
Ternyata nggak bisa diubah dong susunan bab cerita yang udah diunggah. 🥺🥺🥺
Cerobohnya diriku.
Jadi, buat kalian yang baru aja sampai ke bab ini, Yoru sarankan buat baca bab selanjutnya dulu, baru balik ke bab ini. Soalnya Yoru salah upload, Guys. Harusnya urutannya itu bab "Perempuan yang Terpilih" dulu yang diupload sebelum bab "Calon Istri yang Sudah Dipersiapkan". Karena nggak teliti jadi bab ini dulu yang keunggah. 🥺🥺🥺
Enjoy, reading all ... 🤗🤗🤗
...----------------...
Wajah Cassandra tampak marah ketika meninggalkan ruang makan. Sikap paman dan bibinya terhadap Kanya, sungguh di luar ekspektasi perempuan itu. Terlebih rencananya untuk mempermalukan kekasih Araz di depan orang tua laki-laki itu digagalkan oleh Jenna - adik sepupunya. Kalau saja Jenna tidak ikut campur dengan urusannya, paling tidak Cassandra sudah berhasil membuat Kanya malu di depan Bagaskara dan Lee Haneul.Â
Cassandra tidak habis pikir, apa yang membuat mereka begitu menyukai Kanya. Bahkan paman dan bibinya begitu ramah menyambut perempuan itu dan memintanya memanggil ayah dan eomma. Padahal, saat dia mengajukan keinginan itu bertahun lalu, mereka dengan tegas menolak.
Perempuan itu mendengus kesal. Bila dibandingkan dengan Bella, tentu Kanya jauh di bawah standar. Apalagi jika harus dibandingkan dengan dirinya. Kalau saja dulu Araz tetap bertekad mengejar cinta Bella, Cassandra sudah bersiap untuk menerima kekalahan itu. Sebab, meski Bella tidak secantik dirinya, setidaknya dia berhadapan dengan seorang dokter yang lebih berguna bagi Araz. Dan kini, bisa-bisanya Araz mengenalkan seorang perempuan yang bahkan dia cuma seorang anak buah di perusahaan media yang baru saja dibangun oleh sepupunya itu. Bagaimana Cassandra tidak kesal, jika harus bersaing dengan perempuan yang jauh di bawah standarnya.
__ADS_1
Kepala Cassandra berdenyut. Dia membutuhkan sesuatu yang bisa meredakan sakit kepala yang tiba-tiba menghantam dirinya saat mengetahui kenyataan yang tidak bisa dia terima. Perempuan itu membuka tas genggamnya dan mengeluarkan kotak berwarna silver serta pemantik warna senada. Dengan gerakan yang tergesa-gesa, dia menyulut sebatang rokok dan menghembuskan asapnya kuat-kuat. Cassandra ingin penat di kepalanya segera lenyap.
"Apa sih hebatnya Kanya, sampai semua orang bisa suka sama dia? Apalagi Bibi, bisa-bisanya dia dengan mudah meminta Kanya memanggilnya eomma. Padahal wanita itu nggak pernah mengizinkan gue memanggilnya eomma. Ketika hal-abeoji meminta gue memanggilnya eomeoni pun, Bibi menolak dengan tegas. Tapi dengan mudahnya dia meminta Kanya memanggilnya eomma. Menginginkan anak perempuan? Beh, emang gue nggak perempuan sampai nggak mau anggap gue anaknya?
Bahkan perempuan sialan itu sangat jauh kalau dibandingkan sama Bella. Apalagi gue. Apa Araz udah nggak waras dan nggak bisa bedakan mana perempuan berkualitas dan yang nggak? Sial!" maki Cassandra kesal. Dia mengepulkan asap rokoknya yang segera lenyap di udara. Namun, penat di kepalanya tidak juga berkurang.
Cassandra merebahkan kepalanya di sandaran kursi teras yang menghubungkan dengan taman samping rumah keluarga Bagaskara. Ia memejamkan mata, berharap penat berangsur menghilang, tetapi amarah justru semakin memuncak dan membuat perempuan muda itu gelisah. Dia tidak pernah merasa posisinya seterancam ini dengan kemunculan perempuan di samping Araz. Termasuk Bella sekalipun, sebab Cassandra mengakui jika perempuan itu berada satu level di atasnya. Tapi Kanya?
Di mata Cassandra, Kanya sama halnya dengan perempuan ganjen yang sering kali menggoda Araz selama ini. Perempuan centil yang selalu berusaha menarik perhatian Araz dengan cara apa pun. Perempuan yang akan dengan sendirinya melangkah mundur saat dia muncul dan mengenalkan sebagai calon istri Araz. Terlebih saat dia mengatakan jika mereka tidak akan bisa bertahan lama dengan Araz, sebab ikatan perjodohan di antara dirinya dan Araz bukanlah hal yang bisa dibatalkan. Namun, tetap akan terjadi di masa depan, meskipun laki-laki itu tengah dekat dengan seorang perempuan.
Hal itulah yang tidak pernah diketahui Araz, mengapa perempuan yang didekati selama ini pasti akan menjauh setelah kencan pertama atau kedua mereka. Sebab, diam-diam Cassandra menemui mereka di belakang Araz dan menceritakan fakta yang membuat mereka terpuruk. Dan, hal itu terjadi sejak Araz kuliah, sementara dirinya masih bocah ingusan yang memakai seragam putih-biru. Namun, kekuasaan yang ada dalam genggamnya membuat siapa pun orangnya akan tunduk begitu saja.
Tidak luput kisah adik sahabat karib Araz - Hanung - yang juga berusaha mendekati laki-laki itu, tetapi berakhir mengenaskan karena dibully oleh AFC yang diketui oleh Bianca. Siapa lagi dalangnya kalau bukan Cassandra. Perempuan itu tahu pasti, siapa saja yang berusaha mendekati Araz dan berusaha merebut laki-laki itu dari tangannya.
Mulanya, dia berpikir jika Kanya bukanlah ancaman. Pertemuan keduanya hanya dianggap perjalanan bisnis yang menguntungkan bagi Araz. Tapi, siapa yang sangka, hal yang tidak dianggap berbahaya bagi Cassandra, kini justru membuat posisinya terancam sebagai 'calon istri yang telah dipersiapkan' bagi Araz.
__ADS_1
Membayangkan hal itu terjadi, Cassandra bergidik ngeri. Dia tidak bisa membayangkan jika Kanya benar-benar bisa merebut posisi 'calon istri yang telah dipersiapkan' darinya. Mau ditaruh mana mukanya jika kelak bukan dirinya yang akan bersanding di samping Araz. Mau ditaruh mana mukanya jika usaha yang selama ini dia lakukan akan menjadi sia-sia. Menara gading yang dia bangun selama ini untuk memuja Araz, bisa saja hancur berantakan jika dia tidak segera mengambil langkah cepat untuk memisahkan mereka.
"Ya, gue harus cari cara. Mereka nggak boleh dibiarkan bersatu. Gimanapun gue harus menjauhkan Kanya dari Araz. Heh, dia pikir mudah merebut Araz dari genggaman Cassandra? Dia hanya belum tahu aja siapa Cassandra sebenarnya. Jangankan rumput liar seperti dia, mereka yang punya kekuasaan aja bisa gue taklukkan. Apalagi menyingkirkan satu orang nggak penting macam Kanya."
Senyum cerah mengembang di wajah Cassandra. Awan gelap yang semula menggantung di raut muka perempuan itu, seakan tertiup angin pagi menjelang siang di lembah pegunungan tempat tinggal keluarga Bagaskara. Dalam benak Cassandra mulai terkumpul 1001 cara untuk memisahkan Kanya dengan Araz.
"Kita lihat aja nanti, siapa yang akan menang. Lo harus tahu siapa gue sesungguhnya, Kanya. Karena cuma gue yang berhak menjadi pendamping Araz. Satu hal yang lo harus tahu, sebab gue 'calon istri yang telah dipersiapkan'. Lo nggak bakal bisa berbuat macam-macam."
Tepat di saat yang bersamaan, Kanya dan Araz muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan taman samping keluarga Bagaskara sambil bergandengan tangan. Cassandra yang menyadari hal itu, menatap kesal. Lantas berlalu dari hadapan mereka dengan menggerutu. Sementara Araz dan Kanya hanya saling tatap seolah menyiratkan pertanyaan, apa kita berbuat kesalahan?
Nikmati aja kisah kalian saat ini. Karena nggak akan lama, kalian harus bermain di panggung pertunjukkan yang sudah gue persiapkan. Kita lihat saja. Lo akan bersujud di hadapan gue dan mengaku kalah jika lo memang nggak pantas untuk berada di samping Araz. Ucap Cassandra dalam hati. Masih ditatapnya kedua orang yang berjalan beriringan menuju sudut halaman tempat Adhyaksa dimakamkan.
...----------------...
Oke, jadi ini masih bukan serangkaian update rajin apalagi gila-gilaan. So, ikuti terus perjalanan Aras dan Kanya ya. Jangan lupa untuk meninggalkan like dan komen (vote jika tidak keberatan) demi membakar tungku di kepala Yoru biar terus menyala.
__ADS_1
Oh iya, terima kasih buat kalian yang tetap setia dan membagikan like, komen, vote atau bahkan hadian buat Yoru. 🤗🤗🤗
Semoga urutannya bisa sesuai. Duuhh ... ðŸ˜