
Renjana Kanya
"Putra, ngapain lo di sini? Dari mana lo tahu kalau gue tinggal di sini?"
Sesaat aku tertegun ketika mendapati sosok Putra berdiri di depanku. Apa yang dia lakukan di sini? Mengapa dia bisa tahu alamat apartemenku setelah sekian lama berhasil menyembunyikan diri? Apakah Almira yang memberi tahu alamatku pada Putra? Tidak, sahabatku itu tak mungkin berkhianat. Atau Om Eka yang memberi tahu di mana aku tinggal?
Aku tahu, pria yang... telah menjadi suami mama itu, diam-diam mengirim orang untuk mengawasiku. Meski kini mereka sudah tidak pernah terlihat berkeliaran di sekitarku, setelah aku mengancam mereka akan melaporkannya pada polisi. Dengan ketegasan pada pria yang tak akan pernah bisa mengantikan posisi ayah di hatiku itu, bahwa aku merasa tidak nyaman hidupku diawasi setiap saat selama 24 jam. Dia juga sudah berjanji tidak akan memberi tahu Putra tentang apa pun yang berkaitan denganku selama dua tahun sejak aku memutuskan pergi.
Tidak, pria itu tidak mungkin ingkar janji. Ia mengawasiku demi kepentingannya sendiri. Bukan demi anak lelaki semata wayangnya. Jadi tidak mungkin ia membocorkan pada Putra di mana aku tinggal.
"Nggak penting gue tahu lo tinggal di sini dari siapa, tapi apa-apaan ini? Lo bahkan udah tinggal seatap sama lelaki itu?"
Dadaku semakin terasa nyeri. Pertama, akibat kemunculannya yang tiba-tiba. Kedua, dia bahkan berteriak dan menuduhku tanpa berpikir lebih dulu apakah perkataannya melukai perasaanku atau tidak. Tetap saja tak berubah. Ia selalu mengedepankan asumsinya dari pada mendengarkan penjelasan orang lain lebih dulu.
"Kalau iya lo mau apa? Gue tanya sekarang, apa urusannya sama lo, gue mau tinggal di mana dan sama siapa, apa peduli lo?" ucapku tersulut amarah.
"Jelas gue peduli sama lo! Karena lo..."
Kalimat Putra terputus. Ia bingung mencari kata yang tepat sebelum aku menyudutkannya dengan pertanyaan singkat, tapi penuh penegasan jika aku masih menyimpan dendam dan amarah. Baik di masa lalu maupun sekarang.
"Apa, gue apa?"
"Karena kamu adik aku. Aku juga punya tanggung jawab atas pergaulan dan keselamatan kamu, Kanya. Mulai sekarang," suara Putra mulai merendah saat mengucapkan kalimat itu.
"Sayangnya, gue nggak butuh kakak kayak lo. Gue udah cukup bahagia hidup tanpa orang tua, apalagi saudara," kataku tersenyum sinis sebelum berbalik meninggalkannya.
Lagi-lagi, aku melarikan diri seperti pengecut. Aku tahu masalahku dengan Putra tak akan pernah selesai jika aku terus seperti ini. Namun, bagaimana aku sanggup menghadapinya jika melihat wajahnya saja sudah membuatku tersiksa. Kilasan-kilasan menyakitkan seolah diputar paksa dalam memoriku. Jika sudah begitu, sekalipun berusaha sekuat tenaga aku tetap tak akan sanggup.
__ADS_1
Air mataku tak bisa lagi terbendung saat aku memutuskan meninggalkan Putra dan mengajak Araz untuk segera pergi dari lobi apartemen. Beruntung Araz cepat tanggap. Sedangkan Putra tak terlihat mengejarku. Meski begitu, luka yang belum juga sembuh sekalipun dua tahun telah berlalu, masih meninggalkan sembilu.
***
Isak tangisku belum sepenuhnya surut. Masih ada perasaan nyeri yang menghantam di balik tulang-belulangku. Hanya saja aku merasa sungkan dengan Araz yang duduk diam di sampingku tanpa berkomentar sambil terus menepuk punggungku. Seolah memberi kekuatan sekaligus keleluasaan agar aku bisa melepaskan sesak yang menghimpit.
Lelaki itu bahkan tak menyinggung soal apa pun dan hanya diam menatap basement yang lengang. Sudah waktunya penghuni apartemen melakukan aktivitas di luar rumah. Oleh sebab itu basement yang biasanya penuh sesak, sudah mulai sepi. Sesekali masih ada mobil milik penghuni gedung yang keluar.
Setelah menguasai napasku, aku melirik Araz yang masih menepuk punggungku dengan lembut. Tangannya yang lebar terasa hangat dari balik kaus berlapis cardigan yang kupakai.
"Sori Mas, harusnya aku nggak nahan Mas Araz di sini begitu lama. Mas Araz bukannya harus berangkat ke kantor?" tanyaku begitu sanggup menguasai isak tangis.
"Nggak apa-apa, Nya. Nggak ada agenda penting yang harus kukerjakan pagi ini. Kamu juga belum waktunya masuk kerja kan?"
Aku menggeleng menanggapi pertanyaannya. Kutempelkan kepalaku yang terasa pusing di dashboard mobil Araz. Isakku kembali pecah meski tak sekeras tadi.
"Kalau butuh teman berbagi, aku siap menjadi telinga kok. Bukankah aku udah pernah bilang sebelumnya."
Sejujurnya aku malu. Berapa kali lelaki itu selalu terlibat dalam pertengkaranku dengan Putra. Bahkan, ia pernah adu pukul dengan Putra demi melindungiku. Ia pun telah melihatku berkali-kali pula menangis akibat orang yang sama.
"Sori Mas, aku cengeng banget ya. Makasih, tapi aku baik-baik aja kok."
"Nggak baik kalau kamu masih nangis sampai kayak gini, Kanya. Mau sarapan sandwich? Aku masih menyimpan beberapa bahan di tempat kamu," tawar Araz kubalas gelengan kepala. "Trus, kita mau di sini aja atau..."
"Sukabumi."
"Eh?"
__ADS_1
"Aku mau ke Sukabumi," kataku asal bicara. Aku terlalu penat untuk merespon peristiwa yang baru saja terjadi. Tidak, sebenarnya aku hanya ingin melarikan diri.
"Oke, kita berangkat."
"Eh?"
Aku menegakkan punggung saat Araz mulai menarik persneling mobil. Mataku yang masih sembab mengerjap tak percaya sambil menatapnya bingung. Dia hanya tersenyum. Apakah lelaki ini sudah gila, bisa dengan mudah mengabulkan permintaanku yang hanya sebatas bualan semata.
"Mau ke Sukabumi 'kan? Ya hayuk. Mau ke mana pun juga bakal Abang antar kok, Neng. Tinggal duduk santai aja dan kasih petunjuk Abang harus ke arah mana."
"Eh, eh, nggak gitu maksud aku Mas. Aku cuma asal ngomong aja tadi."
Kini justru aku yang kebingungan menanggapi ajakan serius Araz. Lelaki itu benar-benar melajukan mobil meninggalkan Jakarta.
"Sayangnya aku belum bisa bedakan kamu lagi bercanda atau serius, Nya. Ya udah lah, kita jalan aja. Udah terlanjur keluar kan?" tantangnya sambil mengulum senyum. Membuat mata sipitnya semakin menghilang saat ia menarik ujung-ujung bibirnya.
"Tapi aku nggak bawa apa-apa, Mas. Mas Araz 'kan harus kerja juga." Aku Masih berusaha mengelak. Tak enak rasanya membiarkan Araz mengikuti keinginanku. "Kita serius mau ke Sukabumi?"
"Ya iya, kan tadi petunjuknya begitu."
"Mas Araz nggak kerja?"
"Gampang lah itu, bisa diatur."
"Tapi aku beneran nggak bawa apa-apa, Mas."
"Semua Abang yang tanggung, Neng. Udah tenang aja. Kamu hanya perlu diam dan duduk manis. Nikmati perjalanan. Siapa tahu bisa mengusir penat. Iya kan?" ucap Araz jenaka sambil menaik-turunkan alis. "Gampang kalau mau bayar Abang mah, Eneng senyum juga udah cukup."
__ADS_1
"Ish, apaan sih Mas. Geli tahu," kataku menanggapi guyonan Araz. Lelaki itu justru tertawa melihat wajahku yang cemberut menahan kesal.
Meski begitu, dalam hati aku merasa bersyukur sebab Araz berada di sampingku. Jika bukan karena lelaki itu, mungkin aku sedang mendekam di kamar dan menumpahkan segala kepenatanku pada sepi.