Pulang

Pulang
Season 2 #Percakapan Ayah dan Anak


__ADS_3

Araz bersembunyi di balik pohon tak jauh dari gazebo tempat Cassandra sedang berbicara dengan Kanya. Mulanya, dia ingin menghampiri mereka saat itu juga. Bagi Araz, sikap Cassandra yang terlalu ikut campur dalam hubungannya dengan Kanya, sudah melewati batas. Namun, saat mendengar jawaban tegas kekasihnya, Araz mengurungkan niat. Diam-diam, dia tersenyum. Laki-laki itu tidak menyangka jika Kanya akan bersikap sekeras itu demi mempertahankan hubungan mereka.


Sebenarnya, saat Araz meminta Kanya untuk menunggu di gazebo, ada hal yang laki-laki itu obrolkan bersama sang ayah - Bagaskara. Tentu saja hal itu berkaitan dengan sepupu dari pihak ibu yang semakin menjadi kelakuannya.


Kata ayahnya, perjodohan antara Araz dan Cassandra bukanlah suatu hal yang mutlak. Toh perjodohan itu hanyalah perkataan kakek Araz agar harta warisannya tidak jatuh pada orang yang salah. Meskipun Araz sama sekali tidak tertarik dengan harta warisan yang ditinggalkan oleh sang Kakek. Begitu juga kedua orang tuanya yang telah memiliki bisnis mereka sendiri sejak Bagaskara masih menjabat sebagai kepala polisi dan cukup menghidupi keluarga mereka bahkan sampai tujuh turunan. Walaupun hal itu tidak ada seujung kuku bila dibandingkan dengan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh kakek dari pihak ibunya.


Bagaimanapun, Araz sejak kecil tidak pernah dididik untuk bergantung pada kekayaan orang tuanya. Untuk itu, dia sendiri pun sudah terbiasa mandiri sejak SMA dengan sering mengirimkan tulisannya ke media massa dan mendapat honorarium yang lumayan untuk menambah uang jajannya. Belum lagi hobi fotografinya yang juga membuatnya memperoleh pundi-pundi rupiah dari sana. Hingga pada akhirnya dia mengelola halaman web traveller sendirinya dan memiliki penghasilan lebih banyak dari sana. Terlebih saat ini, dia mulai fokus pada MediaPena yang diyakini akan semakin besar pula di bawah kepemimpinannya bersama Hanung. Tentu soal kekayaan bukan lagi hal yang perlu dikhawatirkan.


"Kamu harus bisa mengambil sikap, Raz. Selama ini, pamanmu selalu mengungkit perjodohan antara kamu dengan Cassandra karena dia tidak pernah melihatmu serius pacaran. Sekalinya pacaran, bikin heboh satu rumah sakit dengan muncul skandal pacaran kamu sama dokter," ucap Bagaskara ketika mereka membicarakan tentang Cassandra sambil merawat tanaman di kebun belakang rumah mereka. "Lagipula ibumu tidak pernah benar-benar mau jika kamu nantinya harus menikah dengan Cassandra. Apalagi setelah kamu mengenalkan Kanya dan terlihat begitu mencintai perempuan itu. Ibumu tentu semakin melihat kamu bahagia dengan orang yang benar-benar kamu cintai."


"Menurut Ayah, juga begitu?"


"Tentu saja. Laki-laki harus berani mengambil sikap. Ayah juga yakin, ibumu tidak akan ambil pusing soal warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Sahamnya di hotel pun melebihi setengah bagian. Restauran yang kami kelola juga semakin berkembang pesat. Itu semua sudah lebih dari cukup. Toh, kamu juga semakin mandiri saat ini dengan mengambil langkah berani membangun MediaPena. Apalagi yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya ingin menikmati waktu menua dengan tenang, sehat, melihatmu bahagia, tanpa perlu ribut membahas soal harta atau apa pun itu."


"Apa menurut Ayah, Kanya perlu tahu soal hal ini?"


Laki-laki yang tak lagi muda, tetapi masih tampak tegap meski telah keriput dan hampir beruban seluruh rambutnya itu, tersenyum menatap sang anak. Bagaimanapun Araz tetaplah seperti bocah yang membutuhkan bimbingan dalam segala hal, meski kelakuannya sering membuatnya darah tinggi dan naik pitam. Biarpun begitu, laki-laki itu tentu tidak akan pernah benar-benar marah dengan darah dagingnya sendiri. Apalagi rela menjual kebahagiaan anaknya demi sesuatu yang tidak mungkin dibawa mati.


"Kak ... ," panggil Bagaskara membuat pertahanan Araz melemah. Bahkan hampir sepenuhnya runtuh. Sejak kemunculan Cassandra, dia hanya berpura-pura tegar dan tampak biasa saja. Walaupun sebenarnya dia berusaha mati-matian agar tidak terlihat lemah. Namun, panggilan yang hanya sang Ayah lakukan ketika ingin menyampaikan hal yang penting, membuat Araz menjelma jadi seorang bocah yang membutuhkan belaian kasih sayang orang tuanya.


"Dengarkan ini. Kalau kamu sudah memutuskan untuk serius dengan seorang gadis, maka kamu juga harus siap dengan segala hal yang menyangkut dirinya maupun dirimu. Kalau perkara ini saja kamu tidak mau jujur sama dia, bagaimana jika nanti ada hal yang lebih besar terjadi? Apa kamu juga akan menyembunyikannya dari Kanya? Kanya berhak tahu. Sebab, ini juga berkaitan dengan masa depan kalian. Kamu juga pasti bisa menebak apa yang akan Cassandra lakukan saat mengetahui hubunganmu dengan Kanya. Bahkan Ayah yakin, kabar tentang Kanya akan segera sampai ke Korea dan kamu akan diminta menghadap sang Raja," kata Bagaskara sambil tertawa saat menyebut mertuanya dengan sebutan sang Raja.


"Araz nggak masalah sih kalau dia sampai mengadu sama kakek. Lumayan bisa liburan gratis sekalipun nantinya bakal dapat omelan dulu."


"Coba aja dulu kalau gitu. Ayah juga ingin lihat bagaimana reaksi sang Raja saat pangeran yang dia idam-idamkan ternyata memilih rakyat jelata dan bukan putri yang selama ini sudah disiapkan untuknya. Karena jelas, sang Perdana Menteri ini, tidak akan membela sang Raja," imbuh sang Ayah dengan senyum yang tampak misterius. Walaupun Araz tahu maksud senyum itu adalah untuk menantang sejauh apa tekadnya mempertahankan apa yang telah dimiliki dan dia inginkan.

__ADS_1


"Ah, jadi menurut Ayah ini sebuah tontonan yang menarik?"


"Akan lebih menarik dari yang bisa kamu duga. Pemeran utama perempuan kali ini bukan orang sembarangan. Ayah bisa jamin itu."


"Maksud Ayah, Kanya?"


"Tentu saja. Entah kalau kamu menginginkan Cassandra sebagai lead female dalam kisah kamu."


"Nggak. Aku sudah mantap memilih Kanya. Dan, aku akan buktikan jika pilihanku tidak keliru. Memangnya Kakek yang akan hidup berdua selamanya dengan jodohku?"


"Nah, kalau gitu semua semakin jelas bukan? Apalagi yang bisa membuatmu ragu jika sudah memilih? Berjuanglah anak muda, bapakmu ini juga pasti akan mengupayakan segala cara untuk kebahagiaanmu."


"Kalau gitu, balikin dulu duit penjualan apartemen. Ayah mau aku jadi gembel di Jakarta dan hidup di hotel yang menambah pengeluaranku semakin membukit? Tunggu sampai Cassandra tahu aku tinggal di hotel dan hidupku akan semakin sempurna menderita."


Selama ini Cassandra dan orang tuanya memang tinggal di ibu kota. Bahkan pamannya - Lee Yuan - yang juga ayah Cassandra merupakan direktur utama hotel keluarga mereka yang ada di Jakarta. Hanya saja, Araz selalu pandai mengelak jika diminta bertemu oleh sang paman. Saat chek in untuk tinggal di hotel pun, Araz menggunakan nama Hanung agar tidak ada yang curiga. Apalagi sampai tahu keberadaannya.


Sementara sang ayah hanya tertawa menanggapi pernyataan Araz. Anak lelakinya itu memang selalu pandai untuk mengambil celah. Bagaimana dia bisa marah begitu lama jika sifat anak itu menurun 100 persen darinya?


"Nanti Ayah transfer. Padahal Ayah berharap kamu tinggal berdua saja dengan Kanya dan segera punya anak, biar Ayahmu yang sudah tua bangka ini bisa menggendong cucu. Yah, apa boleh buat. Toh kalian juga belum menikah."


Ucapan Bagaskara membuat muka Araz berubah merah. Dia tidak menyangka jika selama ini, ayahnya meminta seseorang untuk membuntuti dan melaporkan seluruh aktivitasnya. Dia beranggapan sang ayah sudah tidak lagi melakukan hal demikian sejak laki-laki itu tidak lagi menjabat sebagai kepala polisi. Namun, ternyata ia masih mengutus seseorang untuk memata-matai kegiatannya.


"Itu nggak seperti yang Ayah bayangkan. Well, beberapa kali Araz memang tidur apartemen Kanya, tapi kami nggak ... yah, Ayah tahu 'kan kalau aku bukan cowok sebejat itu."


Laki-laki itu tertawa. "Sudah, segera bilang sama Kanya tentang Cassandra, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."

__ADS_1


"Ya, tapi Ayah percaya 'kan kalau aku nggak menodai Kanya sebelum waktu yang tepat?" tegas Araz masih menginginkan kepercayaan ayahnya. Bagaimanapun jika Araz tidak meluruskan hal tersebut, citranya di depan Bagaskara akan semakin tercemar setelah semua kelakuan yang membuat laki-laki itu sering memarahinya.


"Hei Nak, Adhyaksa, lihat kakakmu, betapa malunya dia karena ketahuan tidur di tempat pacarnya," ucap Bagaskara sambil menatap rimbun pepohonan di ujung halaman rumah mereka. Di sana terletak kuburan si bungsu yang telah berpulang pada pelukan bumi bertahun lalu. Wajah laki-laki itu tampak mendung meski mecoba ditutupi oleh tawa.


"Maafkan Araz, Yah. Selama ini aku selalu menyusahkan Ayah dan Eomma. Bahkan aku belum berbakti dengan benar pada kalian," kata Araz menyesal.


Dia merasa bersalah atas apa yang telah diucapkan ayahnya. Sebab, adik semata wayangnya yang telah meninggal itu, satu-satunya harapan bagi sang ayah yang mau menuruti perkataannya. Bukan anak pembangkang seperti dirinya.


"Kamu lihat juga Nak, bahkan kakakmu baru meminta maaf dengan tulus setelah sekian lama. Bagaimanapun dia tetap kakak yang baik buat kamu. Mana mungkin Ayah sanggup lama-lama bermusuhan dengannya."


Wajah Bagaskara semakin mendung. Kenangan tentang Adhyaksa memang selalu membawa muram di wajahnya yang tak lagi muda. Namun, kini laki-laki tua itu tidak mau bersedih terlalu lama mengenang si bungsu, sebab si anak hilang yang pembangkang sudah pulang dan menghapus mendung dalam dadanya.


Ditepuknya pundak Araz pelan. "Sudah, jangan biarkan Kanya menunggu terlalu lama. Sebentar lagi juga sudah waktunya sarapan. Segera ajak dia ke meja makan."


Araz tak membantah. Untuk kali ini, dia akan menuruti permintaan sang ayah.


Kini, setelah Araz selesai mengatakan kegundahan hatinya pada sang Ayah, dia semakin mantap untuk mengatakan pada Kanya. Terlebih saat melihat betapa gigihnya Kanya mempertahankan dirinya di hadapan Cassandra. Membuat Araz merasa perlu harus menceritakan tentang Cassandra secepatnya. Dia tidak ingin Kanya semakin salah paham dan mengira dirinya hanya mempermainkan perasaan perempuan itu. Padahal untuk mendapatkan Kanya pun bukan sebuah perkara yang mudah.


Araz sudah memutuskan menjadi rumah bagi Kanya, jadi laki-laki itu harus menjadi tempat pulang bagi kekasihnya. Dia tidak ingin persoalannya tentang Cassandra merusak semua hal yang telah dia perjuangkan.


...----------------...


Hemmm ... jadi gini, ehhmmm 👉👈 ... ini bukan update episode yang bakal nyambung dengan episode-episode selanjutnya (dalam waktu dekat), tapi sekalipun gitu, enjoy reading yaaa ...


Sampai ketemu lain waktu.

__ADS_1


Oh, jangan lupa tetap dukung Pulang sekalipun Yoru jarang banget update episode baru. Meski begitu tenang saja, novel ini pasti akan ada ujungnya kok. Dan bakal ada give away juga dari Yoru ( tepat pada waktunya ). Jadi, tetap ikuti terus sampai waktunya tiba. 😁😁😁


👋👋


__ADS_2