Pulang

Pulang
BAB 14 Lamaran Mendadak


__ADS_3

Aku terbangun oleh suara azan. Aku membuka mataku, tetapi tidak bergeming dari posisiku. Aku menatap langit-langit ruangan hari ini. Hari kedua, ucapku dalam hati. Aku masih memikirkan perkaataan Bintang semalam. Aku harus bertekad untuk sembuh. Jika tidak ada tekad, aku tidak akan sembuh. Mulai hari ini, kurangi untuk memikirkan hal-hal yang terjadi di mimpi itu. Biarkan untuk menjadi memori saja dan jangan dijadikan sebagai alasan untuk hidup. Karena alasan untuk hidup harusnya dirimu sendiri. Aku harus lebih menghargai dan mencintai diriku sendiri.


Sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar Bintang sudah berada di sampingku.


“Eh, kamu udah bangun? Kirain masih ngorok,”sapanya.


“Mau kemana?”tanyaku mengabaikan pernyataannya tadi.


“Mesjid,”jawabnya.


“Aku juga ingin sholat,”balasku.


“Nanti setelah saya dari mesjid.”


“Oke.”


Dia memeriksa selang infus sebelum dia meninggalkan ruanganku. Dia juga tersenyum dan menepuk bahuku pelan. Aku teringat dengan perkataan Dokter Fani. Beliau pernah mengatakan kala Bintang adalah sosok yang bertanggungjawab. Beliau sepertinya benar. Dia adalah dokter dan pria yang baik. Aku bisa saja jatuh cinta padanya jika aku bertemu dengannya lebih dulu.


Bintang menepati janjinya. Setelah dia pulang dari mesjid, dia membantuku sholat. Kami berbincang-bincang sebentar. Dia juga membantuku sarapan. Aku heran kenapa perawat di sini tidak pernah merasa heran atau kepo melihat Bintang berada di ruanganku. Sepertinya bukan hanya sekali dia melakukannya.


“Dokter sarapan dulu aja. Dari tadi ngurusin saya terus,”suruhku. Aku merasa tidak enak dengannya. Masalahnya dia bukan siapa-siapaku. Aku hanya tahu dia anaknya Dokter Fani. Itu saja.


“Ya udah. Saya ke kantin aja dulu,”balasnya. Dia mengambil ponsel yang diletakkan di meja di dekat sofa. Lalu, ia berbalik menghadapku. “Kalau ada apa-apa, pencet tombol nurse call,”pesannya sebelum pergi.


“Iya. Udah sana pergi.”


“Ishh malah diusir padahal udah dijaga semalaman,”katanya kesal. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang. Aku menyadari bahwa setiap merasa kesal, dia selalu memegang pinggangnya dengan kedua tangannya dan matanya akan berubah menjadi dingin.


Dia sudah keluar dari ruanganku sebelum aku sempat membalasnya. Apa yang akan Dokter Fani pikirkan jika tahu anaknya sedang mengurusku sekarang? Setelah dipikirkan lagi, aku lebih khawatir tentang apa yang akan dikatakannya padaku. Sifat cerewetnya pasti akan muncul lagi setelah melihatku. Mudah-mudahan saja tidak menurun ke Bintang.


*****


Bintang membungkus sarapan nasi kuningnya dan memakannya di ruanganku. Aku bertanya kenapa dia tidak sarapan di kantin saja. Katanya tidak enak makan sendiri. Kelihatan sekali jomblonya. Aku tidak menanggapinya lagi. Lagipula dia akan mengalihkan pembicaraan jika aku mendebatnya. Dia menyantap sarapannya di sofa tempat dia tidur semalam. Ketika aku ingat, aku ingin menanyakan apa yang terjadi padaku padanya.


“Aku boleh mengganggu kamu sarapan?”tanyaku dengan posisi duduk di ranjangku.


Dia menghentikan kunyahannya sebentar dan menatapku. “Boleh. Ada apa?”


“Apa yang terjadi padaku? Maksudku apa penyakitku?”tanyaku dengan sorot mata penasaran dan menuntut.


Dia menatapku sebentar, lalu meminum air yang berada di atas meja di dekat sofa. Dia berdeham, lalu kembali menatapku. “Kamu mengalami kecelakaan, lalu koma,”jawabnya.


Aku masih belum puas dengan jawabannya. “Kenapa saya bisa kecelakaan?”tanyaku lebih lanjut.


“Kamu bisa nanya ke orangtua kamu nanti,”jawabnya.


Tidak membantu sama sekali. Wajahku yang tadinya ramah berubah menjadi marah. Aku merasa pupil mataku mengecil. Ingin sekali meluapkan kekesalanku padanya. Apa salahnya cerita?


“Tau gitu nggak usah nanya dari tadi. Bilang aja kalau lu nggak mau diganggu. Ngapain di sini semalaman kalau gitu,”kataku meluapkan kekesalanku. Aku sudah tidak peduli dengan statusnya sebagai dokterku.


“Kok kamu jadi marah?”tanyanya. Matanya berubah menjadi dingin. Dia juga kesal.


“Yah elunya nyebelin. Suka mengalihkan pembicaraan,”jawabku tak keloh sewot.


“Elu?”


“Kamu,”jawabku ketus.


Dia meletakkan sarapannya di atas meja. Ah, aku jadi tidak enak mengganggu acara sarapannyam tetapi, dia juga menyebalkan. Jika dijawab sesuai pertanyaan yang aku ajukan, tidak akan ada adegan marah dan kesal begini. Dia berdiri dari sofa dan berjalan ke arahku.


Dia melipat kedua tangannya di dada dan berdiri di samping ranjangku. “Saya takut akan memberikan info yang salah,”ucapnya.


Aku mendengus ringan, lalu menatap kedua matanya. “Ini bukan yang pertama kalinya kan kamu menjagaku?”tanyaku.


Diam sebentar. “Iya,”jawabnya.


“Ya udah. Kamu pasti tahu dan udah dengar dari orangtuaku kejadiannya. Ayolah. Aku akan sedih dan mungkin bisa menangis jika mendengarnya langsung dari orangtuku,”pintaku.


Dia menarik sebuah kursi dan duduk di sampingku. “Oke. Kamu mengalami kecelakaan saat berangkat ke kantor. Kamu lagi menunggu ojek online di tepi jalan gang rumah kontrakanmu. Lalu, ada sebuah mobil melaju sangat kencang dan menabrakmu. Kepalamu terbentur keras dan mengalami cedera kepala barat. Kamu koma selama 10 hari. Terkadang kamu dapat menggerakkan tanganmu, tetapi kembali ke awal. Kamu kembali koma.” Bintang menceritakannya sambil memeriksa raut wajahku sesekali.


Aku sebenarnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mengetahui aku berangkat ke kantor setelah malam itu, aku bukannya tertidur dan tidak sadar seperti dugaanku.


“Saya bukannya pingsan di kamar?”


“Itu yang kamu ingat?”tanyanya.


“Pokoknya kepalaku sakit sekali malam sebelum kecelakaan itu. Saya tertidur dan saya sudah berada di masa lalu. Saya kira pingsan di kamar. Terus, siapa yang nabrak saya?”


“Seorang pria mabuk dan dia meninggal.”


“Meninggal? Karena kecelakaan itu?”tanyaku. Bintang bahkan belum selesai melanjutkan ceritanya.


“Bukan karena itu, tetapi overdosis alkohol. Keluarganya sudah bertanggungjawab. Mereka yang membayar seluruh biaya perobatan kamu,”jawabnya.


“Terus, bagaimana keadaan saya sekarang?”


“Dari cara kamu udah bisa kesal, marah-marah, dan berdebat, kamu udah bisa pulang hari ini.”


“Yang serius dong, Dok. Saya bahkan belum bisa jalan sendiri ini,”balasku sewot.


Dia tertawa. “Apanya yang lucu? Dih,”ucapku lirih.


“Ekspresi kamu. Kamu kayaknya susah bohong deh. Raut wajah kamu mudah banget ditebak, “balasnya masih dengan sisa-sisa ketawa tadi.


“Jadi, bagaimana keadaan saya, Dokter Bintang?”tanyaku dan mengubah raut wajahku menjadi lebih ramah.


Dia menegakkan punggungnya dan mengubah raut wajahnya menjadi serius.


“Semuanya sudah normal. Kamu hanya butuh terapi sedikit. 2 hari lagi kamu udah bisa pulang.”


“Alhamdulillah,”balasku. “Kamu nggak praktek hari ini?”tanyaku. Sekarang sudah pukul 8 pagi dan dia masih di ruanganku.


“Ada, nanti jam 9.30,”jawabnya.


Aku teringat sesuatu. Aku tidak sadar mencondongkan tubuhku ke depannya tiba-tiba. Bintang tampak terkejut sebentar, tetapi dia langsung mengubahnya menjadi normal.


“Sejak kapan kamu menjagaku?”tanyaku antusias, lalu mengubah posisiku ke posisi awal.


Dia tampak berpikir sebentar. Kenapa laki-laki ini selalu mempertimbangkan jawaban yang akan diberikannya?


“Sejak awal,”jawabnya.


“Loh, kenapa?”tanyaku heran.


“Saya juga nggak tahu,”jawabnya.


Dia berdiri dari kursinya, dan mengembalikan kursi tersebut kembali ke samping meja yang tidak jauh dari ranjangku. Dia melihat jam dinding. “Saya harus kembali ke ruangan dulu. Mau siap-siap praktek,”ucapnya. Dia mengusap lehernya sebentar dan raut wajahnya berubah menjadi dingin dan kaku. Dia lagi grogi?


“Oke,”balasku. “Thank you so much for everything,”lanjutku.


“It’s okay. Kamu istirahat aja dulu. Bentar lagi orangtua kamu juga datang.”


“Istirahat aja terus,”kataku lelah.


“Loh, kamu masih harus istirahat meskipun udah pulang ntar. Biar cepat pulih. Nggak mau?”


“Iya, iya.”


Dia tersenyum dan menepuk pelan bahuku sebelum meninggalkan kamarku. Dia berhenti di depan pintu dan berbalik menghadapku. “Oh iya. Mama mau ngejenguk kamu hari ini,”katanya.


“Oke,”balasku.


“Kamu siap-siap aja,”lanjutnya.


“Siap-siap buat apa?”tanyaku bingung.

__ADS_1


“Pokonya siap-siap aja,”jawabnya. Lalu, dia pergi meninggalkan kamarku.


Apa sih nih anak? Aneh banget. Ngomong nggak pernah jelas. Aku menggerutunya sesaat dia menutup pintu kamar. Berbicara dengan Bintang bukannya membuat kepala menjadi ringan, tetapi menjadi berat. Dia suka sekali berputar-putar seperti mas odong-odong ketika mengobrol. Selalu mempertimbangkan apa yang ingin dia katakan. Antara takut akan menyakiti orang tersebut atau hanya tidak ingin ikut campur lebih dalam dengan masalah yang dihadapi orang tersebut. Dia mungkin tidak akan ragu untuk pergi di tengah pembicaraan. Dia juga seperti ingin menanyakan banyak hal, tetapi dia menahannya. Ntah merasa tidak pantas atau waktunya kurang tepat. Ntahlah. Dia seperti sangat berhati-hati dalam bertindak.


*****


Sekitar 1 jam setelah Bintang pergi, orangtuaku datang ke rumah sakit. Aku sangat bahagia sekaligus merasa bersalah melihat mereka. Aku bahagia karena masih bisa bertemu dengan mereka. Aku sedih karena harus bertemu dengan keadaan seperti ini. Padahal kami sudah setahun tak bertemu. Tahun yang lalu, orangtuaku dan adikku satu-satunya, Ken, datang menjengukku ke Depok. Harusnya, kami bertemu dengan keadaan yang sehat tahun ini. Akan tetapi, hidup tidak bisa diprediksi, bukan? Karena semesta juga mempunyai rencana.


“Bagaimana? Ada yang sakit lagi?” Itu adalah kalimat pertama ibuku.


“Udah sehat. Kepalanya juga nggak sakit-sakit kali lagi,”jawabku menggunakan aksen Medan.


“Alhamdulillah,”balas ibuku.


“Terus kakimu gimana? Masih nggak kuat kalau jalan?”tanya ayahku. Kedua orangtuaku sedang berada di samping ranjangku sekarang. Sedangkan aku sedang duduk di atas ranjang. Tidak enak juga tiduran terus, padahal aku paling suka rebahan dulu.


“Masih belum terlalu kuat jalan. Harus terapi dulu kira-kira 2 hari kata dokternya,”jawabku.


“Si Bintang?”tanya ibuku.


“Iya. Kan dia dokterku, Ma,”jawabku.


“Ohh,”balas ibuku singkat. Beliau mengambil jeruk yang mereka bawa tadi, lalu mengupasnya. Ibu memberikannya padaku.


“Kok mama nggak nangis ya aku kayak gini?”tanyaku kepada ibu yang berjalan menuju sofa. Lalu, meletakkan keperluanku di sana yang dikemas di sebuah tas yang lumayan besar.


“Kau mau aku nangis rupanya?”tanya ibuku balik. Ah, ibuku ini sedikit gengsi menunjukkan perasaannya. Ibuku bahkan tidak pernah menangis setiap mengantarku ke bandara untuk kembali ke Depok.


“Udah nangis pun mamamu. Pas mamamu sama ayah ke sini udah nangis-nangis di pesawat. Diam ajalah ayah. Dimarahin mamamu pun ayah waktu ayah tenangin,”jawab ayah.


Ayahku ini sangatlah humoris. Beliau selalu terlihat tenang dalam menghadapi sesuatu yang berat. Namun, aku tahu, ayahku juga khawatir. Hanya saja beliau tidak menunjukkannya karena takut membuat orang-orang disekitarnya lebih khawatir.


“Iyalah mama marahin. Masih bisa lagi dia becanda, orang udah khawatir. Kau udah di rumah sakit nggak sadar. Khawatirlah mama,”bela ibuku. Dia menatap ayahku sewot.


“Kau nangis terus sampai heran orang-orang di bandara. Mereka kira yang kuapa-apain kau. Nanti dikira orang itu kayak si Tae Oh pula aku,”balas ayahku tidak kalah sewot.


Astaga. Ayahku menonton drama The World of Married Couple itu di mana? Jangan bilang nonton di Trans TV?


“Itu ajalah tontonanmu. Si Tae Oh sama si Da Kyung itu,”balas ibuku.


“Kok tahu ayah drama itu? Nonton di mana?”tanyaku penasaran.


“Di TV kan ada. Mamamu juga ditontonnya drama itu. Mamamu duluan yang nonton, makanya kutonton,”jawab ayahku.


“Nggak sengaja kutonton itu. Seru juga ternyata. Kau pun jadi ikutan nonton,”balas ibuku. “Itu ajalah cerita guru-guru di sekolah mama. Udah kayak cerita tetangga kita itu mama liat,”lanjut ibuku.


Astaga ibuku ini. Kenapa masalah tetangga dibawa-bawa? Ucapku dalam hati. Ibuku sebenarnya tidak terlalu suka menonton TV. Sekalipun menonton TV, acaranya pasti masak-masak atau On the Spot. Hanya itu acara TV yang ibuku suka. Ibuku tidak suka menonton sinetron. Jadi, kalau ibuku sudah sampai menonton drama itu, sudah bisa dipastikan drama itu bagus.


“Ihh, mama ini. Mana boleh kayak gitu,”balasku.


“Iya loh. Jahat kali pun suaminya. Ditinggalkannya anak istrinya demi si pelakor itu. Udah gila kurasa suaminya itu. Masih kecil-kecil lagi anaknya. Belum bisa ngomong yang paling kecil itu loh. Pengen kusiram pake air panas suaminya.”


Waduh. Ibuku sudah mulai cerita panjang lebar dan menggosip. Tetangga kami memang memiliki kisah yang hampir sama dengan drama itu. Tetangga kami itu selalu curhat kepada ibuku karena tidak tahu lagi harus curhat ke siapa. Dia tidak mau membuat ibunya terlalu khawatir. Ibuku termasuk yang tertua di lingkungan rumah kami. Oleh karena itu, tetangga-tetangga kami sering mengadukan masalah mereka kepada ibu. Aku hanya bisa memakluminya.


“Iyalah,”balasku singkat. Aku tidak mau memperpanjang masalah ini.


“Makanya kau nggak usah buru-buru kali ya kalau mau nikah,”balas ibuku.


Lah. Aku yang kena sasaran?


“Meskipun udah 27, jangan langsung terima kalau ada yang ngelamar. Liat gimana bibit bobotnya. Kalau kau nemu kayak si Tae Oh itu, bisa kulabrak nanti keluarganya. Iya. Harus puas kumaki-maki itu. Ntah yang kulabrak pulanya nanti perempuan simpanannya itu,”ucap ibuku berapi-api. Ibuku sepertinya masih belum bisa move on dari drama itu.


Sebenarnya, aku percaya ibuku bisa melakukan hal-hal seperti itu. Ibu itu tegas dan omongannya selalu pedas. Akan tetapi, semua yang dikatakan ibu sebenarnya benar. Ibu tidak pernah berbicara dengan lembut ditambah dengan nada membujuk kepada kami. Ibu selalu berbicara keras dan to the point. Mungkin karena ibuku dididik dengan keras sejak dulu. Tetapi kami tahu, ibu sayang sekali kepada kami.


Ibu juga tidak pernah memanjakan kami. Sejak kecil, kami sudah diajari untuk mandiri. Aku membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah sejak SD. Ibu juga menyuruh kami untuk berangkat sekolah sendiri. Padahal, teman-temanku sering diantar dan dijemput oleh orang tuanya. Dulu aku merasa ibuku tidak menyayangi kami. Di bangku SMA aku sadar, ibu hanya ingin membuat kami mandiri. Karena setelah aku merantau ke Jawa, aku tidak merasakan kesusahan sama sekali mengerjakan semuanya sendiri. Ada hikmahnya juga.


“Mama sama ayah juga jangan asal mengiyakan lah,”balasku.


“Kok jadi kami? Kaulah yang nentuin. Kau yang mau tinggal sama orang itu, bukan kami. Kau lah harusnya yang lebih tau gimana orangnya,”balas ibuku.


“Sok cantik kali kau bakalan dapat yang kayak gitu,”balas ayahku.


Loh ayahku ini? Bukannya diaminin, anaknya malah dihujat gini.


“Aaamiin gitu lah, Yah. Kok malah dihujat aku?”tanyaku kesal.


“Tau lah ayahmu ini. Padahal udah tau dia perkataan itu doa.” Ibuku yang membalasnya.


Aku mengalihkan pandanganku ke ayah. Beliau menutup matanya sebentar dan mengatupkan kedua bibirnya. Ayah sedang menahan dirinya. Aku ingin tertawa melihatnya. Ayah dan ibuku memang suka berdebat kayak begini. Bukannya pasutri memang sering berdebat seperti ini, ya?


“Aku ajalah yang salah dari tadi. Diamlah aku,”kata ayah. Lalu, ia berjalan menuju sofa. Awalnya, ayah berada di samping ranjangku.


Aku tertawa melihat situasi ini. Aku senang masih bisa bersenda gurau dengan mereka. Aku sebenarnya tahu mereka ingin menghiburku supaya aku tidak terlalu sedih dan memikirkan keadaanku. Ibu dan ayah selalu bisa membaca mataku. Mungkin mataku menunjukkan rasa bersalah karena membuat mereka khawatir dan harus merawatku seperti ini.


“Btw, sekolah gimana?”tanyaku. Kedua orangtuaku bekerja sebagai guru. Tahun lalu adalah tahun terakhir ayahku sebagai kepala sekolah salah satu SMP di sana.


“Libur lah. Dikasih cuti sama kepala sekolahnya,”jawab ayahku.


“Berapa hari dikasih?”tanyaku lebih lanjut.


“Sampai kau sembuh. Udah nggak usah dipikirin. Udah aman itu,”balas ayahku.


“Terus kerjaanku gimana? Tau kan kantor aku lagi di rumah sakit?”tanyaku.


Iya. Bagimana dengan pekerjaanku? Aku baru mengingatnya saat ini. Aku tidak dipecat, kan? Aku sebenarnya sudah malas untuk mencari kantor yang lain. Aku sudah nyaman bekerja di sana. Aku suka pekerjaannya dan juga pegawai-pegawainya. Kalaupun berhenti, aku ingin melanjutkan sekolahku lagi. Orang tuaku menginginkan aku bekerja sebagai dosen saja. Aku juga setuju dan menyukainya. Akan tetapi, aku tidak tahu kapan akan mewujudkan semua itu.


“Aman, aman. Bintang yang menelpon kantormu dan ngasih tau kalau kau di rumah sakit,”jawab ayahku.


“Bintang?”tanyaku. Kenapa dia tidak cerita?


“Iya, Dokter Bintang, yang merawat kau,”balas ibuku.


“Dia juga yang nelpon ayah. Katanya jangan khawatir, dia udah menanganimu. Dia juga yang jagain kau sebelum ayah dan mama datang,”lanjut ayahku.


Aku mengerutkan keningku. Dari mana dia tahu nomor ponsel ayahku? Setelah kejadian semalam, dia tidak menceritakan semuanya padaku. Padahal, dia sepertinya yang lebih tahu semuanya daripada orangtuaku. Apa yang kau harapkan? Dia tidak akan membuka mulutnya untuk bercerita kalau tidak dipaksa. Kali ini, dia harus cerita semuanya.


“Kok dia bisa nelpon ayah? Dia tau nomornya?”tanyaku dengan sorot mata penuh pertanyaan.


“Katanya tahu dari ponselmu. Dia lihat kontak ponselmu,”kata ayah.


Oh iya, ponselku. “Ma, ponselku di mana?”tanyaku.


Ibuku mencari tasnya dan mengeluarkan ponselku dari sana. Ponselku masih utuh. Tidak retak sama sekali. Aku menyalakannya, lalu menghidupkan data seluler. Tidak lama, notifikasi bermunculan seperti laju kereta api. Banyak sekali. Aku bahkan bingung harus membuka grup yang mana terlebih dahulu. Ada panggilan tidak terjawab juga dari teman-teman kantor, kuliah, dan SMA. Aku tebak teman-teman kuliah dan SMAku pasti sudah tahu aku di rumah sakit.


“Kau... sama si Bintang dekat?”tanya ibuku. Jiwa wartawannya sudah mulai muncul ke permukaan. Terkadang aku berpikir, ibu dan Dokter Fani sebenarnya memiliki karakter yang hampir mirip. Cerewet dan kepo. Mungkin semua ibu-ibu memang seperti itu. Itu adalah cara mereka untuk menunjukkan kalau mereka sayang dan peduli. Loh, Dokter Fani juga sayang padaku kalau begitu?


Aku masih sibuk dengan ponselku. “Nggak. Baru ketemu sekali,”jawabku. Aku masih membaca pesan-pesan grup kantorku. Mereka sangat khawatir padaku. Hampir setiap hari ada yang menanyakan keadaanku. Aku pun mengetikkan beberapa kalimat mengatakan aku sudah mulai sehat. Mereka sudah tahu kalau aku sudah sadar dari koma. Aku tanya siapa yang memberitahu mereka aku sudah sadar. Jawabannya sungguh membangkitkan rasa penasaranku. Bintang yang memberitahu mereka.


“Tapi, kok dia peduli kali samamu, ya?”tanya ibuku lebih lanjut. Ibuku sepertinya masih belum percaya.


“Kan, aku pasiennya. Wajarlah peduli,”balasku. Aku mengalihkan pandanganku ke ibu.


“Tapi dia juga jagain kau. Tiap malam lagi.”


Aku menatap ibuku. Raut wajahku sudah terlihat seperti orang bodoh mungkin sekarang. Aku menatap mata ibuku meminta kejujuran. “Bukannya bergiliran?”


“Nggak. Dia suruh mama sama ayah tidur di rumah kontrakanmu aja. Awalnya mama sama ayah nolak, tetapi dia maksa,”jawab ibuku.


“Kirain pacarmu loh,”balas ayahku.


Aku langsung membantahnya. “Hah? Pacar? Nggak mungkinlah.”


Ayahku menatap mataku.Beliau terdiam beberapa saat. Ayah mungkin sedang menganalisa raut wajahku. “Iya. Nggak mungkin juga kayaknya,”ucap ayahku.


Aku terkejut mendengar jawaban ayahku. Aku membuka mulutku lebar menandakan aku tidak percaya dengan perkataan ayahku. Aku memasang raut wajah sakit hati dan menggelangkan kepalaku sebentar. Aku seperti menunjukkan aku kecewa dengan ayahku.

__ADS_1


“Maksudnya, si Bintang bisa yang dapat lebih baik lagi. Eh, kau maksudnya,”ucap ayahku lebih lanjut.


Aku masih memasang wajah syok dan tidak percaya. Aku memasang wajah pura-pura menangis. Aku meletakkan tangan kiri di dada dan meremas bajuku. Lalu, aku berpura-pura mengeringkan air mataku dengan selimut yang menutupi kakiku.


“Tega kau, Yah.” Aku mengucapkannya seperti aku sedang menangis.


Ayah dan ibuku tertawa melihatku yang berakting menjadi anak yang tersakiti. Rasanya senang sekali bisa mendengar tawa mereka kembali. Aku juga rindu dengan suasana seperti ini. Kami selalu bercanda dan membuat suatu keadaan menjadi dramatis dan berlebihan. Meskipun kami memiliki masalah yang rumit, ayah selalu menjadikannya sebagai bahan candaan terlebih dahulu. Ketawa aja dulu. Itu katanya.


Sekarang aku tahu kenapa Putra selalu meninggalkanku di mimpi itu. Dia memang menjadi kebahagiaanku, tetapi kebahagiaan terbesarku adalah menghabiskan waktu bersama orangtuaku. Dia tahu aku juga akan merasa sedih meninggalkan mereka terlalu cepat.


*****


Siang ini, aku kedatangan tamu. Coba tebak siapa tamunya? Betul, Dokter Fani dan suaminya. Aku tidak terkejut karena sudah diberitahu oleh Bintang tadi pagi. Yang membuatku terkejut adalah orangtuaku terlihat sangat akrab dengan Dokter Fani dan Pak Fauzi. Hari ini sepertinya bukan hari pertama kali mereka bertemu. Benar saja. Dokter Fani dan Pak Fauzi sudah beberapa kali menjengukku. Pantas akrab dengan orangtuaku.


Dokter Fani menanyakan keadaanku dan menceritakan tentang Content Writer lain yang menggantikanku melakukan wawancara dengan Dokter Fani. Beliau juga menceritakan anak-anaknya dan cucunya yang menitipkan salam untukku. Katanya mereka juga khawatir setelah mendengar aku mengalami kecelakaan. Aku berterima kasih dan mengatakan rasa bersyukurku karena sudah mengenal mereka. Dokter Fauzi juga mengungkapkan kesenangannya karena keadaanku sudah mulai membaik.


Setelah itu, Dokter Fani dan Pak Fauzi berbincang-bincang dengan orangtuaku. Aku sesekali menimpal percakapan mereka. Aku duduk di ranjangku dan menatap mereka yang berbincang-bincang di sofa. Keadaan ini... kenapa hatiku merasa hangat? Tetapi aku juga ketakutan.


“Ra, semalam Bintang di sini jagain kamu, kan? Ngobrolin apa aja?”tanya Dokter Fani.


Pertanyaan Dokter Fani membuyarkan lamunanku tadi. “Hah? Nggak ngobrolin apa-apa, Dok,”jawabku.


“Dia diam aja? Nggak ngajak kamu ngobrol?”tanya Dokter Fani lebih lanjut.


“Bukan gitu, Dok. Bintang ngajak ngobrol, kok.” Aku memperbaiki jawabanku.


“Nah, ngobrolin apa?”


Astaga. Kenapa Dokter Fani kepo sekali? Ya wajar juga sih beliau nanya. Aku melihat ke sofa. Ayah, ibu, dan Pak Fauzi juga menunggu jawabanku. Mereka tiba-tiba menjadi bisu dan ruangan menjadi hening. Lah, kok jadi sunyi gini?


“Tentang kenapa saya bisa koma dan dirawat, Dok,”jawabku. Aku tidak berbohong. Dia memang menceritakan tentang itu padaku semalam.


“Itu aja?”tanya Dokter Fani.


“Iya,”jawabku. Aku tidak mungkin mengatakan dia membantuku berjalan ke jendela dan kami menatap langit bersama.


“Bintang khawatir banget sama kamu, loh,”balas Dokter Fani.


“Iya, Dok. Saya tahu.”


“Kamu udah tahu?”


“Umm tahu apa ya, Dok?”


“Bintang ngotot jadi dokter kamu. Yang nanganin kamu kan bukan Bintang awalnya.”


Aku memasang raut wajah bingung dan bodoh untuk kedua kalinya. Dia... dia... Bintang. Aku kehilangan kata-kataku. Kenapa dia sangat misterius sekali? Aku harus menanyakannya hari ini. Harus.


“Kenapa... kenapa dia ngotot, Dok?”tanyaku hati-hati.


Ayah dan ibuku yang tadinya asyik mengobrol dengan Pak Fauzi kembali mengheningkan cipta.


“Bintang suka sama kamu kali. Dia nggak mau jawab waktu saya tanya juga,”jawab Dokter Fani santai. Tidak canggung sama sekali mengatakannya. Padahal orangtuaku juga di ruangan ini.


Aku yang tidak sedang meminum apapun terbatuk-batuk mendengar perkataan Dokter Fani. Waahh, Dokter Fani memang keren sekali memberikan kesimpulan. Anaknya saja tidak menjawab, bagaimana bisa disimpulkan dia suka? Pertanyaan ibunya saja tidak dijawab, bagaimana dengan pertanyaanku nanti? Yang ada dia akan mengalihkan topik.


“Nggak usah syok gitu, Ra. Bintang kan manusia juga,”ucap Dokter Fani sambil memberikan segelas air padaku.


Orang yang sedang dibicarakan muncul juga. Dia mengucapkan salam, lalu menyalam orangtuanya. Dan orangtuaku? Dia menenteng sesuatu, sepertinya cemilan. Ternyata, donat. Dia meletakkannya di atas meja yang berada di depan sofa. Kemudian, dia berjalan ke arahku. Aku tiba-tiba menjadi canggung dan salah tingkah.


“Gimana hari ini?”tanyanya. Dia sudah berada di sampingku. Kali ini dia memakai kemeja berawarna krem dengan celana bahan berwarna coklat. Rambutnya masih tersisir rapi. Ya pasti dia harus rapi. Dia kan seorang dokter.


“Gimana apanya?”jawabku sewot.


“Loh, kok galak?”


“Nggak galak. Biasanya juga gini,”jawabku. Aku mengindari tatapannya. Aku bahkan tidak bisa menatap para orangtuaku yang sedang berada di sofa sekarang. Mereka tidak mengobrol. Aku tahu mereka sedang menguping sambil pura-pura memakan donat yang dibawakan Bintang.


Bintang masih menatapku. Dia terlihat menahan senyumnya. Dia tahu aku sedang canggung sekarang.


“Mau donat nggak?”tanyanya dengan lembut.


“Iya, boleh,”jawabku. Aku berusaha mengontrol suaraku supaya terdengar normal, tetapi usahaku sepertinya sia-sia. Nada suaraku seperti aku sedang marah-marah. Kenapa juga dia harus datang? Mana bisa aku bersikap normal setelah mendengar perkataan Dokter Fani tadi. Iya kali Bintang suka padaku.


Bintang berjalan ke meja yang berada di depan sofa dan mengambil 2 donat. Dia memberikan satu untukku, satunya lagi untuknya. Aku tidak lupa mengucapkan terima kasih padanya.


“Kapan Rara mulai terapi, Bin?”tanya Pak Fauzi.


“Besok, Pa,”jawab Bintang.


Aku sudah mengetahuinya. Ayah yang memberitahuku. Tadi, Bintang menemui ayah dan melaporkan keadaanku. Aku senang sekali mendengar aku akan mulai terapi. Itu tandanya aku akan bisa segera berjalan lagi. Satu atau dua hari juga akan membuatku bisa berjalan normal lagi.


“Kamu udah makan siang?” Itu mamaku yang bertanya kepada Bintang.


“Udah, Nantulang,”jawabnya.


“Nantulang?”ulangku.


Jadi, Nantulang artinya Bibi dalam bahasa Indonesia. Bisa diartikan sebagai ‘Tante’ juga. Akan tetapi, Nantulang juga diartikan sebagai ‘mama mertua’. Para menantu laki-laki akan memanggil mama mertuanya dengan Nantulang dan ayah mertuanya menjadi Tulang.


“Iya. Loh kenapa? Kamu keberatan?”tanyanya. Dia membuat raut wajahnya sepolos mungkin dan pura-pura bingung. Aku tahu dia pasti sudah tahu artinya.


Aku memicingkan mataku. “Kamu tahu nggak artinya apa?”tanyaku. Nada suaraku sudah meninggi.


Dia menatapku sebentar dengan tatapannya yang dingin. Lalu, ia meraih tisu yang berada di atas meja di samping ranjangku dengan tangannya yang panjang.


“Mukamu jelek banget tuh. Ada coklatnya,”katanya sambil membersihkan coklat yang berada di sekitar mulutku. See. Dia mengalihkan pembicaraan lagi. Mataku tidak sengaja bertubrukan dengan mata para orangtua yang berada di sofa. Mereka seperti sedang menonton drama secara live.


Aku meraih tisu dari tangannya. Wajahku sudah memerah karena menahan malu. Kenapa dia jadi baik begini? “Sini, saya aja yang bersihin,”kataku masih dengan nada suara yang cukup keras.


Dia menegakkan tubuhnya kembali, tetapi ia masih menatapku yang sedang membersihkan mulutku.


“Saya tahu,”katanya.


“Apa?”


“Saya tahu artinya.”


Aku menatap wajahnya tajam, tetapi sorot kebingungan juga terlihat di sana. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Aku ingin menanyakannya lebih lanjut, tetapi aku ingin membicarakannya berdua saja.


Suara orangtuaku dan orangtuanya bahkan sudah tidak terdengar lagi. Mereka sepertinya mengerti ketegangan di antara kami.


“Kamu suka sama Rara, Bin?”tanya Dokter Fani tiba-tiba.


Bintang terdiam, tetapi matanya menatap mataku. Aku menantangnya. Aku juga menatap matanya. Aku ingin mengatakan untuk jangan bermain-main denganku dan untuk lebih berhati-hati menjawabnya.


Bintang lalu mengalihkan pandangannya ke sofa, tempat di mana orangtuaku dan orangtuanya berada. Dia diam, lalu tersenyum. Aku memiliki firasat tidak enak.


“Iya, Ma. Bintang suka sama Aira,”jawabnya.


Dokter Fani dan Pak Fauzi kelihatan senang sekali mendengarnya. Mereka bahkan langsung tersenyum mendengar jawaban Bintang. Melainkan orangtuaku sedikit tidak percaya karena ada yang mengakui perasaannya kepada putri mereka, khususnya ayahku. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku syok dan bingung. Aku baru saja sadar dan harus menghadapi keadaan seperti ini. Bagaimana aku harus menanggapinya?


“Jangan becanda kamu.” Aku mencoba memperbaiki keadaan ini.


Dia tidak menatapku. Kalimat selanjutnya mampu membuatku ingin melemparkan bantal yang berada di pangkuanku padanya.


“Saya serius Tulang, Nantulang. Saya suka dengan Aira dan saya tidak bermaksud main-main. Saya berniat ingin melamarnya.”


Lamar? Aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Dia juga pasti tidak tahu banyak tentangku. Begitu juga sebaliknya. Bagaimana kalau misalnya aku tidak sesuai dengan yang dia pikirkan dan harapkan? Aku bahkan tidak tahu hidupnya seperti apa. Dia juga tidak tahu tentang visi misiku, mimpi-mimpiku, dan juga... aku belum sembuh. Hatiku belum sembuh. Dia bisa menerima itu?


Dia seharusnya membicarakannya denganku terlebih dahulu. Bagaimana aku bisa hidup dengannya yang misterius? Dia juga menyimpan banyak rahasia. Aku tahu itu. Aku memijat pelipisku. Aku akan menolaknya.


Mataku bertubrukan dengan mata ibuku. Dia tampak senang sekali mendengar perkataan Bintang. Ibuku bahkan mengacungkan jempolnya padaku. Aku tahu, dia pasti akan setuju. Bintang adalah menantu idamannya. Siapa yang tidak akan suka dengan menantu yang tampan, cerdas, dan seorang dokter? Menurut ibuku, dia pasti sosok yang baik. Ibuku tidak tahu aja kalau menantu idamannya ini susah ditebak, penuh rahasia, suka mengalihkan pembicaraan, dan menyebalkan. Meskipun begitu, aku harus mengatakan bahwa dia memang sangat bertanggungjawab.


Meskipun begitu, aku harus menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2