
Renjana Alcatraz
Dari semua kisah cinta, aku paling tidak suka akan hadirnya orang ketiga. Dari masa lalu, maupun masa sekarang. Kurasa banyak yang memiliki sepemahaman denganku. Ya, secara siapa yang ingin hubungan seseorang menjadi hancur, hanya karena hadirnya kenangan, maupun kisah lain yang membuat salah satu atau bahkan keduanya menjadi tidak nyaman.
Begitu pula denganku. Meskipun aku dan Kanya belum terikat status, tapi tetap saja kemunculan Putra membuat kami canggung setelah hampir sejam perempuan itu menangis di mobilku. Itulah yang membuatku semakin tidak nyaman. Aku tak bisa protes pada Kanya dengan kemunculan Putra yang mendadak. Sedangkan aku pun tak berhak punya rasa cemburu jika keduanya... ah, sudahlah.
Dari semua kisah, aku tak akan pernah membiarkan mereka kembali bersama. Apalagi dengan kemunculannya yang tiba-tiba dan mampu mengusir dengan cepat keceriaan di wajah Kanya. Aku lebih tidak suka saat mengetahui fakta jika Putra adalah kakak Kanya. Entah hubungan seperti apa yang sebenarnya menjerat mereka.
Namun yang membuatku merasa semakin janggal, mengapa sikap mereka tak ubahnya sepasang kekasih yang sudah lama berpisah? Bahkan sikap Kanya begitu keras dan semakin kentara jika di masa lalu, mereka pernah menjalani hubungan serius.
Ingin rasanya aku bertanya pada Kanya. Namun perempuan itu masih sesenggukan di sampingku tanpa berniat untuk menceritakan apa pun tentang Putra. Atau mungkin apa yang membuatnya menangis begitu pilu. Aku pun tak berani mengusiknya selain mengelus lembut punggung perempuan itu, yang baru kusadari tampak kurus dari terakhir kali kami bertemu di apartemenku seminggu lalu.
"Sori Mas, harusnya aku nggak nahan Mas Araz di sini begitu lama. Mas Araz bukannya harus berangkat ke kantor?"
"Nggak apa-apa, Nya. Nggak ada agenda penting yang harus kukerjakan pagi ini. Kamu juga belum waktunya masuk kerja kan?"
Kanya menggeleng menanggapi pertanyaanku. Perempuan itu sudah mengganti posisi duduknya dengan menempelkan kepala pada dashboard. Tangisnya lembut, tapi aku masih bisa mendengarnya meski samar.
"Kalau butuh teman berbagi, aku siap menjadi telinga kok. Bukankah aku udah pernah bilang sebelumnya," kataku masih terus mengelus punggung Kanya yang melengkung akibat kepalanya bertumpu tangan pada dashboard.
"Sori Mas, aku cengeng banget ya. Makasih, tapi aku baik-baik aja kok."
"Nggak baik kalau kamu masih nangis sampai kayak gini, Kanya. Mau sarapan sandwich? Aku masih menyimpan beberapa bahan di tempat kamu," tawarku dibalas gelengan oleh Kanya. "Trus, kita mau di sini aja atau..."
"Sukabumi."
"Eh?"
"Aku mau ke Sukabumi," kata Kanya seolah bukan keinginannya sendiri. Melainkan dorongan dari dalam hatinya jika ia ingin melarikan diri.
"Oke, kita berangkat."
"Eh?"
Akhirnya Kanya menegakkan punggung saat aku mulai menarik persneling mobil. Matanya yang sembab mengerjap lucu sambil menatapku bingung. Aku tersenyum. Bahkan sifatnya begitu menggemaskan. Siapa lelaki yang tega membuatnya begitu tersiksa? Bahkan sampai menitikkan air mata.
"Mau ke Sukabumi 'kan? Ya hayuk. Mau ke mana pun juga bakal Abang antar kok, Neng. Tinggal duduk santai aja dan kasih petunjuk Abang harus ke arah mana," candaku berusaha memancing senyum di bibir Kanya. Namun perempuan muda itu justru kebingungan saat mobil mulai berjalan.
__ADS_1
"Eh, eh, nggak gitu maksud aku Mas. Aku cuma asal ngomong aja tadi."
"Sayangnya aku belum bisa bedakan kamu lagi bercanda atau serius, Nya. Ya udah lah, kita jalan aja. Udah terlanjur keluar kan?" tantangku mengulum senyum.
"Tapi aku nggak bawa apa-apa, Mas. Mas Araz 'kan harus kerja juga." Kanya berusaha mengelak. Ia mulai gelisah di kursi penumpang.
Diam-diam aku tersenyum melihatnya. Setidaknya perhatiannya pada sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di lobi apartemen sekitar sejam yang lalu, sudah mulai sedikit teralihkan.
"Kita serius mau ke Sukabumi?"
"Ya iya, kan tadi petunjuknya begitu."
"Mas Araz nggak kerja?"
"Gampang lah itu, bisa diatur."
"Tapi aku beneran nggak bawa apa-apa, Mas."
"Semua Abang yang tanggung, Neng. Udah tenang aja. Kamu hanya perlu diam dan duduk manis. Nikmati perjalanan. Siapa tahu bisa mengusir penat. Iya kan?" candaku sambil menaik-turunkan alis. "Gampang kalau mau bayar Abang mah, Eneng senyum juga udah cukup."
"Ish, apaan sih Mas. Geli tahu."
Biarlah, untuk saat ini aku tak akan mengganggumu berimajinasi tentang dia, Kanya. Namun selepas hari ini, aku pastikan cuma Alcatraz yang akan kamu pikirkan, ucapku dalam hati.
Itu juga sebuah tekad untuk membawa Kanya dalam pelukanku dan menyembuhkan luka, entah separah apa pun keadaannya.
***
Perkebunan teh sejauh mata memandang membuat penat sedikit memudar dari pikiranku. Aku memilih berhenti di sebuah perkampungan di kaki Gunung Gede yang berlatar belakang pemandangan gunung itu. Sementara di kanan-kiri jalan, perkebunan teh tumbuh subur dan menguarkan aroma yang khas bercampur bau tanah basah selepas hujan. Jika melihat pucuk-pucuk daun teh yang masih basah, kemungkinan memang telah turun hujan semalam. Bisa jadi justru sebelum fajar.
Kanya yang duduk di sampingku mengeliat. Ia jatuh tertidur bahkan sebelum keluar dari tol Jagorawi dan membiarkan aku menyetir seorang diri tanpa teman mengobrol. Mungkin aroma pucuk-pucuk teh bercampur tanah basah membangunkan inderanya yang turut tertidur saat ia memejamkan mata. Aku memang sengaja membuka jendela agar udara segar di kaki pegunungan ini menggantikan hawa AC yang mulai membuatku sering pegal-pegal.
"Selamat pagi menjelang siang, Putri Tidur. Bagaimana, sepertinya nyenyak sekali tidur Anda selama perjalanan?" godaku sambil memperhatikan wajah bangun tidur Kanya. "Aku heran deh, kenapa justru jok mobil aku sih yang bisa bikin kamu tidur nyenyak. Coba aja kalau itu aku, bakal lebih nyenyak kali ya tidur kamu."
"Dih, pembahasan ngaco apa itu. Emang aku tidur lagi ya, Mas?" Kanya justru balik bertanya sambil nengerjapkan matanya. Sesekali ia mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu sedang di mana ia sekarang. "Kita beneran di Sukabumi?"
"Yah kamu sih masih bilang pengen ke Sukabumi sebelum kita masuk tol tadi. Jadi ya aku bawa ke sini," jawabku masih memperhatikan wajah Kanya. Merasa kuperhatikan, ia menyisir rambutnya yang acak-acakan dengan jari.
__ADS_1
"Kenapa sih Mas, ada yang aneh dengan wajahku ya?"
"Cantik," ucapku membuat pipi Kanya bersemu merah. Ia mengalihkan pandangan pada Gunung Gede yang masih berselimut kabut di kejauhan. "Apalagi kalau senyum. Kecantikan kamu meningkat seribu kali lipat."
Semburat merah semakin jelas di wajah Kanya. Bahkan ia tak lagi menatapku dan membuang muka ke arah luar jendela mobil. Namun, raut malu-malu itu berubah sendu. Entah apalagi yang begitu cepat menarik rona bahagia - meski sekejap - dari wajah cantiknya.
"Hati itu sedalam palung yang kita bahkan nggak bisa menebak kedalamannya, Mas. Kalau nggak mau jatuh dan terluka, apalagi nggak bisa berenang, jangan coba-coba untuk menyelam. Karena aku nggak mau Mas Araz terjebak di kedalaman palung yang bahkan kita juga nggak tahu apa yang bakal dijumpai di sana," kata Kanya kemudian. Cukup membuatku terkejut dan sempat kehilangan kata-kata.
"Kalau menurutku, hati itu ibarat penjara. Barang siapa yang udah masuk ke dalamnya, nggak akan mudah keluar begitu aja. Bahkan ketika ia dinyatakan tidak bersalah sekalipun. Mana yang lebih menakutkan? Bagiku sama aja, Kanya. Pilihanmu maupun pilihanku, sama-sama menakutkan."
Giliran Kanya yang tercekat mendengar jawabanku. Aku meliriknya dari ekor mataku. Perempuan itu kembali menangis sebelum akhirnya menatapku dengan berurai air mata.
"Kalau gitu kenapa Mas Araz nekat menyelam ke dalam palung atau bahkan bertaruh untuk masuk penjara?"
"Aku udah bilang dari awal sama kamu, Kanya. Ajakanku tempo lalu bukan cuma main-main. Aku nggak bisa mengucapkan kalimat manis saat menyatakan cinta, tapi aku yakin dengan keinginanku untuk menikahi kamu.
Dan aku sungguh-sungguh waktu bilang akan menunggu. Atau tentang kamu agar memikirkan matang-matang ajakanku. Karena aku tahu, hati yang kamu ibaratkan palung itu menyimpan begitu banyak ketakutan yang nggak bisa kamu hadapi sendirian. Termasuk dengan kehadiran dia kan?"
Aku tak tahu apa yang memberiku kekuatan hingga bisa selancar itu mengucapkan perasaanku pada Kanya. Sudah pernah kubilang, aku bukanlah tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Bahkan teman-teman SMA-ku menjulukiku Aldo alias Alcatraz Dodol juga karena ketidakpekaanku terhadap rasa suka seseorang.
Semasa kuliah pun, aku sama sekali tak berminat menjalin sebuah hubungan dengan seorang cewek mana pun. Meski tak dapat kupungkiri, aku mulai banyak mendapatkan pernyataan cinta secara terang-terangan.
Seperti halnya Kanya yang saat ini memiliki ketakutannya sendiri, di masa lalu pun aku memikirkan hal yang sama. Aku takut mengikat hatiku pada orang lain. Sementara aku tak tahu dan terus menebak-nebak berapa lama lagi jantungku mampu memompa darah. Berapa lama lagi kesempatan yang diberikan Tuhan agar aku bisa melewati hari esok tanpa rasa sakit. Kelak, aku pasti akan menceritakannya. Tentang ketakutan menghadapi kematian yang bisa saja datang secara tiba-tiba.
"Aku dan dia memiliki kisah yang cukup rumit Mas," kata Kanya memecahkan kesunyian di antara kami. Aku menoleh ke arahnya. Perempuan itu masih menatapku dengan beruraian air mata.
"Aku bersedia menjadi pendengar yang baik kalau itu yang kamu inginkan," ucapku mencoba tersenyum. Meski aku sudah bisa menebak secara garis besar kisah Kanya dengan Putra, jika tebakanku tak keliru. "Lebih menyakitkan kalau kamu pendam semua sendirian Kanya."
Air mata Kanya lolos tanpa mampu ia kendalikan. Dari bibirnya yang mungil, berlontaran kata-kata yang entah sejak kapan sudah dipendamnya. Ia menceritakan dengan gamblang bagaimana tentang perasaannya pada Putra. Sampai detik ini. Kanya tak sanggup menghapus rasa cinta itu untuk sang mantan kekasih yang justru menjadi kakak tirinya.
Tubuhku pun ikut bergetar. Menahan amarah dan cemburu yang bercampur jadi satu. Namun, mulai detik ini aku ingin menjadikan Kanya milikku. Seutuhnya.
Kurengkuh tubuh gadis itu dalam pelukanku. Aku juga ingin merasakan sakit yang ia rasakan. Sakit yang selama ini tak sanggup ia bagikan dengan orang lain dan hanya menyimpannya dalam dada. Menumpuk menjadikan hatinya semakin terluka.
"Kalau kemunculannya membuat kamu semakin merasakan sakit, maka izinkan aku menyelami seberapa dalam palung yang kamu sebut, Kanya. Biarkan aku melihatnya secara langsung, apa saja yang hidup di kedalamannya. Biar aku juga bisa mengusir sosok-sosok jahat yang membelenggu jiwamu. Kamu pantas bahagia, Kanya," bisikku tak melepaskan pelukan. Tangis Kanya semakin pecah. Bahkan tubuhnya sampai tersengal menahan luka.
"Kenapa Mas Araz, selalu ingetin aku sama Arez? Siapa sebenarnya kalian?"
__ADS_1
Pertanyaan Kanya kali ini benar-benar membuatku kehilangan kata-kata. Aku hanya sanggup membisu dan terus menepuk punggungnya hingga ia merasa lebih baik dan tangisnya mereda.