
Renjana Kanya
Nada dering gawai yang berbeda di antara panggilan lainnya menghentikan ciumanku dengan Araz. Aku tahu betul siapa si penelepon. Aku tahu kebiasaan wanita itu. Dia tak akan menelepon jika tidak terjadi hal yang benar-benar penting. Bahkan setelah bertahun-tahun kepergianku dari rumah, wanita itu hanya berkirim pesan setiap kali bertanya kabar atau memintaku untuk pulang, yang justru terkesan tidak tulus. Makanya, aku selalu bisa menghindar sebab dia tidak pernah benar-benar memintaku untuk pulang. Lantas mengapa aku harus memenuhi permintaannya yang hanya dikirim lewat pesan singkat? Dan sekarang, kabar penting apa yang membuatnya sudi menekan sederet angka demi melakukan panggilan?
"Halo," sapaku malas sambil menjauh dari Alcatraz. Aku tak ingin dia melihat sekacau apa hubunganku dengan ... Mama.
Namun, bukan suara wanita itu yang terdengar dari seberang telepon. Lelaki yang tak lagi asing menyapa dengan suaranya yang khas. Om Eka. Suaranya gemetar saat menanyakan bagaimana kabarku. Dan bertanya apakah aku sempat bertemu Putra. Sebab, dari kemarin, dia berusaha menghubungi Putra, tetapi tidak ada respon dari anak lelakinya itu.
"Kanya nggak sempat ketemu sama Putra, Om."
Aku terpaksa berbohong. Putra pun sudah memintaku untuk tidak memberitahu ayahnya jika mengalami luka akibat ulah ayah Vika. Bagaimanapun Putra tak ingin lelaki pemarah itu menerima akibat yang lebih fatal jika Om Eka sampai tahu kabar tentang peristiwa ini.
Aku tahu betul bagaimana sifat Om Eka jika itu perkara Putra. Jangankan membuat anaknya sampai babak belur, melukai seujung kuku pun akan panjang urusannya. Seperti mantan istri keduanya yang harus rela mendekam di balik jeruji besi akibat melakukan kekerasan pada Putra hingga membuatnya menanggung trauma yang cukup lama. Bahkan masih juga sering kambuh sampai sekarang.
"Baiklah, nanti ... Papa coba hubungi kakakmu lagi, tapi Kanya ... " Ucapan Om Eka terjeda. Cukup lama. Sesekali ia menghela napas panjang.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Om?" tanyaku menekan ego. Entah mengapa, perasaanku tiba-tiba tak enak dan terus kepikiran soal wanita itu. Apalagi, Om Eka tak juga menjawab pertanyaanku.
"Kamu bisa pulang hari ini, Nya?" tanya Om Eka pada akhirnya.
"Pulang?"
"Iya, Nak. Pulanglah hari ini."
__ADS_1
"Memang kenapa saya mesti pulang? Om, apa benar telah terjadi sesuatu?"
Hening. Tak ada suara. Om Eka memilih membisu dan tak menjawab pertanyaanku lagi.
"Mama, apa dia ... baik-baik saja?" Pertanyaan itu muncul juga dari mulutku.
Om Eka menghela napas panjang sebelum akhirnya mengatakan,"Mama kamu, masuk rumah sakit tadi pagi."
"Apa yang terjadi?" tanyaku saat Om Eka tak juga melanjutkan ceritanya.
"Kondisinya cukup buruk." Om Eka menjeda kalimatnya lagi. Lagi-lagi ia terdiam cukup lama sebelum suara isakan lembut terdengar dari seberang. Pria itu menangis.
"Om, tolong katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Lagi-lagi kesunyian menyelimuti kami. Isak tangis Om Eka juga belum reda. Justru semakin hebat. Bisa kubayangkan pria itu menangis sesenggukan entah di suatu tempat di rumah sakit tempat Mama dirawat inap.
"Om, Kanya mohon, katakan yang sebenarnya terjadi."
Om Eka membuka suara,"Mama kamu terjatuh dan ... kandungannya mengalami gangguan cukup parah. Kami sudah konsultasikan dengan dokter. Bayi dalam kandungan Mama kamu harus dioperasi jika keadaannya tidak juga membaik. Tapi melakukan itu juga cukup berisiko. Dokter tak bisa menyelematkan dua-duanya jika terjadi kemungkinan terburuk. Kami harus memutuskan, bayinya atau ibunya yang harus diselamatkan."
Lidahku kelu. Tak ada kalimat yang keluar dari mulutku untuk merespon cerita Om Eka. Aku sudah tahu garis besar masalahnya. Dan aku tahu apa yang membuat berat Om Eka untuk bercerita. Wanita itu pasti memilih menyelamatkan bayinya daripada keselamatannya sendiri. Wanita itu pasti tak memikirkan bagaimana jadinya aku, jika keputusan itu benar-benar diambil tanpa melibatkan aku. Aku juga anaknya. Aku ... walau pada akhirnya memilih pergi, apakah wanita itu tak memikirkan aku sedikit saja?
Ah, sial. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Sebelum semuanya semakin parah, aku perlu memastikan sesuatu lebih dulu pada Om Eka.
__ADS_1
"Dan Mama memilih untuk menyelamatkan bayinya daripada nyawanya sendiri?"
"Iya, untuk itu, Om mohon Kanya, pulanglah. Bujuk Mama kamu. Om pun tak sanggup jika harus kehilangan dia, Nya. Om sudah memintanya untuk mengikhlaskan bayi kami, tapi Mama kamu bersikeras untuk menyelamatkannya. Tapi bagaimana bisa Om hidup tanpa dia, Kanya. Om ... "
"Om, maafkan aku. Mama mengambil keputusan itu saja tanpa melibatkan aku. Tanpa memikirkan perasaanku. Bagaimana bisa Om memintaku pulang hanya demi membujuknya agar tidak melakukan tindakan nekat itu? Maafkan aku, Om."
Penjelasan Om Eka semakin membuatku merasa tak diinginkan. Wanita itu benar-benar tak lagi menginginkan aku hingga mengambil keputusan harus menyelamatkan si bayi. Bahkan keputusan sepenting itu, dia tak memerlukan pendapatku. Heh, lantas apa juga yang kuharapkan? Bukankah aku yang memutuskan pergi dari rumah? Tapi tidakkah wanita itu memikirkan sedikit saja perasaanku? Bukankah aku juga anaknya? Setelah membuatku berpisah dengan Putra, lantas sekarang dia yang memutuskan pergi begitu saja? Bahkan pergi yang tak mungkin bisa kembali. Mana adil jika harus berakhir seperti ini?
"Kanya, Om mohon Nak. Pulanglah. Mamamu bukannya nggak memikirkan kamu."
"Kalau dia memikirkan aku, harusnya dia meminta pendapatku sebelum memutuskan tindakan apa yang harus diambil, Om. Bahkan mengirim pesan pun nggak. Apa ini yang Om bilang memikirkan bagaimana perasaanku?"
"Nak, Om tahu perasaan kecewamu pada kami belum juga bisa tersembuhkan. Kami mengaku salah. Tapi bagaimanapun, Mama kamu yang sudah melahirkan kamu. Mama kamu, tanpa melewatkan sehari pun untuk selalu mendoakan kamu. Maka anggaplah ini kesempatan terakhir untuk memperbaiki segalanya. Om yakin, Mama kamu pasti akan berubah pikiran jika melihat kamu, Nak."
Derai air mata semakin deras membasahi pipiku. Tubuhku gemetar. Kalimat Om Eka merobohkan dinding tebal yang selama ini melingkupi hatiku. Namun, masih ada ego yang belum sanggup aku tekan. Masih ada sikap keras kepala yang belum bisa kujinakkan.
"Makasih udah kasih tahu Kanya soal Mama, Om. Maaf, Kanya nggak bisa janji bakal pulang atau nggak," kataku sebelum menutup panggilan telepon dan memburu ke arah Araz. Aku menangis dalam pelukan lelaki itu.
Ada nyeri yang tak sanggup kuungkapkan dengan kata-kata selain lewat tangisan. Dalam diam, Araz hanya menepuk punggungku. Memberiku jeda untuk menumpahkan segalanya hanya dengan tangisan. Sebelum akhirnya benteng pertahananku benar-benar ambruk. Semua rasa kesal, kecewa, juga rindu yang diam-diam kupintal menjadi dendam.
"Ayo pulang, Nya. Aku akan mengantarmu."
Dan untuk pertama kalinya, ajakan pulang seperti bunyi genta yang begitu nyaring, tetapi juga melegakan di saat yang bersamaan.
__ADS_1