
Suasana meja makan yang terlalu meriah justru membuat Kanya semakin merasa canggung berada di tengah keluarga Araz. Setiap orang yang duduk melingkari meja berukuran besar dengan berbagai macam makanan itu, begitu hangat menyambut kedatangannya. Namun, tetap saja menjadikan Kanya belum merasa nyaman.
Padahal, ibu Araz termasuk wanita yang ramah dan berhati hangat. Begitu juga dengan ayahnya yang merupakan seorang purnawirawan jendral polisi. Meski bersikap tegas kepada Araz, laki-laki itu begitu hangat saat memperlakukannya sebagai seorang tamu. Selain itu, paman serta bibi Araz - dari pihak ibu - yang malam ini sengaja datang untuk merayakan ulang tahun keponakannya, juga termasuk orang yang hangat. Begitu juga dengan kedua sepupu Araz yang langsung akrab dengan Kanya begitu mereka berkenalan. Eros dan Jenna. Dua anak kembar cowok-cewek yang masih kuliah semester empat itu, menyambut Kanya dengan bersahabat. Apalagi saat mendengar ucapan Araz bahwa Kanya adalah calon ibu dari anak-anaknya kelak yang disebutkan dengan bangga oleh laki-laki itu.
Meski begitu, Kanya masih saja tetap kikuk. Dia belum juga terbiasa membaur dengan keluarga Araz. Hanya sesekali dia menjawab pertanyaan mereka jika ada yang bertanya padanya. Kalau saja kondisinya tidak seburuk penampilannya saat ini, tentu saja Kanya bisa lebih percaya diri seperti biasa.
Tanpa sadar, Kanya mendengus kesal saat mengingat bagaimana keras kepalanya Araz ketika tiba-tiba mengajaknya pulang ke Bandung.
"Wajah kamu makin cantik kalau lagi cemberut," goda Araz yang duduk di samping Kanya saat mendengar perempuan itu menghela napas.
"Ini juga gara-gara Mas Araz," kata Kanya pelan, tetapi penuh penekanan. Laki-laki itu tersenyum menanggapi pernyataan kekasihnya.
"Tambah lauknya, Kanya. Jangan sungkan," ucap ayah Araz sambil memperhatikan piring Kanya yang hanya berisi beberapa potong daging ikan gurame asam-manis dengan sedikit nasi.
"Ambil sayurnya juga, Kanya. Jangan malu-malu. Harusnya Araz tidak mengajakmu pulang selarut ini, biar lebih leluasa saat makan malam," imbuh wanita yang duduk di samping ayah Araz.
Wanita yang telah melahirkan Araz itu, tampak begitu bahagia. Dia bahkan menyodorkan satu mangkuk penuh opor ayam - juga beberapa lauk serta sayur lainnya - di hadapan Kanya. Meminta perempuan itu untuk memakannya. Kanya yang tidak tahu harus merespon bagaimana, hanya mengangguk sopan. Di meja makan saat ini, hanya dirinya dan Araz yang masih menikmati makan malam. Sementara ayah, eomma, paman, bibi, dan sepupu Araz sudah menyelesaikan makan malam mereka.
"Makasih, Tante," tolak Kanya kikuk. Araz yang diam-diam memperhatikan Kanya, tersenyum. Dia hanya tidak menyangka jika Kanya akan terlihat begitu canggung di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kak, kimchi buatan Bibi yang paling enak. Kak Kanya harus mencobanya."
Jenna yang duduk berseberangan dengan Kanya pun ikut menawarkan lauk yang ada di depan cewek itu. Gadis itu bahkan tanpa sungkan menyendokkan kimchi dan meletakkannya di piring Kanya. Lalu, menambahkan daging sapi panggang yang masih mendesis. Jenna mengajarkan pada Kanya bagaimana caranya menikmati daging panggang dengan kimchi bersamaan.
Lagi-lagi Araz tersenyum saat melihat reaksi Kanya yang terlihat begitu canggung. Meski begitu, kekasihnya itu tetap mencoba bersikap biasa saja dengan perlakuan Jenna yang begitu bersahabat.
"Gimana, enak kan?" tanya Jenna begitu Kanya menyuapkan sepotong daging sapi panggang yang sudah dibalut kimchi beraroma khas saus gochujang.
Kanya tak bisa memungkiri jika sesuap kimchi yang baru saja dikunyahnya memang begitu lezat. Seumur-umur, baru kali ini Kanya menikmati kimchi selezat ini. Bahkan ketika dia sempat berkunjung ke Korea dan menikmati langsung makanan khas negara tersebut, rasanya tidak seenak buatan ibu Araz. Perpaduan pedas, asam, dan manisnya begitu pas, sampai rasanya dia ingin menangis terharu karena memang begitu lezat. Apalagi dipadukan dengan cita rasa daging sapi panggang yang lembut dan gurih.
"Ini kimchi terenak yang pernah aku makan," kata Kanya apa adanya dan membuat suasana di meja makan semakin hangat.
"Jen, pacar aku bisa kekenyangan kalau kamu kasih makanan terus," tegur Araz saat melihat sepupunya masih mencoba menawarkan kimchi pada Kanya.
"Nggak apa-apa. Makanan enak itu memang harus dinikmati sampai tandas. Nggak boleh sampai ada sisa."
"Iya, tapi kalau kekanyangan juga nggak baik, Jen."
Perdebatan antara Jenna dan Araz memancing tawa. Memang kedua saudara sepupu itu tidak pernah bisa akur. Selalu saja ada hal yang mereka perdebatkan. Dan kali ini, makanan enak menjadi bahan perdebatan mereka yang tidak juga berhenti berpendapat. Sementara saudara kembar Jenna - Eros - lebih banyak diam dan bersikap cool. Dia sama sekali tidak ingin terlibat dalam perdebatan antara Araz dan kembarannya. Bahkan saat Jenna memohon padanya untuk membela gadis itu. Eros masih bersikap tak acuh dan membuang pandangannya ke arah lain. Sangat kontras dengan suasana hangat yang terpancar di wajah semua orang. Dan, sikap cowok yang mungkin masih berumur sekitar 20-an tahun itu, tidak lepas dari pengamatan Kanya.
__ADS_1
Sampai perhatian perempuan itu teralihkan oleh ibu Araz yang memberikan semangkuk sup rumput laut kepadanya.
"Makanlah selagi masih hangat. Harusnya Eomma menyiapkan ini dulu untuk kalian sebelum makan malam. Urutannya jadi kacau gara-gara Araz membawamu pulang terlalu malam. Padahal dia bilang kalau tidak bisa pulang, tapi tiba-tiba muncul dan memberikan kejutan. Besok pagi, Eomma pasti akan menyiapkan makanan yang lezat untuk kalian dan bukan makanan sekadarnya seperti malam ini," kata Ibu Araz membuat Kanya kembali canggung. Padahal makanan yang terhidang di atas meja begitu beragam dan mewah. Bagaimana bisa ibu Araz mengucapkan jika itu makanan sekadarnya saja.
"Tidak perlu repot-repot, Tante. Semua ini lebih dari cukup," ucap Kanya kikuk.
"Ei, mana bisa begitu. Tante harus menunjukkan keahlian memasak yang sesungguhnya padamu. Lagipula, berkat kamu, Araz mau pulang ke rumah."
"Eomma," protes Araz saat ibunya mengatakan hal itu pada Kanya.
"Memang begitu kenyataannya. Mana mau kamu pulang kalau tidak bersama Kanya?"
"Ne, miane, Amma. Setelah ini Araz bakal lebih sering pulang ketika weekend, tapi dengan satu syarat, Ayah harus mengganti apartemen Araz yang dijual."
Meski samar, Kanya bisa menangkap perubahan ekspresi wajah ayah Araz. Sementara ibu Araz hanya memukul pelan kepala anak laki-lakinya itu.
"Jangan membuat Kanya merasa tidak nyaman dengan pembahasan yang tidak perlu. Lekas habiskan sup rumput lautmu sebelum berkahnya hilang," ucap Ibu Araz sekali lagi dengan tegas. "Kamu juga Kanya, cepat makan selagi masih hangat. Besok, Tante akan masakkan makanan enak buat kalian."
Kanya hanya mengangguk sopan sambil menyuapkan sup rumput laut. Meski tidak tahu pasti apa makna sup rumput laut untuk seseorang yang sedang berulang tahun, Kanya cukup menikmati rasa sup yang gurih dan lezat buatan Ibu Araz itu.
__ADS_1
"Ini masih belum seberapa, Kanya. Besok, kamu akan tahu seperti apa cara kami menyambut tamu yang sesungguhnya," bisik Araz begitu ibunya kembali ke tempat ia semula duduk. Sedangkan Kanya hanya sanggup menghela napas.