
Renjana Kanya
Kami baru saja sampai di terminal satu Juanda saat gawai dalam saku celanaku berdering. Aku menggeser bar notifikasi di menu home dan mengecek siapa saja yang mengirimkan pesan. Beberapa dari teman kantor yang menanyakan kapan aku balik. Ada juga narasumber yang mengkonfirmasi ulang jadwal wawancara untuk sebuah topik - terkait ini aku lupa melimpahkan tugasku pada yang lain. Untung mereka yang lebih sibuk dan menggeser waktu untuk bertemu.
Tidak luput Vina dan Deni yang sudah menerorku sejak dua hari lalu. Bertanya kapan aku balik hanya demi menagih pesanan mereka - aneka macam kripik yang menjadi teman ngemil saat deadline memburu. Padahal jatah cutiku dari Mas Hanung masih delapan hari lagi. Jika bukan karena kenangan buruk atau peristiwa yang terjadi melelahkan nurani, aku ingin tinggal lebih lama. Mengunjungi ayah dan bercerita berbagai macam resah.
Mataku mengerjap saat melihat notifikasi pesan. Sebuah nama - di antara chat Vina dengan grup kantor, tertangkap retina. Nama yang mulai jarang muncul sejak aku tak lagi memedulikan semua chat yang dia kirim kepadaku. Kini pesan itu muncul lagi entah membawa kabar buruk atau baik. Namun aku selalu yakin kehadirannya selalu membawa kabar buruk.
Aku menyentuh notifikasi pesan itu yang langsung memunculkan ruang obrolanku dengannya. Tak panjang, tapi juga tidak pendek.
Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi. Setelah itu apa pun keputusanmu, aku akan terima.
Aku menghela napas panjang setelah membaca pesan dari Putra. Sungguh, aku benar-benar ingin menata ulang hatiku yang terluka. Selama dua tahun ini aku hanya membiarkan semuanya tenggelam dalam keterpurukan. Tanpa sedikit pun niat untuk melepaskan diri dari belenggu yang memasungku. Namun ketika aku mencoba untuk menatap masa yang lain, justru ada saja kerikil yang mengganggu di perjalanan.
Apa yang perlu dijelaskan? Kisah kita sudah usai. Aku sudah tahu semua yang terjadi pada malam laknat yang membuatku pergi dari rumah kakek Putra dengan hati hancur. Aku menganggap semuanya sudah selesai dan tak mungkin diperbaiki lagi.
Aldo memandangku yang duduk gelisah di ruang keberangkatan sambil memutar-mutar gawai. Sesekali aku menempelkan ujung gawaiku pada kening. Seolah benda 6.2 inchi itu bisa mentransfer pikiranku pada Putra.
Lelaki itu menepuk lututku pelan dan mengulurkan air mineral dalam tumbler. Senyum menghiasi wajahnya yang sedikit kusut. Mungkin lelah akibat terjebak mancet saat perjalanan. Atau entah apa pun itu. Meski begitu ia tetap mempertahankan senyumnya hingga matanya semakin menyipit.
"Minum dulu biar tenang. Kalau pikiran lagi kacau, kadang apa yang kita lakukan justru nggak sesuai harapan."
Aku membalas senyuman Aldo dan menerima tumbler lelaki itu. Entah kapan dan di mana ia mengisi ulang botol yang isinya sempat tandas tadi.
"Makasih, Mas," ucapku setelah meminum air dari tumbler milik Aldo. Sedikit mengobati gelisah yang menggangguku.
"Sori kalau aku sok tahu, tapi ada kalanya kita harus berani menghadapi kenyataan meski menyakitkan, Nya." Ucapan Aldo barusan membuatku menoleh pada lelaki itu. Senyum masih belum lenyap dari wajahnya yang kusut. "Nggak ada salahnya 'kan lebih berani ambil risiko?"
Aku balas tersenyum menanggapi pernyataan lelaki itu. Mungkin ia memang bersikap sok tahu, tapi entah mengapa membuat sebagian beban dalam hatiku tiba-tiba lebur. Berganti kekuatan untuk menghadapi Putra yang kini justru terasa mengganggu.
__ADS_1
"Apa menurut Mas Aldo seperti itu?" Mendengar aku menyebutnya dengan nama Aldo lagi, membuat lelaki itu gemas dan mencubit pipiku. "Aduh, sakit Mas."
"Biar, salah sendiri masih panggil aku Aldo. Namaku Araz, Kanya. Kalau kamu menganggap Alcatraz terlalu menyeramkan."
Aku tertawa meski pipiku masih terasa perih. Ia tampak sungguh-sungguh saat mencubitku tadi.
"Sori Mas, kadang otak suka bebal kalau udah jadi kebiasaan," godaku semakin membuat Aldo gemas dan ingin mencubitku sekali lagi. Namun aku segera menghindar sebelum tangannya menyentuh pipiku. "Aku telepon teman dulu ya, Mas," kataku pada akhirnya dan menjauh dari Aldo.
Aku menekan nomor Putra di kontak gawaiku. Tak lama setelah nada sambung, terdengar seseorang menyapa dari seberang.
"Halo Kanya."
"Apa lagi yang mau lo jelaskan sih Put? Gue nggak butuh dan tolong jangan pernah ganggu hidup gue lagi."
"Kamu perlu tahu semua yang terjadi."
"Apa? Kenyataan yang mengharuskan gue ngalah sama orang tua gue sendiri karena dia udah keburu hamil? Fakta kalau dia keguguran karena terlalu stres dan membuat mereka semakin tak bisa dipisahkan? Atau kondisi saat ini di mana orang tua gue mengandung calon adik lo? Apa lagi sih yang mau lo jelaskan? Gue udah tahu semuanya, Put."
"Tapi itu nggak menjelaskan gimana perasaanku, Nya."
"Itu bukan urusan gue lagi. Di antara kita udah selesai, Put. Lo nggak bisa menyangkal itu."
"Aku sayang sama kamu, Nya. Dari dulu nggak pernah berubah."
"Dan kita terlalu pengecut untuk melawan arus yang terlalu deras. Biarkan saja gue atau lo tenggelam sekalian. Kita nggak bisa berenang bersama menuju tepi. Karena bagi gue udah nggak ada kita sejak gue memutuskan pergi."
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dari awal."
"Memperbaiki apa lagi? Lo ngerti maksud omongan gue nggak sih?" Nada suaraku makin meninggi.
__ADS_1
Tidak bisakah lelaki itu memahami keadaanku? Atau setidaknya menerima risiko atas pilihannya sendiri. Dulu, dia yang pertama kali membiarkan papanya dan... mama menikah, ketika aku bersikeras menentangnya. Setelah dua tahun berlalu, dia berharap akan mengulang semua dari awal. Sebagai apa? Apa pula yang diharapkan jika hubungan itu akan berakhir sia-sia. Tidak ada masa depan dalam hubungan yang tak jelas ke arah mana tujuannya.
Aku sudah memaksakan bersikap egois hingga dengan lancangnya meminta mereka bercerai setelah menghilang sekian lama. Di malam sebelum aku pergi dua tahun yang lalu pun, aku memohon pada... mama, agar membatalkan pernikahannya dengan Om Eka, tapi dia bilang itu hanya cinta monyet yang akan segera terlupakan. Nyatanya tak semudah itu melupakan waktu delapan tahun yang telah terlewatkan. Apa lagi mematahkan ikatan mereka yang telah dibutakan dengan cinta atau entah apa pun itu orang menyebutnya.
"Kalau lo masih kepikiran untuk menjalankan rencana lo dua tahun lalu, sori Put. Gue nggak bisa. Gue mungkin emang anak yang nggak bisa berbakti, tapi menikahi anak dari suami kedua mama gue bukan tindakan yang benar. Gue punya hati yang rapuh untuk tidak mengacuhkan cemoohan tetangga."
"Kita bisa tinggal sejauh mana pun yang kamu mau, Nya. Kita bisa keluar negeri kalau kamu mau."
"Dan lo yang paling tahu di mana gue selalu ingin tinggal. Gue rasa obrolan kita bukan sesuatu yang penting lagi deh, Put. Jadi tolong, jangan hubungi gue lagi hanya untuk membahas perkara ini atau lo akan benar-benar kehilangan jejak gue."
Tanpa menunggu jawaban Putra, aku mengakhiri sambungan telepon tanpa pamit. Kuhapus air mata yang menggenang di pelupuk mata dan menyimpan gawai dalam saku celana.
Beban dalam hatiku terasa lebih ringan setelah memutuskan berbicara dengan Putra. Aku mantap melangkah meninggalkan masa lalu. Meski tidak tahu sejauh mana aku mampu. Sebab terlalu dalam nama yang terukir dalam hati.
Hufftt...
Aku menghela napas panjang. Setidaknya untuk permulaan, sudah cukup baik menata ulang kepingan hatiku yang telah patah.
Dengan langkah yang lebih ringan, aku kembali ke tempat di mana Aldo duduk diam sambil menatap lalu-lalang orang. Sesaat, aku berharap lelaki itu berkata atau bertanya sesuatu saat aku kembali duduk di sampingnya. Namun selama penerbangan sampai tiba di Jakarta pun ia sama sekali tak bersuara.
Entah apa yang sedang ia susun dalam kepalanya. Aku pun tak mau tahu. Meski dalam hati aku penasaran. Apakah ada dari perkataanku melukai hatinya, selain tentang aku memanggilnya Aldo?
"Makasih ya Mas, udah diantar," kataku saat Aldo mengantarku lebih dulu ke apartemen dengan taksi yang kami tumpangi. Lelaki itu hanya mengangguk.
Aldo memaksa menggunakan taksi yang sama dengan dalih apartemen kami searah. Sedang aku mengiyakan karena penasaran apakah ia akan bersuara selama dalam taksi. Kenyataannya ia mendadak benar-benar jadi pendiam dan hanya berbicara ketika menawarkan pulang bareng.
Satu masalah baru saja berani memutuskan, muncul lagi masalah yang merumitkan pikiran.
Aku ingat kata seorang bijak entah siapa dan dari mana, bahwa masalah akan selalu datang dan pergi silih berganti selama kita masih bernapas. Toh mengapa aku ambil pusing dengan sikap Aldo yang tiba-tiba berubah? Mungkin saja lelaki itu memang lelah atau... ia tak membutuhkanku lagi sebab tujuan utamanya meliput batik gedog sudah selesai. Jika memang kemungkinan terakhir yang terjadi, aku akan menuntut Mas Hanung karena telah menyia-nyiakan waktuku yang berharga. Terbuang percuma hanya demi mengantarnya liputan dan dicampakkan begitu saja.
__ADS_1
Hufftt... kenapa pula gue jadi uring-uringan?