Pulang

Pulang
Peluk dari Jauh


__ADS_3

Renjana Putra


Lewat tengah malam saat Putra terbangun. Suasana rumah sakit begitu sepi. Alan yang menemaninya malam ini tertidur pulas di sofa. Hanya dengkurannya yang terdengar nyaring sesekali.


Putra mencoba membangunkan teman satu bandnya itu, tetapi gaya gravitasi sofa sepertinya lebih menarik daripada guncangan di tubuh Alan. Keyboardist Nada Sumbang itu sama sekali tak tergerak untuk bangun. Padahal Putra begitu gelisah dan membutuhkan teman berkeluh-kesah. Biasanya Alan yang paling mudah terbangun oleh suara kecil sekalipun. Namun, kali ini, Alan benar-benar susah dibangunkan.


Sejak Araz memberinya kabar jika mereka sudah memasuki Stasiun Cepu, Kabupaten Blora, Putra semakin tidak bisa memejamkan mata. Perjalanan Kanya dan Araz semakin mendekati tujuan. Laki-laki itu mengkhawatirkan keadaan Kanya. Meski sudah bersama Araz, Putra ingin memastikan jika semua memang baik-baik saja. Kalau saja kondisinya memungkinkan, Putra juga ingin menemani perempuan itu pulang. Sementara Araz belum juga membalas pesan chat yang dia kirimkan.


Ting ...


Gawai Putra berdering. Satu pesan singkat di aplikasi chatting dari Araz mengambang di layar gawai. Tergesa Putra membuka pesan dari laki-laki yang kini menemani Kanya dalam perjalanan pulang.


Alcatraz


Jangan khawatir, Kanya baik-baik saja. Aku akan pastikan kalau dia baik-baik saja.


Putra Mahameru


Laporkan sekecil apa pun yang terjadi jika kalian  sudah sampai. Maaf merepotkan. Gue benar-benar khawatir sama Kanya. Lo tahu 'kan, sebagai kakak. Nggak lebih dari itu.


Alcatraz


Santai saja, Bro. Aku percaya kalau perasaan kamu murni sebagai saudara. Sekalipun aku tahu itu juga nggak akan mudah.


Putra Mahameru


Thanks. Bilang Kanya untuk mengirimiku pesan jika sesuatu terjadi.

__ADS_1


Tidak ada lagi balasan dari Araz. Sedang detik jam seolah malas bergerak. Waktu seakan berjalan lambat. Putra lelah menunggu. Memejamkan mata pun menjadi suatu hal yang mustahil ia lakukan. Pikirannya penuh oleh Kanya, Sukma juga Eka. Hingga lagi-lagi gawai di atas nakas samping tempat tidur Putra berdering. Sigap Putra menjawab panggilan telepon saat tahu Kanyalah yang menelepon.


“Nya, gimana? Sudah sampai mana sekarang?” Putra tak sabar dan memburu Kanya dengan pertanyaan. Sedang dari seberang justru terdengar isak tangis pilu. Putra melirik layar gawai. Pukul 01.17. Kemungkinan perempuan itu masih dalam perjalanan di kereta. “Ada apa?”


“Gue mesti gimana, Putra? Gue mesti gimana?” Hanya pertanyaan itu yang terus diulang-ulang oleh Kanya. Isaknya menjadi tangis yang tak sanggup ia bendung.


“Ada apa, apa yang terjadi?”


Tidak ada jawaban. Sunyi. Panggilan belum terputus. Suara tangis Kanya pun tak lagi terdengar. Putra semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada adik sambungnya itu? Mengapa pula tidak ada suara Araz di samping perempuan itu?


“Anya, kamu di mana sekarang?”


“Sekarang baru sampai Stasiun Bojonegoro, tapi gue nggak bisa Putra. Gue nggak sanggup. Gue belum bisa pulang,” rengek Kanya terdengar begitu pilu.


Putra kehilangan kata-kata. Bagaimana caranya menghibur Kanya saat raga mereka terpisah begitu jauh. Pun percuma, kata-kata tidak akan sanggup membuat perempuan itu menjadi lebih baik.


“Di mana, Araz?” Pada akhirnya hanya pertanyaan itu yang sanggup diucapkan Putra. Memangkas sesak yang tiba-tiba muncul lagi dalam hatinya.


“Nya, plis, kamu nggak berniat melarikan diri ‘kan?” tanya Putra saat mengingat suatu momen di mana Kanya pernah melarikan diri saat mereka berencana pergi liburan ke Bali saat masih kuliah dulu.


Waktu itu, Putra memaksa Kanya untuk pergi liburan ke Bali, tetapi perempuan itu tidak mau dan bersikeras menolak ajakan Putra. Namun, Kanya tidak pernah berkata terus terang apa yang membuatnya tidak mau berangkat. Alhasil saat di bandara, Kanya nekat melarikan diri.


Jelas saja Putra marah. Hampir satu bulan mereka bertengkar perkara itu. Baru beberapa waktu kemudian Kanya bilang jika mengejar semester pendek agar cepat lulus. Kalau saja Kanya waktu itu bilang, tentu Putra juga tidak ingin memaksakan kehendaknya.


Namun, kali ini keadaannya berbeda. Jika Kanya benar-benar nekat untuk melarikan diri, dia tidak akan bisa memaafkan perempuan itu. Sebab ada nyawa yang menunggu untuk diselamatkan.


“Gue nggak sanggup ketemu mereka, Putra. Gue ... .”

__ADS_1


“Apa yang terjadi di rumah saat malam kamu pulang beberapa waktu lalu? Nggak mungkin nggak terjadi apa-apa ‘kan?”


Suara isak tangis Kanya terdengar lagi. Sebelum akhirnya dia berkata,“Gue minta mereka berpisah. Gue ... gue ajukan syarat agar mereka cerai kalau minta gue pulang.”


“Dan Mama menolak permintaan kamu?”


Kanya tidak menjawab, tapi Putra tahu pasti jika itulah yang terjadi. Ikatan cinta di antara kedua orang tuanya cukup kuat. Jika tidak seperti itu, tidak mungkin mereka rela memisahkannya dengan Kanya dan dianggap terlalu kecil untuk memahami perkara cinta.


Terlebih Sukma. Wanita itu lebih memilih hubungannya dengan Kanya retak, daripada melepaskan laki-laki yang dulu pernah dicintainya hingga saat ini. Pun dengan Eka. Meskipun terkadang jika itu demi anaknya, Eka bisa saja melakukan apa pun selama masih sanggup dia lakukan.


“Nya, aku tahu ini sulit buat kamu, tapi ... .” Putra menghela napas. Ucapannya terjeda. Apa yang bisa membesarkan hati perempuan itu agar sanggup menerima kenyataan jika kedua orang tua mereka tidak sanggup terpisahkan? “Mereka memiliki ikatan kasih yang kuat, Kanya. Terbukti ‘kan, kita yang menyerah kalah. Bukan mereka. Meski tindakan mereka terkesan egois, tapi kenyataannya mereka sanggup bertahan sampai saat ini ‘kan?”


“Sakit hati gue sama ... Mama, belum sepenuhnya sembuh, Putra. Dia ... dia sudah menghancurkan arti kesetiaan yang pernah diucapkannya sendiri. Dia juga ... bisa-bisanya dia mengorbankan nyawanya tanpa pernah membicarakannya denganku dulu. Aku juga anaknya. Aku ... .”


“Hei, dengerin aku. Kamu sama Mama, sama-sama keras kepala. Sama-sama punya prinsip dan pikirannya masing-masing. Sama-sama punya pandangan mana yang lebih benar. Kalau kalian selamanya seperti ini dan kamu berusaha terus menghindar, mana bisa masalah di antara kalian terselesaikan?


Aku kenal kamu, Anya. Aku juga tahu bagaimana, Mama. Makanya aku mohon sama kamu, pulanglah, Nya. Kamu berhak bebas dari rasa sakit. Mama juga berhak atas permohonan maaf dari kamu. Ayolah, demi keluarga kita yang menjadi utuh, tekan sedikit egosentrismu, Nya. Aku yakin kamu pasti bisa. Cukup, jangan melarikan diri lagi.”


“Tapi gue nggak sanggup, Putra. Gue belum bisa. Gue ... .”


Putra menghela napas panjang. Kepalanya terasa pusing memikirkan masalah Kanya dan Sukma yang terus berlarut-larut hingga kini. Sungguh, tak mudah menyatukan dua perempuan yang sedang berseteru.


“Kali ini saja Kanya Gayatri, tolong dengarkan kata-kataku. Sebagai orang yang kenal kamu. Sebagai kakak yang seterusnya akan melindungi kamu. Tolong selamatkan Mama. Selamatkan hatimu sendiri dari belenggu dendam. Bukan berarti aku juga sudah bisa sepenuhnya melupakan perbuatan mereka, tapi dengan memaafkan mereka, setidaknya ada perasaan lega yang selama ini membelenggu jiwaku. Kamu sendiri tentu sudah merasakannya bukan?”


Tidak ada tanggapan. Namun, isak tangis Kanya semakin lembut. Napasnya sudah mulai teratur.


“Sini, aku peluk dari jauh. Kalau kamu merasa berat, ingat aku selalu ada buat dukung kamu. Tunggu saja, aku juga pasti bakal pulang kok. Toh ada Araz yang temani kamu ‘kan? Semua akan baik-baik saja Nya, semua akan baik-baik saja.”

__ADS_1


Kebisuan lama menyelimuti mereka. Tak ada lagi percakapan. Namun, Putra yakin, Kanya bisa lebih kuat dari yang dibayangkan perempuan itu sendiri. Yah, meski sebenarnya tidak sekuat itu, tetapi Putra tahu, Kanya bisa melewati semua ini.


“Makasih pelukannya, Kak,” kata Kanya sebelum menutup panggilan telepon. Terasa hangat. Dan, hati Putra juga ikut menghangat mendengar ucapan Kanya yang begitu tulus.


__ADS_2