Pulang

Pulang
Selamat Jalan, Kawan


__ADS_3

Renjana Kanya


"Arez pernah mengalami kecelakaan sebelum masuk kuliah. Akibat benturan yang parah, ada beberapa cidera di otaknya yang berakibat cukup fatal. Meski tidak serta merta dirasakan, tapi efeknya bisa terjadi jangka panjang. Terapi yang ia jalani selama ini hanya mencegah agar nggak terjadi komplikasi yang membuat keadaannya semakin parah."


Suara Araz memecahkan keheningan yang sempat menjeda jarak di antara kami. Sedang tatapanku masih tak teralihkan dari batu nisan yang bertuliskan namanya. Mungkinkah itu sebabnya terkadang ia dulu sering merasakan pusing dan tiba-tiba pingsan? Jika memang iya, bodohnya aku yang percaya ketika ia bilang karena belum makan. Bahkan ia juga sering menghilang pada jam-jam tertentu, dengan alasan mengerjakan tugas kampus. Padahal Damar dan Almira yang satu kampus dengannya - meski beda fakultas - terlihat lebih santai dan banyak waktu luang. Mungkinkah ia menjalani terapi seperti yang dibilang Araz?


Damar, mungkinkah dia mengetahui sesuatu tentang Arez? Tentang fakta bahwa Arez pernah mengalami kecelakaan yang membuat kondisinya tidak sehat. Mereka memang teman satu kampus yang bertemu secara tak sengaja dan menjadi akrab. Awalnya, Arez memiliki cewek satu fakultas dengan Almira. Hanya saja mereka beda jurusan. Mereka sama-sama sedang menunggu di taman fakultas dan terlibat obrolan. Hingga berakhir dengan ajakan tinggal bareng, sebab Damar merasa tak enak hati akibat tinggal bersama dua perempuan dalam satu rumah. Sesekali mereka juga jalan berdua saat kondisi Arez sedang tidak baik. Mungkinkah saat itu Arez meminta Damar untuk mengantarnya ke rumah sakit?


Heh, mengapa semua rangkaian peristiwa baru gue pahami setelah Arez kembali pada bumi?


"Sampai akhir dia terus berjuang untuk bisa sembuh, Nya. Dia ingin mendaki lebih banyak gunung lagi dan bukannya cuma ke Gede aja. Terkadang ia malu, sering nongkrong sama teman-teman Mapala di kampusnya, tapi justru yang paling jarang naik gunung kalau nggak ke Gede sama kamu. Itu pun pasti membuat badannya kembali lemah akibat aktivitas fisik yang berlebihan, tapi dia selalu cerita dengan bangga setelah kalian menghabiskan waktu berdua."


"Jadi selama dia naik gunung, dia menahan sakit, tapi memaksakan diri? Kalau kayak gitu kenyataannya kenapa lo nggak bilang sama gue sih, Rez? Kenapa lo bisa begitu tega sama gue? Jadi apa maksud semua kedekatan kita selama ini? Bukannya kita teman akrab? Bisa-bisanya lo sembunyikan semua dari gue. Heh, bukan. Mungkin gue yang bebal karna nggak pernah kasih lo kesempatan. Ini salah gue yang..."


Tangan lembut Araz meremas pundakku. Ia berbisik dengan suara serak. Menahan tangis.


"Kamu nggak salah, Kanya. Dia nggak pernah nyalahin kamu. Arez yang memilih untuk merahasiakannya, Kanya. Bukannya karna nggak percaya sama kamu, tapi dia yang nggak mau dipandang kasihan sama orang lain. Sekalipun kamu memaksa, dia juga nggak akan bilang. Dia nggak mau kalau akhirnya cuma bikin kamu khawatir."


"Pada kenyataanya ini justru menyakitkan, Mas."


Araz merengkuhku dalam pelukannya. Membiarkanku menangis dan membasahi lengan kemeja yang ia kenakan. Tanpa bicara, Araz menepuk punggungku dengan lembut. Berbagi kekuatan dalam diam.


"Karena dia mau mengukir kenangan yang menyenangkan sama kamu, Nya. Arez yang lebih tahu kondisi tubuhnya. Selama ia masih mampu bertahan, ia bakal terus maju sampai puncak kelelahan fisiknya. Buktinya, selama pendakian dia sama sekali nggak pernah merasa sakit 'kan? Karena yang paling penting adalah hatinya yang bahagia, juga kemauan tekadnya yang kuat."


"Tapi teman macam apa yang cuma bisa nyusahin, Mas. Bahkan saat dia ngerasa sakit. Teman apa yang cuma bisa menghindar ketika ia membicarakan tentang kematian dan ingin didengar. Aku justru menyuruhnya diam. Aku justru minta dia nggak berangan-angan tentang maut. Padahal dia yang merasakan bagaimana kematian itu begitu dekat dengannya."


"Siapa bilang, kamu udah bantu dia bertahan, Kanya. Kamu yang kasih dia semangat untuk menjalani terapi yang melelahkan. Sampai maut benar-benar kasih dia kesempatan untuk berhenti bernapas. Kamu udah bantu dia dengan caranya sendiri. Kamu inget, perjalanan terakhir kalian ke Gede, Lembah Mandalawangi?"


"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.


Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

__ADS_1


Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.


Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.


Atau tentang bunga-bunga di lembah mendala wangi.


Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.


Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.


Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.


Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.


Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu..." *


Suara yang purba itu tiba-tiba terdengar di kepalaku. Pada kesekian kali kami mendaki Gede-Pangrango (juga menjadi perjalanan terakhir petualangan kami), kami bersimpuh di lembah Mandalawangi yang lebat ditumbuhi bunga edelweis. Saat itu kami bergabung dengan kegiatan Mapala Arnyacala yang sedang mendiklat anggota baru. Sedangkan kami menyusup sebagai anggota gelap atas persetujuan sang ketua yang juga teman satu jurusan Arez.


Lelaki itu membutuhkan cukup banyak waktu untuk beristirahat. Setelah berpura-pura semua baik-baik saja. Jika bukan Agung - sang ketua Arnyacala - yang memintannya berhenti ditemani seorang anggota yang lain, Arez tetap memaksa melanjutkan perjalanan. Padahal tubuhnya sudah berkeringat dingin.


"Nya, lo pernah bayangin nggak sih, bakal mati sebelum berguna?"


"Kenapa kita lagi-lagi bahas mati sih?"


"Hahaha... terkadang kita perlu bahas kematian biar nggak kaget kalau mendadak kehilangan."


"Gue nggak suka ah, lo bahas kayak gitu. Kita ke sini mau refreshing ya, Rez. Jangan tambahin beban sama pembahasan berat dong."


Arez hanya tertawa saja waktu itu. Tanpa pernah kusadari jika ia mencoba berpamitan dengan cara benar. Namun apakah benar begitu? Nyatanya ia sama sekali tak pernah berbagi keluh tentang sakitnya denganku? Atau sesungguhnya kami tak sedekat itu? Namun mengapa sekarang Araz justru memintaku mengingat-ingat peristiwa yang terjadi lebih dari empat tahun yang lalu.


"Kenapa Mas Araz minta aku inget-inget kajadian itu?"

__ADS_1


"Dia ingin berbagi apa pun dengan kamu Kanya, tapi dia selalu dibayangin ketakutan, "bagaimana jika aku mati?", "bagaimana jika kepergianku menyisakan duka mendalam buat, Kanya?", dan masih begitu banyak pertanyaan lain yang menghantui. Namun satu hal yang pasti, saat itu Arez hampir menyerah dengan kondisinya. Itu sebabnya ia sampai kelelahan, tapi begitu ia kembali, ia menemukan semangatnya yang hampir padam. Kamu tahu apa penyebabnya? Karena sampai akhir Kanya, dia ingin selalu dekat sama kamu. Sebagai apa pun itu, selama masih tetap berada di sampingmu."


"Selama itu aku menganggapnya teman yang spesial dan nggak pernah mengiyakan ajakannya berpacaran."


"Itulah sebabnya ia ingin menjadi apa pun, asalkan tetap dekat dengan kamu. Aku rasa kamu pernah dengar alasan dia mendonorkan organ dalamnya 'kan?"


"Dia ingin mati menjadi berguna, karna ngerasa belum ngasih manfaat apa pun pada kehidupan," kataku ragu-ragu. Sebab waktu itu, aku hanya menganggapnya sebagai candaan.


"Ya, mungkin itu alasan yang terdengar klise, tapi sebenarnya Kanya, dia hanya ingin selalu dekat dengan kamu. Lewat bagian tubuhnya yang berada di dalam tubuh orang lain. Dengan atau tanpa kamu sadari jika ada bagian dari Arez yang melekat pada orang itu. Bukankah dia juga memberiku kehidupan yang akhirnya mempertemukan kita?"


Araz melepaskan pelukannya dan menatap wajahku dengan lembut. Dihapusnya air mata yang membasahi pipiku. Garis lengkung yang membuat ujung matanya berkerut, tercetak di wajah lelaki itu.


"Kamu memiliki cinta luar biasa dari Arez, yang kini juga kurasakan, Kanya. Semua yang terjadi pada Arez bukanlah kesalahan kamu. Biarkan dia pergi dengan menjadi berguna. Jangan menangis, kamu cantik kalau sedang tersenyum."


"Tapi..."


Mulutku terkunci oleh bibir Araz. Lelaki itu mengecup lembut bibirku, sebelum membawaku dalam pelukannya.


"Ayo, Bunda sama Ayah udah lama nunggu. Kita bisa ke sini lagi kapan pun kamu mau. Ya?"


Aku mengangguk menerima ajakan Araz. Lelaki itu tersenyum sebelum mengajakku kembali ke tempat ayah dan bunda menunggu.


Kupandangi sekali lagi nisan berukir nama Arez. Meski sesak masih menghimpit, setidaknya aku sudah bisa bernapas lega. Kuhapus sisa air mata di pipi sebelum pergi. Bolehkah aku pura-pura tersenyum sedikit saja? Sebab Arez bilang aku terlihat cantik jika sedang tersenyum. Maka ketika ia melihatku dari atas sana, lelaki itu ikut tersenyum bahagia.


"Selamat jalan, kawan. Sekali lagi makasih buat waktu yang pernah kita lalui. Makasih juga karna lo udah kasih pengganti lo, meski gue masih utang maaf sama lo. Kita ketemu di Lembah Mandalawangi ya? Pada suatu masa yang kita sepakati."


"...aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan


dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru." **


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


* Potongan sajak Soe Hok Gie dalam buku Catatan Sang Demonstran halaman 341


** Potongan puisi Soe Hok Gie "Sebuah Tanya" dalam buku Catatan Sang Demonstran halaman 214


__ADS_2