
Renjana Alcatraz
Mataku mengerjap saat cahaya matahari menerobos masuk melalui celah jendela yang tak tertutup gorden, menyentuh wajahku. Masih sedikit pusing akibat aku tidur terlalu malam kemarin. Sementara daya tahan tubuhku tak sesehat seperti kelihatannya. Meski kini lebih baik jika dibanding sebelumnya.
Setelah tak kuat menahan kantuk semalam, aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu apartemen Kanya. Tanpa persetujuan perempuan itu. Daripada aku memaksakan diri, tapi justru mengalami kecelakaan di jalan karena mengantuk. Aku belum ingin mati, apalagi dengan cara konyol seperti itu. Terlebih masih ada hal lain yang harus kulakukan sebelum hidupku benar-benar berakhir.
Kupandangi ruang tamu bernuansa hitam dan abu-abu itu. Meski tak seluas ruang tamu di apartemenku, tapi terasa hangat dan nyaman. Suhu ruangannya pun diatur pas hingga membuat betah berlama-lama. Tidak dingin, tapi terasa sejuk. Apalagi penataan ruangnya yang minimalis dengan pembatas rak buku yang memisahkan antara ruang tamu dan dapur sekaligus ruang makan.
Melihat bacaan yang tersusun di rak, aku bisa mengetahui kesukaan Kanya terhadap karya-karya sastra. Novel-novel karya sang maestro Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Danarto, hingga sepopuler Djenar Maesya Ayu, Dewi Lestari, dan Ayu Utami, berjejer rapi. Tidak lepas kumpulan sajak milik Chairil Anwar, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, W.S Rendra hingga Aan Mansyur dan Usman Arrumy. Bahkan semua buku sudah bersampul dan terlihat sekali jika pemiliknya rajin merawatnya.
Aku menyusuri koleksi novel milik Kanya dan menarik salah satu dari tempatnya. Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Salah satu bacaan yang kugemari untuk mengisi waktu luang. Entah mengapa, membacanya puluhan kali pun tak pernah membuatku bosan. Aku menebak, Kanya pun demikian. Melihat bagaimana kucelnya buku itu apabila dibandingkan dengan yang lainnya.
Sudut bibirku terangkat. Mungkinkah kami memiliki selera buku bacaan yang sama? Mungkin suatu saat aku bisa bertanya padanya.
Aku meletakkan kembali novel itu pada tempatnya. Sesaat aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sebelum gadis itu terbangun dan menyadari aku telah menginap tanpa izin, secepat mungkin harus keluar dari apartemennya sebelum ketahuan. Naas, pintu bercat putih yang menjadi penghubung kamar tidur Kanya itu, terbuka bahkan sebelum aku sempat mengangkat tubuh dari sofa.
"Mas Araz, kok bisa ada di sini?" teriak Kanya histeris.
Jelas saja, perempuan itu kugendong hingga ke kamar tidurnya dalam keadaan tertidur pulas. Sedang aku dengan seenaknya saja memutuskan tidur di ruang tamunya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Sial, aku tak pernah tahu jika Kanya termasuk orang yang rutin bangun pagi. Belum ada pukul 07.00 pagi saat ini.
"Hei, good morning, Kanya. Tidur kamu semalam nyenyak?" tanyaku basa-basi.
Jelas bukan itu pertanyaan yang ingin didengar Kanya. Perempuan itu hanya membutuhkan pernyataan mengapa aku sudah berada di ruang tamu apartemennya sepagi ini. Ia bahkan melirikku dengan tatapan tajam. Seolah siap melontarkan kalimat-kalimat makian.
"Nggak usah ngeles deh Mas, jawab aja gimana Mas Araz bisa ada di sini?" tanya Kanya dengan nada lebih tinggi.
Aku menggaruk belakang kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal. Hanya saja aku sering melakukannya jika salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa. ******, kalau sudah begini apalagi yang bisa kulakukan selain mengakui kejadian semalam.
"Sori ya kalau aku lancang, aku tadi malam ngantuk banget begitu mau balik setelah antar kamu. Ehmm, lebih tepatnya gendong kamu masuk ke apartemen, kalau boleh jujur," jawabku bersiap dengan segala amukan Kanya. Namun ketakutanku tak terjadi. Pipi perempuan itu justru memerah menahan malu.
__ADS_1
"Mas Araz bawa aku ke kamar?" tanya Kanya setelah mampu menguasai kegugupannya. Aku hanya mengangguk sebagai balasan. "Kenapa nggak dibangunin?"
"Kamu pules banget tidurnya. Udah aku bangunin nggak bangun juga. Bahkan aku tungguin sampai hampir tengah malem, tapi masih nyenyak juga. Ya udah karena aku ngantuk, aku gendong aja sampai sini. Dan yah, aku ngantuk juga setelah antar kamu. Daripada aku mati konyol karena kecelakaan akibat ngantuk, aku tidur di sini aja deh," kataku menjelaskan panjang lebar. Kanya hanya menatapku dengan pandangan tidak percaya. Namun juga terlihat malu atas pengakuanku.
"Astaga, **** banget sih lo Kanya. Biarin orang lain susah cuma karena nggak kuat nahan kantuk," makinya pada diri sendiri. Diam-diam aku tersenyum memperhatikan tingkahnya.
"Sori ya, tadinya aku mau langsung balik begitu bangun. Eh tapi malah keduluan yang punya rumah."
"Nggak apa-apa kok Mas, harusnya aku yang minta maaf karena udah nyusahin Mas Araz. Mumpung udah di sini, mau sarapan bareng nggak? Di bawah ada yang jual bubur ayam enak banget."
Senyumku mengembang menerima ajakan Kanya. Sepertinya bukan hanya senyumku yang mengembang, tapi juga hatiku yang berbunga-bunga. Setelah bisa mengucapkan selamat pagi secara langsung, aku bahkan bisa melewati sarapan dengan Kanya. Sekali lagi.
***
Tak lama aku menunggu Kanya mengganti kostumnya kemarin dengan kaus yang lebih santai dan celana pendek di atas lutut. Untuk melengkapi gaya kasualnya, Kanya menggunakan cardigan warna hitam yang sesuai dengan celana pendeknya. Meski hanya mencuci muka, ia terlihat segar dengan rambut bob sebahu yang dibiarkan terurai.
Wangi green tea menguar dari tubuhnya yang hanya berjarak beberapa centimeter denganku. Kami sedang berada di dalam lift dan harus berbagi dengan penghuni lainnya. Itu sebabnya jarak kami begitu dekat sekarang.
"Kenapa gitu?"
"Soalnya buburnya ayamnya terkenal banget di daerah sini. Jadi terkadang harus lama antre."
"Nggak masalah sih, selama antrenya sama kamu, aku sih bakal tahan aja," kataku mulai melancarkan aksi rayuan gombal.
Entah mengapa, melihat Kanya salah tingkah membuatku semakin gemas pada perempuan yang selisih delapan tahun denganku itu. Wajahnya yang malu-malu dengan rona merah di pipinya sering kali membuatku ingin mencubitnya.
"Mas Araz tuh suka banget sih gombalin orang. Jangan-jangan sama yang lain juga gitu ya?"
"Tergantung."
__ADS_1
Kanya menoleh ke arahku yang mencoba memasang wajah serius. Kedua alis matanya berkerut. Menelisik ucapanku yang mungkin membingungkan baginya.
"Tergantung bagaimana maksudnya?"
"Ya tergantung kamu cemburu apa nggak kalau aku suka gombalin cewek. Kalau kamu cemburu aku sih bakal godain semua cewek biar lihat gimana wajah cemberut kamu," jawabku membuat wajah Kanya semakin merona.
Bahkan beberapa orang yang juga menggunakan lift yang sama, menahan senyum mendengar jawabanku. Aku tak peduli, asalkan bisa melihat wajah Kanya merona malu, tapi terlihat bahagia.
Tanpa sadar, aku tersenyum melihat tingkah Kanya yang menggemaskan.
Ting...
Lift sudah sampai di lantai dasar saat seseorang menarik tubuh Kanya untuk menjauh dariku. Perempuan itu sama terkejutnya denganku. Sedang tatapanku meneliti sosok lelaki yang pernah kujumpai beberapa waktu lalu.
"Putra, ngapain lo di sini? Dari mana lo tahu kalau gue tinggal di sini?" tanya Kanya dengan amarah yang tak sanggup ia tahan.
Wajah perempuan itu seketika berubah jengkel saat menyadari siapa orang yang sudah menarik tangannya. Amarah terpahat jelas di wajahnya yang ayu. Sedangkan aku tak sanggup berbuat apa pun kecuali menyaksikan kedua orang itu ribut tak jauh dari tempatku berdiri.
"Nggak penting gue tahu lo tinggal di sini dari siapa, tapi apa-apaan ini? Lo bahkan udah tinggal seatap sama lelaki itu?"
"Kalau iya lo mau apa? Gue tanya sekarang, apa urusannya sama lo, gue mau tinggal di mana dan sama siapa? Apa peduli lo?"
"Jelas gue peduli sama lo! Karena lo..."
"Apa, gue apa?"
"Karena kamu adik aku. Aku juga punya tanggung jawab atas pergaulan dan keselamatan kamu, Kanya. Mulai sekarang," suara Putra mulai merendah saat mengucapkan kalimat itu. Meski begitu, cukup jelas terdengar di telingaku.
"Sayangnya, gue nggak butuh kakak kayak lo. Gue udah cukup bahagia hidup tanpa orang tua, apalagi saudara," tegas Kanya sebelum berjalan ke arahku dan menarik tanganku agar menjauh dari tempatnya membuat keributan.
__ADS_1
Gadis itu tak lagi membawaku ke warung bubur ayam yang katanya sangat enak. Ia justru mengajakku ke basement dan menuju ke arah mobilku. Setelah menenggelamkan hampir separuh tubuhnya di kursi penumpang, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.
Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Otakku pun ambigu, selama ini aku berpikir bahwa Putra adalah sosok spesial bagi Kanya di masa lalu. Namun hari ini aku mengetahui fakta bahwa mereka memiliki ikatan sebagai adik-kakak yang justru semakin terlihat seperti pasangan kekasih di mataku.