
Renjana Kanya
Jika ada hal paling menakutkan di dunia kehilangan adalah salah satunya. Aku pernah merasakannya berkali-kali dan tidak ingin merasakannya lagi. Kehilangan paling menakutkan adalah mengetahui fakta jika aku harus hidup tanpa Ayah. Sudah pernah kubilang juga ‘kan, kalau aku lebih akrab dengan Ayah dibandingkan Mama. Saat itu, duniaku seakan berhenti berotasi. Aku kehilangan pijakan. Aku kehilangan sosok yang selalu ada kapan pun aku butuh. Tidak ada patah hati paling menyakitkan kecuali kehilangan sosok Ayah bagi anak perempuannya.
Dan kini, setelah kehilangan yang pernah kurasakan berulang-ulang, aku harus menghadapi ketakutan yang paling menyebalkan sekali lagi. Terlebih, ada hal lain yang lebih menyebalkan daripada menghadapi ketakutan akan kehilangan. Menunggu.
Sedang waktu seakan tidak pernah berpihak kepadaku. Ia tidak lagi tergesa seperti biasanya dan justru semakin berjalan lambat. Menjadikan menunggu sebagai pekerjaan paling menyebalkan yang kurasakan bersamaan dengan takut kehilangan.
Pipiku terasa hangat. Air mata tidak sanggup terbendung lagi. Penyesalan diam-diam merayap dalam hati. Selepas Subuh tadi, aku terbangun oleh dering telepon dari Om Eka. Katanya, kondisi Mama semakin memburuk dan harus segera diambil tindakan operasi. Tergesa, aku menuju rumah sakit. Tepat saat Mama didorong memasuki ruangan yang hingga kini belum juga terbuka.
Rasa takut semakin kuat mencengkram hatiku. Sudah hampir tiga jam menunggu dan belum ada tanda-tanda operasi yang dilakukan Mama segera usai. Sebuah ketidakpastian yang semakin memperburuk keadaan.
Kuperhatikan di sudut ruangan, wajah Om Eka terlihat begitu kuyu. Raut kecewa belum juga lenyap saat melihatku datang. Ya, siapa yang tidak kecewa, jika satu-satunya orang yang dianggap mampu mengubah keputusan Mama, justru mematahkan harapannya. Kini, wajah laki-laki itu semakin tampak frustrasi. Om Eka benar-benar mencintai Mama. Putra bilang, jika memang harus salah satu yang diselematkan, Om Eka lebih memilih Mama daripada darah dagingnya sendiri yang tentu kini sudah berwujud bayi mungil dalam perut Mama.
Aku menangis tanpa suara. Betapa egoisnya aku yang membiarkan wanita itu menanggung lara begitu mendalam. Betapa egoisnya aku yang tega membiarkan bayi mungil tanpa dosa, harus pula merasakan dendam atas hal yang bukan kesalahannya. Selama ini, aku menganggap dirikulah yang paling terluka. Padahal orang-orang ini juga merasakan luka yang sama.
__ADS_1
Seandainya saja aku datang lebih cepat. Seandainya aku langsung menuju rumah sakit ketika tiba. Mungkin ada sedikit rindu yang terobati, meski hanya dengan melihat wajah Mama. Mungkin juga ada sedikit sesal yang tersampaikan atau maaf yang terucapkan. Tapi nyatanya, aku lebih memilih jatuh dalam lukaku sendiri, tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Rasanya semua pengandaian itu akan percuma bukan? Aku yang mengeraskan hati untuk tidak segera bertemu dengannya. Aku yang menolak permintaan Om Eka saat beliau memohon agar langsung menuju rumah sakit. Aku pula yang memutuskan kapan harus menemui wanita itu, dengan pikiran Tuhan pasti akan memberi kesempatan lebih lama untukku bertemu Mama. Lantas siapa aku yang berani mengangankan apa yang harus dilakukan Tuhan yang lebih berhak atas ciptaanNya?
Sentuhan hangat di pundakku memangkas keributan dalam kepalaku. Araz mencoba memberi kekuatan dengan membawaku dalam pelukannya. Lagi-lagi, dada laki-laki itu menjadi tempatku menumpahkan segala perasaan yang mengumpal.
“Percayalah semua akan baik-baik saja, Kanya. Percayalah semua akan baik-baik saja.”
Tangisku tidak bisa lagi tertahan. Aku terisak dalam pelukan Araz. Tidak peduli orang lain memandang aneh ke arahku. Aku hanya ingin semua rasa yang bergejolak dalam dada tersampaikan lewat air mata.
“Lalu bagaimana keadaan istri saya, Sus?”
“Dokter sedang menangani istri Anda saat ini. Mereka sedang berusaha menyelamatkan istri, Bapak. Mari ikut saya ke ruang bayi, Pak. Bapak perlu mengazankan anak, Bapak. Tapi anak Bapak perlu diinkubator sebab terlahir prematur. Keadaannya akan terus dipantau oleh dokter. ”
Tanpa membantah suster itu, kami dibawa menuju ruang bayi. Sayang hanya Om Eka yang diizinkan masuk. Sedang dari balik kaca penyekat ruangan, aku melihat suster itu menunjukkan seorang bayi laki-laki mungil yang begitu menggemaskan dalam inkubator. Aku seperti melihat Putra dan diriku sendiri dalam wujud yang lebih mungil. Bayi itu benar-benar perwujudan dari Om Eka dan Mama dengan komposisi yang begitu pas.
__ADS_1
Tanpa sadar aku tersenyum dan menitikkan air mata bersamaan. Aku bersyukur bayi mungil tanpa dosa itu berhasil diselamatkan. Meski aku masih belum tahu pasti, apakah wanita yang mengandungnya belum genap sembilan bulan itu, dapat diselamatkan atau tidak.
Om Eka dibantu suster yang memanggil kami, melakukan ritual yang tidak boleh terlewatkan. Laki-laki itu dengan mata sembab menahan tangis, membisikkan azan di telinga kanan si bayi. Jelas dia berusaha terlihat kuat. Hingga Om Eka benar-benar tidak sanggup melakukannya dan terkalahkan oleh tangisnya sendiri. Meski begitu, dia tetap menyelesaikan kewajibannya menyambut buah hati yang baru saja dilahirkan.
"Aku jahat banget ya Mas, punya niat nggak baik pada bayi yang bahkan nggak punya salah apa-apa," bisikku pada Araz yang berdiri merangkul pundak.
Teringat lagi pikiran jahat yang sempat melintas saat mendengar kabar Mama masuk rumah sakit. Saat itu aku merasakan marah bercampur kecewa atas keputusan Mama yang ingin menyelamatkan bayinya daripada nyawanya sendiri dan tidak memikirkan perasaanku yang juga anaknya. Saat melihat bayi mungil tanpa dosa itu, aku sepenuhnya memahami alasan Mama. Sebagai ibu, mana mungkin rela kehilangan anak yang sudah berbagi napas juga kehidupan selama berminggu-minggu.
Pun demikian denganku. Anak yang sudah berbagi kehidupan selama sembilan bulan lebih. Bahkan hampir 23 tahun hidup bersama. Benarkah Mama mengharapkan aku pergi dari kehidupannya? Benarkah Mama mengharapkan aku tidak pernah muncul di hadapannya? Pada kenyataannya wanita itu sering kali mengirim pesan yang berakhir menumpuk di ruang obrolan chat-ku dengannya.
"Tidak ada orang jahat yang mengakui jika dirinya jahat. Kamu bukan orang seperti itu, Kanya. Aku tahu, ada hal lain yang kamu rasakan, makanya kamu berpikir untuk memusuhi adikmu atau mungkin juga Tante Sukma."
Aku tidak menanggapi pernyataan Araz. Laki-laki itu pun tidak banyak bercakap. Kami hanya terus menatap sosok mungil yang tertidur pulas dalam box inkubator dengan alat-alat medis yang menempel di badannya.
"Dia terlihat mirip sama kamu, tapi juga terlihat seperti Putra. Kalau begitu, dia memang benar-benar pantas menjadi adik kalian. Semoga wanita yang melahirkannya juga diberi keberkahan seperti halnya malaikat kecil kecil itu, Kanya. Aku ingin melihatmu terlepas dari beban yang memberatkan langkahmu." Araz berbisik sambil terus merangkul pundakku. Ucapan laki-laki itu membuatku tersadar jika masih ada penantian yang belum tertuntaskan.
__ADS_1