Pulang

Pulang
Memungut Kenangan


__ADS_3

Renjana Alcatraz


"Bawa baju ganti ya. Kita nggak mungkin langsung pulang," titahku pada Kanya yang masih duduk di kursi ruang makan setelah menantangku.


Demi menghindari tatapan matanya, aku memilih membersihkan meja dan menaruh peralatan makan di tempat cuci piring. Perempuan itu masih duduk di tempatnya. Menatap punggungku yang entah mengapa terasa menghunus.


"Memang di mana Arez, kenapa harus nginep?" tanya Kanya tanpa bergerak dari tempat duduknya.


Aku tahu ia sedang mengintrogasiku dari nada suaranya. Sebab entah pikiran buruk apa yang menguasai Kanya saat menilai hubunganku dengan Arez. Mungkin aku dianggap penculik Arez atau entah apa pun itu.


"Kamu akan tahu Kanya. Kalau kamu mau percaya sama aku."


"Mas Araz ngilang kemarin bukan untuk menghilangkan bukti kan?"


Aku menghela napas panjang. Apalagi kali ini? Bukti apa yang dimaksud Kanya? Apa Kanya berpikiran lebih buruk dari sekadar penculikan?


"Kamu nggak mikir aku udah bunuh Arez 'kan?" tanyaku saat pikiran itu melintas begitu saja. Aku menoleh ke arah Kanya yang masih menatapku tajam.


"Tergantung sejauh mana Mas Araz bisa dipercaya. Nggak ada yang tahu 'kan apa yang sudah Mas Araz rencanakan. Aku nggak mau terjebak gitu aja."


Jantungku terasa nyeri. Bagaimana bisa urusannya menjadi rumit seperti ini? Aku hanya menuruti yang perempuan itu mau, tapi justru permasalahannya berkembang menjadi rumit. Apa yang membuat Kanya begitu curiga padaku? Apa ada ucapanku yang layak dicurigai sebagai pembunuh?


Huft... seandainya situasi buruk ini tak pernah terjadi.


"Kanya, inilah kenapa aku takut kamu membenciku jika kuceritakan tentang Arez. Kamu bahkan belum dengar ceritanya, tapi kamu udah menyulut kebencian kamu buat aku," kataku frustrasi. Aku benar-benar tak bisa memahami jalan pikiran Kanya.


"Ya udah, Mas Araz tinggal cerita di sini aja 'kan."


"Nggak bisa."


"Itu semakin jelas nunjukin kalau Mas Araz udah merencanakan sesuatu."


Kupejamkan mata demi meredam amarah yang diam-diam menguasai hatiku. Pembicaraan ini semakin bias ujungnya. "Kalau aku memang berencana jahat sama kamu, selalu ada banyak kesempatan untuk melukai kamu Kanya. Bukan hanya saat ini."


"Itu karena momennya yang tepat. Siapa tahu niat itu muncul saat aku tahu kalau emang ada sesuatu yang nggak beres antara kamu sama Arez."


"Kanya plis, aku nggak tahu darimana kamu punya pikiran aku ngebunuh Arez atau apa pun itu yang ada dalam kepala kamu. Tapi aku perlu kamu tahu secara langsung dari orang yang bersangkutan."


"Jadi Arez masih hidup?"

__ADS_1


"Kamu akan lihat jika mau ikut denganku."


***


Mobil yang kukendarai hampir tiga jam mulai melambat di Jalan Tamansari, Bandung. Di sampingku, Kanya sama sekali tidak tidur selama perjalanan. Ia juga tak bicara dan hanya menatap keluar jendela. Perjalanan yang membosankan. Untung Tuhan berbaik hati dengan menurunkan hujan. Jika tidak, aku tak tahu apakah sanggup melanjutkan perjalanan.


Seorang perempuan setengah baya membuka pintu gerbang saat kami sampai. Wajahnya terlihat khawatir saat tahu aku mengendarai sendiri mobilku. Ia bahkan mengomel dan segera menyelimutiku dengan selimut hangat.


"Aku mengajak dia, Bun."


"Kanya?"


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Sosok perempuan yang kupanggil bunda, segera memanggil lelaki yang tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa payung.


"Araz mengajak Kanya, Ayah. Sudah kamu masuk dulu sama Ayah. Biar Bunda yang ajak Kanya masuk. Kamu itu bandel sekali sih. Baru sembuh udah nyetir segini jauh."


"Maaf Bunda, dia maksa mau ketemu Arez."


"Ya, cepat atau lambat dia memang harus tahu Nak. Kamu cepatlah masuk."


Sedetik aku bisa melihat wajah perempuan setengah baya itu berubah mendung. Meski begitu ia tetap tersenyum dan mengelus punggungku. Lalu mendorong tubuhku pelan pada ayah yang sudah menunggu memayungiku agar terhindar dari hujan.


Aku hanya tersenyum menanggapi omelan ayah. Hari belum lewat tengah siang, tapi hujan menandakan tak akan segera reda. Apalagi sesekali petir dan guntur saling berbagi panggung atas perintah alam. Sedangkan aku sudah mendapatkan omelan berulang-ulang.


Aku menyandarkan kepalaku di punggung sofa ruang tamu. Tubuhku terasa lelah. Sejenak aku menghirup aroma cemara dari pengharum ruangan. Membuat otot kepalaku yang tegang berangsur mulai rileks. Ruangan ini pun masih hangat seperti dulu. Membangkitkan kenangan yang telah lalu. Tentang pulang, tentang rumah yang membuatku merasa nyaman.


Tak lama, bunda masuk ke ruang tengah sambil menuntun Kanya yang tampak kikuk. Perempuan itu seperti merekam atau mungkin menerka-nerka hiasan dinding rumah yang lebih banyak memajang foto Arez. Tentu saja.


Saat mata kami bertemu ia hanya menunduk. Menatap ujung kakinya yang bergerak gelisah. Sementara bunda memintanya duduk bersamaku. Perempuan setengah baya itu lantas menyusul ayah ke dapur.


"Apa kamu masih curiga sama aku? Ah ya, kalau kamu penasaran tentang Arez, kamu bisa tanya Ayah sama Bunda. Mereka pasti akan senang menceritakan tentang Arez. Dia memang anak laki-laki kebanggaan Ayah sama Bunda," ucapku sambil memandangi foto keluarga yang tergantung di ruangan itu.


Aku ikut mengembangkan sudut bibirku saat memandang senyum Arez yang tertangkap ketika momen itu diabadikan. Hanung yang memotretnya. Lima tahun yang lalu.


"Tapi kenapa foto Mas Araz cuma sedikit?"


Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan Kanya. Kuamati wajahnya yang menunjukkan ekspresi yang tidak bisa terbaca.


Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Kanya, bunda keluar sambil membawa nampan berisi coklat panas dan sepiring cookies yang terlihat baru turun dari oven. Harum coklat panas dan cookies mengaduk perutku hingga merasa lapar. Masakan perempuan itu memang selalu menggugah selera. Walaupun hanya segelas coklat panas pendamping cookies.

__ADS_1


Bunda ikut duduk bersama kami. Perempuan itu tak henti-hentinya memuji kecantikan Kanya. Bahkan tanpa canggung meraih tangan Kanya dan meletakkannya di pangkuan perempuan setengah baya itu. Seperti memperlakukan anaknya sendiri. Meski terlihat kikuk, Kanya tampak menikmati perlakuan hangat bunda.


"Lebih cantik dari fotonya. Pantas kalau Araz langsung jatuh cinta begitu lihat kamu, Nya," puji Bunda bukan hanya membuat Kanya tersipu, melainkan aku juga malu mendengar ungkapan ibu keduaku itu.


"Kan Bunda yang bilang kita nggak bisa milih bakal jatuh cinta sama siapa. Kalau ternyata Kanya memang cantik, ya itu bonus buat Araz."


"Ayah sudah bersihkan kamar Arez, Kanya bisa pakai buat istirahat. Kalian nggak bermaksud langsung balik 'kan?" tanya Ayah sambil menatapku dengan pandangan menelisik. Aku tahu lelaki itu melindungiku dengan over protektif jika menyangkut kesehatanku.


"Nggak Ayah, kita malam ini menginap di sini kok," kataku melirik Kanya.


Aku memang tidak bilang jika akan menginap di sini. Hanya mengatakan jika akan bermalam di Bandung hari ini dan balik ke Jakarta besok. Semoga saja dia tidak keberatan dan memaksa mencari tempat lain untuk menginap.


"Baguslah, Bunda sama Ayah jadi bisa ngobrol santai sama kalian."


"Minum dulu coklatnya biar badan kalian hangat. Bunda baru bikin cookies juga sebelum kalian sampai."


Kanya tersenyum menanggapi permintaan Bunda. Namun pertanyaan perempuan itu selanjutnya membuat kami terdiam cukup lama. Kehilangan kata-kata.


"Ehm, maaf, tapi kalau boleh tahu di mana Arez sekarang?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ehmm... jadi begini, terkait kebijakan baru MT/NT (bisa dibaca di Novel Corner milik MangaToon/NovelToon) author mohon dukungan pembaca dengan meninggalkan like, comment, serta vote star demi meningkatkan performa novel "Pulang". Dukungan kalian sungguh berarti bagi para author untuk terus berkarya di platform ini.


Makasih juga buat yang selama ini udah dukung author sampai bisa bertahan di titik ini.


Jangan lupa baca karya yang lainnya juga ya. 😘😘



Altar Dandelion


Midori High School


Oneiroi


Felis Demon's


__ADS_1


__ADS_2