
Kanya tak sanggup berkata-kata. Berada di bandara Incheon sama sekali bukanlah impiannya.
Ia memang cukup menyukai budaya dari Negeri Ginseng tersebut. Terutama penulis favoritnya. Sebut saja Han Kang atau mungkin Kim Ji-Young. Kedua penulis itu sangat ia gemari dan menjadi bahan tugas akhirnya ketika masih kuliah dulu.
Terlebih, tema yang diangkat oleh keduanya merupakan topik yang juga menjadi fokus
Perempuan itu juga menonton drama ataupun film yang direkomendasikan oleh teman sekantornya dulu. Namun, ia sama sekali tidak memiliki angan untuk pergi ke Korea.
Meski begitu, di sinilah Kanya sekarang. Baru saja landing setelah menempuh perjalanan selama lebih dari tujuh jam.
"Capek?" Araz yang berdiri di samping perempuan itu bertanya dengan suara lembut.
Senyum Kanya mengembang.
"Lumayan, ini pertama kalinya aku terbang lebih dari tujuh jam sebenarnya. Tapi, terbalas begitu sampai sini." Bulan sabit yang membingkai wajah Kanya semakin rekah.
Begitu juga dengan Araz. Lelaki itu memang tak banyak bicara, tapi sepasang netra itu mengungkapkan banyak hal pada Kanya. Bahwa betapa ia beruntung mereka berada di tempat ini sekarang.
"Kita ke hotel dulu. Baru setelahnya, kita menemui si pria tua itu."
"Mas, nggak boleh ngomong gitu ke orang tua. Gimana pun dia tetap kakek Mas Araz." Kanya mengingatkan Araz yang tampak sebal setiap kali berkaitan dengan sang kakek.
"Ck, itu karena kamu belum tahu saja bagaimana pria tua itu." Araz makin tampak kesal. Ia bahkan memanyunkan mulutnya karena Kanya membela sang kakek.
Gadis itu tertawa. "Sumpah, Mas Araz sama sekali nggak cocok cemberut gitu!"
"Huft, padahal aku juga pengen bersikap manja."
"Haha ... please, Mas. Itu sama sekali nggak cocok."
Senyum Araz mengembang mendengar tawa renyah Kanya. Lelaki itu menepuk pucuk kepala Kanya dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Untunglah kalau kamu bisa ketawa."
Kanya seketika terbungkam. Ia menatap intens lelaki di hadapannya.
"Eh," komentarnya singkat. Tanpa sanggup melanjutkan berkata-kata.
***
Mereka memutuskan untuk beristirahat begitu sampai hotel. Akibat kesalahan yang tak sengaja, mereka terpaksa menggunakan satu kamar untuk berdua. Setelah membagi wilayah kekuasaan, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.
"Maaf, aku nggak sangka kalau bakal kacau gini. Padahal aku udah minta buat pesankan dua kamar." Araz tampak menyesal.
Meski canggung, Kanya memaksakan tersenyum. Ia tak keberatan jika harus berbagi kamar dengan Araz. Hanya saja, perempuan itu masih belum terbiasa.
"Hehe ... nggak apa-apa, Mas. Lagian kamar ini cukup luas. Kalaupun tinggal sendiri, pasti juga bakal pikir dua kali," ucap Kanya mencari alasan.
Araz hanya sanggup membalasnya dengan senyuman. Merasa tak enak karena tak sesuai rencana.
"Haha ... Mas Araz nggak usah khawatir. Kalau gitu, aku mandi dulu!" Perempuan itu menghindari suasana tak nyaman di antara mereka.
Setelah mengambil baju ganti dan perlengkapannya, ia bergegas masuk ke kamar mandi. Menyibukkan diri agar tak segera bertemu dengan Araz.
Ketika merasa siap dan lebih segar, barulah ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan berdebar.
"Hai, Nya. Aku udah hubungi sekretaris, Kakek. Sepertinya kita nggak bisa bertemu dengannya hari ini karena harus menghadiri pertemuan penting di Pulau Jeju. Mungkin, besok dia baru pulang."
Araz memberikan penjelasan ketika Kanya baru saja selesai mandi untuk menghilangkan rasa lelah setelah melewati tujuh jam lebih penerbangan.
"Oh, ya udah. Nggak masalah sih. Kita bisa santai sebentar sebelum ketemu sama Kakek, Mas Araz."
"Padahal aku berencana segera bertemu dengan pria tua itu dan menyelesaikan masalah ini." Araz mendengus kesal dan melemparkan ponselnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Perempuan itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan sang kekasih.
"Kenapa mesti buru-buru sih, Mas? Nggak apa-apa. Santai aja. Lagian kita udah ngambil cuti terus datang jauh-jauh sampai ke sini. Kenapa nggak dimanfaatin sekalian sih buat liburan."
Araz tampak tertarik dengan ungkapan Kanya. Sepertinya ide yang diucapkan perempuan itu masuk akal juga. Padahal, niat awal Araz hanyalah ingin menemui sang kakek segera dan meminta persetujuan pria tua itu merestui hubungannya dengan Kanya.
"Boleh. Kayaknya itu bukan ide yang buruk. Jadi, mau ke mana kita?"
Kanya tampak berpikir. Lantas mengambil ponsel yang sebelumnya tergeletak di atas nakas. Ia membuka perambah dan berselancar di internet tak lama kemudian.
Perempuan itu berseru antusias ketika menemukan hal menarik di dekat hotel mereka tinggal.
"Mas, ada food court di dekat sini. Mau coba nggak?"
Lelaki itu tampak menimbang sesaat sebelum akhirnya memutuskan.
"Boleh, kayaknya seru."
"Kalau gitu, kita ke sana sekarang!"
"Oke. Aku ganti baju dulu."
"Aku juga bakal ganti baju dulu."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Kanya bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai dan nyaman.
"Let's go!" seru perempuan itu disambut senyuman oleh Araz.
"Yuk."
Dengan senyum mengembang, keduanya keluar dari kamar.
__ADS_1