Sekalipun Om Lukman memiliki anak yang seumuran dengan Renata, tetapi aku tahu, Renata tidak mungkin tidak pulang. Sebab lelaki itu sudah dianggapnya seperti ayah sendiri.


"Biasalah, faktor umur. Oh iya, gue dengar Tante Sukma juga sakit. Gimana keadaannya?"

__ADS_1


"Sudah semakin membaik sih. Sekarang waktunya pemulihan. Gue berharap juga Mama bisa cepat pulang."


"Sori, gue nggak tahu kalau Tante Sukma sakit. Nanti gue sempatin jenguk beliau ya. Gue juga kangen sama Mama," ucap Renata.


Perempuan itu, memang lebih sering memanggil Mama dengan sebutan Mama daripada Tante Sukma. Mama juga tidak keberatan dipanggil Mama oleh Renata. Baginya menyenangkan sebab seakan memiliki dua anak perempuan. Bahkan dulu, aku sering iri sama Renata karena lebih bisa akrab dengan Mama dibandingkan diriku. Sementara jika bersamaku, Mama lebih banyak berdebat dan mengatur ini dan itu hingga memancing pertengkaran yang tidak bisa dihindarkan.


"Iya, Mama pasti senang banget ketemu sama kamu."


"Iya, pas lo nggak pernah pulang, beliau juga senang banget kalau gue sempatin mampir. Sayangnya lo nggak pernah mau dengar cerita gue."


Senyumku mengembang. Rasanya getir jika mengingat betapa berdosanya aku telah membuat Mama begitu menderita.


Melihat perubahan air mukaku, Renata merasa bersalah. Dia meraih tanganku yang menepuknya pelan.


"Sori, gue nggak ada maksud apa-apa, Nya."


"Iya, santai saja dong. Gue sudah lebih kuat buat lewatin rintangan ini."


Renata tersenyum. Lalu membawaku ke dalam pelukannya. Dia berbisik yang seketika membuat perasaanku semakin ringan. "Gue yakin lo pasti bisa lalui semua ini, Nya. Karena gue tahu, lo lemah dan juga kuat di saat bersamaan."


Aku tersenyum di balik punggung Renata. Sebab dialah orang pertama yang tahu segala kisah suram yang kualami saat peristiwa naas itu terjadi. Di malam aku menghilang dari rumah kakek Putra, aku bersembunyi di rumah Om Lukman sebelum akhirnya memutuskan pulang ke tempat Bude Maya. Renatalah yang menjadi tempat berlabuhnya segala bentuk air mataku pada malam itu.


"Makasih, kalau bukan karena lo, gue juga nggak mungkin masih ada di sini sekarang," ucapku sungguh-sungguh. Renata hanya menepuk punggungku pelan sampai Damar bersuara memecahkan kesyahduan di antara kami.


"Kalian sudah kayak pasangan lagi jatuh cinta saja."


"Dih, amit-amit!" Refleks Renata mendorongku dan membuat Damar tertawa.

__ADS_1


Tawa kami semakin hangat berderai. Seperti siang ini yang semakin hangat mengiring pertemuan kawan yang lama tidak pernah berjumpa.


__ADS_2