
Araz langsung kembali ke rumah sakit begitu selesai menemui Cassandra. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Kanya dan melihat keadaan sang kekasih.
Saat dia berangkat tadi pagi, Kanya belum bangun dan dia tidak sempat berpamitan dengan benar. Perempuan itu pasti mencarinya karena tiba-tiba tidak ada di kamar.
Araz hanya fokus ingin cepat menyelesaikan persoalannya dengan Cassandra. Begitu persoalannya sudah selesai, maka dia langsung menuju rumah sakit menemui Kanya.
"Gimana ceritanya bisa jadi kayak gini?" Suara yang sangat dikenal baik oleh Araz terdengar dari dalam ruangan Kanya dirawat ketika ia hendak membuka pintu.
Araz urung mendorong pintu itu terbuka dan memilih mundur. Dia belum siap jika harus bertemu dengan Putra sekarang. Lelaki itu pasti kecewa dengan Araz yang sudah membuat Kanya terluka.
Ketimbang hal buruk terjadi di antara mereka, Araz memilih menunda masuk ke dalam ruangan.
"Jawab! Jangan diam aja kamu! Gimana ceritanya bisa jadi kayak gini?!"
Tak ada jawaban yang terdengar.
"Kanya!"
Perbincangan kedua orang itu cukup keras hingga sampai keluar ruangan. Araz yang duduk di depan ruang rawat Kanya pun bisa mendengarnya dengan jelas.
Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk menunggu sampai Putra keluar ruangan. Jika ditekan seperti itu, Kanya pasti merasa tidak nyaman.
Namun, kalau dia masuk sekarang, Araz tidak tahu apa yang bakal terjadi di antara dirinya dengan Putra.
Laki-laki itu tampak bimbang. Terlebih ketika tak mendengar jawaban dari Kanya.
"Apa aku masuk aja? Setidaknya kalau cowok itu mau marah, dia bisa marah padaku dan nggak bakal marahin Kanya!" pikir Araz dalam hati. Namun, dia kembali mengurungkan niatnya saat mendengar Kanya bersuara.
"Stop, Kak. Jangan keras-keras! Ini rumah sakit."
"Kalau gitu, jawab. Gimana bisa keadaan kamu jadi kayak gini?" Emosi Putra semakin terdengar jelas jika dia sangat marah.
Disusul suara embusan napas panjang yang keluar dari mulut Kanya.
__ADS_1
"Ada orang yang nggak sengaja nusuk aku."
"Nggak sengaja? Orang gila mana yang nggak sengaja nusuk kamu?!"
Hening. Tak ada suara apa pun yang terdengar setelah Putra mengucapkan pertanyaan itu.
"Kanya Gayatri! Jawab aku!" Putra kembali meninggikan suaranya ketika Kanya tak juga menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Cassandra."
"Siapa Cassandra?"
"Bukan siapa-siapa. Cuma kenalan. Lagian ini bukan hal yang sengaja kok. Nggak usah berlebihan deh."
"Nggak sengaja gimana maksud kamu? Kamu ditusuk Kanya! Jelas-jelas kamu ditusuk!
Dia bukannya nggak sengaja nusuk kamu!"
"Apa dia teman kantor kamu?" Putra kembali bertanya. Sepertinya dia tidak menyerah untuk mencari tahu siapa Cassandra yang disebutkan oleh Kanya.
"Bukan."
"Kalau gitu dia siapa? Kamu kenal di mana? Argh ... bisa gila!
Di mana Araz saat kamu sakit kayak gini? Kenapa dia nggak nemenin kamu?" Pertanyaan Putra yang menjurus membuat Araz yang berada di luar ruangan merasa berdebar.
Saat itu juga, dia ingin segera masuk. Namun, jawaban Kanya lagi-lagi menghentikan langkah laki-laki itu.
"Cih, dia semalaman di sini nungguin aku. Baru tadi pagi dia keluar. Cari makan. Dia nggak sempat makan dari kemarin." Perempuan itu membelanya dan pertahanan Araz runtuh saat itu juga.
Dengan langkah mantap, Araz mendorong pintu ruangan tempat Kanya dirawat dan menyapa kedua orang dalam ruangan tersebut.
"Ck, dari mana saja kamu? Kenapa ngebiarin Kanya sendirian dan bukannya nemenin dia?" tanya Putra sama sekali tak santai. Dia bahkan tak melemparkan basa-basi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Oh, aku baru aja ambil pakaian bersih buat Kanya. Dari kemarin dia belum ganti. Pasti nggak nyaman pakai baju yang sama.
Sekalian habis cari sarapan."
Araz membuat alasan yang tidak sepenuhnya bohong. Karena dia memang sempat mampir apartemen Kanya untuk mengambilkan baju bersih.
Sementara Putra menatapnya dengan sorot mata penuh selidik. Terlihat jelas jika lelaki itu tak suka pada Araz yang sudah membiarkan Kanya terluka dan meninggalkannya sendirian.
"Dia nggak mau ngaku. Jadi, aku tanya padamu. Siapa Cassandra?" Putra menatap lekat ke arah Araz.
Di balik punggung lelaki itu, Kanya memberikan tanda agar Araz tak perlu menjawabnya dengan menyilangkan kedua tangan.
Namun, Araz sudah membulat tekad sejak membuka pintu ruangan tempat Kanya dirawat. Dia tak akan bersikap seperti pengecut yang melarikan diri.
"Dia sepupuku," jawab Araz cukup singkat, tapi berhasil membangunkan sisi gelap dalam diri Putra.
"Berengsek! Apa kamu sudah gila?! Kamu membiarkan sepupumu menusuk kekasihmu sendiri?!
Benar-benar berengsek! Kamu benar-benar gila ya?!" amukan Putra tak bisa dihindarkan.
Dengan sepenuh tenaga, lelaki itu mendorong tubuh Araz dan melayangkan pukulan cukup keras.
Bugh!!
Badan Araz tak tumbang. Namun, pukulan Putra cukup membuat sudut bibirnya terluka.
"Di mana tanggung jawabmu sebagai lelaki untuk melindungi Kanya, hah? Kamu justru bikin dia terluka. Bahkan orang yang melukai Kanya adalah sepupumu sendiri!" Putra semakin kalap. Dia tak bisa membendung emosinya sendiri.
Sementara Araz hanya pasrah ketika lelaki itu melayangkan pukulan untuk kedua kali. Araz sama sekali tak menghindar. Dia pantas mendapatkan hal itu.
"Cukup! Hentikan!" jerit Kanya histeris begitu Putra semakin membabi buta.
Kalau saja perempuan itu tak menangis sejadi-jadinya, Putra tak akan menghentikan pukulannya.
__ADS_1