
Renjana Kanya
Jantungku masih berdetak tak beraturan. Bekas kecupan Aldo masih terasa hangat di bibirku. Bahkan rasa manis menyerupai stroberi bercampur vanila itu juga masih bisa kurasakan. Sama persis dengan ciuman yang pernah diberikan Arez di malam sebelum dia menghilang. Membuatku tak bisa marah pada lelaki yang telah menciumku tanpa permisi itu, karena telah menghadirkan sensasi masa lalu.
Bohong jika kehadiran Arez tak pernah menggoyahkan perasaanku pada Putra. Apa lagi jarak semakin membuat kami sering berselisih paham hingga akhirnya bertengkar. Arez satu-satunya tempat berbagi penat hingga resah yang mengganggu. Dia yang menjadi tempatku bersandar. Dia yang menjadi tempat pelarianku ketika semua masalah dan kesal tentang Putra menumpuk jadi satu. Hingga saat ia tak bisa menahan perasaannya dan menciumku di malam yang sama ketika dia bertengkar dengan Putra.
Ah, kesalahan manis yang membuatku justru semakin bersalah ketika Arez memutuskan pergi.
Dan kini, setelah Arez menghilang hampir empat tahun, muncul sosok laki-laki lain yang memiliki sorot mata hingga kesan ciuman yang sama. Meski wajah dan umur mereka terpaut sangat jauh. Bahkan jika aku boleh jujur, ada beberapa sikap Aldo yang mengingatkaku pada Arez. Bagaimana dua orang yang berbeda memiliki kebiasaan dan pembawaan yang sama persis? Misalnya cara menatapku dengan sorot mata teduh, gesturnya yang menggaruk belakang telinga saat gugup, hingga kebiasaan lain yang diam-diam kuperhatikan selama lima hari ini.
Tunggu, bukankah dia tadi juga menyebut jika nama Aldo hanyalah julukan. Namanya Araz. Alcatraz. Bahkan nama mereka pun hampir sama. Hanya berbeda satu huruf vokal a dan e.
Menemukan keganjilan itu, aku memutuskan keluar kamar dan mencari sosok Damar. Ada yang harus kupastikan. Jika aku beranggapan bahwa Araz dan Arez memiliki kesamaan pasti Damar juga bisa merasakan hal yang sama.
Lelaki itu sedang duduk santai bersama Almira di samping rumah saat aku menemukannya. Masih seperti sebelumnya, kekesalan tercetak jelas di wajahnya. Ia bahkan memutuskan menghindar jika tidak kucegah.
"Gue tahu lo juga ngerasain 'kan? Kalau dia mirip sama... "
"Kalau pun mereka punya kemiripan lo mau apa?" tanya Damar. Nada suaranya terdengar menahan amarah. Sedang Almira yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan dengan menggenggam tangan Damar.
"Gue..."
Kalimatku terputus. Memang apa yang kuharapkan jika Damar juga merasakan bahwa Araz memiliki kesamaan dengan Arez?
Kilasan peristiwa itu muncul lagi ke permukaan. Tumpang-tindih dengan berbagai kenangan yang lainnya.
"Puas lo sekarang! Arez keluar dari rumah karena cowok lo yang egois itu."
Bentakan Damar membuatku terpaku di ruang tengah kontrakan kami. Aku mencoba mencerna apa maksud perkataan Damar hingga Almira mengulurkan selembar kertas. Aku mengenali tulisan tangan rapi yang diberikan oleh perempuan itu.
Isi suratnya tidak panjang, tapi cukup membuatku tertampar. Bukan, tulisan itu bahkan mampu melemaskan otot-otot kakiku hingga jatuh di lantai. Aku tak sanggup menahan air mata yang mulai jatuh perlahan. Percuma aku bangkit dan berlari keluar rumah. Bayangan Arez pun sudah tak kutemui. Bahkan aku mengejarnya hingga jalan masuk perkampungan, tapi sosok Arez benar-benar telah menghilang. Dia benar-benar pergi tanpa pamit.
Dengan tangan gemetar aku membaca pesan yang dia tulis. Mataku mengabur. Tangis semakin deras membasahi pipiku.
Sori kawan, gue pergi tanpa pamit. Karena ini akan semakin sulit jika harus ngobrol dulu sama kalian.
Thanks untuk waktu yang udah kalian luangkan buat gue selama tinggal bareng. Tolong jaga Kanya ya. Dia yang paling banyak menangis tanpa pernah kalian tahu.
To : Damar & Almira
Malam sebelum Arez pergi, lelaki itu sempat masuk kamarku. Kami bercanda dan berbagi hal-hal menyenangkan tanpa sedikit pun membahas tentang keputusannya keluar dari rumah.
__ADS_1
"Seandainya gue nggak bisa sering-sering sama lo, janji tetap tersenyum seperti ini ya. Lo tahu nggak, kecantikan lo itu nambah dua kali lipat, eh bukan, bukan, sepuluh kali lipat kalau lo lagi senyum."
Aku tertawa menanggapi pernyataan Arez.
"Memangnya lo mau kemana sih? Sok misterius banget deh."
"Ya kan seandainya, Nyet."
"Serius nih gue tanya, lo mau bunuh diri? Lo punya masalah apa sih? Coba sini cerita."
Aku membersihkan meja belajar dan meminta lelaki itu duduk di sana. Masih ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan malam itu. Arez menurut dan duduk di meja belajarku. Wajahnya yang tampan dengan rambut basah sehabis keramas membuatku hampir lupa bernapas. Aku pura-pura menunduk sambil mengerjakan tugas sementara ia mulai bercerita.
"Gila, gue masih punya iman kali. Enak aja lo bilang gue mau bunuh diri."
"Iya terus, masalahnya apa?"
"Gue takut nggak bisa pamit dengan cara yang benar seandainya gue beneran pergi."
"Dih, kalau gitu gue nggak mau mengandai-andai lah. Ngapain mikirin hal yang nggak pasti."
Arez tersenyum hangat. Dia menepuk kepalaku lembut dan mengulang lagi kesalahan yang pernah kami lakukan di malam setelah Arez bertengkar dengan Putra. Bahkan ciumannya semakin lama, dalam dan lembut. Aroma stroberi bercampur vanila yang menempel di bibir Arez membuatku lupa jika ada orang lain dalam hatiku. Bahkan Arez tak pernah membuatku sadar jika itu adalah salam perpisahan.
Kini Damar benar-benar memilih pergi. Almira pun menyusul setelah memelukku dan menepuk pundak untuk menguatkanku.
"Sori ya, Nya. Aku tenangin Mas Damar dulu."
Lagi-lagi aku hanya bisa menangis. Mengutuk hidup yang entah kapan berpihak kepadaku.
***
Perhatianku teralihkan saat gawai dalam saku celanaku bergetar ketika mengamati langit yang semakin menggelap dari jendela. Kejut tak bisa kusembunyikan saat nama orang yang tak kuharapkan muncul di layar. Aku sengaja menemukan tombol power. Mengabaikan panggilan telepon itu.
Lamunan tentang masa-masa yang telah lalu sering kali datang dan pergi seperti kaset rusak yang diputar paksa. Tentang Putra, Arez hingga ayah yang muncul secara random hingga membuat kepalaku terasa pusing.
Gawaiku masih bergetar dan menampilkan nama yang sama. Ini sudah ketiga kalinya. Apa yang membuatnya begitu intens meneleponku? Bukankah selama ini dia tidak pernah peduli? Atau setidaknya itu yang kupikirkan.
Setelah mengatur napas, aku menekan tombol berwarna hijau di layar gawai. Suara panik pria dewasa itu tak bisa disembunyikan.
"Nya, tolong pulang Nak. Kakak kamu... Putra..."
"Anda menelepon saya tengah malam hanya untuk meminta pulang demi anak Anda? Apa peduli saya dengan Putra?"
__ADS_1
"Sejak pulang dia mengunci pintu kamar dan baru saja membukanya. Sekarang kondisinya demam tinggi. Nama kamu yang terus-menerus disebut, Kanya. Papa mohon, kamu pulang ya."
Aku tak menjawab permintaan laki-laki itu. Dia yang sudah menyebabkan semua masalah yang terjadi dalam hidupku. Dia yang sudah menggusurku jauh dari rumah. Dia yang sudah merebut perhatian bunda dan memisahkanku dengan orang yang kucintai. Sekarang justru dia yang memintaku pulang demi memenuhi kewajibannya sebagai orang tua. Heh, ironis sekali.
"Maaf, ini sudah tengah malam. Bawa saja ke rumah sakit. Yang dia butuhkan itu dokter, bukan saya," kataku mengeraskan tekad.
Mengapa harus aku yang selalu menjadi obat? Sedang sampai saat ini pun aku masih terluka. Luka yang setiap waktu selalu disiram air cuka bahkan sebelum sempat kering.
"Nak, Papa mohon sama kamu untuk pulang sekali ini saja. Dia bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kamu yang dia perlukan, Nak."
"Kalau tahu saya yang diperlukan anak Om, kenapa masih memaksa menikahi ibu saya?" teriakku kesal tanpa bisa mengendalikan emosi.
Lelaki di ujung telepon terdiam. Meski napasnya tak dapat mengelabuiku jika dia pun berusaha mengendalikan amarahnya.
Huuft... aku menghela napas panjang sebelum menjawab,"Baik, tapi sebaiknya Anda menyiapkan balasan setimpal untuk apa yang telah saya lakukan malam ini jika anak Anda sembuh. Silakan utus seseorang menjemput saya di rumah Almira. Dan jangan ada seorang pun di kamarnya saat saya datang. Termasuk Anda."
Setelah mengatakan itu, aku menutup telepon dan keluar dari kamar. Menunggu jemputan yang akan membawaku kembali ke... bolehkah kusebut neraka? Sebab tak lagi kujumpai ketenangan serta kenyamanan bahkan dengan memikirkannya saja.
***
Ruangan di lantai dua itu menjadi tujuan utamaku saat sampai di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit di kota ini. Aku bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah pasangan suami-istri yang sedang duduk gelisah menunggu di ruang keluarga.
Putra meringkuk di ranjangnya yang luas. Keringat dingin membasahi keningnya. Bekas pukulan Araz masih terlihat jelas di wajahnya yang kecoklatan tapi justru membuatnya terlihat seksi di mataku. Dalam tidurnya yang gelisah dia tak berhenti menyebut namaku.
Huuft... Aku menghela napas panjang sekali lagi. Membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku dan duduk di samping ranjang lelaki itu.
Kuhapus perlahan keringat Putra. Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana keadaannya, tapi mengingat kasus kekambuhan Putra saat kami masih bersama sepertinya ini yang paling parah. Bahkan dia telah menelan obatnya jika melihat meja kecil di samping tempat tidur. Namun itu tidak mengurangi kegelisahan Putra dalam tidurnya.
"Bahkan lo masih saja nyusahin. Padahal ini keputusan yang menurut lo paling baik. Omong kosong."
Tanganku berhenti menyeka keringat di kening Putra ketika lelaki itu merespon sentuhanku. Ia menarik tubuhku dan membawa dalam pelukannya.
"Bahkan dalam mimpi pun kamu masih saja memarahiku, Nya. Padahal aku kangen banget sama kamu. Aku kangen banget sama kamu. Tolong jangan pergi lagi. Jangan menghindariku lagi. Aku nggak sanggup, Nya," kata Putra dalam tidurnya. Ia menangis sesenggukan sambil mendekapku. Namun napasnya sudah mulai teratur. Keringat dingin pun sudah tak lagi deras membasahi keningnya.
"Kamu sudah memutuskan, dan aku kini hanya menjalani peran yang sudah kamu tentukan."
"Aku sayangnya cuma sama kamu, Nya. Bukan sebagai Kakak, tapi laki-laki. Tapi...."
Aku tertawa getir. Setelah semua yang telah berlalu mengapa pengakuan itu baru muncul?
Bukankan dulu gue pernah bilang untuk menerjang garis? Lo yang terlalu pengecut dan takut menghadapi Om Eka. Toh sekarang dia yang memohon demi menyelamatkan nyawa anaknya saat dia tahu yang lo butuhkan itu gue, bukan yang lain.
__ADS_1