
Renjana Kanya
Aku dan Araz baru saja selesai membantu Mama membuat kue - lagi-lagi Mama mengajak kami bereksperimen resep yang baru saja diperolehnya - saat mendengar teriakan nyaring dari ruang tamu. Aku kenal betul pemilik suara itu.
Benar saja, Almira bersama Renata dan Damar berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa kantong paper back yang aku yakin pasti berisi makanan. Bersama mereka hal menarik apalagi yang bisa dilakukan selain makan? Kecuali membahas perkara pernikahan yang menurut Almira dan Damar menyenangkan. Namun, tidak bagiku dan Renata yang masih sama-sama ingin menikmati status sebelum terikat janji di hadapan Tuhan. Sungguh, itu sama sekali bukanlah tanggung jawab yang mudah.
"Hei, calon pengantin. Makin mesra aja nih," sapa Almira seperti biasa. Perempuan itu sama sekali tak kehilangan energi sekalipun perutnya semakin membesar.
"Apaan yang calon pengantin?"
"Siapa yang mau nikah?"
Kataku bersamaan dengan pertanyaan Renata saat mendengar pernyataan Almira.
"Bisa kompak gitu ya kalau urusan menikah?" Damar ikut nimbrung pembicaraan kami sambil membuka salah satu paper bag berisi berbagai macam camilan.
"Eh tapi serius deh, siapa yang mau nikah sih?"
"Lo nggak lihat samping Kanya?"
"Ya, terus? Kanya mau nikah? Sama siapa sih, Nya? Lo seriusan mau nikah?"
Renata masih terus bertanya sambil duduk selonjoran di karpet ruang keluarga. Kehadiran Araz bagai tak terlihat di mata perempuan itu. Memang sejak dulu Renata yang paling tak tertarik soal hubungan percintaan. Meskipun bukan berarti dia tak pernah pacaran. Justru karena seringnya pacaran, lama-lama dia bosan dengan segala jenis bentuk hubungan dan memilih menjomlo.
"Hai, kenalin aku Araz, calon suami Kanya."
Saat Araz mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, Renata baru menyadari kehadiran laki-laki itu. Itu pun tak langsung menyadari pernyataan Araz sampai Almira berteriak kegirangan.
"Jadi bener kalian bakalan nikah dalam waktu dekat?"
"Hah, lo serius? Eh, Bang, lo serius calon suami Kanya? Jangan ngadi-ngadi deh lo, pasti bohong kan lo? Nya, dia serius calon suami lo?"
Renata yang pada akhirnya paling heboh menanggapi apa yang terjadi. Sedangkan aku memilih diam. Tidak mau berkomentar dan membiarkan Renata semakin penasaran. Toh, jawabanku tak perlu sekarang. Dijelaskan pun, mereka tetap akan mempercayai asumsinya sendiri. Terlebih mengetahui fakta jika Araz begitu serius saat mengucapkan pernyataannya.
"Kalian tumbenan sih ke sini ramai-ramai gini? Lagi nggak ada pekerjaan ya?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Nggak usah ngeles deh lo, Kanya Gayatri. Jawab dulu pertanyaan gue, dia beneran calon suami lo?" Renata masih tidak terima menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa. Sementara Almira dan Damar tertawa puas melihat perempuan itu mendesakku agar mengaku.
"Ya kan lo udah kenalan sama dia, Ren," kataku masih menghindari pertanyaan Renata.
Jujur saja, aku pun bingung harus menanggapi bagaimana saat Araz mengaku sebagai calon suami. Padahal kami belum pernah benar-benar membicarakan tentang pernikahan. Ralat, aku yang selalu menghindar setiap kali Araz membahas soal hubungan yang lebih serius dari sekadar pacaran.
"Demi apa? Kok lo selalu mujur sih, Nya. Pakai pelet apa lo bisa dapat calon suami secakep Gong Yoo? Astaga, gue juga mau kalau calon suaminya kayak gini." Sifat asli Renata mulai terkuak saat menyadari keadaan di sekitarnya setelah sepuluh menit berlalu. Dan, selalu aku menjadi bahan perundungannya.
__ADS_1
"Pelet dari Gunung Lawu. Mau pakai juga lo?" kataku pun mulai ngawur. Araz tertawa mendengar jawaban jutekku.
"Gih Nya, siapa tahu dia tobat terus mau pacaran lagi sama cowok."
"Sialan lo Dam, lo kira gue udah belok. Gue juga mau kali kalau cowoknya macam gini. Bang, punya adik laki-laki yang stoknya kayak Abang nggak?"
"Nggak tahu malu kamu, Ren."
"Ya namanya juga usaha, Mir. Siapa tahu kan Bang Araz punya adik yang kayak dia. Biar gue sama Kanya bisa saudaraan."
"Gila, gue sih ogah punya saudara macam lo. Gesrek nggak ketulungan gitu."
"Oh gitu? Oke, gue catet ya ini. Jangan cari gue kalau lo butuh bantuan. Jangan pernah panggil nama gue. Jangan ... !"
Sebagai jawaban, aku memeluk Renata dan menggelitiki pinggang perempuan itu. Meski tahu hanya bercanda, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika harus kehilangan teman sekaligus sahabat seperti Renata. Selama ini, dia yang selalu membuatku kuat untuk bangkit dan terus berjalan. Walaupun kehadirannya terkadang hanya sebatas sapaan hai atau kalimat pendek yang penuh dukungan.
"Ampun nggak lo?" ancam Renata agar aku manarik kalimat yang sudah kuucapkan.
"Iya, iya, ampun Komandan! Nggak bakal ngomong sembarangan lagi."
Kami tertawa sambil berpelukan. Disusul dengan Almira dan Damar yang juga ikut memeluk kami. Sedangkan Araz hanya menatap kami dengan senyum mengukir di wajahnya. Terlihat begitu bahagia.
"Wah, seru banget sih kelihatannya. Waktunya makan kue nih."
Tiba-tiba Mama keluar dari dapur sambil membawa senampan blackforest yang terlihat menggiurkan. Itu salah satu hasil olahan kami sejak pagi di samping ada beberapa jenis kue kering yang dibuat berdasarkan resep baru.
"Perayaan apa sih ini?"
"Surprise! Welcome home, Kanya," teriak suara lain yang seharusnya sudah tidak berada di sini hari ini. Namun, pendengaran tidak mungkin salah dan itu memang suara Putra. Aku tak mungkin salah. Dan, benar saja, Putra - bukan, tetapi Nada Sumbang - berdiri di pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. Lengkap bersama Angel yang kini sudah benar-benar menjadi bagian dari mereka.
Tidak hanya itu, Ayah Eka yang tadi pagi berpamitan jika akan keluar kota pun, kini ikut berdiri tak jauh dari para personel Nada Sumbang. Sedangkan si baby Victor terlihat tersenyum paling cerah digendongan baby sitter.
"Bentar deh, ini sebenarnya ada apa sih?" tanyaku masih tak memahami kejutan yang mereka - entah siapa penyumbang idenya - persiapkan.
"Selamat datang kembali ke rumah, Sayang. Terima kasih ya, sudah mau kembali ke rumah ini dan menerima dengan lapang semua kesalahan kami," kata Mama sambil memelukku yang duduk mematung di sofa ruang keluarga. Ayah Eka dan Putra pun melakukan hal yang sama. Mereka memelukku. Sedangkan aku masih tak bisa memahami situasi yang tiba-tiba begitu banyak orang.
"Terus semua ini buat apa?" tanyaku seakan menjadi manusia paling bodoh di dunia.
"Ini Kanya atau bukan sih, Ma? Kok dia mendadak telmi gini?" canda Putra masih sambil memelukku. Sebagai jawaban justru Ayah Eka yang mencubit pinggang laki-laki itu.
"Iya aku nggak tahu, kenapa tiba-tiba banyak orang gini. Makanya aku tanya 'kan?"
"Ya 'kan jelas jawabannya Kanya, ini pesta penyambutan buat kamu karena udah mau pulang." Dengan gemas, Putra mengeratkan pelukannya hingga membuatku sesak napas. Namun, dia tak peduli dan justru mencubit kedua pipiku.
__ADS_1
"Kak, sakit tahu."
"Iya siapa suruh kamu jadi lemot gini. Gimana, udah bisa mikir jernih sekarang?"
"Ya iya sih, tapi kenapa mesti pakai acara begini sih? Kalian juga, bukannya hari ini mulai tour Jawa Timur ya?" tanyaku pada personel Nada Sumbang.
"Momen pulanglah dia si anak hilang nggak boleh dilewatkan dong. Selamat datang kembali, Kanya. Ke tempatmu seharusnya."
Saat Putra ataupun Mama yang mengucapkan kata sambutan itu, aku berusaha semua tampak baik-baik saja, tetapi ketika Arlan yang mengucapkan sambil merentang kedua tangannya seolah menunjukkan pada Mama, Ayah dan Putra, seketika air mataku tak terbendung.
"Yah, kok malah nangis sih. Ini tuh momen bahagia. Lo pikir kita di sini mau lihat lo nangis?" cablak Renata membuat air mataku semakin deras mengalir. Aku terharu. Bukan semata-mata menangis tanpa sebab.
"Hei, Araz bikin semua ini bukan mau lihat kamu nangis. Bener kata Renata. Senyum oke. Sekalipun itu air mata haru," bisik Putra refleks membuatku menoleh ke arah Arah. Pandangan kami bertemu. Dia tersenyum begitu manis. Kerut di ujung matanya membuat Araz terlihat semakin tampan. Tuhan, lagi-lagi aku tertawan.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Heiii ...
Lama ya nungguin Pulang update episode baru? Iya nih, musim hujan mulai kerap berkunjung. Rasanya jadi ingin hibernasi di selimut hangat tanpa ngapa-ngapain. Tahu-tahu Araz, Kanya, Putra dan yang lain tiba-tiba bikin cerita mereka sendiri dan diupdate sendiri demi ketemu kalian. Sayangnya itu cuma imajinasi. 😂😂
Jadilah Pulang baru bisa update sekarang.
Sesuai janji, bakal Yoru bagi visual masing-masing tokoh utama Pulang.
Kanya Gayatri
Alcatraz Algol Sirius
Rizky Putra Mahameru
__ADS_1