
Mereka memilih taman sekitar restoran untuk melepas penat, sebelum memutuskan kembali ke kantor. Sambil menikmati es kopi yang mereka beli sebelum memilih taman itu sebagai tempat bersantai.
Lagipula, mereka meninggalkan Sakura Sushi and Ramen dengan alasan untuk mengantar Kanya ke rumah sakit. Meski sebenarnya itu hanyalah akal-akalan Araz supaya bisa berduaan dengan Kanya.
Araz tahu betul jika sang kekasih sedang baik-baik saja dan tidak merasakan sakit sedikit pun. Dia juga tahu jika apa yang terjadi di Sakura Sushi and Ramen hanyalah rekayasa Hanung. Sahabatnya itu sedang berusaha membantu Kanya menyingkirkan Carmen dan Carol yang sejak awal sudah mengganggu kenyamanannya.
Lebih dari itu, bakal terlihat aneh, jika keduanya memutuskan kembali ke kantor sebelum yang lain menyelesaikan makan siang mereka.
Mereka pasti beranggapan jika Araz dan Kanya menggunakan kesempatan tersebut untuk berpacaran. Meski jika Kanya benar-benar sakit sekalipun, tetap saja akan ada orang yang beranggapan demikian.
Namun, untuk saat ini, Araz tidak ingin memikirkan apa pun selain menikmati waktunya bersama sang kekasih.
"Nyaman juga ya, jalan-jalan di taman siang-siang gini," ucap Araz ketika mereka sedang menyusuri setapak mencari tempat berteduh yang terasa nyaman.
"Iya juga ya," jawab Kanya cukup singkat.
Perempuan itu masih merasa malu akibat perilaku Araz yang menggendongnya di depan banyak orang. Tidak hanya itu, laki-laki itu juga mengumumkan hubungan mereka di depan seluruh pegawai MediaPena.
Siapa yang tidak malu jika diperlakukan seperti itu?
Namun, Kanya berusaha untuk bersikap biasa saja agar tidak merasa canggung dengan Araz. Sebab, jika diteruskan, sikap Kanya benar-benar akan membuat mereka canggung satu sama lain.
"Gimana, kita perlu jalan-jalan siang kayak gini? Sekadar melepas penat setelah makan siang?"
Sejenak Kanya tampak berpikir. Dia tidak langsung mengiyakan tawaran Araz, khawatir bakal membuat laki-laki itu kecewa jika tidak bisa memenuhi ajakannya.
"Ehm...boleh. Dua atau tiga kali seminggu?" ucap Kanya mengajukan penawaran.
"Memang nggak bisa setiap hari ya?" Araz tak mau kalah mengajukan negosiasi.
"Kerjaan Mas Araz kan nggak cuma makan siang sama aku doang," kilah Kanya masuk akal.
"Yah...memang iya sih. Tapi kan aku tetap bisa usahain buat makan siang sama kamu tiap hari," ujar laki-laki itu masih mencoba mencari celah.
"Oke, mungkin Mas Araz bisa, tapi gimana sama aku?" Kanya membalik pertanyaannya untuk dirinya sendiri.
"Ah ya, kemungkinan kamu ketemu orang lain, bakal lebih sering ketimbang aku ya. Kamu kan mesti ketemu narasumber setiap dan lain sebagainya. Belum lagi kalau ada investigasi dan lain sebagainya."
"Nah, itu maksud aku, Mas. Dua atau tiga kali seminggu, itu udah paling bagus kan?" Kanya tidak mau kalah.
"Yah...apa boleh buat. Aku belum bisa nafkahin kamu, mana boleh aku larang-larang kamu harus gini, harus gitu."
Senyum membingkai wajah Kanya saat mendengar ucapan Araz. Meski dia tidak menyadari sepenuhnya ucapan laki-laki itu. Apalagi pada bagian menafkahi dan seterusnya.
__ADS_1
Kanya hanya fokus pada kalimat pertama yang menyatakan ketidakberatan sang kekasih.
"Oke, berarti deal dua atau tiga kali seminggu ya?" kejar Kanya untuk mendapatkan persetujuan Araz.
Laki-laki itu hanya tersenyum masam. Melihat reaksi Kanya, Araz bisa menebak jika sepertinya perempuan itu tidak mendengarkan dengan jeli apa yang diucapkannya.
Huft...
Araz menghela napas panjang.
"Pelan-pelan, Raz. Pelan-pelan. Kanya bukan perempuan lemah, apalagi matre yang bisa kamu iming-imingi menikah sebagai jaminan supaya bisa memilikimu sepenuhnya. Tanpa kamu pun, dia masih tetap bisa bersinar," ucap laki-laki itu dalam hati.
Dia tidak kecewa. Hanya menyadari kenyataan bahwa Kanya sama sekali berbeda dengan perempuan kebanyakan. Perempuan itu sangat mandiri. Ada ataupun tidak ada Araz dalam kehidupan Kanya, tidak akan mempengaruhi kehidupan perempuan itu.
Dan, Araz tidak bisa memaksakan keinginannya demi kepentingannya sendiri.
Araz mencintai perempuan itu pun karena dia berbeda dengan yang lain. Untuk itu, dia juga harus bisa menghormati keputusan sang kekasih.
Yang paling penting, Araz menyadari satu hal. Bahwa dia tidak sedang jatuh cinta sendirian.
"Kenapa, Mas? Ada yang sakit?" Kanya tiba-tiba bertanya ketika Araz menghentikan langkahnya dan tampak menghela napas panjang. Wajah perempuan itu khawatir dan panik.
"Eh, ah...nggak kok. Bukan apa-apa. Yuk, jalan lagi. Kita duduk di bangku itu saja."
***
Ponsel milik Araz terus menerus berdering sejak mereka duduk dan menikmati es kopi yang sudah mulai mencair. Namun, laki-laki itu memilih untuk mengabaikan dan tidak peduli pada panggilan telepon tersebut.
Sampai Kanya menyadari dan meminta laki-laki itu untuk menjawab teleponnya.
"Angkat dulu gih, Mas. Siapa tahu penting," ucap Kanya saat mendengar ponsel Araz kembali berdering.
Mungkin ini sudah yang keempat kalinya. Tapi, Araz tak juga berniat menjawabnya.
"Nggak usah. Bukan orang penting kok."
Kanya bisa memahami hal itu karena dia pun sama seperti Araz. Mereka sama-sama memiliki kebiasaan membedakan nada dering panggilan telepon di kontak ponsel, dari yang penting sampai yang tidak penting. Atau masuk dalam kategori spam. Namun, ponsel laki-laki itu terus berdering dan hal itu cukup membuat Kanya merasa tidak nyaman.
"Nggak apa-apa. Angkat aja dulu. Siapa tahu dari orang nggak penting, tapi mau ngobrolin hal yang penting."
"Ck, kalau dia sih cuma bisa bikin bencana." Araz mengeluh sambil menyesap es kopi miliknya yang hampir tandas. Menyisakan es batu yang juga hampir mencair.
"Oh..." Kanya memberikan tanggapan singkat. Sepertinya dia mulai paham, siapa orang tidak penting yang dimaksud oleh sang kekasih.
__ADS_1
Sementara Araz yang mendengar jawaban singkat Kanya mulai iseng. Dia melirik perempuan yang duduk di sampingnya itu. Meski berusaha untuk menutupinya, tapi Araz sadar betul jika Kanya sedang cemburu.
"Kenapa responnya gitu? Cemburu ya?" goda Araz.
Kanya hanya tersenyum hambar.
"Cemburu?" ulangnya. "Nggak tuh. Ngapain juga aku mesti cemburu," ucapnya menahan kesal.
Meski Kanya berusaha untuk menutupinya, tapi sangat jelas jika dia tak bisa berpura-pura.
"Cie...bilang aja atuh, kalau kamu mah cemburu," ucap Araz dengan logat Sunda yang terdengar aneh di telinga Kanya. Bukannya kesal, perempuan itu justru tertawa saat mendengar ucapan Araz.
"Eh, ketawa. Udah nggak cemburu lagi, Neng?"
"Haha...sumpah deh Mas, kalau sama Mas Araz tuh, bawaannya pengen ketawa mulu. Kayak berasa nggak ada sedih-sedihnya gitu."
"Lah, gimana sih? Masa kamu malah pengen sedih kalau bareng aku?"
"Haha...ya nggak gitu juga, Mas. Tapi, mau sekesal apa pun, ujung-ujungnya pasti ketawa kalau bareng Mas Araz, tuh."
"Ya bagus dong kalau gitu. Berarti kan, aku bisa terus membuatmu tertawa."
Tawa perempuan itu kian berderai. Ujung matanya sampai berair akibat menanggapi celotehan sang kekasih.
"Iya sih."
"Nah kan. Bagus dong kalau gitu."
Namun, belum juga selesai mereka berbincang, ponsel Araz kembali berdering. Kali ini, Kanya benar-benar tidak betah dan meminta laki-laki itu untuk menjawabnya.
"Udah, angkat aja deh, Mas. Siapa tahu penting tuh."
"Males kali loh, Nya. Yang ada dia cuma bikin masalah. Cuma nambahin beban doang."
Kanya semakin paham, siapa orang yang dimaksud oleh laki-laki itu.
"Ya daripada dia neror Mas Araz terus-terusan."
"Nggak usah deh ya."
"Udah, angkat aja, Mas. Atau kalau Mas Araz, nggak mau angkat biar aku yang jawab."
Laki-laki itu mengalah. Dengan malas, dia menjawab panggilan dari nomor yang hanya disimpan dengan emoticon 👿 (setan) di ponselnya.
__ADS_1