Pulang

Pulang
Awal Keretakan (II)


__ADS_3

Renjana Putra


Putra tak menemukan sosok Kanya ketika mengejar perempuan itu keluar rumah. Ia menatap frustrasi jalanan kompleks perumahan yang lenggang. Menebak kira-kira ke mana Kanya pergi. Sedang tangannya tak lepas dari handphone dan menghubungi nomor yang berada di urutan pertama daftar favoritnya.


Tuuttt... tuuttt... tuuttt...


Terdengar tanda hubung saat Putra menelepon nomor kekasihnya itu. Namun tak juga ada jawaban meski ia sudah mencoba berulang-ulang. Hingga pada panggilan kelima, suara serak Kanya terdengar dari seberang.


"Halo, Kanya. Nya, kamu di mana sekarang?"


"Jangan cari aku dulu. Kita ketemu dan bicara kalau aku sudah lebih baik."


"Tapi Nya..."


"Plis Putra, aku butuh waktu buat cerna semua kata-kata Papa kamu. Aku tahu kamu juga pasti ngerasa sulit, tapi aku benar-benar butuh waktu."


"Kamu di mana?"


"Di tempat yang bisa jamin keamananku. Kamu nggak usah khawatir."


Setelah mengucapkan itu, Kanya memutuskan sambungan telepon. Dari nada suaranya terdengar jika dirinya begitu terluka. Bahkan Putra yakin, Kanya sedang menangis di suatu tempat. Mengingat kepribadiannya yang tak mudah terbuka pada orang lain, pasti ia sendirian dan menumpahkan segala kekesalan hatinya dengan menangis.


Lelaki itu mencoba menghubungi nomor handphone Kanya sekali lagi. Raut wajahnya semakin panik sekaligus khawatir. Ia tak ingin orang yang disayanginya menanggung kesedihannya seorang diri. Putra bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan perempuan itu. Sebagaimana Kanya, dirinya juga merasakan nyeri yang amat menyakitkan. Tak terkecuali Kanya.


Sebelumnya, kekasihnya itu tak pernah tahu jika ibunya diam-diam sedang menjalin hubungan dengan seorang pria setelah satu tahun kematian ayahnya. Berbeda dengan Putra yang sudah mulai terbiasa ketika mendengar kabar jika papanya akan menikahi seseorang lantas kandas di tengah jalan.


Namun tidak dengan Kanya. Perempuan itu selalu membanggakan pada Putra jika ibunya tak mungkin menikah lagi karena begitu besar cintanya pada almarhum ayahnya. Dan tiba-tiba mereka bertemu di tempat yang sama sebagai calon ibu tiri dari kekasih yang sudah dipacarinya selama delapan tahun. Ya, delapan tahun. Tentu bukan waktu yang sebentar dengan berbagai macam rintangan dan halangan. 


Putra memutuskan masuk rumah ketika Kanya benar-benar tak menjawab telepon darinya. Di ruang keluarga, kakek, om hingga tantenya sudah duduk melingkar di sofa. Termasuk Sukma - mama Kanya. Sedang papanya duduk bersimpuh di bawah kaki sang kakek. Rautnya seakan begitu rapuh sampai-sampai Putra tak mengenali wajah ayahnya sendiri yang selalu terlihat tegas dan berwibawa setiap kali bertemu.


"Dia sudah di sini, kau tanyakan saja pendapatnya tentang pernikahan kalian. Memalukan. Bagaimana kau tega merebut kebahagiaan anakmu sendiri," tegas seorang lelaki paling tua yang berada di ruangan itu.


"Papa masih mau menikahi Tante Sukma?" tanya Putra dengan nada tinggi.


Lelaki itu benar-benar tidak bisa menerima keputusan papanya. Jika memang papanya terlalu gila untuk mengambil keputusan itu, mengapa Sukma pun membisu? Apakah wanita itu juga tak memikirkan perasaan Kanya?


"Kami saling mencintai, Nak. Bahkan kami harus menunggu puluhan tahun untuk akhirnya bisa bersama," kata Eka membuat Putra tertawa sinis. Alasan yang sangat klise.


"Lantas Papa anggap perasaanku ke Kanya itu main-main? Kalau aku main-main sama Kanya, kita nggak bakal bisa bertahan sampai delapan tahun Pa. Papa sadar nggak sih kalau permintaan Papa kali ini benar-benar egois?"


Mendengar ucapan anaknya, Eka bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Putra. Raut wajahnya semakin kusut. Bahkan ia terlihat lebih frustrasi dibandingkan dengan Putra.


"Nak, Papa mohon mengerti keadaan kami. Kami harus menikah demi janin dalam kandungan Tante Sukma."

__ADS_1


"Apa Papa sudah gila? Bagaimana bisa kalian... Kalian nggak tahu gunanya ******?"


Putra semakin murka mendengar pengakuan papanya. Lelaki itu tak memungkiri jika dirinya pun sama bejatnya dengan sang ayah. Setidaknya dia memiliki batasan dan tak membiarkan benihnya tertanam dalam rahim Kanya. Namun dengan mudahnya lelaki yang telah menurunkan separuh sifatnya itu memilih alasan yang begitu tak masuk akal.


"Tolong mengerti keadaan kami Putra."


"Kalau gitu apa perlu aku buat Kanya hamil dan kalian mau mengalah?"


"Putra!" Bentakan dari sang kakek membuat Putra terdiam. "Apa kalian hanya bisa menghancurkan martabat perempuan? Dari semua sifat ayahmu, harusnya kamu bisa memilah mana yang patut ditiru dan yang tidak."


"Sialnya aku hanya mampu meniru sifat jeleknya. Kalau saja aku bisa memilih, aku nggak sudi dilahirkan menjadi anaknya!"


"Putra, jaga bicaramu. Bagaimanapun dia tetap ayah kamu!" suara kakek terdengar lebih keras kali ini. Putra hanya tersenyum kecut menanggapi pernyataan kakeknya. Sungguh jika dia bisa memilih, dirinya tidak ingin menjadi anak Eka.


"Jika memang Papa udah nggak bisa mikir jernih, setidaknya Tante Sukma bisa mengambil keputusan yang terbaik." Putra menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan. "Tante tahu, Kanya selalu bangga sama Tante Sukma karena mampu menjadi wanita yang semakin tegar setelah kematian Om Adam. Kanya selalu percaya kalau Tante nggak mungkin menikah lagi karena perasaan cinta di antara kalian begitu kuat. Kenyataannya Tante Sukma justru memutuskan menikah lagi satu tahun setelah kematian Om Adam. Lucunya, Tante Sukma justru akan menikah dengan ayah pacar anak Tante sendiri. Kenapa harus papa saya, Tan? Kenapa tidak orang lain?"


"Maafkan Tante, Putra. Tante benar-benar tidak tahu jika Eka adalah ayah kamu."


"Harusnya Tante minta maaf pada Kanya, bukan saya. Oh ya, apa Tante juga nggak merasa khawatir di mana anak Tante sekarang dan memilih tertahan di sini?"


Putra memilih pergi dari rumah itu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Sepanjang malam ia berkendara mengelilingi kota demi menghindari serangan panik yang bisa datang kapan saja jika dia terlalu stres dan banyak tekanan. Terlebih dia pun belum tahu di mana Kanya berada. Pesan yang dia kirim belum dibalas juga.


Tak dapat dihindarkan serangan panik Putra benar-benar kambuh di tengah jalan dan harus berakhir di rumah sakit akibat kecelakaan tunggal. Ia menabrak pagar pembatas jalan cukup keras. Bahkan hampir tiga hari tak sadarkan diri akibat benturan yang cukup keras.


Lima hari setelah Putra dirawat di rumah sakit, Kanya muncul dengan wajah sendu yang tak sanggup ia tatap. Selama bersama Kanya, Putra tak pernah melihat perempuan itu begitu menderita. Sepanjang Putra mengenal Kanya, perempuan itu selalu tersenyum dan mampu menyembunyikan luka dengan sempurna. Ketika ayahnya meninggal pun ia hanya menangis sebentar lalu dengan cepat mampu mengendalikan diri.


Namun kini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa, sakit hati dan terluka dari wajahnya. Berapa lama ia menangis? Berapa lama ia tak tidur? Di mana ia selama tiga hari ini? Mengapa ia baru datang? Begitu banyak pertanyaan yang menganggu Putra, tapi lelaki itu hanya mampu membisu. Diam-diam menangis saat melihat keadaan Kanya yang jauh dari baik-baik saja.


"Gimana keadaan kamu?" sapa Kanya dengan suara serak tanda ia habis menangis sebelum bertemu dengan Putra.


"Lumayan parah untuk ukuran kecelakaan tunggal," kata Putra dengan meringis. Beberapa bekas lukanya memang belum kering sempurna dan terkadang masih terasa nyeri ketika ia mengubah haluan.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tak bisa menunggu lebih lama. Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan orang tua kita?" pertanyaan lugas yang keluar dari bibir Kanya membuat Putra sukses membisu. Tidak ada lagi senyum yang tadi sempat menghiasi wajahnya.


"Nggak ada hal yang bisa kita lakukan selain mendukung hubungan mereka," kata Putra pada akhirnya.


"Maksud kamu, kita mau nyerah gitu aja?" tanya Kanya tajam sambil menaikkan nada bicaranya.


Putra memejamkan mata. Harus dari mana ia akan menjelaskan pada Kanya tentang hubungan yang rumit ini. Kisah mereka yang tak mungkin berakhir begitu saja, cinta kedua orang tua mereka yang sudah dipendam bertahun-tahun, juga tentang nasib janin tak berdosa dalam kandungan Sukma. Bagaimana Putra sanggup menjelaskan itu pada Kanya? Jika melihat sikap Kanya, perempuan itu belum mendengar cerita dari Sukma mengapa ibunya dan papanya harus menikah.


Pada hari yang sama ketika Putra kecelakaan, Eka mendampingi anaknya itu ketika berada di ruang gawat darurat. Selama rawat inap pun, tak sedetik pun Eka meninggalkan anaknya. Kehadiran sosok papa yang selalu dirindukan Putra membuat lelaki itu merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Tak peduli jika itu hanyalah trik yang digunakan Eka agar Putra merestui pernikahannya dengan Sukma.


Pada malam yang cukup panjang saat Putra tak bisa tidur, mereka membicarakan banyak hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Eka bercerita bagaimana ia jatuh cinta pada Sukma ketika mereka berkuliah di fakultas yang sama. Mereka sempat berpacaran, tapi harus putus karena Eka tak memiliki komitmen serius dengan Sukma. Lelaki itu belum memikirkan tentang pernikahan dan memilih melanjutkan studi dan menata kariernya. Dengan harapan ia bisa melamar Sukma setelah merasa cukup dan mampu. Namun Sukma justru memutuskan menikah dengan Adam.

__ADS_1


Akibat patah hati, Eka menikah dengan sembarang perempuan yang kelak menjadi ibu Putra. Beruntungnya, setelah menikah, Eka langsung diberi momongan yang sanggup mengalihkan perhatian lelaki itu dari Sukma. Meski begitu, tetap saja tak mudah bagi Eka melupakan cinta pertamanya.


Bertahun-tahun setelah kehilangan jejak meski tetap tinggal di kota kelahirannya, kabar itu datang serupa hujan di musim kemarau. Menyejukkan dan menghapus dahaga yang selama ini dirasakan Eka karena selalu gagal membina rumah tangga. Ia berniat menjadikan Sukma yang terakhir dari seluruh pencariannya yang sia-sia.


"Papa tahu telah melakukan kesalahan, Nak. Papa nggak bisa menggantikan perasaan kamu buat Kanya dengan apa pun, tapi Papa benar-benar nggak tahu kalau Kanya ternyata anak Sukma. Jika Papa tahu lebih awal, Papa nggak akan berbuat seperti ini. Papa benar- benar menyesal."


"Memang Papa harusnya menyesal."


"Papa minta maaf."


"Nggak perlu, aku yakin nggak akan mudah maafin Papa. Terserah Papa akan memutuskan bagaimana dengan Tante Sukma. Aku yakin Tante Sukma pun nggak akan kuat menanggung malu jika harus hamil tanpa status menikah. Apa pun itu, aku nggak mau tahu. Aku juga nggak mau janji akan memutuskan hubunganku dengan Kanya. Jika kalian bisa bersikeras, aku pun juga sama. Kelak aku bisa membawa Kanya pergi jauh dari sini, kalau kalian takut menghadapi omongan orang tentang keluarga kita. Kukira itu bukan perkara susah buat kami."


"Nak..."


"Jika Papa bisa berbuat egois, maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Hanya perlu menunggu siapa yang mampu bertahan sampai akhir."


Setelah pembicaraan itu mereka sama-sama terdiam. Eka tak membantah perkataan anaknya. Sementara Putra pun tak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Eka.


"Putra!" Panggilan Kanya membawa Putra kembali dari lamunannya. Dilihatnya Kanya semakin menunjukkan wajah kesal. "Jadi apa maksud kamu dengan mendukung keputusan mereka?"


"Biarkan saja mereka tetap menikah. Kita pun kelak juga akan tetap menikah. Kita bisa pergi jauh dari kota ini dan menetap di mana pun yang kamu mau."


"Heh, keinginan macam apa itu? Kamu nggak mikir gimana tanggapan orang-orang? Kamu nggak mikir gimana reaksi keluarga besar kita?"


"Cuma itu yang aku pikirkan saat ini, Nya. Kenapa kita harus memikirkan mereka jika mereka pun tak memikirkan perasaan kita."


"Ya tolak dengan tegas kek rencana mereka. Kita bisa lakukan sama-sama."


Putra menggeleng. "Kita nggak bisa sekarang, Nya. Tetap mereka akan melangsungkan pernikahan dengan atau tanpa restu dari kita."


"Oke kalau gitu, berarti tidak ada lagi istilah kita mulai saat ini. Jalani aja hidup kita masing-masing. Sebagai aku dan sebagai kamu."


"Bukan gitu maksud aku, Nya."


"Ah ya, ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan. Jadilah anak yang berbakti buat mereka. Aku yakin, mereka pasti akan membanggakanmu ke mana pun kamu pergi. Dan aku akan jadi satu-satunya orang yang menghilang dari kehidupan kalian," ucap Kanya sarkas lalu meninggalkan ruangan VVIP tempat Putra dirawat.


Tak ia pedulikan panggilan Putra bahkan ketika lelaki itu memaksa turun dari tempat tidur, tapi harus berakhir tersungkur ke lantai akibat tubuhnya yang belum pulih. Lelaki itu hanya mampu menangis dan berharap ucapan Kanya hanyalah gertakan. Besok, ketika ia pulang, perempuan itulah yang pertama akan menyambutnya dan memberikan pelukan hangat. Namun semua hanyalah angan-angan.


Kanya tidak main-main saat mengucapkan kalimat itu. Ia memutuskan pergi dari rumah setelah berdebat dengan Sukma. Tidak ada yang tahu kemana Kanya pergi. Perempuan itu benar-benar menghilang. Tanpa kabar dan jejak. Membawa serta hati Putra yang semakin terluka parah hingga bernanah. Bahkan Almira yang dekat dengan perempuan itu pun tak tahu di mana Kanya berada. Putra kehilangan jejak. Semua akses menujunya tertutup.


Setelah satu tahun Kanya baru mengaktifkan kembali akun media sosialnya yang lama. Dari sana Putra tahu jika Kanya berada di Jakarta dan bekerja di sebuah media yang cukup besar. Ia selalu mencari kesempatan yang tepat untuk memperbaiki semua dari awal. Namun ketika kesempatan itu hadir justru tak bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Putra. Tanpa sadar ia justru telah melukai perasaan perempuan itu. Sekali lagi.


Tanpa terasa air mata Putra meleleh membasahi pipinya. Lelaki itu menangis sambil bersandar pada setir mobil. Hembusan angin laut membuatnya semakin menderita terseret pada luka yang entah kapan akan mengering. Sebagaimana Kanya, ia pun menyimpannya rapat dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2