Pulang

Pulang
Season 2 #Pertemuan tak Diinginkan


__ADS_3

Senyum tak lepas membingkai wajah Kanya. Perasaan perempuan itu kian membaik saat mereka menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh penjual berbagai aneka makanan.


Di tangan kanan perempuan itu sudah menenteng kue ikan. Bahkan sudah dimakan sebagian. Sementara di tangan yang lain, menenteng kantung plastik berisi aneka makanan. Odeng, gimbab, tteokbokki, corndog, jjajangmyeon, hingga berbagai macam gorengan.


Araz yang berjalan di sampingnya sampai geleng-geleng kepala melihat kekalapan perempuan itu. Dia tahu jika Kanya memang suka makan. Namun, ia tak pernah tahu jika perempuan itu juga suka membeli aneka macam makanan.


Kini bahkan mulut perempuan itu tak hentinya mengunyah kue ikan dan membuat isian kacang merahnya belepotan.


Lelaki itu diam-diam menahan tawa ketika Kanya masih berhenti di salah satu kedai dan membeli jenis makanan yang lain.


"Katanya ayam goreng Korea itu yang paling enak. Aku mau buktiin mumpung lagi di sini." Kanya menoleh ke arah Araz yang tak bisa lagi menyembunyikan tawanya.


"Kamu bakal habisin semua itu?"


Perempuan itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Lantas mendekatkan ponsel ke mulut untuk menerjemahkan ucapannya ke dalam Bahasa Korea menggunakan aplikasi.


Itulah cara mereka berkomunikasi dengan warga lokal sebab tak satu pun di antara mereka lancar berbahasa Korea. Pengetahuan Kanya cukup minim. Sedangkan Araz yang memiliki separuh darah Korea dalam tubuhnya sama sekali tak membantu penguasaan bahasa milik ibunya.


Jadilah mereka mengandalkan aplikasi penerjemah untuk berkomunikasi.


Mereka baru menggunakan Bahasa Inggris jika bertemu dengan pedagang yang menguasai bahasa internasional tersebut. Sayangnya hanya satu banding sepuluh di antara para pedagang yang menguasai Bahasa Inggris.


"Udah? Atau masih ada yang lain yang mau kamu beli?" tanya Araz menjadikan Kanya tampak berpikir. Lantas menggeleng sesaat kemudian.


"Nggak deh. Cukup ini aja."


Senyum membingkai raut muka Araz. Lantas menular kepada Kanya yang menunjukkan senyum manisnya.


"Terus, sekarang kita ke mana? Langsung balik hotel?"


Kanya tak langsung memberikan jawaban. Jelas, perempuan itu menghindari momen-momen canggung yang bisa saja kembali terjadi di antara mereka. Maka, ia tak menyarankan untuk langsung balik ke hotel.


Saat itu, sebuah ide terlintas dalam benaknya.


"Gimana kalau kita ke taman aja?" ucap Kanya memberikan penawaran.


Araz tampak berpikir sesaat. Ucapnya,"Kenapa tiba-tiba ke taman?"


"Nggak tiba-tiba juga sih. Emang udah serius dipikirin kok. Aku selalu kepikiran kalau buat ke taman kalau ke sini suatu saat nanti."


"Kenapa gitu?"


"Ehm ... korban drama?"


Araz tertawa. Tangan lelaki itu refleks mengacak-acak rambut pendek Kanya yang terlihat sudah mulai memanjang.

__ADS_1


Bagaimana bisa perempuan itu memiliki pemikiran yang begitu sederhana?


Mungkin bagi Araz, Kanya selalu penuh dengan kejutan yang membuat lelaki itu terpana.


"Oke, kita bisa ke taman dekat hotel. Apa itu cukup?" tanya Araz sambil membetulkan anak-anak rambut Kanya yang setengah acak-acakan akibat ulahnya sendiri.


"Oke aja sih. Aku nggak masalah."


Setelah memutuskan tempat yang akan mereka kinjungi, keduanya lantas menuju taman tak jauh dari hotel. Kanya terlihat sangat puas. Perempuan itu segera menggelar aneka jajanan yang sudah ia beli di atas meja.


Berbagai aroma makanan yang ada di depannya membuat Kanya menjadi lapar. Padahal sebelumnya sudah ada berbagai jenis makanan yang ia cicipi selama berada di kawasan street food.


"Enak?" tanya Araz begitu melihat Kanya makan. Lelaki itu sendiri lebih tertarik mengamati sang kekasih yang makan dengan lahap.


"Enak. Ini yang terbaik." Dengan mulut penuh tteokbokki Kanya mengangkat mangkuk kertas di depannya.


"Yakin Mas Araz, nggak mau coba?" imbuhnya sambil menyodorkan mangkuk berisi tteokbokki kepada Araz.


"Nggak. Kamu aja. Aku udah kenyang."


"Cuma makan ubi doang udah kenyang?" tanya Kanya sedikit tak percaya.


Mereka memang sempat membeli ubi bakar. Tapi Araz hanya memakan sedikit saja. Bahkan tak ada setengah dari ubi yang diambilnya.


"Iya. Kamu aja yang makan. Nanti aku bakal ambil kalau lapar."


"Nya, aku cari minuman dulu ya." Tiba-tiba Araz mengalihkan perhatian perempuan itu.


Kanya baru menyadari, bahwa mereka memang tak memiliki minuman.


"Iya. Hati-hati, Mas."


"Kamu nggak papa sendirian?"


"Santai." Kanya menjawab penuh percaya diri.


Lelaki itu tersenyum sebelum meninggalkan Kanya pergi.


Harusnya Kanya melanjutkan makan setelah kepergian Araz. Namun, fokus perempuan itu justru terpaku kepada seorang pria tua yang tengah berjalan ke arah hotel.


Langkahnya pelan. Sedangkan ia tak membawa apa pun yang memungkinkan sedang bepergian. Bahkan, pakaiannya cukup compang-camping untuk menunjukkan bahwa ia cukup punya uang.


'Ada juga tunawisma di negara maju seperti ini?' batin Kanya dalam hati.


Fokus perempuan itu masih tertuju pada si pria tua yang kini sepertinya kembali dari dalam hotel. Entah apa yang terjadi. Namun, wajah pria itu terlihat muram.

__ADS_1


Sisi kemanusiaan Kanya tersentuh seketika. Tanpa berpikir dua kali, perempuan itu segera berlari menghampiri si pria tua ketika melintas tak jauh dari tempatnya duduk. Di tangannya, Kanya membawa dua buah ubi yang masih hangat dan utuh.


"Permisi, Kakek."


Pria tua itu berhenti dan menoleh ke arah Kanya.


"Ya?"


"Kakek mau ke mana? Kenapa tak jadi masuk ke dalam hotel?" ucap Kanya dalam bahasa Korea yang pas-pasan bercampur bahasa Inggris.


"Ah. Ini cukup memalukan, tapi aku baru saja mengalami musibah."


"Oh ya? Apa yang terjadi? Bisa saya membantu, Kakek?"


Pria tua itu menatap Kanya dengan tatapan menelisik. Entah siapa yang harusnya waspada ataupun curiga. Namun, justru pria tua itulah yang memiliki sorot mata demikian kepada Kanya.


"Kamu mengenalku?" tanya pria tua itu dalam bahasa Inggris yang fasih.


"Tidak. Saya hanya ingin menolong, Kakek. Apa saya perlu mengenal orang itu jika ingin menawarkan bantuan?" Kanya membalasnya dengan bahasa Inggris yang ternyata dipahami pria tua itu.


Bahkan dengan hal itu Kanya sama sekali tak menaruh rasa curiga sedikit pun. Namun, lagi-lagi pria tua itulah yang terlihat semakin waspada.


"Lalu bagaimana kamu akan menolongku?"


"Sesuai apa yang Kakek butuhkan sekarang."


"Kalau begitu, bisa kamu pinjamkan ponselmu?"


Tanpa berpikir panjang, Kanya mengambil benda pipih dari dalam kantung mantelnya. Lantas menyerahkan benda itu begitu saja tanpa rasa curiga. Namun, pria tua itu justru menolaknya.


"Lain kali kamu harus berhati-hati, Nona. Bisa saja kamu bertemu orang jahat yang berusaha memanfaatkanmu. Ini bukan negara ramah terhadap orang asing. Sangat berbeda dengan negaramu."


Kening Kanya berkerut. Tak memahami maksud ucapan pria tua itu.


"Saya tak mengerti ucapan, Kakek."


Pria tua itu hanya tersenyum, sebelum mengambil ubi dari tangan Kanya dan menepuk punggung tangannya. Lantas pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun.


Meninggalkan Kanya yang semakin diliputi tanda tanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Haiiii!!! Sambil nunggu "Pulang" update yang tak mesti jadwalnya, mampir yuk ke cerita Yoru yang lain.


Yang ini pasti update setiap hari. 😅😅

__ADS_1


My Possessive Badboy



__ADS_2