Pulang

Pulang
Hanya Perlu Merelakan Bukan?


__ADS_3

Renjana Putra


Sebenarnya bukan keberadaan Angel yang membuat perasaan Putra berantakan sejak awal latihan. Perempuan itu hanya menambah level kekesalan Putra. Sejak pagi, Putra sudah kesal akibat Kanya bersikeras menjemput Araz seorang diri ke bandara. Bukan perkara dia tidak percaya Kanya bisa atau tidak menyetir mobil sendirian sampai jarak sejauh apa pun itu. Putra bahkan yang lebih tahu kemampuan Kanya menyetir mobil. Sebelum dia bisa mengendarai mobil dengan lancar, Kanya sudah sering mengantar ayahnya perjalanan dinas ke luar kota di akhir pekan sejak memperoleh SIM pertamanya. Tepat di usianya yang ke 17 tahun.


Hanya saja, Putra marah atas tindakan yang dilakukan Kanya demi seorang Araz. Ya, laki-laki itu mendapat perlakuan yang spesial dari Kanya dan Putra tak suka harus mengakui hal itu. Terlebih, ini kedua kalinya Kanya menolak permintaan Eka agar diantar saja oleh Pak Ratno. Perasaan Putra semakin memanas. Pikiran-pikiran buruk memenuhi tempurung kepala laki-laki itu.


"Gue tahu bukan Angel yang bikin lo kayak gini. Pasti Kanya 'kan?"


Arlan menyusul Putra yang sedang duduk di balkon kamarnya di rumah sang kakek. Mereka memutuskan pindah latihan ke studio di rumah kakek Putra setelah bosan berlatih di tempat Alfian.


Tatapan laki-laki itu kosong. Terpaku pada sosok sang sepupu yang sedang membaca buku di gazebo taman samping rumah. Sepupunya yang telah menjadi dokter dan sempat merawatnya dulu, pulang tadi malam. Rumah sang kakek selalu menjadi tujuan utama untuk memastikan kondisi kesehatan pria tua itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Bahkan nggak perlu seorang Kak Noah buat tahu isi hati lo kalau sedang mikirin Kanya sekarang. Kenapa lagi sih? Bukannya kemarin-kemarin udah bilang kalau mau merelakan ya? Udah dari kapan hari loh, lo udah fine aja sama Kanya."


Komentar Arlan masih tidak mendapat tanggapan dari Putra. Mereka tinggal berdua. Sedangkan anggota yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Mumpung di kota kelahiran mereka, jadi para anggota Nada Sumbang menghabiskan waktu bersama keluarga.


Besok mereka sudah harus tour promosi di beberapa kota di Jawa Timur. Hanya Arlan yang belum sempat pulang ke rumah sejak mereka debut di bawah naungan label produksi besar di ibukota. Berbeda dengan anggota Nada Sumbang lainnya, Arlan berasal dari daerah di bawah lereng Gunung Merapi.


Untuk itu, selama menyiapkan tour di Jawa Timur, dia selalu berpindah tempat dari rumah Danu, Anggit, Alfian, dan terakhir Putra. Kadang jika dia bosan, dia akan memilih tinggal di hotel bersama staf lain yang ikut menyiapkan tour mereka yang diawali di Kota Tuban - tempat asal Nada Sumbang. Para kru itu sudah di kota ini sejak tiga hari yang lalu.


"Put, elah. Ngomong kek. Berasa lagi baikin pacar yang lagi ngambek gue."


Tawa Putra berderai mendengar komentar Arlan. Laki-laki itu memang paling bisa membuyarkan suasana hatinya yang berantakan.

__ADS_1


"Najis gue jadi pacar lo."


"Ya makanya jangan bengong aja deh lo. Ngeri tahu."


"Hahaha ... jujur aja, gue bingung mesti gimana respon pertanyaan lo. Makanya gue diam aja. Gue juga nggak tahu sama perasaan gue sendiri. Di awal gue ketemu sama Kanya waktu shooting MV, gue nggak ngerasain apa-apa selain lega nemuin dia di hari hujan badai kayak gitu. Gue nggak berharap balikan atau apa pun itu, selain dia mau maafin gue. Tapi, semakin ke sini, gue semakin egois sama dia. Gue nggak rela dia ketemu sama Araz dan jatuh cinta lagi sama laki-laki lain selain gue."


Cerita Putra panjang lebar. Sementara Arlan menatap sang vokalis Nada Sumbang itu dengan pandangan ingin menonjok lawan bicaranya keras-keras. Bukan sebab atau perkara apa, hanya saja jika sudah dalam bayangan masa silam seperti sekarang, Putra benar-benar tidak bisa diajak berpikir jernih apalagi bekerja dengan rasional. Maunya menggalau dan harus dipenuhi semua permintaannya. Termasuk aturan sekecil apa pun itu yang dianggapnya benar. Seperti kemunculan Angel yang menjadikan laki-laki itu bad mood sepanjang latihan.


"Percuma juga gue ngomong sekarang. Lo aja masih bucin sama Kanya. Nggak bakal sampai ke otak kalau gue ngomong sekarang. Pasti bakal lo mentahkan. Nanti aja deh gue bakal kasih komentar sama lo. Kayaknya cuma Kak Noah yang bisa bantu lo sekarang deh."


"Nggaklah. Gue udah janji sama dia bakal lepasin Kanya."


"Ya terus kenapa nggak lo lakuin, Monyet?"


"Gila! Cewek secantik dan seseksi Kanya lo bilang kayak setan!"


Putra memukul kepala Arlan saat sang keyboardist menanggapi tentang Kanya. Bagaimanapun dia kesal setiap kali Arlan berkomentar soal penampilan perempuan itu. Dia tidak suka orang lain melihat detail tubuh Kanya. Meski tak bisa dia pungkiri jika apa yang dikatakan Arlan itu memang benar. Kanya cantik dan seksi.


"Ya pantes 'kan dia gagal move on mulu,"


Komentar sebuah suara tiba-tiba. Noah sudah berdiri di ambang pintu saat mereka menoleh. Wajah Putra tampak murung. Kemunculan Noah berarti harus melewati serangkaian pertanyaan yang sudah mirip sesi konsultasi dengan seorang pakar. Dan, memang itulah yang selalu dilakukan Noah kepadanya. Membuatnya seperti orang sakit yang harus segera disembuhkan.


Walaupun tak bisa dia sangkal jika dirinya memang membutuhkan penawar. Bukan jatuh cinta lagi seperti yang orang lain bilang, sebab tak mudah baginya berpindah ke lain hati setelah cintanya yang begitu dalam pada Kanya. Putra pun tak tahu, penawar semacam apa yang dia butuhkan sekarang.

__ADS_1


"Jangan mulai deh, Kak."


"Hahaha ... oke, oke. Baiklah. Nggak masalah kalau kamu nggak mau ngobrol sama aku. Tapi udah nggak sering mimpi buruk 'kan?"


Putra hanya menggeleng. Berada di dekat Kanya membuat segala mimpi buruknya menghilang. Dia menjadi pribadi yang semakin semangat menjalani hari-hari ke depan setiap kali membuka mata. Bahkan, suara petir saat hujan pun tak jadi kendala. Selama dia berada dalam satu rumah yang sama dengan Kanya. Putra menjadi sosok yang semakin berani mengahadapi apa pun. Kecuali perasaannya kepada Kanya.


Meskipun dalam hati dia selalu merapalkan mantra,"cukup relakan dan biarkan dia tertawa bahagia", "cukup relakan dan biarkan dia tertawa bahagia", setiap kali bersisipan dengan Kanya dan ingin merengkuhnya. Bukan sebagai adik, tetapi perempuan yang pernah dia cintai dan masih sangat dia cintai.


"Udah, cari kesibukan aja di luar rumah. Biar nggak sering ketemu sama Kanya."


"Nggak lihat dia justru semakin nggak karuan rasanya."


"Eh iya, tumben tadi dia nggak kelihatan? Ke mana?"


Pertanyaan Arlan sukses membuat hati Putra terbakar. Adegan perdebatan antara dirinya, Kanya dan Eka kembali terulang. Itu pula alasan yang membuat perasaannya berantakan. Dan, di saat dia sudah mulai membaik, Arlan justru memutar paksa adegan yang ingin dia lupakan.


Sial.


Jika seperti ini bagaimana caranya dia merelakan? Ada saja rintangan yang membuatnya terseret arus bernama kenangan. Menyebalkan.


"Hanya dengan cara merelakan bukan? Ya memang nggak gampang, tapi kalau itu kamu, aku yakin pasti bisa."


Noah menepuk pundak Putra seolah tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu. Dia tersenyum sebelum meninggalkan Arlan dan Putra yang masih harus menyelesaikan urusan mereka. Sebab, Putra tak akan membiarkannya begitu saja akibat telah mengungkit kembali hal yang membuat mood-nya berantakan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2