
Renjana Kanya
"Nya, ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Araz saat kami berada di mobil dalam perjalanan menuju Surabaya. Sesekali dia kembali fokus pada jalanan Kota Lamongan yang sedikit berlubang.
Hampir satu jam perjalanan, kami hanya saling membisu. Aku, sibuk memikirkan cara bagaimana seharusnya mengatakan pada Araz jika telah mengkhianati laki-laki itu. Atau tak perlu kukatakan padanya jika ada sosok lain yang belum pernah bisa pergi dari benak juga hatiku? Apakah ini adil buat Araz? Apakah ini cara yang tepat, menyembunyikan perasaanku rapat-rapat? Aku sendiri pun bingung, apakah benar aku masih belum bisa melupakan perasaanku pada Putra atau hanya sekadar terbawa suasana sesaat.
Padahal aku sengaja mengantarkan Araz seorang diri agar leluasa berbicara dengannya tentang kita. Menolak tegas permohonan Ayah Eka yang meminta Pak Retno mengantarkan kami ke bandara. Lagipula sudah lama aku tidak melakukan perjalanan jauh seorang diri. Selepas mengantarkan Araz, bisa jadi momen menikmati waktu itu bagiku. Terkadang dalam perjalanan jauh seorang diri, aku benar-benar menemukan makna kata pulang sesungguhnya. Pulang yang tidak selalu berkaitan dengan rumah. Pulang pada sejatinya diriku. Pulang yang lebih untuk mengenal diriku sendiri.
"Nya," panggil Araz sekali lagi. Aku menoleh pada laki-laki yang masih fokus pada jalan di depannya itu. "Apa ini soal, Putra?"
Pertanyaan Araz membuatku terkejut. Apa yang membuat laki-laki itu menebak jika diamku berkaitan dengan Putra? Apa mungkin dia melihatku dan Putra sedang ... Tidak mungkin. Jika hal itu yang memang terjadi, aku tidak yakin Araz masih mau menemuiku tadi pagi dan berbicara seolah tak terjadi apa-apa. Araz bukan tipikal orang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Dan, dia termasuk orang yang mudah tertebak ketika sedang cemburu.
"Nya, kok diam lagi? Benar karena Putra?" tanya Araz semakin menuntut jawaban. Aku tak bisa mengelak, tetapi juga tidak sanggup menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Iya, Mas," kataku pada akhirnya.
Tidak ada gunanya juga menyembunyikan masalah ini dari Araz. Cepat atau lambat, laki-laki itu juga akan tahu jika aku masih menyimpan perasaan sayang pada Putra. Bukan sebagai adik, tetapi mantan kekasih yang melewatkan waktu untuk tumbuh bersama.
Araz menepikan mobil di SPBU terdekat persis ketika aku mengiyakan pertanyaannya. Laki-laki itu melepas sabuk pengaman dan memutar tubuhnya hingga menatapku lekat. Tak hendak bicara. Namun, aku bisa melihatnya. Bisa merasakan degup jantung laki-laki itu yang terdengar sangat keras di telingaku. Ada yang membuatnya gelisah dari sorot mata Araz.
Tentang Putra.
"Aku tahu risikonya sejak awal, Kanya. Aku tahu nggak akan mudah buat kamu untuk sepenuhnya melupakan Putra. Aku bisa paham, aku juga bisa menunggu. Asalkan kamu percaya sama aku, kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta. Nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Setiap hari. Sampai kamu mengakui kalau aku memang pantas buat kamu."
"Tapi Mas ... ."
"Kamu nggak bermaksud buat mengakhiri hubungan kita bukan?"
Pertanyaan Araz lagi-lagi membuatku terkejut. Aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan Putra, tetapi juga tidak hendak memutuskan Araz secara sepihak. Mungkin benar Putra adalah orang pertama yang mengenalkan cinta juga lara di saat bersamaan, tetapi Araz juga mengajarkan aku sebuah harapan yang tidak mudah tersia-siakan. Bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja demi sebuah masa lalu yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi?
"Maafkan aku, Mas. Aku ... ."
"Apa yang kamu khawatirkan, Kanya?"
Aku menghela napas panjang. Kupandang wajah Araz sebelum mengucapkan kalimat yang sebenarnya sudah disiapkan sejak semalam. Aku harus mengaku, sebelum hubungan ini semakin jauh. Bagaimanapun keputusan Araz nanti, aku harus bisa menerima meski itu kenyataan pahit.
"Aku dan Putra, kami pernah melakukan kesalahan besar. Hal yang seharusnya nggak dilakukan sama sepasang kekasih sebelum ... ."
Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Rasanya begitu berat mengakui jika aku telah kehilangan selaput daraku sejak bertahun lalu.
"Kanya, apa kamu menilai cinta hanya sebatas itu? Sebatas masih utuh atau nggak utuh? Sekarang jika posisinya di balik, aku yang kehilangan kesucian itu lebih dulu, apa kamu juga akan berpikir dua kali sebelum menerimaku?"
__ADS_1
Araz menghela napas panjang. Lanjutnya,"Kalau kamu lupa, orang yang mendonorkan jantungnya buat aku itu Arez, Kanya. Sahabat yang sudah tahu baik-buruknya kamu dan dia sudah menceritakan semua dari awal tentang kamu. Maaf, sebenarnya aku juga pernah nggak sengaja dengar pembicaraan kamu sama Damar waktu kita pertama kali ke sini. Aku nggak mempermasalahkan itu semua, Kanya. Yang aku butuhkan itu kamu. Cinta kamu. Bukan yang lainnya."
Air mata mengalir di pipiku. Rasa ngilu menampar hatiku yang mendadak beku. Sebenarnya apa sih yang aku cari dari semua ini? Apa yang aku pertanyakan? Apa yang aku harapkan? Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang aku inginkan saat ini. Benarkah aku menginginkan dicintai oleh laki-laki tanpa cela serupa Araz atau aku memang masih sepenuhnya terpaku pada Putra? Jikalaupun iya, lantas apa yang bisa kuperjuangkan dengan Putra selain hal yang sia-sia? Lalu, apa arti tangis yang selama ini aku tumpahkan untuk Araz ketika laki-laki itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Apa arti perasaan berdebar setiap kali kami duduk berdua dan saling bertukar pandang?
Ayolah, Kanya. Buka mata hati lo. Lo bukannya Drupadi yang bahkan semesta mendukungnya memiliki lima laki-laki. Lo cuma manusia biasa yang bahkan perasaan lo buat siapa, masih belum jelas. Abu-abu. Semu.
Lalu, kalau sudah begitu lo mau ngorbanin seseorang yang jelas-jelas lebih memilih lo? Berusaha buat dekat sama lo meski tahu kesempatan dia sejak awal nggak pernah terbuka lebar.
“Anya, kumohon, jangan lagi menangis. Aku tahu ini nggak mudah buat kamu. Ini juga nggak mudah buat aku, tapi kalau kita memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri, semua akan semakin sulit. Percayalah, aku akan membuatmu jatuh cinta sampai nggak bisa berpaling pada yang lain,” ucap Araz sambil memeluk tubuhku. Air mata membasahi dadanya yang berlapis sweater di luar kaus polo putih yang dikenakannya.
“Sudah ya, jangan jadikan beban. Aku nggak akan memintamu melupakan semua kenangan kamu sama Putra. Itu semua mutlak milik kamu. Aku juga nggak akan memaksamu untuk sepenuhnya jatuh cinta sama aku, tapi aku yakin sikap peduli kamu sama aku adalah awal yang baik buat hubungan kita. Oke?”
Aku mengangguk menanggapi pernyataan Araz. “Maafin aku, Mas.”
“Sssttt ... sudah, aku nggak mau dengar apa pun itu dari mulut kamu jika sebuah permintaan maaf. Kita jalani pelan-pelan ya? Jangan memaksakan diri. Kita harus belajar sama-sama untuk menguatkan pondasi hubungan kita.”
Tuhan, bagaimana bisa aku melukai hati orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Mungkin Putra benar, pada waktunya kita akan menemukan obat penawar bagi luka kami masing-masing. Dan, aku telah menemukan penawar itu.
...***...
Sepasang suami-istri dengan baju couple menyambut kami saat sampai di Griya Panca Warna milik Altar – kenalan Araz yang juga pelukis yang namanya tak pernah surut dan justru makin melejit. Apalagi setelah dia sempat menghilang dari peredaran dan tiba-tiba muncul dengan image karyanya yang semakin kuat. Banyak media yang meliput prestasi laki-laki itu. Aku juga sering melihatnya diwawancara di televisi nasional maupun manca negara.
Laki-laki berambut ikal sebahu yang dibiarkan tergerai itu, menyalami kami bergantian. Dia bahkan berpelukan lama dengan Araz. Sepertinya meski hanya sebatas kenalan, hubungan keduanya cukup baik.
“Halo Mbak, apa kabar? Masih ingat aku?” sapaku saat kami berjabat tangan.
“Kanya, bukan?” balasnya membuatku terkejut. “Mana nih, cowok yang dulu sering antar kamu kalau datang ke peluncuran novel aku?”
Aku melirik Araz yang sama terkejutnya denganku. Sebenarnya, aku tidak berharap perempuan itu masih mengingatku. Sudah lama sekali kami tidak saling bertemu. Terakhir kali, aku mendatangi peluncuran novel barunya dua tahun yang lalu. Sesaat sebelum perpisahanku dengan Putra. Namun, perempuan itu masih mengingatku. Bahkan masih ingat dengan siapa aku sering kali datang saat peluncuran novelnya. Siapa lagi jika bukan Putra.
“Oh ya, memang dia datang sama siapa, Jani?” tanya Araz tidak sanggup menyembunyikan rasa penasarannya. Sedang aku menelan ludah. Kelu.
“Adalah cowok. Sekilas kalau dilihat dia mirip sama vokalis Sheila on 7. Siapa sih namanya? Hmmm ... Putra kalau nggak salah.”
“Kami sudah lama putus, Mbak,” kataku cepat. Bersamaan dengan Araz yang terlihat mengangguk-angguk menanggapi pernyataan Mbak Senjani.
“Ohhh ... .”
Hanya jawaban itu yang meluncur dari mulut Araz. Wajahnya jadi berubah kusut. Sedangkan aku jadi salah tingkah dan tidak tahu harus merespon bagaimana keadaan yang mendadak merasa tidak nyaman. Untung Mas Altar meminta kami duduk di ruang tamu galeri yang memajang beberapa karya pelukis itu.
“Jadi gimana nih, apa yang bisa aku bantu buat kamu?” tanya Mas Altar saat kami mulai duduk santai di Griya Panca Warna.
__ADS_1
“Sebenarnya aku butuh beberapa lukisan buat kantor baru sih. Adalah koleksi kamu yang bisa aku simpan?”
“Yang ada di sini lukisan baru-baru sih. Bisa saja kalau kamu mau. Kayaknya dia punya selera yang bagus nih. Kenapa nggak minta pertimbangan dia saja?” kata Mas Altar sambil menunjuk ke arahku dengan dagu. Mbak Senjani yang duduk di samping suaminya pun mengiyakan pendapat laki-laki itu.
“Eh, nggak juga sih Mas. Aku nggak ngerti soal lukisan. Palingan juga suka lihatin saja sih,” elakku membuat Mas Altar tersenyum.
“Lukisan ‘kan nggak harus dimengerti kayak perempuan, Nya. Mereka cuma perlu dirasakan dengan hati.”
Aku tersenyum kikuk. Baru kali ini aku bertemu secara langsung Mas Altar, tetapi rasanya seperti kami sudah saling lama mengenal. Dia bahkan tanpa canggung memanggilku dengan nama. Tidak seperti orang yang baru saja saling mengenal.
“Ide bagus nih. Gimana kalau kamu bantu aku pilih lukisan Altar, Nya?” tawar Araz sambil berdiri dari sofa ruang tamu galeri. Tanpa banyak bicara, aku mengikuti langkah laki-laki itu mengelilingi galeri tempat Altar memajang lukisannya.
“Aku sama sekali nggak ngerti soal lukisan loh, Mas. Nanti yang ada Mas Araz malah kecewa sama pilihan aku.”
Araz menghentikan langkah. Lelaki itu menatapku yang masih mengekor di belakangnya. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang entah kenapa terlihat begitu lelah setelah mendengar pembicaraanku dengan Mbak Senjani. Padahal sebelumnya dia mau menerima keadaanku yang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Putra.
“Aku percaya sama pilihan kamu. Aku yakin itu pasti yang terbaik,” ucapnya seolah ada makna lain yang tersirat. Bukan merujuk pada lukisan seperti yang kumaksudkan. Namun, aku terlalu canggung untuk menanggapi pernyataan laki-laki itu.
Aku meneruskan berjalan mengelilingi galeri dan berhenti pada sebuah lukisan perempuan dengan kepala terpenggal yang didominasi warna merah dan hitam. Sedangkan dari kepala perempuan itu berbagai macam hiruk pikuk kota digambarkan dengan warna abu-abu pekat. Bukan lukisan yang menunjukkan ciri khas Altar. Dan, hanya itu satu-satunya lukisan yang berbeda jika dibandingkan dengan yang lainnya.
“Itu seperti monumen buat Mas Altar. Memang sengaja dipajang, tetapi nggak untuk dimiliki siapa pun kecuali oleh Mas Altar sendiri,” kata Mbak Senjani tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Tanpa sadar, aku sudah masuk terlalu jauh bagian paling dalam dari Griya Panca Warna. Perempuan itu tersenyum ayu sebelum bercerita kepadaku.
“Ini lukisan perempuan yang memiliki nama yang hampir mirip denganku. Renjani. Aku masih terlalu muda saat memutuskan menikah. Kupikir aku bisa mengalahkan egoku, tetapi kenyataannya nggak semudah itu. Aku sempat kabur dari rumah dan membuat Mas Altar hampir gila. Lalu, perempuan itu datang lagi. Menyembuhkan luka yang kusebabkan. Meski akhirnya dia yang lagi-lagi harus terluka sebab Mas Altar tetap memilihku dan meminta untuk kembali.”
Aku tak sanggup membalas cerita Mbak Senjani. Bahkan aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Pun maksud perempuan itu tiba-tiba bercerita tentang lukisan yang kini tak lepas dari pengamatanku.
“Kenangan. Pasti selalu memiliki tempat dalam pikiran yang nggak mudah terlupakan, tapi bukan berarti itu menghentikan langkah kita untuk berjalan di tempat ‘kan? Masing-masing dari kita membawa lukanya sendiri-sendiri, tapi itu juga bukan alasan untuk berhenti mencintai. Begitu juga dengan kamu, Kanya.”
“Eh, kenapa Mbak?”
Mbak Senjani tersenyum mendengar pertanyaan konyolku. Lalu katanya,“Aku nggak tahu apa yang menyebabkan kamu putus sama Putra, tapi menjalani sebuah hubungan yang penuh keragu-raguan juga bukan hal yang baik. Mantapkan hati kamu, kalau Araz pilihan yang tepat. Dan, Putra adalah kenangan yang memang selayaknya kamu simpan saja. Nggak untuk diperjuangkan.”
“Eh?”
Aku semakin tidak memahami maksud Mbak Senjani. Namun, aku juga tidak sepenuhnya mengabaikan perkataan perempuan itu. Bahkan bagiku, itu serupa nasihat gratis yang diberikan secara random dari orang yang tidak cukup baik mengenal kita. Anehnya justru nasihat itulah yang perlu kita dengar.
“Aku yakin pilihan kamu nggak salah. Hanya perlu waktu untuk membuat semuanya menjadi indah.”
Punggung Mbak Senjani menjauh setelah mengucapkan kalimat itu. Menghilang di kelokan koridor menuju ruang tamu galeri. Sedang aku masih terpaku pada lukisan yang tergantung di dinding di depanku.
__ADS_1
Jadi, sedalam apa kenangan yang melekat dalam lukisan ini?