Pulang

Pulang
Mengejar Bayangan


__ADS_3

Renjana Kanya


Hari cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin aku di Bandung dan mengunjungi rumah Arez yang ternyata tak sesuai harapanku. Namun kenyataannya sudah satu minggu sejak peristiwa itu terjadi dan aku masih belum menemukan petunjuk apa pun tentang Arez. Maupun Araz.


Mas Hanung sudah mencari informasi tentang lelaki itu di kantornya. Hasilnya cukup membuat terkejut. Araz sudah mengundurkan diri tiga hari sesudah mengajakku ke Sukabumi. Apartemen lelaki itu pun telah kosong. Bahkan pemilik gedung mengatakan jika unit apartemen milik Araz sudah dijual. Nomor ponselnya pun sudah tidak aktif sejak ia mengirimkan pesan saat membatalkan kencan denganku. Entah jika memang nomorku sengaja diblokir. Hal ini membuatku semakin penasaran apa kaitannya Araz menghilang dan hubungan lelaki itu dengan Arez. Beribu kali pun aku memikirkannya, tak pernah kutemukan jawabannya.


Bagaimanapun, aku menyangkal jika mereka bersaudara. Meski keduanya memiliki tipikal mata yang sipit. Namun warna kulit Arez cenderung gelap. Tak seputih Araz yang bahkan terlihat pucat. Memang bentuk hidungnya sama-sama mancung. Bibirnya pun... seksi dan memiliki kelembutan yang sama. Astaga. Aku bahkan membayangkan mesum tentang mereka di siang bolong begini. Meski begitu tetap saja mereka tak memiliki kemiripan sebagai saudara. Kecuali sikap maupun gesturnya yang memiliki beberapa kesamaan.


Mungkinkah benar mereka bersaudara? Araz pernah bilang jika ibunya adalah orang Korea. Bisa saja kan Araz memiliki kecenderungan gen ibunya dan Arez cenderung mirip ayahnya? Tapi bukankah adik Araz sudah meninggal? Jika memang benar mereka saudara berarti Arez sudah...


Tidak, tidak mungkin begitu 'kan? Arez tentu saja masih hidup dan bahagia di suatu tempat. Jika ternyata ia berasal dari tempat yang jauh - seperti yang dia bilang jika berasal dari Planet Zenit - tentu dia bisa kembali dengan selamat dan tidak mungkin mengalami kecelakaan pesawat yang menghebohkan Bima Sakti. Ya, pasti seperti itu.


Lantas jika benar begitu, lalu bagaimana dengan nasib Araz? Bukankah tetangganya bilang jika anak pertama keluarga yang kukunjungi pekan lalu, sedang sakit di Jakarta? Jika benar Araz, tak ada satu pun pasien atas nama lelaki itu di rumah di Jakarta. Mas Hanung sudah memastikan itu hingga hampir putus asa.


Huuft... aku menghela napas panjang. Semakin ke sini, semakin sulit persoalan tentang Araz maupun Arez yang kuhadapi.


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk. Aku melirik layar gawai dan melihat siapa pengirimannya.


Aku di bawah. Jadi makan siang 'kan?


Aku tersenyum membaca pesan singkat itu lantas mengemasi barang yang sekiranya perlu. Setidaknya kehadiran Putra saat ini bisa merilekskan saraf-saraf otakku yang tegang akibat memikirkan Araz/Arez.


Tak ada yang berubah dalam hidupku setelah memutuskan gencatan senjata dengan Putra, kecuali perasaan yang sedikit lapang. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan masalahku tentang Putra. Ternyata berdamai dengan rasa sakit tak selamanya buruk. Aku bahkan bisa memaafkan diriku sendiri yang selama ini sudah memaksanya sakit. Seolah terluka sendirian. Menutup mata jika Putra pun mengalami hal serupa.


Gerakanku yang cekatan membuat Vina yang duduk di samping kubikelku melongokkan kepala. Dia adalah makhluk paling kepo jika aku berkemas saat jam makan siang.

__ADS_1


"Sama Abang lagi?" tanya perempuan itu penasaran.


Aku hanya mengangguk. Dia satu-satunya orang yang tahu jika aku adik tiri vokalis Nada Sumbang yang digandrungi hampir seluruh penghuni kantor ini. Tak bisa kubayangkan bagaimana ribetnya hidupku jika mereka tahu aku memiliki kedekatan dengan Putra.


"Jadi kapan mau ngenalin gue sama Arlan?"


Nah, ini contohnya. Aku tak sanggup jika harus menerima permintaan seperti ini setiap harinya. Cukup Vina saja.


"Kapan-kapan deh. Ya? Gue pergi dulu," kataku sambil mengecup pucuk kepala Vina dan sukses membuat perempuan itu marah-marah.


"Kanya, iyuuhh... Najis tahu nggak!"


Aku hanya tertawa dan memberikan senyum jauh. Dani yang berpapasan denganku di pintu hanya memandang aneh. Mungkin batinnya, si biang masalah mulai berulah.


"Hei, Kak. Udah lama nunggu?" sapaku pada lelaki yang hanya selisih setahun lebih tua dengan panggilan kakak. Awalnya Putra merasa risih. Namun lama kelamaan ia mulai terbiasa. "Susah banget sih hidup lo. Jadi terkenal bukannya hidup enak, eh ini mau ke mana-mana pake nyamar segala."


"Lah, kita 'kan saudara."


"Kanya sayang, kamu kira infotainment akan berhenti memberitakan sebatas kita saudaraan? Nggak. Mereka pasti bakal ngulik sedalam-dalamnya tentang masa lalu kita."


"Oke, dan masa depan lo bisa hancur dengan satu jentikan jari." Aku bergidik ngeri dengan kekuatan infotainment yang bisa mengorek kehidupan seseorang sampai ke akar-akarnya. Tak bisa kubayangkan akan seperti apa melelahkannya jika sudah tersandung skandal. Aku tidak mengharapkannya sama sekali. "So, mau makan di mana kita?"


"Kita ke suatu tempat dulu," kata Putra sambil melajukan mobilnya meninggalkan gedung perkantoranku.


***


Jantungku tak bisa berdetak normal saat mobil yang dikendarai Putra memasuki kawasan apartemen yang tak asing dalam ingatanku. Mungkin sekitar satu bulan yang lalu, aku pernah mengunjungi apartemen ini. Tempat di mana aku menemukan kehangatan setelah lama merasakan hampa cukup lama. Tempat di mana aku mencicipi masakan paling lezat yang pernah kumakan selama tinggal dua tahun di Jakarta. Ah tempat yang membuatku ingat seketika pada Araz.

__ADS_1


Heh, nama itu lagi. Hatiku cukup perih saat mengingat kepergiannya yang tanpa pamit. Lagian sepenting apa aku sampai dia harus pamit lebih dulu?


"Udah sampe. Yuk turun!" ajak Putra memutus benang lamunanku.


Aku mengikuti langkah lelaki itu dengan jantung berdebar. Tak bisa kupungkiri, tubuhku pun bergetar. Dalam hati selalu berharap bukanlah unit yang sama yang dulu pernah kukunjungi. Aku tak siap menerima kenyataan jika apartemen itu sudah tidak berpenghuni.


"Oh shit, ngapain sih kita ke sini?" tanyaku saat langkah kami berhenti di salah satu unit apartemen yang dulu pernah kukunjungi.


"Ya mau kasih lihat sama kamu lah. Tempatnya lumayan luas, kamu juga bisa tinggal di sini kalau mau."


"Jadi bener tempat ini dijual?"


Putra mengerutkan kening saat mendengar pertanyaanku. "Ya iyalah, makanya aku beli 'kan. Tempatnya lebih dekat sama dari studio maupun basecamp. Sama tempat kamu juga nggak begitu jauh seandainya kamu nggak mau nemenin tinggal di sini."


Mulutku bisu. Aku tak ingin menanggapi pernyataan Putra yang tiba-tiba membuat napasku mendadak sesak. Perasaan nyeri apa pula ini?


"Nya, are you okay?"


"Eh?"


Senyum menghiasi sudut bibir Putra. Ia menarik tanganku pelan dan mengajakku masuk ke dalam apartemen. Meski seolah sudah lama kosong, aroma khas yang tercium dari tubuh Araz menguar di udara. Membuatku semakin susah bernapas dan memaksa menghirup udara sebanyak-banyaknya yang justru membuatku kehilangan kendali. Tubuhku ambruk ke lantai. Air mata tak bisa kubendung meski berusaha mati-matian agar tidak menangis.


"Nya, hei. Kamu kenapa?" tanya Putra sambil berjongkok di depanku. Lelaki itu merengkuhku dalam pelukan. Tangisku semakin tak terkendali. "Hei, lihat aku. Apa yang terjadi?"


"Gue... gue..."


Aku pun tak tahu apa yang terjadi. Dadaku tiba-tiba terasa begitu nyeri saat menyadari unit apartemen itu benar-benar kosong. Bahkan aku pun tak sanggup menahan tangis. Saat itu mataku menangkap bayangan seseorang yang tengah berdiri di dapur. Tangannya dengan cekatan menggoreng adonan churros. Sedangkan senyum tak lepas menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Tanpa sadar, aku berlari menuju dapur. Berharap bayangan yang kukejar benar-benar nyata, tapi aku hanya menemukan kekosongan yang menyakitkan.


__ADS_2