
Araz tidak main-main saat mengatakan jika dia ingin merayakan ulang tahunnya di Bandung. Mobil yang dikemudikan laki-laki itu, telah meninggalkan jalanan padat ibu kota dan segera mengambil arah ke jalan tol. Kanya yang duduk di sampingnya masih tak percaya jika laki-laki itu akan bertindak nekat. Bahkan, laki-laki itu tidak mengizinkannya sekadar berganti pakaian, apalagi membasuh diri atau mandi. Padahal, badan Kanya terasa begitu lengket. Seharian ini, ada banyak aktivitas yang dia lakukan dan cukup membuatnya begitu berkeringat.
"Udah, kamu tetap cantik."
Begitu kata Araz ketika Kanya memprotes ulah laki-laki itu saat memintanya untuk membiarkannya mandi lebih dulu. Araz tidak mau dengar dan tetap mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemen Kanya. Alhasil, sepanjang perjalanan mood Kanya tidak juga membaik akibat badan yang terasa begitu lengket.
"Udah dong ngambeknya. Kamu bisa mandi begitu sampai Bandung. Lagian Nya, kamu itu tetap kelihatan cantik sekalipun belum mandi."
Lagi-lagi Araz memuji Kanya cantik dan membuat perempuan itu semakin sebal. Ya, siapa yang tidak mengakui jika Kanya memang terlahir cantik. Namun, bukan itu masalah utamanya. Badannya terasa begitu lengket akibat keringat setelah beraktivitas seharian. Jelas saja hal itu membuat Kanya merasa tidak nyaman. Dia mendambakan mandi air hangat dan berendam dalam bathup demi mengusir lelah di badannya. Setidaknya demi melunturkan keringat yang menempel di tubuhnya.
"Mas Araz sih gitu mulu. Bukan perkara cantik nggak cantiknya, Mas. Lagian nih, masa iya aku ketemu orang tua Mas Araz dengan dandanan dekil gini."
Mendengar ucapan Kanya, Araz tersenyum. Ternyata kekasihnya itu juga memikirkan penampilan demi bertemu dengan orang tuanya. Sementara dia hanya main paksa tanpa memikirkan perasaan perempuan di sampingnya. Meski begitu, alih-alih merasa bersalah, Araz justru senang dengan reaksi Kanya. Itu membuktikan kalau Kanya juga ingin terlihat sempurna di mata kedua orang tuanya. Padahal, Araz yakin baik eomma ataupun ayahnya tidak akan memperhatikan apalagi mengomentari penampilan perempuan itu.
Kalaupun nanti Araz bilang jika Kanya adalah calon ibu dari anak-anaknya, pasti akan disambut gembira oleh sang ibu. Sebab, memang itulah yang diharapkan orang tuanya saat ini dari Araz. Terutama bagi sang ayah. Hanya saja hubungan dingin di antara keduanya membuat sang ayah terkadang gengsi untuk mengakui bila itulah yang dia inginkan. Terlebih Araz selalu memberontak dengan segala keinginan sang ayah.
"Iya, maaf ya. Harusnya aku nggak nunda ngajak kamu pulang ke Bandung hari ini. Harusnya kita berangkat lebih siang begitu aku menerima telepon dari Eomma."
"Salah sendiri cemburu sama berita yang jelas-jelas itu hoaks. Masih aja percaya sama gosip ketimbang pacarnya."
__ADS_1
Araz menelan ludah. Mendengar ucapan Kanya ia merasa tertampar. Betapa bodohnya ia sebab sudah percaya pada gosip murahan yang disebar oleh orang yang jelas merasa iri melihat kekasihnya bahagia.
"Maaf deh, nggak bakal kayak gitu lagi. Yang penting sekarang jangan ngambek lagi dong."
"Tahu ah, badanku masih lengket semua ini. Gimana bisa ngerasa baikan kalau badan aja nggak nyaman, Mas."
"Ya udah kalau gitu aku tambah kecepatan ya. Biar nggak terlalu malam juga kita sampainya."
"Hmmm ... " sahut Kanya tanpa minat. Bahkan, itu yang dia harapkan dari tadi saat mereka sudah memasuki jalan tol.
Sementara di sampingnya, Araz mulai fokus pada jalanan malam yang membentang di depannya. Beruntung keadaan jalan tidak begitu ramai. Jadi, Araz bisa stabil saat mengendarai mobilnya meski dengan kecepatan tinggi.
...***...
Biasanya, jika pergi ke Lembang, tujuan Kanya memang hanya satu. Liburan. Terlebih ketika Jakarta sudah mulai sesak dan dia ingin bernapas sejenak. Dan, kini dia berada di Lembang bukan untuk berlibur, melainkan untuk mengunjungi orang tua Araz. Sepertinya Kanya perlu menekankan hal itu berulang-ulang. Dia akan mengunjungi tempat tinggal orang tua Araz.
Mobil Araz berbelok ke sebuah villa berukuran besar yang terletak paling ujung di puncak bukit. Bangunannya serupa kastil dari zaman Victoria, meski tidak meninggalkan kesan modern. Sebagaimana villa-villa sebelumnya, villa yang berdiri megah di depan Kanya saat ini, tidak memiliki pagar tinggi dan membiarkan pintu utama langsung menyatu dengan halaman depan yang tampak asri. Taman dengan berbagai macam tanaman tertata rapi. Lampu hias pun bersinar dengan cahaya yang pas dan tidak membuat pemandangan di sekitarnya kalah dengan cahaya lampu. Perempuan itu menghela napas. Dadanya mendadak begitu sesak. Terlebih saat mengingat betapa buruknya penampilannya saat ini.
"Santai aja Nya, orang tuaku nggak bakal komentar sama penampilan kamu kok. Lagipula ini salahku. Aku pasti bakal jadi tameng buat kamu," kata Araz sambil mematikan mesin mobil.
__ADS_1
Sebelum Kanya sempat menjawab, Araz tersenyum dan mengecup pipi kekasihnya.
"Tetap aja nggak begini juga 'kan, Mas," kata Kanya sambil memperhatikan kemeja hitam lengan pendek dan celana blue jeans yang menempel lekat di tubuhnya akibat keringat. Sementara rambut perempuan itu tampak lepek.
"Udah, kita masuk dulu. Makan, terus mandi biar seger," ucap Araz. Laki-laki itu membantu Kanya melepaskan sabuk pengaman dan meminta kekasihnya untuk segera turun.
Jujur saja, Kanya enggan untuk beranjak dari tempatnya duduk saat ini. Penampilannya benar-benar membuat perempuan itu tidak percaya diri. Bagaimana bisa dia menemui kedua orang tua Araz dengan penampilan berantakan seperti saat ini. Namun, Araz memaksanya untuk segera keluar dari mobil. Laki-laki itu kini sudah berdiri di samping pintu penumpang dan memintanya turun.
Kanya mengalah. Dengan berat hati, perempuan itu turun dari mobil dan mengikuti langkah Araz masuk ke dalam rumah. Seharusnya, Kanya takjub dengan bangunan yang saat ini ia tapaki. Dari dulu, dia selalu mengagumi bangunan-bangunan indah semacam villa tempat tinggal orang tua Araz. Namun, pikiran warasnya membuat perempuan itu tidak sanggup menikmati pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Kewarasannya mengingatkan dia untuk tetap menjaga penampilan agar terlihat menawan meski dalam keadaan berantakan sekalipun.
Araz menggenggam erat tangan kekasihnya saat memasuki rumah. Ruangan demi ruangan luas yang mereka lewati tampak sepi. Sampai akhirnya mereka tiba di ruang makan yang masih tampak meriah dengan segala jenis makanan terhidang di atas meja. Tidak hanya makanan saja yang terhidang di atas meja, tetapi juga kursi yang melingkari meja makan, juga terlihat meriah. Ada kurang lebih lima orang yang duduk mengelilingi meja dan sama sekali tidak dikenal oleh Kanya. Hal itu membuatnya semakin menciut di balik punggung Araz.
Sementara dari arah dapur seorang wanita setengah baya keluar sambil membawa nampan, tepat saat mereka sampai. Dandanannya begitu elegan dengan setelan baju dari salah satu merek dagang terkenal.
"Omo, Alcatraz," teriak wanita itu membuat orang-orang di meja makan menoleh ke arah mereka. Wanita itu segera meletakkan nampan bawaannya di atas meja dan memeluk Araz yang masih berdiri mematung dengan senyuman canggung. Dan, orang-orang di meja makan tampak riuh mengucapkan selamat datang.
"Eomma, aku pulang," kata Araz lirih dalam pelukan ibunya. Meski begitu tangan laki-laki itu tidak melepaskan genggamannya pada Kanya.
"Omo, siapa perempuan cantik ini?" tanya wanita itu saat menyadari keberadaan Kanya.
__ADS_1
"Dia, pacar Araz. Tapi Araz berharap dia juga mau jadi ibu dari cucu-cucu Eomma nanti."
Mendengar jawaban Araz, meja makan yang semula memang sudah meriah, kini semakin meriah. Satu per satu dari mereka berdiri meninggalkan kursi dan memberikan pelukan pada Araz. Sedangkan Kanya hanya sanggup berdiri kikuk tanpa tahu harus berbuat apa selain mengangguk memperkenalkan diri. Sungguh, rasanya masih begitu aneh berada di tengah-tengah keluarga Araz tanpa persiapan sama sekali.