Pulang

Pulang
Amarah


__ADS_3

Renjana Putra


Belum ada pukul 07.00 pagi saat Putra menyetir mobilnya ke arah apartemen Kanya. Setelah obrolannya semalam dengan Arlan, lelaki itu memiliki beribu rencana untuk menghadapi mantan kekasih yang justru menjadi saudara tirinya saat ini.


Pertama, ia harus meminta maaf sekali lagi pada Kanya. Jika perempuan itu bersikeras menghindarinya, maka ia akan menunggu sampai Kanya mau memaafkannya tulus dari hati. Tidak perlu terburu-buru. Mungkin benar juga kata Noah, Kanya perlu waktu untuk menyembuhkan sakit hatinya, seperti yang ia lakukan selama ini untuk dirinya sendiri.


Kedua, ketiga, keempat dan seterusnya... Putra sudah merencanakan apa yang akan ia lakukan. Hanya saja, sekali lagi, ia tak perlu terburu-buru. Masih banyak waktu untuk memperbaiki segala sesuatu. Sebab pada dasarnya Putra percaya jika jauh di lubuk hati Kanya, selalu ada tempat untuknya. Sebagai wujud bahagia mungkin juga luka.


Mobil yang dikendarai Putra memasuki kawasan apartemen Kanya. Tempatnya jauh dari wilayah banjir yang selama beberapa hari ini menggenang Daerah Khusus Ibukota yang telah resmi dipindahkan ke Borneo. Hal ini memudahkan Putra yang tak perlu repot-repot terjebak macet dan banjir sekaligus. Terutama di jam padat seperti saat ini. Putra bisa dengan santai mengendarai mobilnya meski terkadang harus berhenti akibat macet yang tak bisa dihindarkan. Itu pun hanya beberapa menit saja. Hingga Honda Civic keluaran seri terbaru itu, memasuki gedung apartemen Kanya.


Sebenarnya Putra sudah tahu secara lengkap sampai di unit berapa Kanya tinggal. Hanya saja, ia tak sanggup untuk mengetuk pintu apartemen Kanya dan hanya menunggu saja di lobi. Berharap gadis itu akan turun tak lama kemudian.


Benar saja, saat menunggu Kanya di lobi apartemen, Putra menangkap bayangan perempuan itu keluar dari lift. Bersama seorang lelaki yang beberapa waktu lalu pernah menonjoknya. Mengetahui kedekatan dua orang itu, entah mengapa membuat Putra merasa tidak terima. Ia menghampiri mereka dan menarik tangan Kanya hingga menjauh.


"Putra, ngapain lo di sini? Dari mana lo tahu kalau gue tinggal di sini?" tanya Kanya dengan amarah yang tak sanggup ditahan. Sesuai dugaan Putra.


Wajah perempuan itu seketika berubah jengkel saat menyadari Putra lah yang sudah menarik tangannya. Amarah terpahat jelas di wajahnya yang ayu. Sedangkan Putra sudah terlanjur cemburu melihat Kanya jalan dengan lelaki lain. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika tidak akan membuat Kanya merasa tidak nyaman atau pun memaksakan perempuan itu untuk menerima kehadirannya.


"Nggak penting gue tahu lo tinggal di sini dari siapa, tapi apa-apaan ini? Lo bahkan udah tinggal seatap sama lelaki itu?"


Sungguh, Putra tak menyangka jika pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Lelaki itu sudah berusaha sebisa mungkin agar tak mengeluarkan kalimat yang justru membuat Kanya semakin menjauh. Yang ada, ia telah melukai perasaan Kanya bahkan belum ada 10 menit mereka bertemu.


"Kalau iya lo mau apa? Gue tanya sekarang, apa urusannya sama lo, gue mau tinggal di mana dan sama siapa? Apa peduli lo?"


"Jelas gue peduli sama lo! Karena lo..."


"Apa, gue apa?"


"Karena kamu adik aku. Aku juga punya tanggung jawab atas pergaulan dan keselamatan kamu, Kanya. Mulai sekarang," suara Putra mulai merendah saat mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Putra menyadari jika ia telah keliru. Tujuannya bertemu Kanya bukan untuk menambahkan luka, tapi meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia lakukan. Namun justru lagi-lagi, Putra telah melukai perasaan perempuan itu. Perempuan yang ingin ia jaga sepenuhnya, meski bukan sebagai kekasih hati.


"Sayangnya, gue nggak butuh kakak kayak lo. Gue udah cukup bahagia hidup tanpa orang tua, apalagi saudara," tegas Kanya sebelum pergi meninggalkan Putra.


Lelaki itu hanya terpaku. Ia tidak menyesal dengan membiarkan Kanya pergi. Masih ada waktu lain kali untuk berbicara dengan perempuan itu dari hati ke hati. Kapan pun itu, Putra sudah berjanji akan menunggu. Sampai luka dalam hati Kanya benar-benar sembuh oleh waktu.


***


"Lesu amat, abis dari mana lo?" tanya Arlan saat Putra baru saja datang dengan wajah kusut.


Arlan sedang melakukan gerakan-gerakan peregangan di bawah sinar matahari ketika melihat temannya itu datang. Dibanding lainnya, cuma keyboardist Nada Sumbang yang sering berolahraga meski hanya gerakan ringan. Sedangkan Putra secara rutin lari pagi setiap hari. Namun hari ini, lagi-lagi ia melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa mendekati Kanya bukan lah perkara yang mudah.


"Berantem lagi gue sama Kanya. Heran sendiri kadang gue tuh. Rencana yang gue anggap bakal berhasil, selalu bertolak belakang hasilnya sama kenyataan. Menyebalkan sekali kan."


"Ya sabar, lo sendiri kan yang bilang mau mulai pelan-pelan lagi dari awal."


"Salah gue sendiri sih, dateng-dateng langsung marah. Coba aja ngajak dia ke coffee shop, duduk sambil sarapan kan belum tentu bakal kayak gini kejadiannya."


Putra membuang napas menanggapi pertanyaan Arlan. Ingin rasanya ia menekan perasaan yang bergejolak dalam dada. Ingin ia menyangkal perasaan cemburu yang tiba-tiba menghantam, tapi memang itu lah kenyataan yang dirasakan Putra saat melihat Kanya bersama lelaki lain. Lelaki yang pernah meninggalkan lebam di wajahnya.


Ya, Putra mengakui jika ia memang pantas dipukul. Bagaimanapun sikapnya pada Kanya saat itu keterlaluan. Tidak selayaknya seorang lelaki. Apalagi sampai bersikap kasar pada perempuan. Namun jika ia boleh membela, itu ia lakukan karena cemburu.


Heh, cemburu. Lelaki itu tersenyum sinis saat lagi-lagi cemburu menjadi alasannya tak bisa mengendalikan diri. Menyusul pertanyaan yang selama perjalanan kembali ke basecamp menganggu pikirannya. Apakah memang ia masih layak untuk cemburu? Siapa dia berhak merasa cemburu saat melihat Kanya jalan dengan lelaki lain? Bukankah itu juga yang diharapkan? Melihat Kanya bahagia dan menerima kenyataan jika status mereka kini terikat sebagai saudara tiri.


"Woi, masih pagi ini. Udah bengong aja lo kayak sapi ompong," gertak Arlan mengagetkan Putra.


"Sori, lagi kepikiran..."


"Kanya kan? Makanya gue tanya, kenapa lo pagi-pagi udah nggak bisa nahan emosi?"

__ADS_1


"Gue nggak bisa terima dia jalan bareng cowok lain."


"Astaga, gue tebak, dia orang yang sama yang udah nonjok lo beberapa waktu lalu. Iya?"


Putra mengangguk lemah. Sementara Arlan hanya geleng-geleng sambil terus melakukan pemanasan. Terkadang ia heran dengan sikap temannya yang satu ini. Putra bisa dengan mudahnya tersulut emosi jika itu berkaitan dengan Kanya. Padahal lelaki itu sendiri yang baru tadi malam bilang padanya jika ia akan menerima fakta bahwa Kanya sekarang adalah adik tirinya. Putra juga bilang jika ia tak ingin seorang adik lainnya yang masih dalam kandungan mama Kanya, juga mengalami hal yang pernah ia alami. Namun terkadang keinginan selalu bertolak belakang dengan kenyataan. Dan itu lah yang sering terjadi pada Putra jika berkaitan dengan Kanya.


"Udah, pelan-pelan Put. Selesaikan satu-satu, nggak usah terburu-buru. Yakin aja usaha lo udah yang terbaik. Gimanapun hasilnya nanti, itu udah bukan tentang lo, tapi tentang Kanya. Mau nggak dia berdamai dengan rasa sakitnya, mau nggak dia memaafkan dirinya sendiri yang udah begitu keras hadapin masalah kalian, atau mau nggak dia nerima kenyataan kalo masalah ini mendewasakan. Percaya gue, nggak ada masalah yang nggak ada solusinya Put. Kalau lo udah usaha, ya udah tinggal tunggu hasilnya gimana," kata Arlan panjang lebar. Sedangkan Putra semakin bengong menatapnya. "Kenapa lagi?"


"Gue nggak tahu kalau ternyata lo bisa sok bijaksana sampai segitunya," jawab Putra membuat Arlan refleks melempar handuk kecil yang melingkar di lehernya. "Ish, jorok banget sih lo!"


Melihat tingkah Putra yang mencak-mencak sambil masuk ke dalam rumah, membuat Arlan tertawa. Tak lama, ia kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hei, author Yoru menyapa. 😊


Jadi, bagaimana kisah Kanya, Putra dan Araz sampai sejauh ini menurut kalian?


Ada yang buru-buru baca setiap kali ada notif up nggak sih? Penasaran 😁


Yeah, ada atau pun nggak ada, Pulang akan tetap berlanjut kok. Sampai nanti Kanya beneran menemukan tempat Pulang yang sesungguhnya.


Btw, makasih masukannya buat Kak Oot - mamaknya Juan, pria paling tampan seNovelToon - udah kasih pencerahan soal penggunaan "Putra POV". Jadi harus baca ulang lagi soal POV yang entah kapan terakhir kali baca. 😁😁


Harus buka KBBI juga dan akhirnya nemu kata Renjana yang kemudian mengganti penanda sudut pandang antar tokoh biar pembaca nggak rancu dan kebingungan. Sekali lagi, makasih masukannya Kak Oot. 😘


And enjoy reading to all! 🔥🔥🔥


Oh ya, kayaknya bakal seru nih kalau setiap di akhir bab, ada satu kata yang diulas dengan pedoman KBBI.

__ADS_1


Seperti :



__ADS_2