
"Ya, halo?" ucap Araz dengan setengah hati.
Kalau saja Kanya tidak memaksanya untuk menjawab panggilan telepon itu, dia malas berurusan dengan sosok yang kini sedang meneleponnya.
Terakhir kali pertemuannya dengan orang itu hanya menimbulkan masalah dalam hidupnya.
Araz sudah tidak ingin berurusan lagi dengannya. Namun, dia juga sadar betul jika sosok itu tak akan melepaskannya begitu saja.
"Gue sibuk, cepat katakan apa yang lo mau!" ucap Araz dengan tegas.
Lelaki itu sengaja membuat jarak agar si penelepon merasa nyaman.
"Bocah ini, apa seperti itu orang tuamu mengajarkan sopan santun?"
Seketika Araz tertegun saat mendengar suara seorang pria tua dari ujung pelantang suara.
"Hal-abeoji?" ucap Araz tak sanggup lagi berkata-kata.
Dia tidak mengira jika akan menerima panggilan telepon secepat itu dari sang kakek dari pihak ibu.
"Kau kira siapa sampai berani mengabaikan panggilan teleponku?"
"Ah, itu...aku kira...Sebentar Hal-abeoji. Aku sedang di luar. Nanti aku telepon begitu sudah kembali ke kantor." Araz mencoba bernegosiasi dengan sang kakek. Meski kemungkinan itu sangat kecil terjadi.
"Tidak ada nanti! Kita bicarakan semuanya sekarang!"
"Tapi, Hal-abeoji...."
Sentuhan lembut di paha Araz membuat lelaki itu menoleh. Kanya menatapnya dengan senyum membingkai wajah perempuan itu. Sang kekasih memberinya kode agar Araz menjawab panggilan teleponnya lebih dulu.
Dari pembicaraan singkat itu pun Kanya bisa memahami, siapa orang yang sedang menelepon Araz saat ini. Untuk itu, Kanya mendorong Araz agar menjawab telepon dari kakeknya lebih dulu.
Mengingat cerita Araz bagaimana sikap sang kakek dan bagaimana pula pria itu bersikeras menjodohkan sang kekasih dengan Cassandra. Dengan alasan agar harta mereka tidak jatuh ke tangan orang lain.
Dia tidak mau dicap sebagai perempuan pembangkang atau dipandang buruk oleh kakek Araz hanya karena menghalangi lelaki itu menjawab telepon. Meski kenyataannya Araz lah yang tidak ingin menjawab telepon dari sang kakek.
"Nggak apa-apa. Angkat aja dulu," bisik Kanya masih mempertahankan senyum di wajahnya.
Araz tampak keberatan. Ini pertama kali bagi keduanya berkencan setelah makan siang. Tanpa perlu khawatir diketahui orang lain jika mereka berpacaran. Namun, panggilan sang kakek justru mengacaukan segalanya.
"Apa yang kau lakukan? Beraninya membuat orang tua menunggu!" omel sang kakek dari ujung telepon.
Padahal Araz sudah menjauhkan ponselnya, tapi tetap saja dia bisa mendengarkan suara pria itu berteriak dari ujung pelantang suara.
"Udah, jawab aja dulu," desak Kanya.
__ADS_1
"Aku jawab di sana ya?" ucap laki-laki itu sambil menunjuk sebuah bangku taman agak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.
Kanya bisa paham dan membiarkan Araz menjawab panggilan teleponnya di tempat yang dia mau.
"Iya," jawab perempuan itu sambil mempertahankan senyum membingkai wajahnya.
Dengan berat hati, Araz bangkit dari samping Kanya dan berjalan ke tempat yang sebelumnya dia tunjuk, untuk menjawab panggilan sang kakek. Araz sedang menjaga perasaan Kanya yang mungkin saja akan terluka ketika mendengar pembicaraannya dengan pria itu.
Sang kakek belum mengenal Kanya. Tapi, bukan tidak mungkin nenek lampir yang nomornya digunakan sang kakek untuk menelepon Araz, sudah meracuni pikiran pria tua itu.
Terbukti sang kakek lebih dulu meneleponnya sekarang. Padahal, Araz baru saja berencana jika dia akan mengajak Kanya terbang ke Korea untuk meminta restu pria tua itu.
"Alcatraz! Bocah ini. Aku dari awal sudah tidak setuju kalau ayahmu memberi nama Alcatraz. Inilah jadinya, kamu suka sekali membangkang dan membantah ucapan orang tua." Pria tua itu berkata dalam bahasa Korea yang hanya dipahami sedikit oleh Araz.
Namun, laki-laki itu tak ambil pusing dan membiarkan sang kakek terus mengomel dari ujung telepon.
"Apa yang dia katakan, Hal-abeoji?"
Seseorang bertanya dari belakang pria tua itu.
"Entahlah, bocah bandel itu justru mengabaikan ucapanku!" Si pria tua mengeluh dan terdengar jelas oleh Araz.
"Aku sudah katakan kalau sedang berada di luar, Hal-abeoji. Hal-abeoji sendiri yang memaksa untuk bicara denganku." Araz tak mau disalahkan.
"Hal-abeoji selalu bilang soal sopan santun, tapi justru memaksaku bicara padahal sedang berada di luar," imbuhnya dengan nada kesal.
"Hal-abeoji, ganti dulu bahasa Hal-abeoji kalau mau bicara denganku."
"Benar-benar bocah ini. Semakin dewasa bukannya semakin bisa menghormati orang tua, justru semakin berani bersikap kurang ajar."
"Aku mengingatkan, Hal-abeoji. Setidaknya kalau Hal-abeoji mau menasihatiku, aku bisa memahami ucapan Hal-abeoji. Bukannya itu lebih baik?"
Pria tua di ujung telepon itu menghela napas panjang. Dia seakan kehabisan akal untuk menghadapi cucunya yang satu ini.
Padahal, keluarga mereka merupakan keluarga besar yang memiliki banyak keturunan. Tapi, hanya Araz satu-satunya cucu yang tak bisa dikendalikan.
Jangankan membantah, cucu yang lain tidak ada satu pun yang berani menatap mata pria tua itu ketika berbicara. Namun, Araz justru sering kali mengaturnya.
Termasuk harus menggunakan bahasa Indonesia ketika bicara dengan laki-laki itu.
Bukannya Araz yang mempelajari bahasa dari sang ibu, tapi justru sang kakeklah yang diminta menggunakan bahasa ibunya.
"Ck, bocah ini benar-benar. Aku sudah kehilangan akal sehat buat menghadapimu."
"Maaf, Hal-abeoji, tapi aku hanya ingin mempermudah urusan di antara kita. Dengan begitu, bukannya semua jadi lebih mudah?"
__ADS_1
"Sudahlah, kita tidak perlu berdebat lebih lama. Aku akan langsung mengatakan pada intinya.
Kamu tahu kan, kalau Cassandra itu adalah perempuan yang akan menjadi jodohmu? Kamu tahu artinya kan? Suami-istri. Lalu kenapa kamu masih membuang waktumu berpacaran dengan orang lain?"
"Hal-abeoji, tidak berhak mengatur siapa jodohku," bantah Araz dengan tegas.
"Kenapa tidak? Di negaramu ada istilah bibit, bobot, dan bebet dalam urusan jodoh. Aku pun juga setuju dengan istilah itu.
Memang apa spesialnya perempuan yang hanya bekerja jadi bawahanmu? Apa itu setara dengan dirimu yang akan menggantikanku di masa depan?"
"Sial!" Araz mengumpat dalam hati.
Dia tidak mengantisipasi hal ini bakal terjadi begitu Cassandra tiba-tiba muncul di rumah orang tuanya dan mengacaukan segalanya. Araz kalah langkah dengan perempuan itu yang lebih dulu mengadu pada sang paduka raja. Kakek dari pihak ibu yang suka mengatur segalanya. Termasuk jodoh bagi sang cucu.
"Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku?" tanya pria tua itu dari ujung telepon.
"Kita sudah bahas soal ini, Hal-abeoji. Aku sudah katakan dengan tegas, kalau aku tidak mau meneruskan apa pun yang saat ini menjadi milik, Hal-abeoji. Serahkan saja semuanya pada, Cassandra. Aku tidak mau ambil bagian."
"Bocah ini, bicara apa kamu? Beraninya berkata seperti itu pada orang tua. Lagipula, mana bisa perempuan memegang kendali perusahaan sebesar ini?"
Araz menghela napas panjang. Sang kakek mulai lagi, selalu membeda-bedakan kemampuan seseorang hanya dari gender.
Padahal, dibandingkan cucunya yang lain, Cassandra merupakan ratu dalam keluarga besar tersebut.
"Kenapa tidak memberi tanggapan?"
"Memang apa yang perlu saya jawab? Mau bagaimanapun Hal-abeoji kan selalu dengerin apa kata dia ketimbang ucapanku."
"Memang apa yang mau kamu sampaikan? Omong kosong bahwa kamu punya calon istri pilihanmu sendiri?"
"Kalau Hal-abeoji tahu, harusnya Hal-abeoji kasih saya kesempatan dong," ucap Araz terdengar kesal.
"Kesempatan apalagi?"
"Hal-abeoji bahkan belum pernah bertemu dengannya, tapi sudah memutuskan secara sepihak."
"Kalau begitu sebutkan seberapa tinggi derajatnya untuk bersanding denganmu."
Araz tidak suka membahas persoalan ini dengan sang kakek. Tidak akan ada habisnya dan itu hanya akan membuang waktunya dengan percuma.
Terlebih belum tentu Kanya juga mau disinggung tentang seberapa kaya ataupun tinggi derajat keluarganya. Hanya saja, fakta yang Araz ketahui, ayah sambung Kanya merupakan dua puluh besar orang terkaya di negeri ini.
Begitu juga dengan sang ibu yang berada dalam lima puluh besar jajaran orang terkaya. Namun, Araz tidak mau menyebutkan hal itu.
Araz ingin, Kanya dinilai sebagaimana dirinya sendiri. Bukan seberapa banyak harta benda yang dimiliki keluarga ataupun orang tuanya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku akan mengajaknya bertemu, Hal-abeoji. Hal-abeoji bisa menilai sendiri, apakah harta masih berlaku dalam urusan ini," tutup Araz tidak mau memperpanjang perdebatannya dengan sang kakek.