Pulang

Pulang
Dia dan Keributan dalam Kepala serta Hatinya


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Pada awal pertemuanku dengan Kanya aku sempat berpikir jika perempuan itu sosok yang mudah bergaul. Namun baru sehari bersamanya, aku tahu, Kanya bukanlah orang yang mudah membuka hatinya pada orang lain. Dalam hati gadis itu ada luka yang teramat parah yang coba ia sembunyikan dari dunia. Bahkan dari orang-orang terdekatnya.


Semula aku yakin mampu meluluhkan hati perempuan itu. Sebab jauh sebelum aku bertemu Kanya, ada cerita yang lebih dulu sampai kepadaku tentangnya. Hingga jantung yang melekat di dalam tubuhku bereaksi dengan sendirinya saat kami bertemu.


Namun ternyata tak mudah mendekati Kanya. Perempuan itu sengaja membangun benteng tinggi dengan labirin-labirin menyesatkan untuk menuju hatinya. Kanya bahkan menyewa Cerberus untuk berjaga di depan gerbang benteng yang sengaja ia bangun.


Aku memperhatikan gerak-gerik Kanya ketika berjumpa dengan Damar. Raut perempuan itu mendadak keruh saat temannya menyebut sesuatu tentang masa lalunya. Bahkan selama perjalanan menuju kota tempat asal Kanya, perempuan itu lebih banyak diam. Menatap keluar jendela dan menikmati suasana hujan. Melihatnya begitu terluka entah mengapa jantungku juga ikut merasakan nyeri. Apakah pemiliknya yang dulu juga merasakan kesedihan Kanya?


Hingga esoknya ketika tahun baru, kulihat Kanya duduk termenung di teras samping rumah Almira. Aku tak ingin bertanya mengapa ia mengajakku menginap di rumah temannya dan bukannya di rumah orang tua perempuan itu atau mungkin saja hotel. Kukira tak susah mencari hotel di daerah ini meski tergolong kota kecil. Hanya saja aku berpikir sepertinya ia berusaha menyembunyikan sesuatu tentang keadaan keluarganya dan aku tak ingin mengorek informasi itu kecuali ia sendiri yang bercerita.


Perempuan itu sedang melamun ketika Almira dan Damar keluar rumah untuk berangkat bekerja. Ia bahkan tak merespon panggilan kedua sahabatnya. Seolah asyik dengan dunia yang ia bangun sendiri dengan segala badai dan tantangan yang ingin ditaklukkan. Hingga akhirnya Almira memilih menyerah dan memintaku untuk mengajaknya mengobrol.


"Mas titip Anya ya. Dari luar aja dia sok tegar, padahal aslinya dia serapuh kaca. Sekali jatuh, pyar... pecah deh dia. Ajakin ngobrol atau ke mana gitu biar dia nggak jadi zombie," curhat Almira sebelum berangkat ke butik.


"Iya, nanti gue ajak dia jalan-jalan deh," kataku meyakinkan Almira meski aku sendiri pun tak yakin ia menerima ajakanku. Belum lagi masih ada tugas yang harus segera kuselesaikan. Tanggal 5 nanti batas akhir pengumpulan laporanku.


Setelah memintaku menemani Kanya sekali lagi, Almira akhirnya pergi bersama sopirnya - Pak Pras. Sedangkan Damar pergi dengan mobil lainnya. Tak lama, aku pun menghampiri Kanya yang masih sibuk dengan entah apa yang ada dalam hati atau mungkin juga pikirannya.


"Hei, pagi-pagi udah ngelamun. Gimana rencana kita hari ini?" sapaku membuat Kanya terkejut. Perempuan itu menatapku lalu memandangi gemericik kolam ikan tak jauh dari tempat kami.


"Aku dulu sempat wawancara dengan beliau sih, Mas. Bagaimana kalau aku bikin janji dulu? Takutnya beliau sedang keluar kota karena ini momennya pas tahun baru," kata Kanya masih memandangi gemericik air kolam.


"Boleh. Oh ya Nya, aku beneran nggak apa-apa nih tinggal di rumah temen kamu?"


"Santai aja Mas, rumah segede ini muat kok kalau buat nampung satu orang aja. Lagian di sini lebih nyaman dibanding rumahku."


Entah Kanya sadar atau tidak, suara perempuan itu bergetar saat bicara. Seperti ada yang berusaha ia tutupi.


"Kenapa, takut aku dikira pacar kamu ya?" tanyaku mencoba memancing apa yang disembunyikan Kanya, tapi perempuan itu masih saja tetap keras kepala.


"Nggak gitu juga, Mas. Rumahku terlalu kecil, khawatir Mas Aldo nggak nyaman."


Saat seseorang bergerak gelisah ketika membicarakan rumah dengan suara yang bergetar menahan amarah, dapat dipastikan jika ada sesuatu yang tidak beres. Dan semua gerak-gerik itu melekat erat pada Kanya. Membuatku semakin yakin jika memang ada peristiwa yang terjadi hingga membuatnya tak ingin pulang. Bukankah rumah selalu menjadi pelabuhan segala resah ketika kita sedang tak tentu arah?


"Aku sih nggak masalah tinggal di mana aja. Sekali pun nggak di rumah kamu, aku juga bisa tinggal di hotel."


"Almira sama Damar orangnya santai, Mas. Mumpung orang tua Almira lagi ngurus tambangnya di Kalimantan. Jadi sekalian ngeramein rumah ini biar nggak sepi."


Aku hanya tersenyum menanggapi pernyataan Kanya dan meminta izin perempuan itu untuk menghisap rokok. Meski aku bukan maniak rokok terkadang perlu menghisap nikotin untuk meloloskan segala penat yang menyesaki tempurung kepalaku. Lalu ide mengajaknya jalan-jalan sesuai pesan Almira muncul dan ia menanggapi dengan anggukkan setelah agak lama berpikir.

__ADS_1


Oke Nya, mungkin memang belum sekarang gue tahu apa yang sedang ribut dalam hati juga kepalamu.


***


Wajah Kanya sedikit berwarna saat kami menyusuri wisata alam Goa Akbar yang menjadi salah satu destinasi yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Terlebih saat ia bercerita tentang legenda yang berkembang tentang tempat wisata itu.


Konon sebuah ruang landai di dalam goa itu, dulu menjadi tempat musyawarah para Wali saat menyebarkan Islam di tanah Jawa. Tidak hanya itu, goa ini konon juga menjadi tempat persembunyian para Wali. Selain goa ini juga masih ada goa-goa lain yang disinyalir sebagai tempat bermusyawarah orang-orang pilihan itu. Tak heran jika kota kecil ini selain berjuluk seribu goa juga dijuluki sebagai Bumi Wali. Sebab banyak sekali makam tokoh penyebaran Islam yang masih terjaga hingga kini.


"Mas, ada mitos yang dipercaya di tempat ini loh," bisik Kanya saat kami melewati kolam di tengah goa. Kami bisa melihat banyak uang logam di dasar kolam yang terbentuk alami dari tetesan batu stalaktit dan stalagmit sejak ribuan tahun lalu.


"Oh ya? Apa itu?" tanyaku antusias demi memancing lebih banyak senyum dan cerita dari Kanya. Mata perempuan itu berbinar saat berbicara denganku untuk pertama kalinya.


"Katanya kalau kita lempar koin ke kolam sambil mengucapkan keinginan kita, maka bisa jadi kenyataan loh. Mas Aldo mau coba?" tawar Kanya sambil mencari uang recehan dan menyerahkannya kepadaku.


"Boleh, aku boleh mengucapkan apa pun 'kan?"


"Iya dong."


"Termasuk harapanku buat kamu ya?"


"Eh?"


"Kita wawancara sama pengelolanya dulu yuk. Lumayan nih buat konten blog."


"Mas Aldo punya blog juga?"


"Iya, isinya tentang testimoni aku kalau habis jalan-jalan ke suatu tempat. Kayak ***** Traveler gitu. Cuma nggak pro juga kayak Trinity."


"Gimana bagi waktu jalan-jalan sama kerja tuh, Mas?"


"Ya gimana ya, dari dulu udah hobi travelling dan nulis juga, jadi ya tinggal jalan aja. Bisa pas liputan ke luar daerah juga Lumayanlah ada pemasukan tambahan dari sana."


"Wah, pekerja keras sekali."


"Iya buat istri masa depanku yang masih diusahakan."


"Oh udah ada orang yang disukai toh," komentar Kanya membuatku gemas. Bagaimana dia bisa begitu santai jika dialah yang kuharapkan dalam diam?


Aku tersenyum sebelum meninggalkannya di belakang. Masih ada rencana yang harus segera kutuntaskan.


***

__ADS_1


Obrolan akrab Kanya dengan seorang wanita membuat jantungku berdegup kencang. Sebab akulah yang menjadi objek obrolan mereka saat menunggu pesanan Almira. Perempuan itu tiba-tiba ingin makan martabak dan memaksa Kanya untuk membelikannya. Daripada mereka berdebat, aku mengalah untuk mengabulkan keinginan Almira. Namun justru kami berdua berada di kafe ini setelah teman Kanya itu memaksa kami berangkat bersama.


Dan kini aku justru menjadi objek obrolan Kanya dengan ibu Damar.


"Loh Almira nggak cerita sama kamu. Tante sekarang lagi ngelola kafe ini. Butik udah diurus Almira jadi Tante tenang kalau mau buka usaha baru. Siapa sih ini? Pacar kamu yo? Ganteng loh, kaya artis Korea. Sapa kuwi jenenge? Gong Yoo?"


Aku menahan diri agar tidak terlihat salah tingkah. Memang banyak yang mengatakan jika aku mirip pemeran Jeong Dae-hyeon dalam film Kim Ji-yeong Born 1982 atau sebagai Seok-woo pada film Train to Busan itu, tapi bukan itu yang membuatku tidak nyaman. Anggapan ibu Damar tentang hubunganku dan Kanyalah yang membuat kikuk. Bagaimana jika setelah ini Kanya merasa terganggu dan memilih menghindariku? Maka semua usaha yang kulakukan sampai saat ini akan menjadi sia-sia.


"Dia Aldo Tante. Teman atasan di kantor," jawab Kanya sambil mengenalkan aku kepada ibu Damar. Ah, dia bahkan mengenalkan aku sebagai Aldo yang bukan nama asliku. Semakin buruk saja citraku jika Kanya tahu arti dari sapaan Aldo. "Beliau ibunya Damar, Mas, yang kata Almira tadi mau dijemput Pak Pras di Juanda."


"Halo Tante, saya teman Kanya," kataku menirukan pengenalan Kanya pada ibu Damar meski dalam hati ingin mengenalkan diri sebagai calon suami, tapi jika aku melakukan itu Kanya pasti tak akan mau kenal denganku lagi.


Dan lagi, namaku Alcatraz. Ya penjara yang terkenal dengan sistem penjagaannya yang ketat itu. Bukan Aldo. Bagaimana bisa Hanung mengenalku dengan nama itu. Dalam hati aku pun mengutuk kebodohanku sendiri.


****, lo juga pertama kali nyebut nama lo Aldo.


"Ganteng yo. Ya sudah ndak usah lama-lama pacarannya. Langsung nikah wae, biar cepet nyusul Almira sama Damar," kata wanita itu membuat hatiku melambung.


Kalau saja bisa semudah itu, Tan, batinku.


"Memang Almira tadi bilang gimana sama kalian, kok jemput Tante di bandara segala?"


"Biasa Tan, dia lagi ngidam ngerjain orang kayaknya."


"Anggap aja dia kasih kalian waktu buat berduaan."


Ah benar juga, kenapa gue nggak kepikiran kalau Almira sengaja mengatur rencana ini?


Aku masih sibuk dengan pikiranku ketika ibu Damar pamit ingin menemui tamu.


Suasana mendadak hening. Kami terlarut dalam pikiran masing-masing. Hingga aku memecahkan kesunyian dengan sebuah pertanyaan yang cukup mengagetkan. Bahkan untuk diriku sendiri.


"Jadi kapan kita nikah?"


"Hah?"


Aku tertawa kikuk melihat reaksi Kanya. "Nggak usah buru-buru. Kita masih punya banyak waktu kok. Kamu juga pasti kaget ya aku tanya gitu?"


Selebihnya perempuan itu memilih diam. Ia kembali sibuk dengan dunia yang ada dalam kepala dan hatinya. Menutup gerbang yang dijaga Cerberus dan tidak mengizinkan aku memasukinya.


Selama apa pun itu, gue akan menunggu Nya, sebab ada janji yang harus gue penuhi.

__ADS_1


__ADS_2