Pulang

Pulang
Season 2 #Bagaimana Harimu, Kanya?


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Araz sudah menunggu di tempat parkir kantor saat Kanya sudah menyelesaikan semua tugasnya. Wajah perempuan itu tampak kesal. Tadi sebelum keluar dari kantor, ia sempat ke kamar mandi. Dan, lagi-lagi rekan satu timnya bergosip di belakangnya. Bedanya, kali ini Kanya menegur langsung mereka berdua dan sempat menyebabkan keributan di kamar mandi. Kalau saja Lea – direktur administrasi MediaPena – tidak keburu datang, Kanya pasti menonjok atau paling tidak menjabak rambut salah satu dari mereka.


"Hai, gimana harimu, Nya?" sapa Araz begitu Kanya duduk di sampingnya. Laki-laki itu mengacak-acak rambut Kanya yang tampak jutek. "Kenapa suntuk gitu wajahnya. Ada masalah di kantor? Sehari nggak ketemu kok mood kamu berantakan banget kayaknya."


Hari ini memang Araz tidak berada di kantor seharian karena harus mengurus keperluan yang tidak bisa diwakilkan bersama Lea. Mereka baru saja tiba bertepatan dengan jam pulang kantor. Itu sebabnya ia menunggu Kanya untuk pulang bersama setelah mengantar Lea yang meninggalkan kendaraannya di kantor MediaPena.


"Tahu tuh, anak buah Mas Araz, suka banget gosipin orang. Untung aja Lea keburu datang, kalau nggak udah abis tuh anak. Mentang-mentang di sini lebih dulu udah merasa sok paling senior. Tulisan juga nggak bisa dibaca, tapi kebanyakan tingkah. Sok paling berkuasa. Ngomong sana-sini kalau aku bawaan boslah, simpenan boslah. Nggak mutu banget coba bikin gosip murahan gitu."


Ujung bibir Araz mengembang. Sepertinya permasalahan yang dihadapi Kanya tidak main-main sampai membuat perempuan itu begitu marah. Sebenarnya, dia pun beberapa kali sempat mendengar kasak-kusuk yang menyudutkan kekasihnya itu. Namun, tidak ada hal yang bisa Araz lakukan selain menegur mereka secara langsung.


Tidak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka berdua selain Hanung dan Lea. Itu pun atas permintaan Kanya. Seandainya hubungan tentang mereka menyebar pun, pasti gosip yang beredar akan semakin parah dan Kanya tidak mau hal itu terjadi dan menjadikan suasana kerja semakin tidak nyaman. Meski pada kenyataannya dia harus menjadi bahan gosip sebagai simpanan bos, wanita penggoda, dan entah apalagi yang mereka sebarkan.


"Gimana, aku pecat aja mereka?" tawar Araz justru membuat Kanya semakin cemberut.


"Dan membiarkan mereka semakin seenaknya ngomongin aku? Nggaklah. Biarin aja. Bakal berapa lama mereka bisa bertahan dengan terus ngomongin aku kayak gitu. Kalau saja mereka tahu siapa orang di belakangku, bakal mati kutu mereka. Dari dulu seneng banget sih orang ngomongin aku sama Mas Hanung ada affair. Mereka nggak tahu apa kalau pacarku itu lebih cakep dan seksi dibanding Mas Hanung."

__ADS_1


Araz tidak bisa menahan tawa saat mendengar pernyataan Kanya. Baru kali ini laki-laki itu tahu sisi Kanya yang sedang mengumpat keadaan. Biasanya perempuan itu terlihat tenang dan lebih banyak diam jika sedang kesal, tetapi kali ini sepanjang perjalanan menuju apartemennya, mulut mungil perempuan itu sama sekali tidak bisa diam. Bahkan dengan santainya menyebut Araz seksi. Kalau saja tidak sedang mengemudi, Araz pasti sudah mencium bibir Kanya agar perempuan itu diam. Setidaknya, agar kekesalan dalam hati Kanya bisa sedikit terkendalikan.


"Kamu baik banget sih. Umumnya orang pasti bakal minta pacarnya yang pemilik perusahaan buat pecat karyawan yang sudah bikin merasa nggak nyaman. Serius nggak minta aku buat pecat dia? Aku bisa lakukan itu buat kamu loh, Nya."


Tawaran Araz memang menggiurkan bagi Kanya. Kalau saja rasa kemanusiannya sudah hilang, pasti dia akan mengiyakan tawaran Araz. Namun, apa bedanya dia dengan mereka jika melakukan hal itu? Tidak, memecat mereka bukanlah solusi terbaik. Bahkan lebih kejam dan tidak manusiawi bagi perempuan itu. Ya, bagaimana, Kanya memang sewelas asih itu bahkan terhadap orang yang sudah menyakitinya.


"Nanti deh, bakal aku terima tawaran, Mas Araz, kalau mereka semakin seenaknya aja. Hah, tiba-tiba aku kangen Vina sama Dani. Aku kangen meja kerjaku yang dulu. Setidaknya kalau di sana masih ada mereka yang bisa hibur aku sekalipun digosipin ada affair sama Mas Hanung," keluh Kanya sambil membuang tatapannya ke arah lain.


Tangan kiri Araz menepuk pelan pucuk kepala Kanya. Laki-laki itu merasa bersalah karena sudah memaksa Kanya harus melepaskan pekerjaannya yang dulu demi mambantunya dan Hanung untuk mengembangkan MediaPena. Pasti kekasihnya itu merasa berat menjalani awal-awal kerja dengan beredar gosip yang tidak menyenangkan tentangnya.


Tidak masalah jika Kanya digosipkan dengannya sebagai pemilik perusahaan, karena memang ada hubungan spesial di antara mereka berdua. Namun, yang menjadi bahan gosip justru sahabat sekaligus partner bisnisnya. Sebernarnya Araz juga agak kesal, tetapi dia tidak mau semakin membebani Kanya. Dia pun heran, apa yang membuat orang-orang beranggapan Hanung memiliki affair dengan Kanya kalau mereka saja sudah seperti kucing dan tikus setiap kali bertemu. Tidak dalam suasana formal maupun santai.


Wajah Kanya mendadak cerah saat Araz menawarkan ajakan makan. Ada kafe baru yang direkomendasikan oleh Vina dan menegaskan Kanya supaya mencobanya begitu balik ke Jakarta. Teman sekantornya yang dulu itu bilang, memang makanannya tidak seenak kafe kebanyakan, tetapi suasannya dijamin pasti membuat Kanya betah. Itulah mengapa Kanya penasaran dan ingin mengunjunginya.


"Aku yang tentuin tempat makannya ya, Mas?"

__ADS_1


Bibir Araz mengembang, demi melihat senyum di wajah kekasihnya, laki-laki itu mengangguk mengiyakan permintaan Kanya. Setidaknya sorakan kecil dari Kanya membuat Araz yakin, jika kekasihnya itu mulai membaik.


***


Benar kata Vina, sejak pertama kali memasuki kafe yang direkomendasikan olehnya, Kanya langsung jatuh hati. Suasana yang hangat dengan nuansa bohemian tentu saja membuat perempuan itu betah. Bahkan jika diminta untuk tinggal dalam waktu yang lama, Kanya tidak akan menolaknya. Itu pula yang membuatya menata ulang apartemennya beberapa minggu lalu sebelum memenuhi permintaan Ayah Eka untuk pulang.


Ketika turun dari mobil, mata Kanya sudah dimanjakan dengan kain bermotif etnik yang sengaja digantung estetik di ranting-ranting pohon. Lampu-lampu taman yang juga digantung dengan imbuhan dekorasi dari anyaman rotan menjadikannya semakin tampak semarak. Di halaman yang cukup luas itu juga dipermanis beberapa ayunan kayu dengan pilihan cat warna putih yang mempercantik suasana.


Suasana semakin terasa klasik ketika mereka memasuki bangunan kafe. Sofa-sofa ditata sedemikian rupa hingga membuat siapa saja betah saat menatapnya. Pilihan lampu gantung maupun duduk yang tepat menjadikan suasana menjadi semakin hangat. Di bagian dinding dipercantik hiasan berupa makrame, kain-kain bercorak, hingga dream catcher berbagai ukuran yang terlihat estetik.


Senyum di wajah Kanya sama sekali tidak memudar sejak tiba di kafe itu. Seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman hiburan dan dituruti segala keinginannya. Dan, memang begitulah yang Kanya rasakan saat ini. Kebahagiaan itu tidak sanggup dia sembunyikan dari wajahnya.


Kanya juga tidak tahu pasti, kapan ia mulai menyukai gaya klasik semacam bohemian. Hanya saja, dia tiba-tiba merasa tenang jika berada di tempat yang begitu hangat dan nyaman. Corak-corak yang kerap kali tidak bisa dipisahkan dari dekorasi maupun fashion, membuatnya jatuh cinta semakin dalam.


"Kita duduk di sebelah sana yuk, Mas," ajak Kanya menunjuk ke sudut ruangan. Konsep yang digunakan adalah dua buah ayunan yang saling berhadapan dengan meja segi empat di tengahnya.

__ADS_1


"Boleh." Araz menuruti keinginan Kanya dan mengikuti langkah perempuan itu menuju sudut ruangan. “Kayaknya kamu seneng banget bisa ke sini, Nya?”


Wajah Kanya berbinar. Dia mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Araz. Mengingatkan laki-laki itu jika Kanya benar-benar seperti anak kecil yang keinginannya dikabulkan. Dengan gemas, Araz mengacak-acak pucuk kepala Kanya dan mengecupnya sekilas. Diam-diam Araz bersyukur, wajah penat yang ditunjukkan kekasihnya saat pulang kantor tadi sama sekali menghilang tidak berbekas.


__ADS_2