Pulang

Pulang
Sebagian Cerita Tentang Luka


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Laju kereta melambat. Hampir pukul setengah sembilan saat kereta sampai di Stasiun Pemalang. Kanya masih memeluk lenganku dan bersandar di pundak. Matanya terpejam. Perempuan itu terlihat begitu lelah. Fisik juga batinnya. Tidak tega rasanya membangunkannya yang tampak tertidur pulas. Meski tak bisa kupastikan apakah dia benar-benar tidur atau hanya mengistirahatkan mata.


Namun, sejak sepulang dari rumah sakit tadi, Kanya belum sempat memakan apa pun. Bahkan ia juga menolak martabak mie yang kutawarkan sebelum kami berangkat tadi. Kami segera berangkat dengan taksi online yang sudah dipesankan Putra, setelah meminta izin pada Hanung. Untung aku masih bisa memburu tiket kereta yang keberangkatannya pun sanggup kami kejar.


Pelan, kubelai anak-anak rambut Kanya yang menutupi mata. Ia masih saja tak terusik. Bahkan semakin erat memeluk lenganku dan tampak pulas dalam tidurnya.


Senyumku mengembang. Perempuan itu, mengapa begitu menggemaskan? Saat tertidur pun ia tampak lucu. Bagaimana bisa perempuan yang terlihat begitu polos saat tertidur, harus menanggung luka yang amat menyakitkan?


"Mas Araz kenapa senyum-senyum gitu lihatin aku?" tanya Kanya masih dengan mata terpejam.


"Sayang kalau momen kayak gini dilewatkan gitu saja."


Ujung bibirku mengembang. Kuacak-acak pucuk kepalanya dengan lembut. Entah sejak kapan perempuan itu terbangun, tetapi masih sengaja memejamkan mata. Atau mungkin saja dari awal dia memang tak pernah tidur seperti yang kuduga.


"Kalau gitu aku boleh begini saja ya? Sayang kalau momen kayak gini dilewatkan gitu saja," balas Kanya semakin mengeratkan pelukannya di lenganku.


Seorang lelaki tengah baya yang baru saja naik dan duduk di kursi samping kami, tersenyum kepadaku.


"Istri saya juga sering memeluk lengan kalau sedang berpergian naik kereta. Kalian pasangan serasi. Mau pergi ke mana?" kata lelaki itu ramah sambil menaruh tas di bagasi di atas tempat duduknya.


Aku tersenyum. Sekilas kulirik Kanya yang bergerak gelisah di sampingku. Bisa kupastikan, wajah perempuan itu pasti bersemu merah. Tersipu.


Benar saja. Kanya pasti malu karena tindakannya dianggap sebagai istri oleh orang asing yang bahkan sama sekali tidak kami kenal. Namun, aku suka. Aku suka setiap kali wajah Kanya bersemu merah. Memalu. Entah mengapa itu membuatnya terlihat begitu lugu juga cantik menggoda di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


"Makasih Pak. Kami mau pulang," kataku menjawab pertanyaan lelaki paruh baya itu.


"Oh, dari Jakarta?"


"Iya. Ada hal yang harus kami selesaikan di rumah. Makanya kami pulang."


"Ya, ya, pulanglah kalian selagi ada kesempatan. Orang tua seperti kami ini sering merasa kesepian jika terlalu lama tidak bertemu dengan anak."


Tak lama, seorang perempuan datang menghampiri dan terlihat mengomel karena sang lelaki tampak berbicara dengan orang asing. "Dia memang selalu mengomel jika aku berbicara dengan orang asing. Padahal aku selalu bercerita dengan bangga karena memiliki dia."


"Semoga kelak kami juga bisa seperti Bapak. Menua bersama."


"Ya, ya, nikmati perjalanan pulangmu, Nak."


Setelah aku mengucapkan terima kasih, lelaki itu lantas duduk di kursinya. Sedang sang istri mulai memeluk lengan si lelaki dan mencari posisi ternyaman seperti yang di lakukan Kanya. Senyumku lagi-lagi mengembang. Adakah kelak masa-masa seperti ini yang akan terlewati? Melihat si lelaki bersama istrinya, diam-diam muncul perasaan iri dalam hatiku.


"Mungkin nggak sih, kita bisa seperti mereka?" bisikku tanpa sadar di telinga Kanya. Perempuan itu membuka mata. Menatapku dengan pandangan heran. "Sudah, kamu tidur saja. Nggak seharusnya aku menambah beban pikiranmu. Masih ada banyak waktu untuk membicarakan tentang kita."


Kanya menurut. Perempuan itu kembali memejamkan mata. Meski aku tahu, dia tak akan tidur kali ini.


"Mas Araz tahu kenapa aku tak langsung mengiyakan ajakan menikah Mas Araz waktu itu?" tanya Kanya dengan suara lirih hampir tak terdengar.


"Mengapa?"


"Aku takut menghadapi kenyataan paling pahit dalam sebuah hubungan. Pengkhianatan."

__ADS_1


Keningku berkerut. Tidak tahu ke arah mana pembicaraan Kanya akan berlanjut.


"Dulu, Mama pernah bilang, kalau dia nggak bakal sanggup hidup jika nggak bersama Ayah. Mama bilang jika Ayah adalah cinta sehidup sematinya. Mama janji kalau nggak mungkin menikah lagi. Mama akan tetap setiap sama Ayah sampai maut yang menjemputnya. Tapi nyatanya, dia dengan mudah berpaling pada Om Eka.


Tepat setahun setelah kepergian Ayah, kupikir Mama tetap bakal setia sama janjinya buat nggak menikah lagi. Tapi diam-diam dia sudah pergi kencan sama Om Eka. Lucunya, laki-laki yang dikencani Mama itu orang tua pacar anaknya. Ironisnya, mereka menggunakan alasan sudah hamil duluan untuk meminta restu kami. Bisa bayangin nggak sih Mas, dua orang yang sudah berumur dan punya pengalaman, tapi pakai alasan sudah hamil duluan buat menarik simpati orang lain. Itu hal konyol yang pernah terlintas dipikiranku bahkan sebagai perempuan yang belum genap 22 tahun.


Malam sebelum aku memutuskan pergi dari rumah, kami berdebat panjang. Tentang mengapa Mama mengkhianati janjinya pada diri sendiri untuk nggak menikah lagi. Tentang mengapa lelaki itu harus ayah Putra. Juga tentang hal yang aku nggak habis pikir mengapa bisa dilakukan oleh dua orang dewasa. Mas Araz tahu apa yang dikatakan Mama waktu itu?


Kamu masih anak kecil, Kanya. Tahu apa kamu soal cinta orang dewasa. Mama sama Om Eka dulu pasangan kekasih. Sebelum akhirnya Om Eka keluar negeri melanjutkan kuliah dan Ayah kamu datang melamar Mama. Kisah di antara kami belum tuntas, Kanya. Apa salah jika Mama sekarang melanjutkan kisah yang belum selesai itu?


Dan waktu kutanyakan perihal janji Mama kepada Ayah yang nggak mungkin hidup tanpa sosok laki-laki itu, Mama hanya tersenyum sambil memandangku remeh seolah aku nggak tahu apa-apa. Dia bilang, jika nggak ada cinta yang benar-benar tulus dan menjaga kesetiaan sampai akhir. Padahal, laki-laki itu cinta pertamaku. Sebagaimana setiap Ayah yang menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya, tapi dengan entengnya Mama bilang seperti itu. Kalau saja orang itu bukan Om Eka sekalipun, hari itu aku juga akan tetap pergi dari rumah jika pernyataan Mama tetap sama. Bukan perkara siapa, tapi lebih pada apa yang telah Mama lakukan terhadapku. Pada dirinya sendiri. Pada janjinya sama Ayah. Aku nggak bisa terima itu semua, Mas."


Lenganku menghangat. Sedang isak lembut mulai terdengar dari arah sampingku. Kanya menangis pelan.


Lagi-lagi aku hanya sanggup mengeratkan pelukan. Sambil sesekali mengelus rambutnya yang semakin berantakan akibat bergesekan dengan lenganku.


Kukecup sekilas pucuk kepala Kanya dengan harapan perempuan itu tak lagi menangis.


"Tuntaskan semua lukamu, Nya. Tuntaskan semua beban yang menggantung di hatimu. Setelah itu, aku akan membuatmu sembuh. Mungkin tidak sepenuhnya melupakan, tapi mungkin aku bisa mengobati sebagian luka itu. Bukankah cinta itu memang untuk menyembuhkan?"


Tak ada jawaban dari Kanya. Isak yang lembut terdengar pun tak lagi bersuara. Perempuan itu jatuh tertidur masih dengan bersandar di bahuku.


Aku tersenyum. Kukecup sekali lagi pucuk kepala Kanya.


"Selamat tidur, Sayang. Segalanya akan menjadi baik-baik saja saat kamu membuka mata."

__ADS_1


__ADS_2