Pulang

Pulang
Dia yang Belum Bisa Merelakan


__ADS_3

Renjana Kanya


Menjelang tengah malam, kami baru sampai rumah. Ayah Eka terlihat cemas saat membuka pintu untuk kami. Apalagi hujan deras belum juga reda saat kami sampai rumah. Hujan sejak memasuki Kabupaten Lamongan membuat kami harus menurunkan kecepatan mobil dan sedikit menghambat perjalanan. Untuk itulah kami sampai larut malam ketika sampai.


"Malam, Om. Bagaimana kabarnya?" sapa Araz sambil menyalami Ayah Eka ketika membuka pintu.


Laki-laki itu tersenyum. "Baik. Bagaimana kabar kamu sendiri? Sukses peluncuran medianya?"


"Ya, Om. Berkat doa dan dukungan banyak orang."


"Mas Araz, ngobrol sama Ayah dulu ya. Aku bikinkan sesuatu yang hangat," kataku mengalihkan fokus Araz yang sedang berbicara dengan Ayah Eka.


"Ya Kanya, buatkan sesuatu untuk Araz. Biar Ayah yang temani dia ngobrol dulu."


Pembicaraan dua laki-laki lintas generasi itu terlihat akrab. Aku tersenyum sebelum meninggalkan mereka menuju dapur. Sepertinya segelas coklat bisa mengusir hawa dingin dan lelah selama perjalanan yang bercampur. Mungkin semangkuk mie instan kuah juga mampu menjinakkan para cacing yang sedang marah di dalam perut.


Saat di Omah Kayoe, kami lebih banyak ngobrol bersama Mas Miko dan Mbak Rinjani sampai melupakan makan malam. Jadilah kami melewatkan makan malam dan hanya mengganjalnya dengan makanan ringan.


"Astaga! Ngapain sih lo diem mematung di meja makan gitu!"


Aku berteriak histeris saat melihat Putra duduk di kursi meja makan. Sedangkan lampu ruang makan sengaja dimatikan.


"Aku nggak bisa tidur. Kamu baru pulang?"


"Iya, hujan dari masuk Lamongan. Makanya jalannya pelan-pelan."

__ADS_1


"Nggak mampir ke mana-mana 'kan?"


Aku menoleh ke arah Putra yang menunduk sambil mengaduk coklat panas dalam gelasnya. Air mukanya terlihat suntuk. Apa dia sekarang sedang cemburu?


"Bukan anak kecil juga 'kan. Kenapa mesti laporan kalau mampir ke tempat lain dulu?" tanyaku menyulut amarah laki-laki itu.


"Gue tanya karena peduli sama lo," ucapnya dengan nada penuh penekanan. Bahkan aku-kamu yang dia gunakan berganti dengan sebutan gue-lo yang menunjukkan semakin dia tidak baik-baik saja.


Entah apa yang mengganggu pikirannya. Yang jelas sejak mengetahui Araz akan menjemputku kembali Jakarta, mood laki-laki itu cepat sekali berubah. Bisa saja dia memang cemburu, tetapi aku tak mau mengambil pusing perkara hal itu. Kami telah sama-sama memutuskan untuk tidak terlibat dalam segala bentuk romansa masa lalu. Jika pada akhirnya dia yang terbakar cemburu sendirian, aku pun tak sanggup memberi komentar.


"Tapi sikap peduli lo bukan pada tempatnya sekarang," kataku tak kalah tegas. Putra bangkit dari duduknya dan melangkah mendekatiku yang sedang merebus air.


"Jadi sikap peduli gue harus yang kayak gimana?"


Putra berdiri tepat di depanku. Jarak di antara kami hanya terpaut satu jengkal saja. Aku bahkan sanggup merasakan hembusan napasnya yang memburu.


"Kenapa, lo takut pacar lo marah?" Tantang Putra menghimpit tubuhku dengan tembok. Semakin tak ada jarak di antara kami.


"Putra, kita sudah sepakat ya. Jangan seenaknya sendiri kayak gini dong!"


Aku mendorong tubuh Putra agar menyingkir dari hadapanku. Namun, laki-laki itu masih bersikeras berdiri di depanku. Tanpa bergeser sedikit pun.


"Persetan sama kesepakatan. Lo bawa dia ke sini tanpa mikirin gimana perasaan gue. Lo kira gue bisa setulus itu terima kenyataan menyebalkan kayak gini?"


Mulutku bungkam. Putra benar-benar cemburu dengan Araz. Aku tahu betul bagaimana sikap laki-laki itu jika sedang dibutakan oleh perasaan cemburu. Dan, sikapnya kali ini bukanlah hal main-main.

__ADS_1


"Putra, lo mabuk ya?"


"Iya, lo yang udah bikin gue mabuk!" ucapnya sambil memiringkan sudut bibirnya.


"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo. Kita udah sepakat. Lo udah memutuskan mengakhiri semua. Harusnya lo terima konsekuensi dari pilihan lo sendiri. Jangan lantas kayak gini dong!"


"Makin pandai berkata-kata ya sekarang. Jadi gue udah nggak berarti lagi buat lo?"


Mulutku bungkam. Sejak aku dan Putra membuat kesepakatan untuk melangkah dengan kisah kami masing-masing, sebisa mungkin aku menutup lembaran kisah yang telah usang. Ada Araz yang harus kujaga perasaannya. Mungkin aku belum sepenuhnya mencintai laki-laki itu, tetapi 75 dari 100 persen, aku telah memiliki perasaan sayang. Dan aku yakin bisa semakin bertambah setiap waktu. Sebab, bersama Araz aku belajar menjadi dewasa dalam bersikap dan menentukan bagaimana harus melangkah.


"Sekarang, lo nggak lebih dari sekadar kakak buat gue. Itu juga yang sudah lo putuskan sejak awal 'kan. Gue cuma minta sama lo, Putra. Terima konsekuensi atas pilihan yang sudah lo pilih. Lo nggak bisa kayak gini terus. Itu cuma bakal menyakiti banyak orang. Bukannya itu yang selalu lo tekankan sama gue? Kenapa sekarang jadi kayak gini sih?"


Senyum sinis mengembang dari bibir Putra. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik meninggalkanku. Menyisakan degub ketakutan yang semakin kencang di balik tulang rusukku. Tubuhku limbung. Aku jatuh terduduk di lantai dapur.


Tak lama, Araz muncul dengan mata sedikit mengantuk. Terlihat sekali jika wajahnya begitu lelah. Air muka lelah itu menjadi panik saat melihatku bersimpuh dengan air mata mengalir di pipi. Dia memburuku dan mengamati setiap bagian yang dianggap terluka.


"Kamu kenapa? Ada apa?" Araz memburuku dengan pertanyaan yang hanya sanggup kubalas dengan sesenggukan.


Laki-laki itu semakin panik. Dibawanya aku dalam pelukan setelah sebelumnya mematikan api kompor yang masih menyala.


"Sudah, nggak apa-apa. Semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja. Sudah. Plis, jangan menangis Kanya. Aku ingin bertemu denganmu bukan untuk melihatmu menangis. Sudah, plis. Jangan menangis, oke! Tersenyumlah, Kanya. Seperti senyummu yang selalu membuat matahari iri saat melihatnya."


Hibur Araz sambil menepuk pelan belakang kepalaku. Tangisku justru semakin tumpah. Diperlakukan seperti itu membuatku semakin lemah dan menuntut kenyamanan lebih lama. Aku benar-benar berhenti menangis saat Araz mengecup puncak kepalaku dan memeluk semakin erat.


"Sudah, jangan tumpahkan air mata kamu lebih dari ini ya. Aku tahu ini nggak mudah buat kamu. Buat kalian. Bagaimanapun kamu butuh waktu. Putra pun butuh waktu untuk benar-benar tulus menerima kenyataan ini. Sudah. Jangan nangis lagi. Ya. Ada aku. Aku yang akan menjaga agar senyum tetap mengembang di wajahmu. Oke, Sayang? Jadi tetaplah tersenyum. Aku mohon," pinta Araz masih memelukku. Tak dia biarkan aku lepas satu centimeter pun dari pelukannya.

__ADS_1


Dari balik dadanya, air mataku semakin susut. Bibirku mengulas senyum. Berada dalam pelukannya membuatku nyaman. Aku sembuh dengan mantra ajaib yang dia ucapkan. Aku sembuh dengan obat mujarab yang mereka sebut dengan pelukan kasih sayang. Dan aku sembuh oleh kalimat yang selalu ingin aku kenang.


"I love you, Kanya. Terus tersenyum bidadariku. Jangan biarkan mendung merebut senyum itu dariku."


__ADS_2