
Setelah menelepon Hanung dan mengatakan jika hari ini dirinya dan Kanya tidak bisa ke kantor, Araz menyimpan gawai dalam saku celananya. Lalu, melanjutkan aktivitas berkebun bersama sang Ayah sejak selepas salat Subuh berjemaah. Sebisa mungkin, ayahnya memang selalu meminta Araz untuk salat berjemaah ketika sedang berada di rumah. Sementara di ruang yang berdampingan dengan musala, lagu-lagu rohani yang diputar oleh ibunya dari pemutar mp3 mengalun lembut. Tidak jarang pula, merdu lagu rohani yang diputar ibunya, berbaur dengan suara merdu nan lirih ayahnya ketika membaca kitab suci Alquran.
Araz memang terlahir dari seorang ibu pemeluk Kristen yang taat dan ayahnya seorang muslim. Meski begitu, orang tuanya itu tidak pernah memaksakan Araz harus mengikuti kepercayaan salah satu dari mereka. Araz dibiarkan memilih sendiri kepercayaan yang dia anut.
Mula-mula, Araz memang mengikuti ibunya, tetapi suatu ketika saat mendengar sang ayah membaca kitab suci, hati Araz tergerak dan ingin mempelajarinya - tidak lantas mengucapkan kalimat syahadat. Saat berusia sepuluh tahun, Araz berkata pada ayahnya jika dia ingin belajar lebih dalam tentang Islam.
Tak ada raut kecewa di wajah ibu Araz saat anak sulungnya itu memutuskan mengikuti jejak sang ayah. Bahkan, sang ibulah yang membelikan kitab suci Alquran pertamanya, lengkap dengan baju koko hingga sajadah.
Araz ingat betul, waktu itu ayah dan ibunya sedang berkunjung ke Solo untuk menjenguk dirinya. Sebab, kondisi tubuhnya yang lemah membuat Araz harus dititipkan di salah satu rumah kerabat sang ayah. Malam harinya sebelum kedua orang tuanya datang, Araz sempat demam. Dalam kesadarannya yang menurun, Araz mendengar sang Ayah melantunkan ayat suci dan itu membuatnya terasa tenang. Dia seakan tidak takut, karena merasa tidak sendirian. Seperti saat dia mendengarkan lagu-lagu rohani, tetapi tingkat ketenangan yang dia rasakan lebih dalam lagi.
Sejak saat itu, Araz mulai mempelajari ayat-ayat yang dibacakan sang ayah. Baru setelah lulus sekolah menengah pertama, Araz memantapkan diri untuk memeluk Islam. Pencarian yang begitu muda memang, tapi Araz tetap bersyukur dengan apa pun yang dia alami saat itu. Proses pendewasaan yang tidak semua orang mengalaminya tentu saja.
"Kenapa akhirnya kamu memutuskan pulang?" tanya sang Ayah sambil menyempatkan pupuk cair ke beberapa jenis tanaman hias. Araz menggumam. Dia tahu, cepat atau lambat pertemuannya dengan sang Ayah tidak akan bisa terhindarkan.
"Eomma meminta aku pulang. Mana bisa aku menolak permintaan, Eomma."
"Jadi, Ayahmu ini sama sekali tidak ada artinya buat kamu?" Mantan jenderal polisi itu bertanya dengan tegas kepada Araz. Laki-laki itu membuang muka.
"Nah, pertanyaan macam kayak gini ini yang bikin aku malas pulang. Ayah tuh terlalu baper. Belum lagi suka seenaknya jual aset milik pribadi aku. Nggak cuma itu, Ayah juga ngajukan surat resign ke perusahaan aku sebelum ini."
"Itu karena Ayah ... ."
__ADS_1
"Maafin, Araz, Yah. Araz tahu alasan Ayah, buat melindungi aku. Ayah sayang sama aku. Ayah nggak mau lagi kehilangan setelah kepergian Adhyaksa, tapi kan Ayah juga nggak berhak melakukan hal yang kejam kayak gitu, Yah. Apalagi soal apartemen. Aku beli sama sekali nggak minta Ayah sama Eomma loh. Tahu-tahy aja udah dijual. Siapa yang nggak syok coba. Yang beli itu, mantan pacar Kanya pula."
"Siapa yang beli apartemen kamu?" tanya Eomma yang sudah bergabung di halaman belakang bersama suami dan juga anaknya. Wanita itu memakai baju pelindung untuk menutupi tubuhnya. Di tangannya menenteng baskom berukuran cukup besar dan sebuah pisau.
"Ada, mantan pacar Kanya, Eomma. Hemm ... atau aku mesti sebut dia calon kakak ipar?"
Sang ibu yang pertama kali terkejut saat mendengar ucapan Araz. Sementara sang ayah masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih ketika Araz mengatakan jika mantan Kanya juga bisa disebut sebagai calon kakak ipar.
"Jadi, mantan pacar Kanya itu, sekarang jadi kakak tirinya. Orang tua mereka memutuskan untuk menikah," jelas Araz disambut dengan anggukan paham sang ayah.
"Kok bisa gitu?"
"Kalau nggak gitu, Araz sama Kanya nggak bisa pacaran, Yah. Gimana sih. Jadi tadi gimana?"
"Apartemen, Yah. Itu bisa nggak hasil penjualnya, paling nggak separuhnya saja dikasihkan ke aku. Masa tiap hari mesti tidur di hotel sih? Manfaatkan kedudukan Eomma yang juga memilki saham di hotel itu? Ayah sendiri yang sering bilang kalau kita harus menghindari KKN," ucap Araz membela diri. Namun, wajah sang ayah belum juga melunak. Araz tahu, pasti masih ada hal yang dipikirkan oleh sang ayah.
"Sudahlah, kasih saja dia apartemen baru. Lagipula kalau keseringan tidur di hotel, itu cuma bikin Cassandra semakin memanfaatkan keadaan. Kamu tahu sendiri kan gimana keponakan kamu itu," bujuk Eomma membela anak sulungnya.
"Ya sudahlah, memang mustahil meminta kamu untuk tinggal di sini saja dan mulai mengelola bisnis restauran keluarga kita. Kamu cari yang cocok, kalau sudah, Ayah transfer uang hasil penjual apartemen kamu," kata sang Ayah pada akhirnya. Laki-laki itu sudah mulai lelah menghadapi ulah anak sulung sekaligus anak tunggalnya saat ini.
"Nah, gitu dong. Kan cakep. Makasih, Yah. Ayah memang selalu yang terbaik," kata Araz memuji ayahnya yang hanya ditanggapi gumaman oleh pria itu.
__ADS_1
Diam-diam Araz tersenyum. Segalak-galaknya singa tidak mungkin memakan anaknya sendiri. Apalagi manusia yang jelas diberikan akal dan pikiran serta sifat welas asih. Itu semua hanya membutuhkan cara bagaimana harus menghadapi segala problema.
"Raz, kenapa kamu nggak membangunkan Kanya juga?Harusnya ini bisa jadi momen ngobrol yang pas. Biar kita sama-sama saling mengakrabkan satu sama lain dan nggak lagi canggung. Gimana sih kamu itu? Keburu Cassandra datang kalau nggak sekarang," kata sang Ibu saat menyadari tidak ada satu pun tamu di villa merek yang tempati.
"Dari tadi sebutin Cassandra mulu deh. Memang kenapa sih?"
"Harusnya kamu yang paling paham sama kakak sepupuku itu. Begitu tahu kamu pulang ke sini dan membawa Kanya, dia pasti kebakaran jenggot dan ingin segera bertemu dengan Kanya."
Araz tertawa. Ide jahil tiba-tiba menyusup dalam benaknya. "Ya udah, kalau gitu biar saja mereke ketemu. Biar Cassandra nggak bisa macam-macam lagi sama aku ataupun sama Kanya."
"Kacau pikiran kamu. Tahu sendiri gimana queen of drama satu itu. Masih saja mau cari perkara."
Lagi-lagi Araz tertawa. Dia bisa bayangkan bagaimana dongkolnya wajah Cassandra saat bertemu dengan Kanya. Sebab, Araz yang paling tahu apa kelemahan saudara sepupunya itu.
"Ya sudah, pastikan saja dia sudah bangun atau belum. Cek juga, apa Jenna bikin ulah sama Kanya selama mereka tidur bersama tadi malam. Kalau sampai dia berbuat ulah, awas saja, Eomma yang akan menghukum bocah nakal itu."
"Iya deh, Araz cek dulu ke kamar mereka. Oh iya, Eros kan nggak ikut balik tadi malam. Apa dia juga belum bangun, Ma?"
"Mana ada Eros belum bangun jam segini. Dia pasti udah sampai ke ujung bukit sebelah utara. Dia bahkan bangun lebih pagi dibanding ayahmu. Sudah, bangunkan saja Jenna dan Kanya," kata ibu Araz mengulang permintaannya.
Begitulah suasana pagi yang kerap ditemui jika ia sedang berada di rumah. Terkadang momen-momen seperti itulah yang membuat Araz rindu pulang ke rumah. Walaupun pada kenyataannya dia lebih sering berdebat dengan sang ayah jika berada di satu atap dengan laki-laki yang telah mewariskan sifat keras kepala kepadanya itu.
__ADS_1
"Ne, Amma. Araz bakal bangunin mereka," ucap Araz sambil berlalu dari halaman belakang dan mengecek apakah kekasihnya sudah bangun atau belum. Meski Araz yakin betul jika Kanya sudah bangun dan sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Laki-laki itu belum mengatakan pada Kanya jika dia telah mengizinkannya pada Hanung untuk tidak masuk kantor hari ini.