
Renjana Alcatraz
Sungguh, hal terberat yang harus kulakukan adalah berpisah dengan Kanya, meski itu hanya sementara. Rasanya rotasi waktuku seolah berhenti jika berjauhan dengan perempuan itu. Apalagi saat meninggalkannya dan membiarkan Kanya dekat dengan Putra.
Sejujurnya aku sudah mempercayai laki-laki itu bisa menerima Kanya sebagai adik tiri, saat berjumpa di rumah sakit ketika dia terbaring pasca pemukulan terhadap dirinya. Namun, pesan yang dia kirim di malam sebelum memutuskan pulang, membuatku ragu apakah benar laki-laki itu bisa menerima Kanya sebagai adiknya.
Dan, kecurigaanku diperkuat dengan sikapnya ketika memeluk Kanya begitu dia pulang. Aku laki-laki, aku tahu itu bukan pelukan sayang sebagai saudara, melainkan pria yang mencintai wanita.
Makasih sudah jagain Kanya buatku, Bang. Jika itu kamu, aku bisa benar-benar rela melepas Kanya. Sori, aku nggak bisa menyangkal jika masih memendam perasaan sayang sama Kanya. Tapi mulai detik ini, aku akan sungguh-sungguh merelakan Kanya. Aku tahu, dia berhak bahagia. Dan itu cuma bersamamu, Bang. Sori.
Heh, aku bahkan hafal isi pesan Putra di luar kepala. Apa pula maksudnya mengirimkan pesan seperti ini dan mengatakannya dengan terus terang padaku. Bahkan tanpa dia mengatakannya pun, sikapnya sudah terlalu jelas meski dia mencoba untuk menyembunyikannya. Aku tidak suka. Apalagi perasaan itu memunculkan gemuruh aneh dalam dadaku. Jelas hal itu membuatku semakin tidak tenang.
"Maaf, Kanya harus istirahat. Kalau mau reunian, nanti saja. Tunggu Kanya boleh pulang," kataku waktu itu sambil menjauhkan tubuh Putra dari Kanya.
Aku tidak mau, dengan dalih sebagai kakak, dia memanfaatkan momen untuk merebut kembali hati Kanya. Bagaimanapun aku juga laki-laki yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Sialnya, kami juga mencintai perempuan yang sama. Meski sepenuhnya aku tidak yakin juga, apakah Kanya telah benar-benar bisa melupakan perasaan cintanya pada Putra. Dan aku yakin, Kanya pun masih menyimpan perasaan yang sama.
Aku tahu, delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk saling melupakan. Terlebih mereka putus karena dipaksa keadaan. Tentu saja itu bukan hal yang mereka inginkan. Aku pun tak akan pernah bisa memaksa Kanya untuk melupakan semua kenangan yang tersimpan. Heh, aku pun heran, bagaimana bisa aku begitu jatuh cinta pada Kanya hingga membuatku tak bisa berpaling pada yang lain.
Sejak awal, aku juga sudah tahu perkara risiko yang harus kuhadapi jika mencintai Kanya. Apalah daya, jantung milik Arez hanya berfungsi sebagaimana mestinya hanya ketika berdekatan dengan perempuan itu. Bukan berarti aku tidak pernah mencobanya. Sebelum memutuskan untuk memperjuangkan Kanya, aku pernah mencoba untuk jatuh cinta pada perempuan mana pun yang membuatku tertarik.
Namun, pada kenyataannya, jantung Arez sama sekali tidak pernah berdebar hebat seperti ketika dekat dengan Kanya. Sialan memang. Laki-laki muda yang dengan berani mempertaruhkan nyawanya demi aku itu, meninggalkan wasiat yang serupa kutukan.
Dan, sekarang kutukan Arez menenggelamkanku perlahan-lahan dalam kedalaman hati Kanya yang diibaratkan palung oleh perempuan itu.
Ya, Kanya, aku nggak bisa berenang dan sekarang aku tenggelam semakin dalam. Kalau bukan kamu yang menyelamatkanku, lantas harus siapa?
__ADS_1
Aku menguatkan genggaman tanganku sebelum benar-benar melangkah meninggalkan perempuan itu. Sungguh hatiku tak tenang. Kalau saja posisi Kanya tidak sedang bersusah, aku ingin mengajaknya serta. Aku tak ingin membiarkan perempuan itu terjebak dalam perasaan nostalgia masa lalu bersama Putra.
Aku menghela napas panjang. Menghalau perasaan gundah yang menggantung dalam dadaku. Dengan berat aku mengucapkan kalimat yang mengganggu pikiranku sejak kepulangan Putra kemarin.
"Apa pun yang mengganggu pikiran kamu, jika itu tentang Putra, kumohon, berhentilah memikirkannya sejenak, Kanya. Aku memang mengatakan jika sanggup menunggu, juga sanggup menerima bagaimanapun keadaan kamu, tapi ... ."
Kalimatku terjeda. Aku menyembunyikan wajah di antara lipatan lengan di atas meja. Berkali-kali aku menghela napas, juga air mata yang diam-diam tak mampu kucegah agar tidak tumpah.
Bolehkah aku bertindak egois atas perasaanku, Tuhan? Aku cinta dia. Aku ingin selalu bersamanya. Selamanya. Tidak apa-apa bukan? Kau mendengarku bukan? Aku boleh mengharapkan dia ‘kan? Mengharapkan dia juga membalas perasaanku sepenuhnya.
"Tetap saja aku cemburu sekalipun sudah berusaha semua baik-baik saja. Maafkan aku, Kanya. Maafkan aku yang begitu mencintaimu sampai sedalam ini."
"Maafkan aku, Mas. Maaf sudah menyiksa Mas Araz sampai seperti ini," ucap Kanya dengan suara bergetar. Aku tak sanggup melihatnya. Apakah dia juga menitikkan air mata? Aku hanya bisa merasakan perempuan itu menggenggam tanganku semakin erat.
Hening. Aku tak medengar suara apa pun selain orang-orang yang datang dan pergi. Juga belaian lembut tangan Kanya di kepalaku. Terasa nyaman dan damai. Aku ingin merasakannya lebih lama. Maka aku terus menelungkapkan kepala di atas meja, agar Kanya tetap membelai rambutku.
Selebihnya, kami membicarakan tentang gelisah yang mengganggu pikiran juga hati. Termasuk tentang bagaimana aku akan melewati hari tanpa Kanya di sampingku. Lantas ucapan Kanya membuatku berani menatapnya.
"Maafkan aku ya, Mas."
Aku menggeleng lemah. "Nggak ada yang perlu dimaafkan, Kanya. Asalkan itu kamu, aku pasti akan segera membaik."
"Kalau begitu segera selesaikan pekerjaan, Mas Araz. Lalu, jemput aku pulang. Kelak, aku bakal kenalin Mas Araz sama Mama. Sebagai ... ."
"Calon suami," jawabku cepat begitu mendengar pernyataan Kanya.
__ADS_1
Aku tidak main-main saat mengatakan ingin dikenalkan sebagai calon suami meski dengan tertawa. Bahkan itu pula yang kutawarkan sejak awal. Namun, perempuan itu terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan.
Bahkan dia hari ini terlalu banyak diam selama di perjalanan. Membiarkan aku berteman sunyi yang mencekam. Benar-benar menyebalkan, tetapi aku sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Sebab aku tahu pasti siapa yang dipikirkan perempuan itu. Bising dalam kepalanya hanya dipenuhi satu nama. Dan, dugaanku tak meleset sama sekali ketika mendengar pengakuan langsung dari bibir perempuan itu.
"Itu sih harus lewat persetujuan Mama dulu. Mana bisa seenaknya bilang kalau Mas Araz calon suami."
Wajah Kanya tersenyum saat mengucapkan kalimat itu. Kalimat pertama yang begitu tulus dia ucapkan untukku. Tanpa terpengaruh dunia dalam kepalanya yang selalu bising.
"Nggak apa-apa. Namanya juga calon 'kan. Sudah, aku harus masuk beneran kali ini. Aku mesti bangun seribu candi buat nafkahin kamu," kataku sambil memeluk Kanya. Sungguh rasanya semakin berat untuk berpisah dengan perempuan ini. Bahkan rasanya, pelukan ini tak mampu menghapus perasaan yang semakin memberat untuk meninggalkannya.
Aku menepuk puncak kepalanya. Sebelum akhirnya mengecup keningnya dengan lembut. Tak lagi peduli dengan lalu-lalang penumpang lainnya.
"Mas Araz, selamat jalan, selamat berjumpa lagi."
Aku membulatkan tekad saat Kanya mengucapkan salam perpisahan. Jika aku tak segera pergi, keinginanku untuk selalu bersama dengan perempuan itu akan semakin besar. Aku tak suka itu. Bagaimanapun harus ada yang segera kutuntaskan demi masa depan kami. Hanung sudah memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan sejak kami baru saja sampai di kota ini. Padahal dia sendiri yang memintaku dengan tegas agar menemani Kanya pulang saat mendengar berita tentang Tante Sukma. Meski sebenarnya itu pula yang akan aku lakukan.
Sesaat aku menoleh ke belakang sebelum masuk gerbang keberangkatan. Kanya masih di sana. Berdiri dan melambaikan tangan di luar garis pembatas antara penumpang dan pengantar.
Aku mengulas senyuman. Membalas lambaian tangan perempuan yang semakin mengecil akibat jarak kami semakin memanjang.
Tunggu aku, Kanya. Seperti janjiku, aku akan membuatmu jatuh cinta bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Setiap hari. Sampai waktunnya nanti, aku berharap kamu sanggup meredam suara bising dalam kepalamu, tentang apa pun itu. Termasuk kakakmu sendiri.
Langkahku semakin tegak. Aku tak boleh terlihat lemah di depan Kanya. Meski dalam hati menumpuk pilu. Namun, aku harus tetap maju demi memperjuangkan cintaku. Setidaknya, aku masih punya semesta yang akan selalu mendukungku.
Tunggu aku Kanya, aku pasti akan segera menjemputmu sebentar lagi.
__ADS_1