
Esok harinya, Araz langsung menemui Cassandra dengan raut wajah murka. Rahang lelaki itu mengeras. Bahkan dia sama sekali tidak tersenyum ketika seorang staf hotel menyapanya.
Dia benar-benar marah. Lelaki itu tak bisa menerima sikap sang sepupu yang dianggapnya sudah keterlaluan. Bagaimanapun caranya melukai Kanya dengan menggunakan pisau lipat itu, sama sekali tidak bisa dibenarkan.
Araz menahan lift yang hendak bergerak ke atas. Dia tahu pasti di mana Cassandra tinggal, selama dirinya terusir oleh sang ayah dari apartemen dan menetap di suite room hotel milik keluarga dari pihak ibunya. Ya, Cassandra juga memilih untuk tinggal di samping kamar Araz selama lelaki itu tinggal di hotel.
Dengan wajah gusar, Araz mengetuk pintu kamar tempat Cassandra menetap selama hampir dua bulan terakhir.
Dok...dok...dok!!!
Araz mengetuk pintu dengan lebih keras ketika Cassandra tak juga membukanya.
"Cassandra, buka pintu!" teriak Araz lebih kencang dibandingkan sebelumnya.
Meski begitu, tetap saja tidak ada tanggapan dari dalam kamar.
"Aku tahu kamu di dalam! Cepat buka pintu!" seru Araz dengan nada tinggi.
Tiga menit berlalu, belum juga ada tanda-tanda bahwa Cassandra akan membuka pintu. Araz semakin geram. Dia berbalik arah dan meminta kunci cadangan pada resepsionis.
Kalau saja petugas itu tidak tahu bahwa Araz termasuk calon pewaris bangunan megah tersebut, perempuan itu pasti akan langsung menolaknya. Namun, rumor dengan cepat tersebar ketika dia tinggal untuk pertama kali di hotel ini.
Begitu juga saat Cassandra dengan tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di suite room di samping Araz. Rumor bahwa mereka hendak dijodohkan pun dengan cepat menyebar seperti halnya spora jamur di musim hujan.
Itulah salah satu alasan mengapa resepsionis itu menyerahkan kunci cadangan kepada Araz.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Araz kembali ke kamar Cassandra dan membuka pintu dengan kunci di tangannya. Perempuan itu masih tertidur di balik selimut ketika Araz berhasil masuk.
__ADS_1
"Bangun lo! Kita mesti bicara!" seru Araz sama sekali tak santai.
Mendengar bentakan Araz, perempuan itu membuka mata dengan paksa. Dia menatap Araz dengan senyum membingkai wajahnya.
"Hai, tumben lo langsung masuk ke kamar gue?" sapa perempuan itu dengan suara manis yang dibuat-buat.
"Nggak usah sok baik! Gue jijik lihat perbuatan lo yang murahan!"
"Oh, lo datang ke sini pagi-pagi cuma buat belain pacar lo itu?!"
"Lo udah gila?! Bisa-bisanya lo lakuin hal memalukan kayak gitu! Lo mau bikin malu orang tua yang udah bela-belain supaya dapet apa yang lo mau?!" murka Araz sama sekali tak bisa terkendali.
Meski begitu, Cassandra sama sekali tak menunjukkan muka menyesal saat berhadapan dengan Araz.
"Heh, memalukan? Harusnya dia yang malu karena udah ngerebut calon suami orang!" teriak Cassandra tak kalah keras.
"Calon suami? Lo beneran udah gila? Sejak kapan kita sepakat kalau gue bakal terima syarat dari pria tua itu?
Gue sama sekali nggak pernah peduli dengan semua kemewahan ini!" teriak Araz tak bisa menahan gejolak emosi dalam dirinya.
"Heh, nggak peduli? Nyatanya, lo tinggal di sini setelah Paman Bagaskara menjual apartemen lo! Itu yang lo bilang nggak butuh kemewahan ini?"
"Gue, tinggal di sini nggak gratis! Gue tinggal di sini, nggak minta diperlakukan seperti putra mahkota, apa lagi raja!
Apa itu nggak cukup buat mata lo melek!" ucapan Araz semakin kasar. Lelaki itu benar-benar telah diliputi amarah saat ini.
Kalau saja dia kehilangan kesabaran sepenuhnya, lelaki itu pasti akan memukul Cassandra. Hanya saja, Araz masih bisa mengendalikan dirinya saat mengangkat tangan ke udara.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Pukul aja! Itu yang lo mau kan?" tantang Cassandra sama sekali tak terlihat takut. Apa lagi merasa bersalah atas sikap yang sudah dia perbuat.
Tangan Araz mengepal. Untuk sesaat dia benar-benar dikuasai amarah dan hendak memukul wajah perempuan itu.
"Kenapa berhenti?! Kalau itu mau lo, pukul aja!" Cassandra sama sekali tak tampak takut dan hal itu semakin membuat amarah Araz memuncak.
"Lo harus minta maaf sama Kanya!" tegas Araz pada akhirnya.
"Nggak sudi! Dia pantas terima apa yang udah gue lakuin ke dia!" tolak Cassandra dengan tegas.
Araz mengacak-acak rambutnya akibat frustrasi. Menghadapi perempuan itu sama sekali tidak mudah.
"Gue akan bilang ke pria tua itu kalau lo udah bikin Kanya celaka!"
"Bilang aja. Lo kira gue bakal takut?!
Denger ini baik-baik, Raz. Kita udah ditakdirkan buat bersatu. Kalaupun ada orang yang harus pergi di antara kita, orang itu adalah Kanya."
Araz tersenyum kecut. Dia sama sekali tidak bisa memahami pemikiran Cassandra yang begitu tergila-gila padanya.
"Bukan, orang itu harusnya elo, Ndra! Karena gue muak melihat muka lo yang menjijikkan itu!" tegas Araz penuh penekanan.
Cassandra tertawa keras ketika mendengar ucapan Araz. Perempuan itu mendekat ke arah sang sepupu dan berbisik tepat di telinganya.
"Lo lupa, kalau lo udah janji bakal nikahin gue!"
Wajah Araz memucat seketika saat mendengar ucapan Cassandra.
__ADS_1