Pulang

Pulang
Berbagi Canda


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Aku masih fokus ke jalan saat Kanya menerima telepon di sampingku. Sesekali ia menganggukan kepala seolah sedang menerima mandat penting dari atasan. Jika menelisik pembicaraan perempuan itu, sepertinya ia sedang berbicara dengan narasumber. Mungkin seorang aktivis lingkungan. Sebab dari tadi Kanya menyebutkan tentang kerusakan lingkungan hingga banjir yang kerap kali melanda akhir-akhir ini.


Hampir 10 menit kemudian, Kanya memutuskan sambungan telepon setelah menegaskan jika mereka akan bertemu besok pukul 09.00 pagi. Perempuan itu menoleh ke arahku yang sesekali mencuri pandang padanya. Ia tersenyum.


"Sori ya Mas, aku malah teleponan sama narsum. Mumpung masih di Jakarta katanya. Lusa harus ke Bandung kasih pelatihan pemanfaatan limbah plastik selama seminggu," kata perempuan itu menjelaskan. Sepertinya ia merasa bersalah karena sudah tak mengacuhkanku.


Aku balas tersenyum dan kembali fokus pada jalan di depanku. Jakarta hampir lenggang menjelang pukul 11.00 malam. Lagian siapa yang mau keluar rumah saat hujan dan banjir meluber di mana-mana. Aku yakin, jika bukan karena ulah iseng Hanung, Kanya pun akan memilih tinggal di apartemennya yang nyaman.


"Bukannya jatah cuti kamu masih panjang?"


"Iya sih Mas, makanya kemarin tuh aku nolak ide Mas Hanung buat kasih cuti segitu panjang. 'Kan jadi bingung mau ngapain sekarang. Daripada gitu mending ketemu narasumber," celoteh Kanya. Sesekali ia menoleh ke arahku. Senyum tak juga lenyap dari wajahnya.


"Mau coba ikut aku? Besok baru rapat redaksi buat nentuin tema bulan Februari sih, tapi ada beberapa tempat yang udah masuk list."


"Boleh?" Pertanyaan Kanya membuatku tersenyum. Siapa yang bisa menolak teman seperjalanan seperti Kanya? Bersamanya selalu bisa membunuh bosan.


"Boleh lah, kan lumayan jadi asistenku. Bisa bantuin hunting foto juga."


"Wah, bayaranku cukup mahal loh Mas. Digaji berapa nih sehari?"


Tawaku pecah mendengar penuturan Kanya. Perempuan itu, awalnya saja terlihat jaim dan pendiam. Begitu kenal, langsung deh sifat aslinya yang suka ngomong apa adanya muncul. Bahkan ia cenderung cerewet jika sudah bicara dengan Hanung. Ia sama sekali tak sungkan dengan atasannya di kantor itu.


"Lah kok ketawa sih?"


"Hahaha... Sumpah deh Nya, kamu tuh lucu banget."


"Oh, terima kasih Tuan, sudah menganggap saya gadis yang lucu. Berarti bayaran saya dua kali lipat dong, 'kan perannya ganda. Sekaligus jadi penghibur hati yang gundah," kata Kanya membuat tawaku semakin berderai. Ternyata perempuan itu juga memiliki sisi narsistik yang lumayan over.


"Biasanya digaji berapa sih kalau jadi asisten gitu?" tanyaku menikmati peran yang dimainkan Kanya. Senyum perempuan itu mengembang semakin lebar. Ia melonggarkan sabuk pengaman dan mengatur duduknya hingga berhadapan denganku.

__ADS_1


"Tergantung, biasanya dua sampai tiga juta untuk tarif maksimal tiga jam. Tenang aja, hasil fotoku nggak kalah sama profesional kok. Malah kata Mas Hanung aku ada bakat buat jadi wartawan foto, tapi belum minat aja. Masih enakan nyusun kata-kata. Eh tapi, kalau Mas Aldo mau masakin aku selama seminggu, pikir-pikir lagi deh buat pasang tarif."


"Udah bagus manggil Araz, eh ini balik Aldo lagi," ucapku mendadak kesal saat Kanya memanggilku dengan sebutan Aldo. Bukannya takut, perempuan itu justru tertawa menanggapi sikapku yang tiba-tiba kesal. Ia bahkan hingga terbahak-bahak dan memegangi perutnya.


"Aku mau konfirmasi ke Mas Araz, gimana sih sampai dipanggil Aldo? Kayaknya membekas banget sakit hatinya?"


"Bukannya sudah diceritain sama Hanung?"


"Lah, katanya aku disuruh konfirmasi ulang dan nggak boleh percaya gitu aja kalau dapat informasi?"


"Dih, udah telat. Orang kamu terlanjur percaya sama cerita Hanung."


"Hahaha... Iya makanya sekarang aku tanya Mas Araz 'kan."


Aku menghela napas panjang. Bagaimana aku sanggup menceritakan pengalaman menyebalkan hingga julukan Aldo alias Alcatraz Dodol masih melekat padaku hingga kini? Mengingatnya saja membuatku malu setengah mati.


"Nggak usah deh."


"Yah, jadi penasaran dong," kata Kanya sambil memasang wajah seolah dia memang benar-benar penasaran. Padahal aku yakin betul, Hanung sudah menceritakan semuanya tanpa cela.


"Itu sih karena Mas Araz lucu aja kalau lagi kesel gara-gara dipanggil Aldo," ucap Kanya. Perempuan itu menutup mulutnya, menahan tawa. Sedang aku mencoba meredam detak jantung yang semakin tak beraturan saat melihat tawanya yang begitu lepas. "Koreksi aku ya kalau ada yang salah. Ini sih cerita versi Mas Hanung. Kalau Mas Hanung cerita, dulu Mas Araz pernah dikasih surat sama cewek. Ungkapan cinta gitu ceritanya. Eh, sama Mas Araz malah dikasih ke temen sebangkunya, gara-gara temennya Mas Araz lebih beken. Karena sebelumnya Mas Araz juga sering jadi kurir buat cewek-cewek yang mau kasih ke temen Mas Araz itu. Siapa sih namanya?"


Kanya tampak memikirkan sebuah nama yang sudah jelas didengar dari Hanung. Wajahnya begitu serius hingga menempelkan jari-jemarinya pada kening. Perempuan itu memejamkan mata seakan serius berpikir.


Diam-diam aku tersenyum melihat tingkahnya. Setelah beberapa hari mengenalnya lebih dekat, banyak hal dari perempuan itu yang sanggup membuatku tertawa. Meski di waktu yang bersamaan juga terkadang membuatku kesal sekaligus jengkel. Apa lagi saat mengingat jika masih ada orang lain dalam hatinya.


Hufftt... mengingatnya saja sudah membuatku merasa kesal.


"Siapa sih Mas, namanya. Aku lupa." Suara Kanya memecahkan keheningan yang tercipta di antara kami. Aku hanya mengendikan bahu sebagai jawaban. "Ish... Beneran lupa nih aku. Nggak enak tahu rasanya. Kalau inget-inget udah kepikiran tapi nggak bisa ngucapinnya."


"Hahaha..."

__ADS_1


Tawaku pecah juga. Melihatnya kesusahan saat mengingat nama lakon yang akan disebutkan, membuat wajah Kanya begitu lucu.


"Ish, kok diketawain sih. Siapa sih namanya? Kalau gini ntar ceritanya nggak jadi lucu, Mas," protes Kanya hanya kutanggapi dengan tawa. "Mas Araz ih. Kasih tahu dong."


"Kenapa maksa sih? 'Kan bisa aja kamu sebut Mr X atau Y," ucapku di antara tawa yang tak bisa kuhentikan. Wajah Kanya benar-benar tampak lucu sekarang. Perempuan itu bersungut-sungut kesal sebab tak juga mengingatnya.


Aku tahu, teman yang dimaksud Kanya namanya Putra. Sebab sentimen pribadi dengan nama itu, aku tak sanggup memberi tahunya pada Kanya. Aku pun khawatir mood-nya akan kembali memburuk.


"Ish ya udahlah anggap aja namanya Fahmi. Kata Mas Hanung, Mas Araz sering jadi kurir si Fahmi ini. Saking terkenalnya sampai cowok-cowok sekelas Mas Araz putus asa bakal dapat cewek. Eh begitu Mas Araz dapat surat, dikasih juga deh ke Fahmi ini. Sialnya surat yang dianggap rahasia sama si cewek itu, justru dibaca keras-keras di depan kelas. Seketika si cewek itu marah dan nyamperin Mas Araz. Karena kesel, cewek itu nyiram Mas Araz pakai air dan neriakin Alcatraz dodol. Lama kelamaan jadi Aldol, trus Aldo. Gitu sih cerita Mas Hanung. Ada yang keliru?"


"Nggak ada, tapi kayaknya kamu seneng banget ceritain aib orang gitu," kataku menahan kesal.


Meski sudah kejadian lama, jika mengingat ketololanku pada masa itu, benar-benar membuatku malu. Kini bahkan Kanya mengulang cerita itu dengan entengnya. Sungguh menyebalkan bukan?


"Ya kan tadi Mas Araz tanya gimana Mas Hanung cerita soal..."


"Udah Nya, nggak usah dibahas lagi. Beneran kesel ternyata lama-lama."


"Hehehe... sori deh Mas. Habisnya Mas Araz tuh cute gitu kalau lagi kesel dipanggil Aldo."


"Kamu bilang aku apa tadi?" Tanpa sadar aku refleks menoleh ke arah Kanya saat menyebutku cute. Menyadari telah salah bicara, perempuan itu menutup mulut dengan dua tangan. Lagi-lagi kulihat wajahnya bersemu merah. "Ulang dong Nya, aku takut salah denger."


"Nggak, nggak. Anggap aja aku khilaf ngomong barusan."


"Cie... yang diam-diam ngakuin cute tapi nggak mau bilang terus terang," godaku membuat wajah Kanya semakin memerah. Gadis itu duduk memunggungiku dan menyembunyikan wajahnya di sandaran kursi.


"Duh Mas, anggap aja tadi Mas Araz nggak dengar aku ngomong."


"Hahaha... mana bisa. Jarang-jarang ada yang bilang aku cute. Biasanya selalu dibilang bujang lapuk. Jadi harus diingat-ingat dong."


"Mas Araz ih, aku tarik kata-kataku," kata Kanya masih menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


Tawaku semakin lepas. Sepanjang perjalanan aku terus menggodanya hingga wajah perempuan itu benar-benar merah ketika turun dari mobil. Bahkan saat sampai apartemennya pun, Kanya segera berlari setelah mengucapkan terima kasih sekadarnya.


"Makasih udah tertawa malam ini, Nya. Kamu cantik kalau tertawa," gumamku sebelum meninggalkan kawasan apartemen perempuan itu. Senyum tak juga lenyap dari wajahku.


__ADS_2