
"Gue dengar lo abis ribut sama, Carol. Kenapa sih?" Suara Hanung terdengar dari ujung telepon. Kanya baru saja sampai sepuluh menit yang lalu saat gawai di saku tas ranselnya berdering dan menunjukkan nama sang redaktur di layar telepon. Bahkan Araz juga belum pulang ke hotel tempat dia tinggal sementara sebelum mendapatkan apartemen baru.
"Cepet banget kabarnya nyebar. Kenapa nggak jadi wartawan gosip aja dia. Kayaknya lebih berkompeten jadi wartawan gosip deh."
Hanung maupun Araz tertawa saat mendengar pernyataan Kanya. Perempuan itu memang sengaja menekan tombol loudspeaker agar Araz juga mendengarkan percakapannya dengan Hanung. Toh, Hanung juga tidak keberatan dengan hal itu. Lagi pula tidak ada pembicaraan yang perlu disembunyikan di antara mereka.
"Gimana nih, Do, kita perlu cari pengganti nggak buat Carol sama Carmen? Duh sumpah deh, mereka tuh aslinya cerdas loh, tapi nggak ada akhlak gitu. Malas juga sih kalau berurusan sama anak buah model begitu."
"Gue tadi juga sempat mikir kayak gitu sih, tapi nggak diizinin sama Nyonya besar nih."
Mata Kanya melotot saat mendengar pernyataan Hanung dan Araz. Dipandanganya laki-laki yang kini menyipitkan mata akibat menahan tawa.
"Bapak berdua bijaksana sekali," ucap Kanya satir. Imbuhnya sarkas,"Masa iya belum-belum udah main pecat saja. Nggak seru deh. Yang lebih kreatif dikitlah. Buat sedikit menderita gitu sebelum di-kick dari perusahaan."
Araz tidak bisa lagi menahan tawa. Ujung bibir laki-laki itu menggembang semakin lebar. Tawanya menular kepada Hanung. Sementara Kanya terlihat kesal. Padahal dia sudah lupa sejak kepulangannya dari Renja Caffe yang direkomendasikan oleh Vina, tetapi Hanung membuatnya kembali mengingat peristiwa memalukan yang terjadi sore tadi.
"Nah, ketahuan ‘kan aslinya kayak gimana. Dia sarkas banget kalau ngomong. Otaknya penuh sama ide-ide kriminal," goda Hanung. Tawa bapak satu anak itu semakin membahana dari seberang sana.
"Eh, itu sih karena lo ya, Mas. Siapa coba yang tiap hari ngajakin ngobrol teori konspirasi yang ujung-ujungnya pasti buat ngerjain orang lain. Kan sekalian yang kreatif gitu kalau mau pecat mereka. Masa iya main pecat aja. ‘Kan nggak seru jadinya."
"Nya, kamu kok sekarang makin bar-bar kayak Hanung, sih," suara perempuan terdengar dari ujung telepon. Senyum perempuan itu mengembang.
"Mbak Sinta, apa kabar? Lama nggak ketemu nih. Cuma dengar suaranya doang dari kapan hari itu. Kangen nih, Mbak. Nggak ada niatan buat meet up gitu? Nih koki lagi nganggur loh tiap malam. ‘Kan lumayan, kalian bisa makan gratis. Masa aku mulu yang makan masakan koki andal kalian."
Sinta tertawa. Kanya memang selalu manja jika dengannya. Selain itu, ucapan Kanya yang menyebut Araz sebagai koki andal tidak bisa menahan senyumnya agar tidak mengembang. Terlebih bagi Kanya, Sinta adalah kakak perempuan yang ingin dia miliki, tetapi tidak pernah terwujud. Ya, bagaimana bisa jika dia terlahir sebagai anak pertama sekaligus terakhir. Ah, bukan, kini dia menjadi seorang kakak bagi bayi mungil yang diberinya nama Victor – sang pemenang.
Pun bagi Sinta, Kanya adalah adik kesayangan meski sebenarnya dia juga punya seorang adik dari Hanung. Namun, hubungan mereka tidak begitu baik karena memang jarang bertemu dan adik Hanung tidak bisa seramai Kanya jika diajak bercerita. Dunia mereka terlalu jauh berbeda. Itulah mengapa Sinta lebih suka menganggap Kanya sebagai adiknya daripada adik iparnya sendiri.
"Boleh tuh. Kapan nih tuan rumah bikin undangan? Eh belum pindah juga dari hotel keluarga lo, Raz?"
"Ya gimana mau pindah kalau bokap nggak kasih duit penjualan apartemen gue. Lo kira gue setajir itu bisa beli apartemen sekali kedip."
"Terus, lo nebeng tinggal di apartemen Kanya, nih?” tanya Sinta membuat Kanya merajuk. Istri Hanung itu tertawa. “Ya kali aja, Nya, kalian udah tinggal bareng."
"Dih, Mbak Sinta nih. Nggaklah. Emang gue cewek apaan coba."
Sinta tertawa di seberang telepon. Sedang Araz yang gemas dengan kekasihnya hanya bisa mengacak-acak rambut Kanya. Itu pun sudah membuat Kanya heboh dan membuat pasangan suami-istri yang sedang telepon mereka semakin gencar menggoda.
"Gimana nih Nya, udah ada gosip belum antara lo sama Hanung?"
__ADS_1
"Ah, Mbak Sinta nih, gue udah hampir lupa loh barusan. Eh, diingetin lagi ‘kan. Menyebalkan banget tahu nggak, Mbak. Dari zaman dulu mereka tuh nggak kreatif kalau bikin gosip. Ya masa gue dikira simpenannya Mas Hanung mulu. Kan ada yang lebih cakep dan masih single. Ini malah dikira simpanan suami orang. Menyebalkan banget," cerita Kanya berapi-api. Sinta yang mendengarkannya justru tertawa. Begitu pula dengan Hanung yang sempat menghilang beberapa saat.
"Terus yang kamu maksud lebih cakep dan masih single itu siapa? Araz?" goda Hanung jelas membuat pipi Kanya bersemu merah muda. Kini giliran Araz yang tertawa saat melihat raut wajah Kanya yang memerah. "Kenapa lo, Raz?"
"Sori, sori. Lucu aja sih lihat wajah Kanya. Dia ‘kan kalau tersipu pasti merah tuh mukanya. Suka aja gue lihatnya. Auw ... Aduh, sakit, Nya."
Mata Araz melotot gemas saat Kanya mencubit pinggangnya. Sementara perempuan itu hanya menjulurkan lidah sebagai balasan sebelum bergerak menuju kamar tidur. Hawa di luar terlalu dingin selepas hujan. Kanya mengambil selimut sebelum akhirnya kembali duduk di samping Araz yang masih asyik di berenda apartemennya sambil menatap lampu kota juga kendaraan di bawah sana.
"Hei, kalian ngapain sih? Ribut banget gitu? Kalian lagi ngelakuin hal yang enak-enak ya."
"Mbak Sinta jangan mulai deh."
"Ya kali aja, Nya. Mana percaya gue sama setan di antara kalian."
Kanya mendengus kesal. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Araz yang duduk di kasur lantai mini yang terletak di balkon kamarnya. Lelaki itu memintanya diam dan mengelus lembut rambut pendeknya.
"Mending kalian tuh, bikin adik buat, Abi," jawab Araz membuat Sinta tertawa.
"Eh kita ini lagi bikin adik buat Abi, loh. Gimana, kalian mau lihat?"
"Astaga, Mbak Sinta. Keterlaluan banget sih kalian. Pantesan Mas Hanung nggak ada suaranya sama sekali. Terlalu kalian memang."
"Apa, Nya. Kenapa lagi gue? Udah diem aja loh, masih aja kena sasaran."
"Eh tapi beneran deh, Nya, udah ada gosip lagi di kantor soal lo sama Hanung?"
"Ih, Mbak Sinta, nih. Iya Mbak, ‘kan nggak keren banget. Bahkan mereka tuh lebih muda dari gue loh, tapi omongannya astaga. Ini tadi, gue sempat adu mulut sama mereka gara-gara ucapannya nggak pakai otak. Asal ucap aja tanpa mikir dampaknya."
"Tunggu, tunggu, lo adu mulut sama Carol dan Carmen?"
"Iya, Mas Hanung. Capek gue ngadepin orang yang bisanya ngomongin di belakang. Kalau aja nggak ada Lea, udah babak belur tuh wajah mereka. Wajah doang yang cantik, tapi akal nggak dipakai kalau ngomong."
"Gue jadi penasaran deh sama mereka. Gimana, besok gue ke kantor ya Nya, kita panas-panasin aja mereka sekalian."
"Ide bagus tuh Mbak, boleh deh. Memang besok Mbak Sinta nggak ada penerbangan?"
"Nggak ada Kanya, kan jadwalnya gue libur."
"Mampus deh, Raz. Mending nggak usah ikut-ikutan kita. Bakal jadi ribut nih kantor."
__ADS_1
Kanya tertawa. Perempuan itu ingat bagaimana hebohnya tempat kerjanya yang lama akibat Sinta datang ke kantor dan pura-pura melabraknya atas gosip yang menyebar. Selama berhari-hari gosip tentang Kanya yang merusak rumah tangga Hanung dan Sinta santer dibicarakan bahkan sampai ke divisi lain. Namun, tepat pada hari kelima, Sinta kembali muncul dan melabrak balik orang yang sudah menyebarkan gosip pertama kali.
Sejak saat itu, tidak ada lagi gosip miring antara Hanung dan Kanya dan teman-teman kantornya segan mencari masalah dengan perempuan itu maupun Sinta. Meski begitu, tetap saja kejadian yang sama berulang di tempat kerja yang baru. Sekalipun Kanya sudah melawan, mereka tidak akan mungkin tinggal diam. Pasti ada saja hal lain yang sudah mereka siapkan.
"Oke deh kalau gitu, Nya. Kita harus kasih mereka kejutan biar jera. Kalau nggak jera juga, biar Tuan Besar yang bertindak dan ambil keputusan buat pecat mereka. Orang-orang kayak gitu tuh yang ada cuma bikin suasana kera nggak nyaman."
"Iya sih, Mbak. Menyebalkan banget deh. Makanya tadi gue bilang, kalau mau pecat mereka harus ada hal menarik dulu sebelum bertindak. Biar mikir mereka tuh kalau mau ngomong sembarangan."
"Yuhuu ... ya udah deh, kalian selamat bersantai aja. Gue juga bakal bikinin Abi adik dulu."
"Mbak Sinta ... ."
Tawa Sinta berderai sebelum mengucapkan salam dan menutup telepon. Kanya menghela napas kesal. Sepertinya begitu banyak hal yang membuat pikirannya begitu penat hari ini.
"Memang bakal separah apa sih?" tanya Araz penasaran begitu Sinta mengakhiri panggilan teleponnya. Kanya mendongakkan kepala demi melihat wajah Araz agar lebih jelas. Pantulan cahaya membuat laki-laki itu tampak terlihat sangat tampan di mata Kanya.
"Heboh banget sih. Sampai para atasan turun tangan, tapi bukan waktu Mbak Sinta pura-pura ngelabrak aku."
"Terus?"
"Waktu Mbak Sinta seret si Biang Gosip di depan umum."
"Hah, sempat ada kejadian kayak gitu? Kok aku nggak pernah dengar?"
"Mungkin Mas Hanung, merasa lebih baik menyimpannya buat diri sendiri kali. ‘Kan juga bukan hal yang pantas diceritain sih, Mas. Cuma waktu itu keadaannya bener-bener kacau. Semua orang ngomongin aku. Bahkan sebelum Mbak Sinta pura-pura labrak aku, keadaannya udah buruk banget."
"Hemm ... memang awalnya gimana sampai muncul gosip miring gitu?"
Kanya tampak berpikir sebelum menjawab,"Mas Hanung sering ngajak aku susun puzzle di ruangannya."
"Hah, maksud kamu? Susun puzzle gimana sih?"
"Ya nyusun puzzle, Mas. Kok gimana sih."
"Iya, nyusun puzzle yang kayak gimana? Kalimat kamu ambigu loh, Nya. Aku kan bisa mikir yang nggak-nggak."
"Ihh, Mas Araz tahu nggak sih kalau Mas Hanung itu punya hobi nyusun puzzle?"
"Nggak tahu. Aku bahkan baru tahu dari kamu kalau Hanung suka main puzzle."
__ADS_1
"Nah, itu tahu maksud aku nyusun puzzle, kok bisa bilang ambigu sih?"
Perempuan itu tersenyum lebar melihat ekspresi terkejut Araz. Dikecupnya bibir kekasihnya itu sebelum akhirnya bertukar kehangatan melalui bibir mereka yang menyatu. Senyuman Araz mengembang saat mereka melepaskan kecupan.